Yuk Coba Budidaya RAS

Ada beberapa teknologi yang biasa dilakukan dalam aktivitas budidaya ikan di perairan, di antaranya keramba jaring apung (KJA), keramba jaring tancap (KJT) dan media waring. Sayangnya, ketiga teknologi tersebut sama-sama berpotensi menurunkan kualitas perairan, baik danau; waduk; sungai; pesisir laut.

Kemudian, seperti halnya pertanian yang semakin sedikit lahan subur untuk bercocok tanam, maka terjadi juga pada perikanan. Yakni lokasi perairan untuk budidaya perikanan yang semakin terbatas. Tak hanya itu, ada beberapa masalah lain terkait budidaya perikanan, di antaranya seperti:

  • Kualitas perairan yang juga semakin menurun, baik kuantitas maupun kualitasnya, yang mengakibatkan budidaya ikan tidak dilakukan sepanjang tahun.
  • Sistem budidaya perikanan tidak ramah lingkungan, yang kemudian mempengaruhi lingkungan yang berdekatan.
  • Produksi perikanan tidak berkualitas dan tidak kontinu karena rendahnya kualitas perairan.

Sejarah Teknologi RAS

Di Norwegia, teknologi RAS sudah dikembangkan selama kurun waktu 20 – 30 tahun. Melalui RAS, Norwegia membudidayakan salmon (Salmo salar), sidat (Anguilla anguilla), nila (Oreochromis niloticus), Lobster (Homarus gammarus), rainbow trout (Oncorhynchus mykiss), pike perch (Stizostedion lucioperca), arctic char (salvelinus alpinus) dan sturgeon (order Acipenseriformes).

Budidaya RAS sudah diterapkan sejak 1990-an. Menurut catatan sejarah, teknologi RAS pertama kali dikenalkan tahun 1960 di Amerika. Teknologi RAS saat itu menjadi solusi atas pencemaran organik sungai dari tempat pembiakan ikan dan udang. Selain itu juga didasarkan karena permintaan benih ikan salmon yang tinggi, meningkat mendadak dan dibutuhkan sepanjang waktu (kontinu). Lebih jauh lagi, RAS mampu mengendalikan padatan terlarut yang bisa disesuaikan dan atau diatur dengan sistem akuakultur. Di mana sistem dibuat tertutup untuk memproduksi ikan dan udang sepanjang tahun.

Teknologi RAS sudah diterapkan di negara maju seperti Amerika, Jerman, Israel dan Singapura.

Sebenarnya, teknologi RAS diadaptasi dari proses daur ulang secara alami oleh alam. Air yang ada di bumi sebenarnya merupakan air yang sama dan sudah ada di bumi sejak ribuan tahun yang lalu. Limbah sisa pencernaan makhluk hidup didaur ulang dengan sendirinya oleh alam. Hal itu menjadikan siklus bumi disebut dengan self-sustaining atau juga dikenal dengan siklus nitrogen, karena melibatkan senyawa nitrogen. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan, terciptalah teknologi daur ulang air untuk budidaya perikanan atau yang lebih dikenal dengan Recirculating Aquaculture System (RAS).

 Teknologi RAS

Recirculation Aquaculture System (RAS) atau sistem resirkulasi akuakultur adalah teknik budidaya perikanan yang cukup unik, karena menggunakan teknik akuakultur dengan kepadatan tinggi dan kondisi lingkungan terkontrol. Dari situlah, RAS mampu meningkatkan produksi ikan pada lahan dan kondisi air yang terbatas, meningkatkan produksi ikan sepanjang tahun, fleksibilitas lokasi produksi, pengontrolan penyakit serta ketidaktergantungan produksi pada musim. Teknologi RAS menjadi budidaya yang intensif serta cocok untuk diaplikasikan di daerah dengan lahan dan air yang terbatas.

Sistem resirkulasi sebenarnya adalah teknologi budidaya yang dikembangkan dari sistem akuakultur tertutup. Yaitu termasuk sistem perkolaman dalam pemeliharaan hewan budidaya, sistem penyaringan atau filterisasi untuk menghilangkan partikel larut dalam air serta sistem manajemen kualitas air agar air kolam budidaya lebih terjaga dan stabil dalam kondisi prima sesuai kebutuhan hewan yang dibudidayakan.

