SUBAK : Warisan Dunia Spesiality Bali

Pertanian jaman dahulu nampak jauh lebih maju dibandingkan saat ini. Di satu sisi, kemajuan jaman membuat pertanian tersentuh dengan teknologi. Tetapi di sisi lain, nilai-nilai kearifan lokal khususnya yang berkaitan dengan dunia pertanian, terus meluntur, apalagi pemuda sekarang yang seolah ‘selalu’ menghindari sawah dan segala yang berhubungan dengannya.

Pada materi sebelumnya, sudah dibahas tentang sistem pranata mangsa. Yaitu sistem kalender atau penanggalan khususnya ditujukan untuk pertanian, yang pada jaman dahulu begitu disanjung dan dijunjung berkat kesuksesannya. Saat ini, sistem pranata mangsa seolah hanyalah cerita masa lalu yang selalu dikenang orang-orang tua kita.

Seperti halnya pranata mangsa, ada juga sistem subak yang sudah mulai ditinggalkan masyarakatnya, warga Bali khususnya.

Sejarah Subak

Ada sedikit catatan sejarah bagaimana subak itu muncul, dikenal dan dihargai keberadaannya. Berikut adalah cerita bagaimana subak berjalan dengan sang waktu.

  1. Subak sudah dikenal di Bali sejak abad 11 Masehi. Hal itu bisa dilihat pada peninggalan sejarah yaitu prasasti Raja Purana Klungkung tahun 994 Saka atau 1072 Masehi, serta Lontar Markandeya Purana yaitu cerita tentang asal mula Pura Besakih yang di dalamnya juga menyinggung tentang sistem pertanian dan irigasi di Bali.
  2. Sekitar tahun 1987, J. Stephen Lansing mempelajari pura di Bali khususnya yang fungsinya untuk pertanian. Ia juga bekerja sama dengan petani Bali untuk mengembangkan model komputer sistem subak.
  3. Subak Catur Angga Batukaru menjadi sistem subak tertua di Bali.
  4. Pada 29 Juni 2012 silam, tepatnya di Saint Petersburg, Rusia, UNESCO mengakui kebudayaan subak sebagai bagian dari warisan budaya dunia (world heritage), yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Hal itu berdasarkan subak yang mengandung nilai-nilai kebudayaan yang luar biasa dan bisa ditunjukkan buktinya sebagai kultur kehidupan, yang hingga kini masih dilakukan oleh para masyarakat adat di Bali. Ada beberapa situs di Bali yang termasuk dalam warisan budaya dunia, yaitu:
  • Pura Ulun Danu Batur à terletak di ujung danau Batur, adalah pura air tertinggi, sebagai pura air utama yang danau kawahnya menjadi sumber dari semua mata air dan sungai.
  • Pura Taman Ayun à pura air terbesar, bangunan pura dengan arsitektur terkenal dan memperlihatkan sistem subak sepenuhnya di bawah kerajaan Bali abad ke-19 lalu.
  • Lanskap subak Catur Angga Batukaru à sawah dengan terasering khasnya yakni berundak, disebutkan pada prasasti abad ke-10, sistem subak tertua di Bali serta menjadi percontohan arsitektur candi Bali klasik.
  • Lanskap subak Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan à disebut-sebut menjadi sistem irigasi tertua di Bali.
  1. The World Heritage Committee pun mengulas tentang subak sebagai World Heritage Property Cultural Lanscape of Bali Province: The Subak System as A Manifestation of The Tri Hita Karana Philosophy (Situs warisan dunia lanskap budaya Provinsi Bali: Sistem subak sebagai sebuah manifestasi dari filosofi Tri Hita Karana).
  2. Kemudian, pemerintah mengeluarkan Keputusan Gubernur Bali No. 11/03-H/Hk/2014 tentang Forum Koordinasi Pengelolaan Warisan Dunia Lansekap Budaya Provinsi Bali.
  3. Ada 2 bukti sejarah yang setidaknya mengaitkan subak sebagai budaya di Bali, yaitu sebagai berikut.
  • Abad ke-9 pada prasasti Sukawana A.I tahun 882 M, menyebutkan kata “huma” yang artinya sawah.
  • Tahun 1071 pada prasasti Pandak Badung dan tahun 1072 M pada prasasti Klungkung, tertulis “kasuwakan”, dalam kasanah bahasa Bali berubah menjadi “kasubakan”, berarti organisasi subak atau suatu daerah irigasi. Kata “subak” di prasasti tersebut, merujuk pada sebuah lembaga sosial dan keagamaan, dengan keunikan atau kekhasannya, yang memiliki peraturan sendiri, asosiasi yang demokratis dari petani dalam menetapkan penggunaan air irigasi guna mendukung pertumbuhan tanaman padi.

