budidaya tanaman tebu

Yuk, Mengenal dan Budidaya Tanaman Tebu

Budidaya tanaman tebu. Siapa yang tidak tahu atau tidak pernah mengonsumsi gula? Sejatinya, gula dibuat dari nira, baik itu nira kelapa atau pun nira dari batang tebu. Nira yang diambil dari batang tebu, dapat diolah menjadi gula yang biasa dikenal gula kristal putih (GKP) atau gula pasir.

Nah, di artikel ini akan dibahas seputar tanaman tebu si penghasil nira. Tanaman cikal bakal gula kristal putih.

Sejarah Tebu

Berikut adalah rangkain dari sejarah tebu :

  1. Ada peneliti yang menyatakan bahwa tebu berasal dari Papua. Tetapi ada juga yang menyatakan jika tebu asalnya dari India. Berikut sejarah tanaman tebu, di Indonesia khususnya dan dunia umumnya.
  2. Spesies officinarum atau tanaman tebu, diperkirakan sudah dibudidayakan sejak zaman pra sejarah dahulu. Karena diyakini berasal dari daerah Polinesia, yang kemudian menyebar ke seluruh Asia Tenggara serta daerah keanekaragaman modernya ada di Papua Nugini dan Pulau Jawa.
  3. Di Jawa, tanaman tebu sudah ada sejak 400 tahun sesudah Masehi. Sekitar tahun 400-an, tanaman tebu sudah tumbuh di beberapa tempat pada Pulau Jawa dan Sumatera.
  4. Tahun 1637, pabrik gula di Jawa pertama kali didirikan. Awalnya, ada seseorang warga yang diijinkan untuk memproduksi gula dengan cara yang mirip (hampir sama) seperti syarat perusahaan/pabrik tebu besar.
  5. Diperkirakan, di abad ke-15 penduduk Jawa mulai mengenal keterampilan mengolah tebu menjadi gula tebu.
  6. Pada abad ke-17, VOC menancapkan perkebunan tebu di tanah Jawa. Kemudian, tahun 1798 banyak mengalami kerugian, sehingga pengusahaan tebu diambil alih oleh Belanda.
  7. Sebenarnya, dari tahun 1602, VOC hanya menjadi perserikatan dagang yang tidak mengurusi pertanian dan industri gula, di Indonesia. Tetapi, karena permintaan gula di Eropa semakin meningkat dan gula menjadi komoditas perdagangan yang sangat menguntungkan VOC, maka itulah VOC terus berupaya mengembangkan industri pergulaan di Jawa. Hal itu juga terlihat di awal abad ke-18 sudah berkembang 130 pabrik gula di Jawa. Tercatat, tahun 1710 sudah ada 2740 ton gula yang diproduksi 130 pabrik tersebut. Kemudian, tahun 1776 terjadi kemunduran karna tersisa 55 pabrik gula. Banyak faktor yang menyebabkan sebagian besar pabrik gula “tutup pintu”, di antaranya karena kemunduran internal VOC, harga beras yang melambung, curah hujan yang tinggi, masalah perpajakan dan hal-hal lain yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhinya.
  8. Pada abad ke-XV, tanaman tebu mulai dibudidayakan secara komersial di Indonesia, oleh beberapa imigran Cina.
  9. Tanaman tebu diperkirakan berasal dari Irian atau Papua, yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, lalu ke Malaysia, Filipina, Thailand, India hingga Burma. Sekitar tahun 600 Masehi, tanaman tebu dibawa dari India ke Iran, yang kemudian oleh orang Arab disebarkan ke Mesir, Maroko, Spanyol dan Zanzibar.
  10. Tetapi, ada sebagian peneliti yang memperkirakan bahwa tanaman tebu berasal dari India. Karena, di India tanaman tebu sudah ada sejak tahun 325 SM.
  11. Perkebunan tebu sudah ada di Jawa sekitar seperempat abad ke XVIII. Hal itu diawali dengan hadirnya para pengusaha dari Cina dan Eropa yang membudidayakan tanaman tebu di daerah Batavia, kemudian mereka mendirikan pabrik tebu.
  12. Setelah tahun 1859, di Nusantara terjadi pembangunan besar-besaran perkebunan tebu swasta.
  13. Pada awal tahun 1880-an, produksi gula di Jawa dirundung banyak masalah. Mulai dari produksi gula dunia lebih dari tingkat konsumsinya, yang membuat adanya pembatasan produksi gula dunia. Kemudian juga karena gula tebu Jawa kualitasnya masih sangat rendah dan terserang wabah hama sereh (Androgon schoenanthus). Hama sereh mengakibatkan tanaman tebu tumbuh dengan daun yang melipat, memanjang, kerdil dan menyempit, mirip tanaman sereh. Lalu, munculah beberapa lembaga penelitian khusus gula, di wilayah Jawa, di antaranya Proefstation Het Midden Java (tahun 1885 di Semarang), Proefstation Suikerret in West-Java (tahun 1886 di Tegal) dan Proefstation Oost-Java (tahun 1887 di Pasuruan). Lembaga Proefstation Oost-Java kemudian melakukan banyak penelitian termasuk penyilangan tanaman tebu secara konvensional. Dari situ, kemudian lahirlah varietas tebu POJ 100.
  14. Tahun 1907, lembaga Proefstation Suikerret in West-Java bergabung dengan Proefstation Oost-Java dengan nama baru yaitu Proefstation voor de Java-suikerindustrie (Stasiun penelitian untuk industri gula di Jawa) atau yang sekarang diberi nama Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), yang bertempat di Pasuruan.
  15. Tahun 1921, Proefstation voor de Java-suikerindustrie menemukan varietas tebu baru yaitu klon POJ 2878. Varietas tersebut mampu bertahan pada hama sereh yang mewabah saat itu serta mampu memproduksi tebu lebih tinggi daripada varietas POJ 100. Di tahun-tahun selanjutnya, varietas POJ 2878 menyebar ke seluruh perkebunan tebu di Jawa bahkan dunia. Menurut sejarah, tahun 1924, POJ 2878 dibudidayakan di Karibia dan Lousiana dan menjadi penyelamat dari serangan hama sereh. Disusul tahun 1930-an, POJ 2878 menyelamatkan perkebunan tebu di sisi barat laut Amerika Selatan, Kolombia.
  16. Tahun 1950, diperkirakan sudah ada 100 pabrik gula di Jawa. Di mana 80 pabriknya ada di Batavia, sedangkan 20 sisanya tersebar di Banten, Cirebon dan Pantai Utara Jawa Tengah.
  17. Saat ini diperkirakan Indonesia memiliki 74 pabrik gula milik BUMN dan swasta, 11 di antaranya adalah milik PTPN X.