Teknologi RAS yaitu sistem sirkulasi air tambak, dengan memanfaatkan kembali air (reuse), untuk budidaya perikanan. Dari situlah, penggunaan air (dari luar sistem) bisa dikurangi. Karena, air tambak yang sudah terpakai untuk budidaya dan kualitasnya menurun, masih bisa kembali digunakan setelah difiltrasi.

Teknologi RAS bahkan bisa untuk mengontrol parameter kualitas air, seperti oksigen terlarut (DO), amonia, karbon dioksida, nitrit, nitrat, pH, salinitas dan padatan tersuspensi. Melalui pengontrolan parameter penting pada kualitas air ini, nantinya akan memungkinkan terciptanya kondisi pemeliharaan yang baik bagi pertumbuhan dan pemanfaatan pakan agar lebih optimal.

Teknologi RAS pada prinsipnya adalah proses nitrifikasi yang tujuannya untuk mengonversi toksik yaitu amonia dan nitrit, menjadi nitrat yang baik bagi ikan budidaya.

Sistem resirkulasi pada akuakultur merupakan budidaya perikanan dengan mendaur ulang dan mengolah air buangan (limbah), sebagian resirkulasi semi tertutup atau seluruhnya resirkulasi tertutup. Sehingga nantinya air buangan tersebut akan layak untuk dimanfaatkan kembali pada proses budidaya perikanan.

Macam-macam Teknologi RAS

Sistem resirkulasi sendiri pada dasarnya terdiri dari 2 jenis, yaitu:

  • Sistem sirkulasi tertutup : seluruh air yang ada di kolam didaur ulang.
  • Sistem sirkulasi semi tertutup : air dalam kolam, yang didaur ulang hanya sebagian saja, sehingga membutuhkan pasokan air dari luar kolam.

Sistem RAS juga bisa dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

  1. Akuaponik

Yakni menggabungkan sistem budidaya ikan metode RAS dengan budidaya tanaman tanpa media tanah. Air dari kolam pemeliharaan ikan dialirkan lewat pompa air, menuju filter, lalu ke pot media tanam tanaman. Air tersebut lalu bergerak mengalir kembali ke dalam kolam ikan dengan kondisi yang sudah terfilter. Sistem tersebut berjalan secara kontinu. Seperti yang sudah dibahas pada artikel sebelumnya tentang akuaponik, bahwa teknologi tersebut mampu memberikan keuntungan ganda, yaitu memanen ikan dan tanamannya.

2. Akuarium

Akuarium komersial dan komersial pedalaman merupakan contoh bentuk sistem RAS. Di situlah terjadi pengontrolan kualitas air dengan hati-hati dan padat tebar ikan cenderung rendah. Biofilter dalam akuarium cenderung berfungsi mengurangi kebutuhan menukar air dan tetap menjaga kejernihan air.

Peralatan Sistem

Peralatan yang digunakan dalam teknologi RAS, pada prinsipnya adalah tangki dan pompa. Tangki biasanya dipilih yang berbahan plastik, fiber glass, semen polytank dan sebagainya. Jangan lupa untuk mengecat bagian dalam tangki dengan warna gelap/kelabu, agar ikan yang akan dibudidayakan di dalamnya tidak stres. Pada teknologi RAS, satu modul di dalamnya berisi perangkat utama seperti:

  • Unit budidaya disebut juga tangki kultur (growing tank) : tangki ini menjadi tempat ikan dipelihara di dalamnya, ukuran/kapasitas tangki harus disesuaikan juga dengan kapasitas jumlah ikan yang akan dibudidaya.
  • Unit penyaring partikulat (sump particulate) atau disebut sebagai filter mekanik : menjadi tempat untuk menyaring padatan terlarut agar tidak menyumbat biofilter atau pun mengonsumsi supply
  • Biofilter : menjadi bagian utama dalam teknologi RAS, karena merupakan tempat di mana proses nitrifikasi berlangsung. Biofilter menjadi unit pembersihan dan perbaikan kualitas air yang didaur ulang. Biofilter dapat berasal dari batu kerikil, batu kapur, plastik, mikro bead, pasir dan sebagainya.
  • Pompa resirkulasi (water recirculation pump) : pompa untuk mengarahkan, menaikkan dan mengalirkan air, yang dapat diatur sesuai kebutuhan/keinginan.
  • Aerator : sebagai sistem aerasi atau pemasok oksigen ke dalam kolam air.
  • Sistem sterilisasi air : fungsinya untuk membunuh mikroorganisme patogen, parasit dan bakteri, seperti penggunaan gas ozon dan ultaviolet (UV).
  • Saluran pasok (supply canal) dan pompa air (inlet)
  • Pengatur suhu : baik heater atau pun cooler, untuk menstabilkan suhu air agar sesuai dengan kebutuhan ikan (dan sejenisnya) yang dibudidaya.
  • Pengatur pencahayaan : untuk menstimulasi pola makan, contohnya jika cahaya diredupkan agar lebih merangsang ikan untuk aktif makan pada senja dan fajar atau cahaya dimatikan saat memberi makan biota air yang aktif makannya pada malam hari (hewan nocturnal).

Tetapi selain itu, dalam RAS juga dilengkapi dengan perangkat lain sebagai penunjangnya, seperti:

  1. Saluran air bersih (clean water canal / sub inlet)
  2. Pompa air dan pompa udara / blower
  3. Sumber energi listrik
  4. Generator : pemasok cadangan energi listrik
  5. Gudang pakan
  6. Bangunan budidaya
  7. Ruang penyimpaan peralatan lain

Bagaimana Teknologi RAS Bekerja?

Ikan yang hidup dalam keramba membutuhkan ketersediaan oksigen yang memadai. Kandungan DO 1 – 2 mg/l dalam beberapa jam saja sudah bisa membunuh organisme air. Sedangkan kandungan DO 2 – 5 mg/l yang terjadi terus menerus dalam waktu lama, bisa menghambat pertumbuhan organisme air. Maka, kandungan DO yang baik untuk pertumbuhan organisme air yaitu 5 mg/l sampai dengan titik jenuh (saturasi) oksigen. Menurut referensi, Boyd dan Tucker (1998), aktivitas akuakultur setidaknya memiliki pH 6,5 – 9. Di samping itu, pH optimum untuk biota laut 7,5 – 8,5. Suhu ideal untuk budidaya perikanan berkisar antara 25 – 31 0C. Suhu perairan yang berfluktuasi drastis akan berdampak negatif pada pertumbuhan embrio ikan.

Sedangkan kedalaman perairan yang ideal untuk budidaya ikan berkisar antara 70 – 120 cm. Jangan terlalu dangkal, tetapi jangan juga terlalu dalam. Jika terlalu dangkal, akan membuat perubahan yang besar pada suhu. Jika terlalu dalam, terjadi perbedaan suhu yang sangat mencolok yaitu antara air bagian atas (termasuk juga permukaan) dan bagian bawahnya (dasar air), serta sinar matahari yang tidak mencapai dasar perairan yang imbasnya akan memperlambat dan atau menghambat pertumbuhan fitoplankton.

 RAS bekerja

Pada beberapa sistem RAS indoor, pengonversian amonia menjadi nitrat, dilengkapi oleh reaktor khusus yang menumbuhkan bakteri pengurai nitrat menjadi nitrogen dalam kondisi anaerob. Di mana sebagian besar reaktor diberi sumber karbon eksternal sebagai bahan bakar denitrifikasi heterotrofik. Sementara itu, pada sistem RAS outdoor, sebagian besar pelepasan fosfor terjadi karena asimilasi oleh organisme ekstraktif. Fosfor tersebut tidak hilang dalam sistem, tetapi dibuang melalui aliran pembuangan. Tetapi, pada sistem kombinasi penghancur lumpur dan denitrifikasi di sistem resirkulasi, sebagian besar orto-fosfat terlarut, dihentikan produksinya selama proses berjalan.