Subak “Sajian Tani” Bali

Dalam bercocok tanam di Bali, ada 2 istilah yang berkaitan, yaitu “tulak sumur” dan “kerta masa”. Tulak sumur yakni menanam padi secara terus menerus, tanpa diselingi oleh tanaman lain dan atau tanpa berhenti. Sedangkan kerta masa adalah menanam padi yang diselingi dengan tanaman palawija.

Kerta masa mengatur banyak hal tentang bercocok tanam. Mulai dari bagaimana teknik mengolah tanah, menyemai bibit dan menanam padi, memanen padi, menyimpannya dalam lumbung, sampai dengan ritual khusus saat menyemai hingga panen padi. Dalam sistem kerta masa, untuk mengendalikan hama dan mencegah penyakit pada tanaman, dilakukan ritual yang disebut Nangluk Merana. Kemudian saat akan memanen, dilakukan ritual yang disebut Ngusaba Nini.

Tak hanya itu, masyarakat Bali juga masih menggunakan perhitungan kalender dalam aktivitas cocok tanamnya. Perhitungan ini adalah bagian dari kebudayaan Hindu Majapahit. Ritual khusus sejak penanaman bibit padi sampai dengan masa panen, harus dilaksanakan pada hari baik atau yang disebut “Dewasa Ayu”, menurut perhitungan kalender Bali, bukan hitungan kalender Masehi pada umumnya. Dalam satu bulan, dihitung 35 hari, sehingga dalam 6 bulan ada 210 hari. Perhitungan Dewasa Ayu disesuaikan dengan kelahiran si petaninya. Misalnya, jika seorang petani lahir pada hari Minggu, berarti Dewasa Ayu-nya hari Kamis dan Jum’at. Lalu jika seorang petani lahir di hari Senin, Dewasa Ayu tiba pada hari Selasa, Kamis dan Jum’at. Perhitungan Dewasa Ayu yang sudah sesuai dengan kelahiran sang petani, berarti sang petani sudah boleh memulai aktivitas cocok tanam. Yaitu membersihkan bibit padi yang akan ditanam menggunakan air suci serta memberikan sesembahan berupa tumpeng putih dan kuning.

Ada beberapa pengertian subak menurut pandangan para ahli atau peneliti.

  1. Geertz (1967) dalam Pitana (1993): subak merupakan areal persawahan yang mendapatkan air dari satu sumber.
  2. Sutawan et al (1986) dalam Pitana (1993): subak merupakan organisasi petani lahan basah yang mendapatkan air irigasi dari suatu sumber bersama, yang memiliki satu atau lebih Pura Bedugul guna pemujaan kepada Dewi Sri yang menjadi simbol Dewi Kesuburan, serta memiliki kebebasan dalam mengatur rumah tangganya sendiri maupun dalam berhubungan dengan pihak luar.
  3. Grader (1979) dalam Griadhi et al (1993): subak ialah sekumpulan sawah dari saluran yang sama atau cabang yang sama dari suatu saluran, mendapatkan ai dan merupakan pengairan.
  4. Sutha (1978): subak ialah organisasi kemasyarakatan yang disebut “Seka Subak” merupakan suatu kesatuan sosial yang teratur, di mana para anggotanya merasa terikat antara satu dengan yang lainnya, karena kepentingan bersama dalam hubungannya dengan pengairan untuk persawahan, memiliki pimpinan atau pengurus yang dapat bertindak ke dalam dan ke luar, serta memiliki harta baik material maupun immaterial.

Subak merupakan organisasi kemasyarakatan di Pulau Bali, yang khusus mengatur dan mengelola sistem pengairan di sawah dalam aktivitas cocok tanam. Subak sendiri dipimpin oleh seorang ketua yang juga merupakan petani atau yang disebut “kelian subak”. Kelian subak bertanggung jawab dalam mengorganisir sistem pengairan yang cocok di suatu daerah (daerahnya), baik saat musim kemarau maupun penghujan.