Setelah mengetahui bagaimana cerita histori tanaman tebu, baiknya mengenali tanaman tebu lebih dalam lagi.

Tanaman Tebu

Tanaman tebu dikenal juga dengan nama tiwu (Jawa Barat) dan tebu atau rosan (Jawa Tengah dan Jawa Timur).

Tanaman tebu itu sendiri, memiliki ciri-ciri atau morfologi yang bisa diamati, di antaranya sebagai berikut:

  1. Tanaman tebu memiliki perakaran serabut, yang panjangnya sampai 1 meter.
  2. Pada tanaman muda (bibit tebu), ada 2 jenis akar, yaitu akar setek dan tunas. Akar setek ialah akar yang berasal dari setek batang, tidak panjang umur dan hanya digunakan saat tanaman muda. Sedangkan akar tunas merupakan akar dari tunas, yang panjang umur dan akan tetap ada selama tanaman tumbuh.
  3. Batangnya bisa tumbuh sampai 3 – 5 meter, dengan diameter 3 – 5 cm.
  4. Batangnya tumbuh dari mata tunas di bawah tanah. Batang tumbuh keluar dan berkembangnya membentuk rumpun. Karena itulah tanaman tebu termasuk dalam keluarga rumput-rumputan.
  5. Memiliki batang yang tinggi, langsing dan tegak pertumbuhannya.
  6. Batangnya tidak memiliki percabangan.
  7. Batangnya memiliki kulit yang keras dan berwarna kuning, hijau, ungu, merah tua atau kombinasi semuanya.
  8. Batang tebu memiliki lapisan lilin berwarna putih ke abu-abuan, yang umumnya pada tanaman muda.
  9. Batangnya beruas-ruas yang dibatasi oleh buku-buku. Di mana setiap buku memiliki mata tunas.
  10. Daunnya termasuk daun tidak lengkap. Karena hanya memiliki pelepah dan helaian daun, tanpa tangkai.
  11. Daunnya berpangkal pada buku batang dan posisinya berselang-seling.
  12. Daunnya berbentuk seperti busur panah dan berselang-seling seperti pita.
  13. Pelepah daunnya memeluk menyelimuti batang tanaman. Semakin ke atas posisinya, akan semakin sempit atau rapat pelukannya. Pelepah tersebut memiliki bulu dan telinga daun.
  14. Bunga pada tanaman tebu termasuk bunga majemuk. Bunganya tumbuh sepanjang 70 – 90 cm.
  15. Bunga tanaman tebu berbentuk malai, di mana cabang bunga tumbuh bertahap. Sumbu utamanya bercabang dan semakin ke atas akan semakin kecil. Tahap pertama, cabang akan berbentuk seperti karangan bunga. Selanjutnya, cabang akan berbentuk tandan, yang memiliki 2 bulir berukuran 3 – 4 mm.
  16. Setiap bunga terdiri dari 3 daun kelopak, 1 daun mahkota, 3 benang sari dan 2 kepala putik.
  17. Tanaman tebu memiliki biji seperti biji padi, yang terdiri dari 1 biji dengan lembaga yang besarnya 1/3 dari panjang biji.
Baca juga :  Macam Macam Tanaman Toga Dan Manfaatnya