Berikut adalah karakteristik sistem RAS indoor dan outdoor beseta komponen proses/perlakuannya dalam sistem resirkulasi.

Spesies yang dibudidaya Perlakuan Biomasa maks. (kg) Volume dan luas area pengolahan Sumber data
Total Per-kg biomassa
RAS indoor

Tilapia (O. niloticus x O. aureus)

Gilthead seabream (Sparus aurata)

Gilthead seabream (Sparus aurata)

 

Denitrifikasi / penghancuran lumpur

 

4800

 

106

 

1752

 

40 m3

23 m2

1,55 m3

2,75 m2

14,4 m3

11,1 m2

 

0,008 m3

0,005 m2

0,015 m3

0,026 m2

0,008 m3

0,006 m2

 

Shnei et al (2002)

 

Gelfand et al (2003)

 

Tal et al (2009)

RAS outdoor

Seabass (Dicentrachus labrax)

 

Gilthead seabream (Sparus aurata)

 

Tilapia (Oreachromis massambicus x O. aureus)

Udang putih (Litopenaeus vannamei)

Tilapia (O. niloticus)

 

Kolam, alga densitas tinggi

Kolam, alga densitas tinggi

Lahan basah

 

Lahan basah

 

Akuaponik

 

320

 

 

520

 

 

1230

 

 

924

 

 

2184

 

14 m3

26 m2

 

12 m3

43,7 m2

 

50 m3

55 m2

 

21 m3

32 m2

 

80 m3

232 m2

 

0,044 m3

0,081 m2

 

0,023 m3

0,084 m2

 

0,041 m3

0,045 m2

 

0,023 m3

0,035 m2

 

0,037 m3

0,106 m2

 

Metaxa et al (2009)

 

 

Schuenhoff et al (2003)

 

Zachritz et al (2008)

 

 

Lin et al (2005)

 

 

Rakocy et al (2004)

Sumber: Jaap Van Rijn (2013)

Pada dasarnya, ada 3 treatment utama sistem RAS, yaitu:

  1. Solid removal : yaitu langkah menghilangkan partikel/padatan dalam perairan, seperti sisa pakan, feses dan limbah padat lainnya.
  2. Bio filtration : langkah menghilangkan senyawa kimia yang mencemari perairan yaitu amonia.
  3. Dissolve gas control : langkah akhir, yaitu menambah sejumlah oksigen terlarut,sehingga air yang dialirkan lagi ke kolam, kaya oksigen terlarut yang baik bagi biota air.

 Sistem RAS dimulai dari pakan yang dimakan dan dicerna oleh ikan. Limbah dari pencernaan tersebut akan menjadi amonia. Yaitu polutan yang sangat signifikan dalam kolam perikanan. Amonia sendiri, sebenarnya tidak dikehendaki ada di dalam kolam, karena bisa memperlambat pertumbuhan organisme air di dalamnya, yang dalam kadar tertentu akan sangat berbahaya dan meracuni tubuh organisme air tersebut.

Dalam sistem RAS, amonia akan menjadi makanan bagi bakteri Nitrisomonas, sehingga menghasilkan nitrit. Nitrit selanjutnya akan dilahap oleh bakteri Nitrobacter, untuk dikonversi menjadi nitrat. Nitrat tidak membahayakan ikan secara fatal, meskipun kadarnya cukup tinggi. Hanya saja, kemungkinan pada kadar tertentu akan menyebabkan gangguan kesehatan minor pada ikan.

Pada sistem RAS, air dari tangki ikan mengalir melewati biofilter, untuk selanjutnya menuju kembali ke tangki ikan. Biofilter menjadi bioreaktor menjadi tempat tumbuhnya bakteri pengurai yaitu Nitrisomonas dan Nitrobacter.

Air yang jumlahnya sedikit, ditambahkan ke dalam sistem melalui unit karantina. Air tersebut ditambahkan untuk menggantikan volume air yang hilang, karena penguapan, rembesan maupun pembersihan dasar tambak / sifon.