Subak wajib memiliki pura atau suatu bangunan yang suci. Biasanya, bangunan itu disebut pura Uluncarik atau pura Bedugul. Bangunan tersebut nantinya sebagai tempat pemujaan kepada Dewi Sri, sang ratu kemakmuran dan kesuburan. Bukan hanya pura, setiap subak juga memiliki bangunan yang disebut “pelinggih” pada areal sawahnya. Saat purnama tiba, petani akan meletakkan sesajen pada pelinggihnya, untuk meminta keberkahan atas lahan garapannya.

Para petani anggota Subak menerapkan dan menaati dengan baik konsep “Tri Hita Karana”. Tri Hita Karana berarti tiga (tri), kesejahteraan/kebahagiaan (Hita) dan penyebab (Karana). Konsep Tri Hita Karana artinya 3 penyebab terciptanya kesejahteraan dan kebahagiaan atau dapat juga dimaknai sebagai 3 buah hal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan. Tiga hal tersebut yaitu menjalin hubungan baik manusia dengan Tuhannya, antar sesama manusia serta manusia dengan alam atau lingkungan. Sehingga, subak sudah menjadi bagian dari filosofi kehidupan masyarakat Bali, karena mencerminkan harmonisasi hubungan antara individu dengan sesamanya (disebut “pawongan”), dengan alam dan lingkungannya (disebut “palemahan”), serta dengan Tuhannya (disebut “parahyangan”). Filosofi dari Tri Hita Karana sebenarnya berasal dari pertukaran budaya antara Bali dengan India, selama 2000 tahun terakhir yang kemudian membentuk lanskap Bali.

Dari budaya subak, manusia diajarkan untuk menjaga alam ciptaan Tuhan. Sehingga masyarakat Bali tidak hanya memikirkan kebutuhan dirinya, yaitu makan sehari-hari. Tetapi juga turut serta menjaga dan mendoakan tanaman agar bisa tumbuh di alam/lingkungan yang semestinya.

Subak dianggap sebagai suatu sistem yang tidak hanya organisasi yang mengelola jaringan dan pengaturan air irigasi. Lebih dari itu, subak juga mengatur produksi pangan, ekosistem lahan sawah beririgasi sampai dengan ritual keagamaan yang berhubungan langsung dengan budidaya padi.

Akan tetapi, subak sendiri memiliki fungsi pokok yang fundamental, yaitu sebagai berikut:

  1. Mengatur dalam pembagian air dengan sistem “temuku”.
  2. Memelihara dan mengamankan bangunan irigasi atau pengairan, untuk menghindari kemungkinan kehilangan/kebocoran air di saluran-saluran irigasi.
  3. Mengatur tata guna lahan dengan sistem terasering, agar lahan yang semula berbukit-bukit menjadi sawah atau sengkedan yang berundak dan mampu menopang ancaman longsor pada tanah.
  4. Mengatur pola tanam yaitu sistem kerta masa (seluruh daerah subak ditanami padi, karena ketersediaan air yang mencukupi) serta gegadon (menanam secara bergantian antara tanaman padi dan palawija, karena penggunaan airnya juga bergantian antara sesama subak). Mengatur pola tanam dengan sistem kerta masa, untuk meninggalkan sistem tulak sumur (tidak menanam padi secara serempak/bersama). Karena sistem kerta masa dapat menekan dan atau memutuskan siklus hidup HPT yang mengganggu tanaman.
  5. Menata penggunaan air tradisional.
  6. Menggerakkan usaha tani terpadu, misalnya mina padi, peternakan itik dan sapi melalui sistem tumpang sari (padi di tengah lahan, mina di pinggir petakan dan sayur-sayuran di pematang petakan sawah).
  7. Menciptakan persatuan antara kerama subak, melalui permufakatan segala hak dan kewajiban serta adanya upaya pemulihan pasca pelanggaran yang mungkin dilakukannya, sesuai hukum adat setempat, sebagai konsekuensi otonomi yang subak miliki.

Pada tahun 1971, ada sekitar 1193 subak. Jumlahnya meningkat menjadi 1331 subak pada tahun 1991. Meningkat lagi pada tahun 2009 sebanyak 1546 subak dan 1599 subak di tahun 2013. Saat pemerintah mengajukan subak Bali menjadi salah satu warisan budaya dunia, di saat itu lah Bali memiliki subak seluas 20.000 hektare, yang terbentang di Kabupaten Badung, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Bangli. Menurut data yang ada, Bali memiliki 1200 koloni air dengan 50 – 400 petani yang mengelola ketersediaan air tersebut.