Taksonomi Tanaman Tebu

Dalam susunan taksonomi, berikut adalah kedudukan tanaman tebu:

Kingdom         : Plantae

Sub kingdom   : Tracheobionta (berpembuluh)

Super divisi     : Spermatophyta (berbiji)

Divisi               : Magnoliophyta (berbunga)

Kelas               : Liliopsida / Monocotyledone (monokotil)

Sub kelas         : Commelinidae

Ordo                : Poales / Graminales

Famili              : Graminae / Poaceae (rumput-rumputan)

Genus              : Saccharum

Spesies            : Saccharum officinarum Linn

Syarat Tumbuh Tanaman Tebu

Ada beberapa kriteria lingkungan atau syarat tumbuh yang harus dipenuhi sehingga tanaman tebu dapat tumbuh dan produktivitasnya optimal, di antaranya sebagai berikut:

  1. Tanaman tebu tumbuh di daerah tropis. Tanaman tebu juga masih bisa tumbuh di sebagian daerah sub tropis.
  2. Tanaman tebu ditanam di ketinggian tempat 0 – 1400 m dpl. Ketinggian optimum untuk perkembangan tanaman tebu yaitu kurang dari 500 m dpl. Kemudian, di ketinggian tempat lebih dari 1200 m dpl, maka pertumbuhan tanamannya akan lambat.
  3. Tanaman tebu ditanam pada lahan dengan kemiringan kurang dari 8%. Jika tanahnya ringan, maka tetap baik dengan kemiringan lahan 2%. Sedangkan jika tanahnya berat, maka kemiringan sampai 5% masih baik untuk pertumbuhan tanaman tebu.
  4. Tanaman tebu baik ditanam pada daerah dengan suhu lingkungan 28 – 34 C atau optimumnya 24 – 30 C dan RH > 70%. Suhu lingkungan dapat mempengaruhi pembentukan sukrosa dalam tebu. Di mana pembentukan sukrosa pada siang hari, akan efektif dan optimal jika suhu lingkungan 30 Sukrosa kemudian disimpan dalam batang mulai dari ruas paling bawah ke ruas teratas. Proses penyimpanan sukrosa tersebut terjadi pada malam hari dan optimal pada suhu 15 C.
  5. Tanah yang cocok di antaranya jenis latosol, regusol, grumusol, alluvial, mediteran, litosol dan podzolik merah kuning.
  6. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tebu yang memiliki tekstur sedang sampai berat, strukturnya baik dan mantap dan kedalaman (solum) minimal 50 cm, dengan permukaan air setinggi 40 cm.
  7. Tanah yang cocok untuk pertumbuhannya yang kondisinya subur dan cukup air, tetapi tidak tergenang. Artinya, tanah untuk tanaman tebu bukan jenis yang tergantung pada air.
  8. Tanah yang cocok yang mempunyai kemampuan yang cukup untuk menahan air dan porositasnya 30%.
  9. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman tebu yaitu tanah dengan pH 6 – 7,5. Tetapi tanah pH 4,5 – 8,5 masih bisa ditoleransi oleh tanaman tebu.
  10. Tanaman tebu akan tumbuh baik jika mendapar curah hujan 1000 – 1300 mm/tahun atau minimal 3 bulan kering. Pada fase vegetatif, tanaman tebu membutuhkan curah hujan 200 mm/bulan, selama 5 – 6 bulan. Lalu, membutuhkan curah hujan 125 mm/bulan selama 2 bulan. Dilanjutkan curah hujan kurang dari 75 mm/bulan, selama 4 – 5 bulan.

Beranjak dari persyaratan yang harus dipenuhi untuk menunjang pertumbuhan dan produktivitas tanaman tebu, yang selanjutnya adalah apa saja fakta-fakta seputar tebu, yang mungkin Anda belum tahu atau terlupa.