Biofilter dan Penyaringan

Ada 2 jenis filter yang biasa digunakan dalam RAS, yaitu filter fisik dan kimiawi. Filter fisik fungsinya untuk memisahkan padatan dari air secara fisik, misalnya dari ukurannya, yakni dengan menyaring/menjerat benda asing yang ukurannya tidak sesuai berbeda dari yang diinginkan. Contoh filter fisik seperti batu koral.

Sedangkan filter kimiawi, fungsinya menyaring dan menghilangkan material kimia seperti sedimen, bau asing, klorin dan senyawa organik VOC (Volatile Organic Compounds), yang terkandung pada air. Contoh filter kimiawi adalah karbon aktif.

Filter dalam sistem RAS sendiri, ada 3 jenis, yaitu:

  • Filter mekanis : filter fisika, seperti kapas atau dakron
  • Filter kimia : seperti pasir atau karang
  • Filter biologis : biasanya memiliki pori sebagai substrat bakteri pengurai,contohnya bioball

Akan tetapi, ada aturan yang mesti dilakukan dalam penggunaan media filter dalam sistem RAS. Sebelum digunakan, media filter harus dicuci bersih, lalu dikeringkan. Hal ini bertujuan agar kondisi filter steril, stabil dan bebas kontaminasi. Setelah dicuci bersih, media filter digunakan dahulu dalam sistem resirkulasi selama seminggu, tanpa ada ikan budidaya di dalam tangki air. Tujuannya, agar filter bisa stabil, beradaptasi dan lebih mengoptimalkan fungsinya sebagai media sirkulasi.

Filter dalam sistem RAS, memiliki fungsi mekanis yaitu untuk menjernihkan air serta fungsi biologis yakni menetralisasi senyawa amonia toksik menjadi senyawa nitrat yang kurang toksik melalui proses nitrifikasi.

Dalam sistem RAS, biofilter juga berperan menjaga suhu air yang rendah. Setelah melalui sistem, air yang digerakkan pompa dan masuk dalam biofilter akan terjadi gesekan mekanis yaitu antara partikel air, media tanam dan perakaran tanaman. Hal itulah yang menjadikan suhu air kolam bisa meningkat dan lebih konstan. Biofilter dalam sistem RAS juga mampu menjaga konsentrasi amonia selama proses budidaya.

Proses Nitrifikasi

Di perairan alami, nitrat tidak pernah lebih dari 0,1 mg/L kadarnya. Jika lebih dari 5 mg/L kadar nitratnya, mengindikasikan telah terjadi pencemaran antropogenik, yang berasal dari aktivitas manusia dan feses hewan. Sedangkan nitrit, di perairan alami jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan nitrat. Hal ini karena nitrit adalah wujud peralihan antara amonia dengan nitrat dan antara nitrat dengan nitrogen, yang berlangsung secara anaerob serta sifatnya tidak stabil jika dengan keberadaan oksigen. Adanya nitrit mengindikasikan bahwa telah berlangsung proses biologis yaitu perombakan bahan organik dengan kadar DO (oksigen terlarut) yang sangat rendah. Selain itu, nitrit lebih toksik dibandingkan nitrat, baik bagi manusia maupun hewan. Toksisitas nitrit terhadap ikan terjadi saat transport oksigen serta kerusakan jaringan tubuh. Saat nitrit diabsorbsi ikan, maka ion besi dalam hemoglobin teroksida dari ferro ke ferric, yang mengakibatkan methemoglobin dan mengganggu transportasi oksigen dalam darah. Methemoglobin dalam tubuh ikan, menyebabkan warna darahnya menjadi kecoklatan atau disebut brown blood disease. Seperti halnya pada udang-udangan atau jenis crustaceae yang terkontaminasi haemocyanin. Dimungkinkan, penyakit tersebut berasal dari hasil reduksi nitrat pada dasar kolam atau air anaerob.