Istilah (penting) dalam Subak

Subak yang merupakan sistem pengelolaan air pertanian khas Bali, memiliki beragam istilah yang berkaitan dengan aktivitas pertanian itu sendiri. Ada beberapa istilah dalam subak, yang merupakan aktivitas tata pengelolaan air atau kegiatan lain yang berhubungan dengan pertanian, seperti berikut:

  1. Dalam subak, dikenal juga “sangkep”, berasal dari kata “angkep” yang berarti mendekat atau berdekatan. Kelian subak akan mengumpulkan anggota subak untuk melakukan sangkep atau perundingan, rapat, musyawarah. Musyawarah ini akan membahas bagaimana pengairan yang akan dilakukan untuk sawah di daerah mereka. Baik jumlah lahan yang dialiri, seberapa alirannya, berapa lama pengairannya dan apa saja yang harus mereka kerjakan dalam proses pengairan. Sangkep bisa dilakukan saat musim penghujan maupun kemarau. Saat kemarau, kelian subak melakukan sangkep dengan para anggota, untuk membagi air secara merata dan menerapkan sistem pinjam air. Anggota subak akan mendapat air dengan rata. Kemudian, saat musim kemarau dan ada petani anggota yang sawahnya kekeringan, maka anggota lainnya (yang sudah berkecukupan air), membagikan air pada petani dengan sawah keringnya. Bahkan, sistem pinjem air yang biasa dilakukan saat musim kemarau ini, bukan hanya oleh antar anggota suatu kelompok subak. Tetapi juga antar kelompok subak. Sehingga, subak mengatur segala persoalan tentang pengairan areal persawahan, termasuk pembagian air dengan adil sampai dengan penetapan jenis padi dan waktu tanamnya. Selain itu, ada sanksi yang dijeratkan pada warga yang melanggar aturan-aturan subak, yang ditetapkan melalui upacara/ritual di tempat ibadah.
  2. Aliran air irigasi atau yang disebut “jelinjingan”, berasal dari sungai atau disebut “ayoan” atau “tukad”, mengalir menuju areal persawahan petani anggota subak, dengan adil dan merata.

Subak dalam Regulasi Pemerintah

Meskipun dipandang sebagai organisasi atau sistem tradisional, tetapi subak sesungguhnya dibentengi juga oleh regulasi pemerintah, baik pemerintah tingkat daerah maupun provinsi.

Menurut Perda Provinsi Bali No. 02/PD/DPRD/1972 tentang irigasi daerah Provinsi Bali, subak merupakan masyarakat hukum adat di Bali yang bersifat sosio agraris religius yang secara historis didirikan sejak dahulu kala dan berkembang terus sebagai organisasi penguasa tanah dalam bidang pengaturan air dan lain-lain di dalam suatu daerah.

Perda Provinsi Bali No. 02/PD/DPRD/1972 kemudian mengalami pembaharuan yakni Perda Provinsi Bali No. 9 Tahun 2012.

Berdasarkan Perda Provinsi Bali No. 9 Tahun 2012 tentang subak, menjelaskan bahwa subak adalah organisasi tradisional di bidang tata guna air dan atau tata tanaman di tingkat usaha tani pada masyarakat adat di Bali yang bersifat sosio agraris, religius, ekonomis yang secara historis terus tumbuh dan berkembang. Perda tersebut mengatur tentang definisi subak; kewajiban subak dalam mengatur ke dalam; pengaturan air irigasi adalah tanggung jawab Sedahan; Sedahan Agung bertanggung jawab sama seperti Sedahan, hanya saja cakupannya sampai ke seluruh kabupaten kewenangannya, selain itu juga menjadi pengawas persubakkan dan pasedahan di daerahnya. Dalam Perda baru tersebut, ada 2 hal yang juga tak kalah pentingnya yaitu pertama, dipertegas tugas dan fungsi Sedahan dan Sedahan Agung sebagai pembina subak yang mewakili pemerintah. Kedua, Sedahan dan Sedahan Agung tidak disebutkan namanya sebagai aparat pemerintah dalam membina subak, tetapi yang disebutkan adalah lembaga baru dengan nama “Majelis Subak” (yaitu perkumpulan pekaseh).