Fakta Tentang Tebu

Ada beberapa fakta seputar tanaman tebu atau hal-hal yang berhubungan dengan tebu, yaitu sebagai berikut :

  1. Sebagian besar perkebunan tebu yang ada di Indonesia adalah milik rakyat (Perkebunan Rakyat).
  2. Sejak tahun 1980, kontribusi tebu dari perkebunan rakyat mencapai 59,96%.
  3. Pertumbuhan produksi gula Indonesia tahun 1998 – 2016, rata-rata mencapai 1,94% per tahunnya.
  4. Dalam sebuah pabrik gula, bisa menghasilkan ampas tebu 35 – 40% dari berat tebu giling.
  5. Tanaman tebu pertumbuhannya dibagi menjadi 2 fase utama. Pertama adalah fase pertumbuhan, saat tanaman berusia 3 – 8 bulan. Kedua adalah fase pemasakan, saat tanaman berusia 9 – 12 bulan, di mana batang akan mengeras dan warnanya menjadi kuning pucat.
  6. Tanaman tebu sudah bisa dipanen saat berusia 10 bulan setelah tanam.
  7. Gula hablur merupakan sukrosa yang dikristalkan.
  8. Pada genus Saccharum, ada 5 spesies yaitu officinarum, S. barberi, S. robustum, S, sinense dan S. spontaneum. Dari kelima spesies tersebut, S. officinarum adalah jenis yang mengandung sukrosa terbanyak disertai serat yang paling rendah jumlahnya.
  9. Untuk menentukan jumlah gula yang dihasilkan oleh tanaman tebu, biasanya menggunakan istilah rendemen tebu. Rendemen tebu menyatakan kadar total kandungan gula dalam batang tebu, dengan satuan atau nilai dalam persen (%). Contohnya, jika rendemen tebu 10%, berarti dalam 100 kg tebu yang digiling akan menghasilkan 10 kg gula.
  10. Tanaman tebu mengalami 5 fase utama, yakni:
  • Fase perkecambahan

Tandanya, akan terbentuk taji pendek dan akar stek tepatnya di usia tanaman 1 minggu. Fase perkecambahan terjadi pada tanaman yang berusia 5 minggu.

  • Fase pertunasan

Fase pertunasan tanaman tebu terjadi pada usia 5 minggu sampai dengan 3,5 bulan.

  • Fase pamanjangan batang

Tanaman tebu mengalami fase pemanjangan batang pada usia 3,5 bulan ke atas sampai dengan 9 bulan.

  • Fase pemasakan

Pada fase ini, ada beberapa hal yang utama yaitu akan terjadi setelah pertumbuhan vegetatifnya menurun serta gula yang mulai terbentuk di dalam batang sampai titik optimalnya yang kemudian menurun. Maka dari itu, fase pemasakan disebut sebagai fase penimbunan rendemen gula.

  • Fase kelayuan

Setelah mengetahui fakta seputar tebu, baik tanamannya maupun hasil produksinya, maka yang selanjutnya adalah pengetahuan tentang kondisi tebu di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya.

Per-TEBU-an di Indonesia dan Dunia

Ada 8 negara yang menjadi sentra dengan luas panen tebu terbesar di kawasan ASEAN tahun 2009 – 2013. Di mana Indonesia, menjadi negara terbesar kedua setelah Thailand, dengan luas panen tebu Indonesia sebesar 449.834 hektare atau menyumbangkan 17,51% dari total se-ASEAN.

Selain Thailand dan Indonesia, 6 negara yang menjadi sentra dengan luas panen terbesar di ASEAN yaitu Filipina, Vietnam, Myanmar, Kamboja, Laos dan Malaysia.

Keenam negara tersebut menyumbangkan kontribusi luasan panen tebu, berturut-turut sebanyak 16,2%; 11,32%; 6,06%; 0,93%; 0,73% dan 0,13%.

Di sisi lain, 8 negara yang menjadi penghasil tebu terbesar di kawasan ASEAN tahun 2009 – 2013 yaitu Thailand 49,51%; Filipina 17,77%; Indonesia 16,05%; Vietnam 10,19%; Myanmar 5,54%; Laos 0,54%; Kamboja 0,27% dan Malaysia 0,13%.

Dari hasil tebu yang diproduksi, berdasarkan data di atas, maka berikut urutan ke-8 negara menurut total produktivitasnya.

Di pasaran dunia, ada 7 negara yang memiliki luasan panen tebu terbesar. Ketujuh negara dengan kontribusinya dalam rerata luasan panen tebu terbesar di dunia, tahun 2009 – 2013 ialah Brasil 37,48%; India 18,81%; Cina 6,92%; Thailand 4,58%; Pakistan 4,08%; Meksiko 2,9% dan Indonesia 1,77%.

Selain itu, dari data FAO tahun 2009 – 2013 tercatat ada 10 negara sebagai sentra produksi tebu di dunia. Kesepuluh negara beserta persentase kontribusinya dalam memproduksi tebu yaitu Brasil 40,67%; India 18,16%; Cina 6,63%; Thailand 4,82%; Pakistan 3,1%; Meksiko 2,93%; Kolombia 1,94%; Filipina 1,73%; Australia 1,57% dan Indonesia 1,56%.

Kemudian, untuk kondisi pertebuan di Indonesia sendiri ada beberapa daerah yang produktivitas tebunya tinggi.