Proses nitrifikasi akan berjalan dengan baik pada suhu optimum 20 – 25 0C. Suhu yang rendah menyebabkan pertumbuhan bakteri yang lambat dan selanjutnya mengakibatkan lambatnya proses nitrifikasi serta kadar amonia yang tinggi. Selain itu, padat tebar ikan yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan kompetensi pakan dan oksigen serta mempercepat laju penurunan kualitas air kolam. Hal itu juga berkorelasi dengan akumulasi sisa metabolisme dan sisa pakan yang nantinya berpengaruh pada pertumbuhan.

Hal terpenting dalam teknologi RAS adalah sistem resirkulasi air. Unit biofilter memiliki tugas utama dan besar, karena sebagai tempat membiakkan bakteri atau chemotropic bacteria, atau yang dalam perikanan air tawar disebut bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter. Sedangkan dalam perikanan air asin disebut bakteri Nitrosoccoccus dan Nitrococcus. Kedua bakteri nitrit tersebut dibiakkan untuk menetralkan kandungan amonia yang larut dalam air tambak. Amonia yang sangat beracun untuk ikan yaitu yang berbentuk ionized (NH4+). Amonia pada jumlah yang banyak dalam perairan, dapat membuat ikan stres dan terganggu fungsi organnya, sehingga mempengaruhi laju pertumbuhan benih ikan. Amonifikasi, nitrifikasi serta denitrifikasi, adalah proses mikrobiologis yang sangat dipengaruhi oleh suhu dan aerasi. Berikut reaksi kimia pada proses nitrifikasi.

Nitrifikasi, menurut Boyd dan Tucker (1998), merupakan reaksi oksidasi berurutan amonia menjadi nitrat, yang dilakukan oleh 2 kelompok bakteri kemoautotrof, dalam kondisi aerobik. Nitrifikasi akan menurunkan amonia dalam air, sedangkan nitrat justru meningkat. Hal ini karena amonia bebas NH3 yang tidak terionisasi adalah toksik, bagi organisme air. Apalagi jika kadar DO turun, maka amonia akan lebih toksik. Konsentrasi sublethal NH3 berpengaruh pada perubahan patologi pada organ dan membran tubuh ikan.

 

Amonia yang Bahaya

Toksisitas amonia terhadap organisme akuatik sangat bergantung pada pH, suhu dan salinitas. Jika pH tinggi maka kadar NH3 akan naik. Jika kadar amonia dalam air tinggi maka kemampuan ikan mengeksresikan amonianya akan berkurang. Selanjutnya, akan meningkatkan kadar amonia dalam darah atau pun jaringan tubuh ikan. Kemudian akan meningkatkan pH darah serta berefek negatif. Efek negatif tersebut dapat merugikan reaksi berbagai enzim dan stabilitas membran, karena meliputi kerusakan insang, pengurangan kapasitas darah dalam membawa oksigen dan merusak histologi sel darah merah. Kerusakan insang tersebut nantinya menyebabkan masukan oksigen tereduksi.

Amonia sendiri ada di dalam air karena beberapa faktor seperti sumber amonia itu sendiri, tanaman air, konsentrasi DO dan suhu. Penggantian air kolam yang tidak rutin juga bisa menjadi faktor meningkatnya kadar amonia dalam air. Resirkulasi air mampu menurunkan kadar amonia dalam perairan (kolam) sampai dengan 31 – 43%.

 Lebih dan Kurangnya …

Kelebihan teknologi RAS dalam perikanan seperti:

  • Memelihara lingkungan budidaya yang baik, saat pemberian pakan agar pertumbuhan ikan dapat optimal.
  • Ikan yang diternakkan lebih sehat.
  • Lebih hemat dalam penggunaan air.
  • Fleksibelitas lokasi budidaya. Artinya, budidaya perikanan teknologi RAS dapat dilakukan di perairan atau lokasi mana pun, sekali pun dengan keterbatasan air.
  • Lebih higienis dan ramah lingkungan. Teknologi RAS hampir sepenuhnya mampu mengontrol kondisi lingkungan di sekitar lahan budidaya. Sehingga pertumbuhan ikan budidaya bisa lebih maksimal.
  • Kebutuhan lahan yang relatif kecil.
  • Mudah dikendalikan dan kemudahan dalam pemeliharaan.
  • Mudah mempertahankan/menjaga suhu dan kualitas air.
  • Lebih aman dari pencemaran yang mungkin terjadi di luar perairan.
  • Dapat dilakukan sepanjang waktu / sepanjang tahun.
  • Kadar sirkulasi makanan ikan pada RAS lebih rendah dibandingkan dengan ikan pada budidaya konvensional.
  • Kepadatan ikan bisa mencapai 0,35 kg/L bahkan lebih. Sedangkan kolam konvensional hanya 0,0015 kg/L.
  • Terdiri dari berbagai bentuk. Tidak hanya yang sederhana, tetapi ada pula yang otomatis dan terintegrasi dengan sistem komputerisasi.
  • Pengontrolan hama dan penyakit yang mungkin menyerang, dapat dilakukan secara cepat dan efektif.