Luas panen tebu selama 2012 – 2016 rata-rata mencapai 45,06% areal yang tepatnya ada di Jawa Timur. Hal itu dibuktikan oleh luasan panen tebu (dari hasil Perkebunan Rakyat, Perkebunan Besar Negara dan Perkebunan Besar Swasta) di Jawa Timur, hingga 209.663 hektare.

Tercatat sebanyak 25,3% luas panen tebu di Indonesia tahun 2012 – 2016 berasal dari Lampung, dengan luasan area panen rata-rata 117.730 hektare per tahunnya. Selain Jawa Timur dan Lampung sebagai penghasil tebu terbesar, ada 7 provinsi penghasil tebu lainnya yang juga termasuk terbesar, yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Gorontalo dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena, pada tahun 2012 – 2016, 7 provinsi tersebut mampu memanen tebu dengan rata-rata luasan 137.906 hektare.

Baca juga :  Manfaatkan Sayuran dan Buah “Buruk” Rupa

Ada 5 kabupaten yang menjadi sentra produksi tebu terbesar di Jawa Timur yaitu Malang, Kediri, Lumajang, Jombang dan Mojokerto.

Ada 4 kabupaten yang menjadi sentra produksi tebu terbesar di Lampung yaitu Lampung Tengah, Tulang Bawang, Lampung Utara, Way Kanan dan Tulang Bawang Barat.

Ada 5 kabupaten yang menjadi sentra produksi tebu terbesar di Jawa Tengah yaitu Pati, Sragen, Rembang, Tegal dan Blora.

Ada 6 kabupaten yang menjadi sentra produksi tebu terbesar di Jawa Barat yaitu Cirebon, Subang, Majalengka, Indramayu, Kuningan dan Sumedang.

Sementara itu, di Sumatera Selatan hanya ada 2 kabupaten yang menjadi sentra produksi tebu terbesar yaitu Ogan Ilir yang menghasilkan 65.802 ton (65,55%) dan OKU Timur dengan produksinya 34.582 ton (34,45%).

Sehingga, jika dijumlahkan maka produksi tebu di daerah penghasil tebu terbesar Indonesia tahun 2013 sampai 2015, yaitu:

Tercatat ada beberapa daerah di Indonesia dengan luas areal perkebunan tebu terbesar dibandingkan daerah lainnya, yaitu:

Sedangkan luas areal dan produksi tebu menurut pengusahaannya di Indonesia, yaitu sebagai berikut.

Dari hasil produksi dan luas areal penanaman tebu, maka dapat dilihat produktivitas tebunya untuk provinsi penghasil tebu terbesar di Indonesia, yaitu:

Jumlah ekspor – impor produk turunan tebu di Indonesia selama tahun 2011 – 2016 yaitu sebagai berikut.

Perkembangan harga pasaran setiap bulannya, untuk produk gula dari tebu (cane sugar) di Indonesia.

Setelah melihat bagaimana kondisi pertebuan di Indonesia dan dunia, maka yang juga perlu diketahui ialah kandungan dalam tebu itu sendiri. Pastinya, tebu dikenal dengan rasanya yang manis pada bagian batangnya. Kemanisan tersebut berasal dari kandungan gula atau turunannya.

Kandungan Tebu

Tebu mengandung sukrosa sebanyak 8 – 15% dari bobot batangnya. Batang tebu mengandung serat dan kulit sekitar 12,5% serta 82,5% nira yang terdiri dari gula, mineral dan bahan non gula lainnya.

Batang tebu mengandung setidaknya 0,5 – 1,5% monosakarida, 11 – 19% sukrosa, 0,5 – 1,5% zat organik abu, 11 – 19% sabut (yaitu selulosa atau pentosan), 0,15% asam organik serta 65 – 75% air, bahan lain lilin, zat warna alami dan ikatan unsur N (nitrogen).

Nira yang terkandung di dalam tebu, memiliki rasa yang manis, segar, berwarna cokelat kehijau-hijauan dan pH-nya 5,5 – 6. Akan tetapi, nira yang disimpan selama lebih dari 6 jam, maka 14,3% sukrosanya akan hilang.

Batang tebu mengandung beberapa senyawa kimia, di antara adalah:

1. Air

Batang tebu mengandung 75 – 85% air. Air tersebut harus banyak dihilangkan dalam proses penguapan dan kristalisasi gula tebu.

2. Sukrosa

Semua bagian pada tanaman tebu mengandung sukrosa. Akan tetapi, bagian batang adalah sumber terbanyak sukrosa yang jumlahnya mencapai 10 – 12%.

3. Gula reduksi

Gula reduksi merupakan campuran antara glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang berlebihan antara satu dengan yang lain. Semakin matang tanaman tebu, maka akan semakin sedikit gula reduksinya. Setidaknya ada 0,5 – 2% gula reduksi dalam batang tebu.

4. Senyawa organik

Dalam batang tebu, terkandung 0,5 – 1% senyawa organik, yang berbentuk asam laktat, asam suksinat dan asam glukonat.

5. Senyawa anorganik

Ada berbagai senyawa anorganik dalam tebu yang sebenarnya berasal dari tanah dan pupuk, di antaranya senyawa Fe2O3, Al2O3, MgO, CaO, K2O, SO3 serta H2SO4.

6. Senyawa phosphate

Senyawa phosphate menjadi penting dalam pemurnian gula tebu, karena kemampuannya dalam menarik dan mengendapkan kotoran.

7. Serabut

Tebu mengandung beberapa senyawa di dalamnya, yaitu sebagai berikut.

Sementara itu, nira dari batang tebu, setidaknya mengandung beberapa kandungan seperti sebagai berikut.

Ampas tebu merupakan sisa dari nira, yang jumlahnya sekitar 31 – 34% bagian dari tebu. Berikut kandungan kimia dari ampas tebu.

Ampas tebu mengandung senyawa seperti lignin, selulosa dan hemiselulosa. Selulosa inilah yang bisa diolah menjadi asam oksalat. Di mana asam oksalat adalah senyawa yang biasa digunakan dalam bahan peledak, zat warna, rayon, bahan pelapis logam dari korosif sampai dengan pembersih untuk radiator otomotif, bahan metal dan peralatan.

Pada proses pembuatan tebu, akan menghasilkan 5% gula; 90% ampas tebu serta 5% sisanya adalah molase (tetes) dan air. Ketika batang tebu dipotong, maka akan nampak serat dan cairan yang manis. Serat dan kulit batang tebu disebut sabut, yaitu 12,5% dari bobot tanaman tebu.

Daun tebu dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar memasak. Daun tebu kering bersifat cepat panas, yang pembakarannya setara dengan minyak tanah.

Selanjutnya, ada hal lain yang juga penting untuk diketahui, terutama jika akan menanam tebu, yaitu pemilihan varietas tebu.

Varietas dan atau Jenis Tanaman Tebu

Berdasarkan masa pemasakannya, tanaman tebu terdiri dari 3 varietas yaitu sebagai berikut:

  • Masak awal : disebut varietas genjah, yang akan mencapai masak optimalnya pada umur 8 – 10 bulan. Contohnya varietas PS 57, PS 60, BZ 132, PS 80-442, POJ 3016, PS 41, PS 56, BZ 132, BZ 148, G 90.
  • Masak tengahan : disebut varietas sedang, yang akan mencapai masak optimalnya pada umur 10 – 12 bulan. Contohnya varietas PS 59, PS 60, BZ 148, PS 77-1553, PS 77-2601, PS 79-82.
  • Masak lambat : disebut varietas dalam, yang akan mencapai masak optimalnya pada umur 12 bulan.

Ada beberapa varietas unggul tanaman tebu yang sudah resmi dilepas Menteri Pertanian RI, di antaranya sebagai berikut.

Selain itu, ada beberapa kultivar tebu yang banyak ditanam di Sumatera Utara yakni sebagai berikut:

a. Tebu kuning

Banyak dibudidayakan di wilayah Desa Helvetia, Marelan, Medan Utara. Tebu kuning sangat mudah untuk tumbuh dan menghasilkan tunas, khususnya jika ditanam di tanah yang tidak terlalu basah atau kering.

Kultivar tebu kuning banyak ditanam di pekarangan rumah dalam jumlah relatif sedikit dan dibudidayakan untuk tujuan konsumsi sendiri. Tebu kuning memiliki batang yang teksturnya lunak, mudah digigit, segar dan rasanya manis.

b. Tebu merah

Kultivar tebu merah memiliki karakteristik warna yang relatif bahkan cenderung merah, yaitu pada bagian batang dan daunnya.

Kultivar tebu merah ada yang memang tumbuh liar, tetapi ada pula yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah warga. Berbeda dari kultivar lainnya, tebu merah justru lebih banyak dimanfaatkan sebagai obat.

c. Tebu Brastagi

Kultivar tebu Brastagi tumbuh sangat baik di Karo, Dairi dan Phak-phak Barat. Tebu Brastagi memiliki karakteristik yaitu relatif sulit muncul tunas daripada kultivar lain, bahkan cenderung mati jika tanah terlalu basah, memiliki batang yang teksturnya sangat keras. Meskipun rasa niranya sangat manis, tetapi harus digiling terlebih dahulu untuk mencicipi kemanisannya.

d. Tebu gelaga

Kultivar tebu gelaga banyak ditanam di daerah Medan, Deliserdang dan Langkat. Seperti halnya tebu kuning, tebu gelaga juga bisa dimakan langsung. Tebu gelaga memiliki rasa yang manis serta tumbuh dengan mudah di tanah berkecukupan air.

e. Tebu gambas

Kultivar tebu gambas banyak dibudidayakan di pekarang rumah, seluruh Sumatera Utara. Di satu sisi, tebu gambas termasuk kultivar yang sangat mudah tumbuh, khususnya di tanah yang berkecukupan air. Tetapi di sisi lain, rasanya kurang manis dan justru terasa keasaman, sehingga kurang disukai.