Di sisi lain, teknologi RAS juga memiliki kelemahan, di antaranya seperti:

  • Agak mahal dibandingkan budidaya konvensional, karena mengeluarkan biaya listrik, oksigen dan pembelian pompa.
  • Investasi awal lebih mahal dibandingkan sistem konvensional.
  • Pada umumnya dilakukan di ruangan tertutup (indoor), sehingga membutuhkan jendela dan atau atap yang beberapa bagiannya tembus pandang, agar cahaya matahari tetap bisa masuk.
  • Penguapan, yang menyebabkan air kolam akan ‘tetap’ berkurang.
  • Perawatan yang harus telaten. Seperti pengontrolan filter, endapan kotoran padat, kualitas air dan lainnya. Sehingga membutuhkan SDM yang terampil.
  • Perhitungan antara peralatan dengan jumlah ikan budidaya. Harus diperhitungkan baik-baik antara jumlah ikan yang akan dibudidaya dengan kapasitas pompa, bioball, zeolit dan arang, agar biaya lebih efisien.
  • Kurang cocok untuk daerah yang pasokan listriknya kurang. Jika terjadi mati listrik selama 1 – 5 jam, dapat membahayakan ikan karena kurang oksigen.

Teknologi RAS di Indonesia

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sangat mendukung penggunaan teknologi RAS pada budidaya perikanan di Indonesia. Tujuannya adalah agar lebih meningkatkan produktivitas perikanan di Indonesia, menggenjot produksi benih berkualitas sehingga kebutuhan benih skala nasional dapat terpenuhi, supaya masyarakatnya mampu meningkatkan daya saing baik secara ekonomi maupun teknologi serta masyarakat dan atau pembudidaya perikanan khususnya diharapkan lebih bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi. Di Indonesia, teknologi RAS sudah berhasil dijalankan seperti :

  • UPT Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Sulawesi Utara.

Investasi awal                   : Rp 80 juta

Budidaya                          : ikan nila ukuran 2 – 3 cm

Masa pemeliharaan            : maks 1 bulan/siklus

Padat tebar                                   : 5000 ekor/m3

Jumlah produksi                : min. 1 juta ekor ikan nila

Jumlah unit                        : 20 bak fiber bulat

Ukuran tangki budidaya   : diameter 100 cm

Biaya penyusutan              : Rp 13,3 juta/tahun

Biaya operasional              : Rp 1,5 juta/bulan

Perkiraan pendapatan kotor: Rp 100 juta/tahun atau Rp 8 juta/bulan

  • Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Kelompok Mina Ngremboko, Desa Wisata Bokasen, Cangkringan, Sleman, DI. Yogyakarta

Budidaya                          : ikan nila ukuran 5 – 7 cm

Jumlah produksi                : min. 108.000 ekor/bulan

Padat tebar                                    : 30.000 ekor/kolam

Jumlah unit                        : 4 kolam

Perkiraan pendapatan kotor: min. Rp 9,18 juta/bulan atau Rp 91,8 juta/tahun

  • Unit Pembenihan Perikanan DKP Sulawesi Tengah
  • Balai Benih Air Payau (BBAP) Ujung Batee, Nanggroe Aceh Darussalam

Budidaya              : ikan nila

Jumlah produksi    : 500.000 ekor/bulan

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.