Baca juga :  Sejarah Rempah Rempah Di Indonesia Dan Dunia

Setelah pembahasan yang sudah cukup dalam tentang tanaman tebu, barangkali ada di antara Anda yang tertarik untuk membudidayakannya di lahan sendiri. Pilih kultivarnya dan mulailah membudidayakannya.

Budidaya Tanaman Tebu

Jika Anda tertarik untuk membudidayakan tanaman tebu, maka hal pertama yang perlu diingat adalah syarat tumbuhnya. Selain itu, ada beberapa hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman tebu, di antaranya sebagai berikut:

  1. Tanaman tebu sangat sensitif pada kondisi udara dalam tanah yang kurang.
  2. Drainase diatur sebaiknya pada kedalaman 1 meter, sehingga pertumbuhan tanaman di musim kemarau tidak akan terganggu.
  3. Tanaman tebu menyukai solum tanah minimal 50 cm, yang tanpa lapisan kedap air dan permukaan air cukup 40 cm.
  4. Kecepatan angin kurang dari 10 km/jam pada siang hari, masih ditolerir bahkan baik untuk pertumbuhan tanaman tebu. Tetapi, jika lebih dari 10 km/jam justru bisa mengganggu pertumbuhan dan membuat tanaman menjadi patah lalu roboh.

Hama dan Penyakit Tanaman Tebu

Ada beberapa musuh utama tanaman tebu atau yang disebut HPT (Hama dan Penyakit Tanaman), di antaranya:

a. Penggerek pucuk (Triporyza vinella F)

Umur yang diserang          : 2 minggu sampai umur tebang.

Gejala serangan                 : adanya lubang melintang di helai daun yang mengembang.

Pengendalian                     : penyemprotan insektisida (seperti Carbofuran atau bisa juga Petrofur)

b. Penggerek batang (Phragmatoecia castaneae)

Jenis                      : penggerek bergaris (Proceras sacchariphagus Boyer) yang sering menyerang, berkilat (Chilotraea auricilia Dudg), abu-abu (Eucosma schista-ceana Sn), kuning (Chilotraea infuscatella SN) dan jambon (Sesamia inferens Walk).

Akibat serangan    : jika yang terserang tanaman umur 3 – 5 bulan maka tanaman bisa mati; jika yang terserang tanaman tua maka ruas-ruas batang rusak dan pertumbuhan ruas di atasnya akan terganggu, batang akan pendek, beratnya turun sehingga rendemen gula akan rendah/menurun. Serangan yang parah akan merobohkan tanaman.

Pengendalian         : insektisida (seperti Pestona atau Natural BVR), parasitoid telur Trichogramma sp dan lalat jatiroto Diatraeophaga striatalis.

c. Uret (Lepidieta stigma F)

Jenis                      : larva kumbang dengan bentuk tubuh bengkok seperti huruf U

Gejala serangan     : memakan perakaran sehingga tanaman gejalanya seperti kekeringan. Uret akan menyerang bagian akar dan pangkal tanaman.

Pengendalian         : mekanis atau khemis, dengan menangkap kumbang sore/malam menggunakan perangkap lampu, terutama bulan Oktober – Desember.

d. Mosaik

Penyebab               : virus, yang dibantu kutu daun dari tanaman jagung

Gejala serangan     : muncul noda/garis-garis yang kehijauan, hijau tua atau kuning, yang biasanya menyerang daun muda.

Pengendalian         : memilih varietas tebu yang tahan virus, selain itu juga hindari infeksi dengan memilih bibit yang sehat serta rajin membersihkan lingkungan/area kebun.

Selain hama penggerek pucuk dan batang, uret serta mosaik, masih ada 3 HPT lain yang harus menjadi musuh tanaman tebu, yaitu:

a. Busuk akar

Penyebab               : cendawan Pythium sp., terjadi di lahan yang drainasenya tidak baik.

Gejala serangan     : pembusukan pada akar, lebih lanjut tanaman akan layu dan mati.

Pengendalian         : memilih varietas tebu yang lebih tahan terhadap kondisi drainase dan perbaikan sistem drainase.

b. Blendok

Penyebab               : bakteri Xanthomonas albilineans

Gejala serangan     : gejala ringannya terjadi klorosis pada daun, gejala beratnya akan timbul garis-garis hijau dan putih di seluruh daun. Tanda lainnya dapat dilihat di bagian penampang membujur dari batang akan berubah warnanya yaitu dari kuning sampai merah tua, serta bagian titik tumbuh dan tunas-tunasnya akan berwarna merah. Penyakit ini menyerang tanaman yang berusia 1,5 – 2 bulan.

Pengendalian         : memilih varietas yang lebih tahan penyakit, menggunakan bibit yang sehat dan mencegah kemungkinan penularan pada tanaman tebu lainnya dengan desinfektan larutan Lysol 15% untuk pisau pemotong bibit yang digunakan.

c. Kutu bulu putih (Ceratovacuna laniagara)

Penyebab               : kutu dari spesies Ceratovacuna laniagara

Gejala serangan     : kutu bulu putih biasanya menyerang bagian daun.

Pengendalian         : jika daun sudah terlihat ada kutu bulu putihnya, segeralah dipangkas, lalu masukkan ke plastik dan dibakar.

Panen Tebu

Tebu dipanen ketika sudah berumur 10 – 12 bulan HST. Tetapi ada yang menyatakan bahwa tebu dipanen/ditebang ketika sudah berumur 11 – 14 bulan. Tebu yang siap panen, seluruh daun telah menguning. Ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan, di antaranya:

  • Pemanenan di musim kemarau, sebaiknya penebangan tebu dilakukan pada kebun yang jauh dari pabrik. Tetapi jika panen di musim penghujan, maka sebaiknya lakukan penebangan hanya pada kebun yang dekat dengan pabrik.
  • Penebangan dilakukan tepat pada permukaan tanah.
  • Penebangan menggunakan cane harvester dilakukan pada waktu yang mendesak saja.
  • Penebangan untuk tebu yang nantinya akan dikepras, cukup ditebang sampai sebatas permukaan tanahnya yaitu hanya menyisakan 15 – 20 cm batang di bawah permukaan tanah. Tetapi, untuk tebu yang tidak akan dikepras, maka seluruh batangnya dapat langsung dicabut/congkel.
  • Setelah ditebang, tebu harus segera digiling, maksimal 36 jam (sejak ditebang).

Sistem Panen Tebu

Pada panen tebu, secara umum ada 2 sistem, yaitu:

1. Sistem tebu hijau

Memanen tebu dengan menebang tanpa didahului perlakuan sebelumnya (pra penebangan). Sistem tebu hijau biasa dilakukan di wilayah Jawa.

2. Sistem tebu bakar

Memanen tebu dengan menebang batang yang sebelumnya didahului dengan pembakaran, untuk mengurangi sampah yang tidak perlu, sehingga akan memudahkan proses penebangan. Di luar Jawa, khususnya di Lampung, biasa menggunakan sistem tebu bakar dalam pemanenan tebu.

Teknik Penebangan Tebu

Sementara itu, dalam penebangan tebu ada 3 teknik yang biasa dilakukan, yaitu:

1. Tebu ikat (bundled cane)

Proses penebangan dan pemuatan tebu ke dalam truk atau kontainer dilakukan secara manual, yang biasanya dimulai sejak pagi sampai malam hari. Truk angkut yang digunakan berkapasitas 6 – 8 ton atau 10 – 12 ton.

2. Tebu urai (loose cane)

Proses penebangan tebu sendiri dilakukan secara manual, tetapi pemuatan tebu ke dalam truk dilakukan menggunakan mesin grab loader. Penebangan tebu dilakukan 2 orang per 12 baris. Hasil tebangan (tebu) diletakkan di baris ke 6 atau 7. Sampahnya diletakkan di baris ke-1 dan 12.

3. Tebu cacah (chopped cane)

Proses penebangan tebu dilakukan menggunakan mesin pemanen tebu atau yang disebut cane harvester. Hasilnya berupa potongan batang tebu berukuran 20 – 30 cm.

Dalam budidaya tebu, dikenal juga yang namanya tanaman keprasan. Tanaman keprasan merupakan sebutan untuk tanaman tebu yang sebelumnya sudah ditebang, lalu dipotong bagian tunggulnya, tepat atau lebih rendah dari permukaan gulu dan akhirnya dikembangkan menjadi tanaman baru sampai berproduksi. Tunas yang berasal dari tebu keprasan akan tumbuh lebih cepat dan berdaya saing yang tinggi.

Tebu keprasan dapat menghemat biaya untuk membuat lubang tanaman dan penyediaan bibit, mempersingkat waktu tanam (karena lebih cepat dari tebu pertamanya) serta kemampuannya yang lebih tahan pada kekeringan dan drainase yang kurang baik.

Tak hanya itu, tanaman keprasan akan membuat tebu tumbuh baik karena perakaran mampu beradaptasi dengan kondisi tanahnya dan membantu dalam upaya pelestarian tanah.

Itulah tanaman tebu yang mungkin hanya sedikit dari kita yang bisa melihat dan memegang bentuk fisiknya. Budidaya tanaman tebu bertujuan mendapatkan bahan pokok pembuatan gula putih.

Semoga bermanfaat 🙂

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.