Ada pula kerangka hukum yang khusus untuk daerah-daerah, sudah ditetapkan melalui nota kesepahaman (MoU) antara pemerintah Bali dengan Kabupaten Bali untuk pembentukan area strategis di Bali. Di mana area tersebut merujuk pada konservasi dan perencanaan tata ruang untuk setidaknya 5 lokasi, yang tak terkecuali warisan budaya serta pertanian dan hutan baik yang berwujud maupun tidak berwujud dalam batasan-batasan situs.

Manajemen Persubakkan

Pengurus Subak

Pengurus subak                                               : prajuru subak

Petani anggota subak                                      : kerama atau krama subak (semua petani yang

memiliki dan atau menggarap sawah serta

mendapatkan air irigasi)

Ketua subak                                                    : kelihan subak atau pekaseh

Wakil ketua subak                                           : petajuh atau pangliman

Sekretaris                                                        : penyarikan atau juru tulis

Bendahara                                                       : patengen atau juru raksa

Penyalur informasi                                          : kasinoman atau juru arah atau juru uduh atau

juru tibak atau saya

Pembantu khusus kegiatan keagamaan           : pemangku

Subak yang sangat besar                                 : subak gede, dipimpin pekaseh gede dan wakil

pekaseh gede

Subak memiliki pembina yang disebut sedahan. Di tingkat kabupaten, subak dibina oleh Sedahan Agung, yaitu pembina tertinggi subak, yang biasanya adalah Kepala Dinas Pendapatan Kabupaten. Sedahan dan Sedahan Agung bertanggung jawab dalam mengatur pendistribusian air antar subak atau pun antar bangunan air (bendungan).

Sedangkan krama sendiri terdiri dari 3 macam yaitu:

  • Krama aktif : anggota subak yang aktif di dalamnya, contohnya krama pekaseh, sekaa yeh atau sekaa subak.
  • Krama pasif : krama yang meninggalkan kewajibannya dan menggantinya dengan uang atau natura, sehingga biasa disebut pengampel atau pengohot.
  • Krama luput : anggota subak yang tidak aktif pada semua kegiatan persubakkan, karena memiliki tugas lain misalnya kepala desa atau bendesa adat.

Selain itu, dalam subak ada yang namanya sekaa dan terdiri dari bermacam-macam, yakni:

  • Sekaa numbeg : kelompok yang mengurusi pengolahan tanah/lahan
  • Sekaa jelinjingan : kelompok untuk pengolahan air
  • Sekaa sambang : kelompok yang mengawasi air, baik dari pencurian air maupun dari penangkap atau penghalau hama tanaman.
  • Sekaa memulih : kelompok yang mengurusi soal penanaman padi, sehingga disebut juga sekaa nandur.
  • Sekaa mejukut : kelompok yang tugasnya menyiangi padi
  • Sekaa manyi : kelompok yang mengurusi pemotongan/mengetam/menuai padi.
  • Sekaa bleseng : kelompok yang tugasnya mengangkut padi yang sudah dipanen dan diketam dari sawah ke lumbung.
  • Sekaa ngabut bulih : kelompok yang tugasnya mencabut benih dan membawa ke petakan sawah.
  • Sekaa mabulung : kelompok orang yang tugasnya membersihkan tanaman padi dari rumput liar atau tanaman pengganggu lainnya.

Peraturan Subak

Regulasi atau aturan dalam sistem internal subak : awig-awig mengatur berbagai kegiatan, organisasi, hak dan kewajiban anggota subak). Aturan tambahan dari aturan utama (awig-awig) : pasuara (biasanya berdasarkan perubahan yang terjadi sesuai tuntutan petani anggota subak). Awig-awig berisi bab (sarga), bagian-bagian (palet), pasal (pawos). Secara garis besar, isi dari awig-awig subak adalah nama dan tempat, prinsip dasar, aturan keanggotan, aturan aspek keagamaan, aturan aspek irigasi (persubakkan), pengaturan denda, perubahan awig-awig dan penutup. Selain itu, awig-awig juga memuat sanksi atas pelanggaran hak dan kewajiban anggota subak. Sanksi menjadi pemulihan sebagai konsekuensi atas pelanggaran yang telah dilakukan.

Awig-awig ada yang ditulis dan disahkan oleh Pemerintah sebagai pihak yang berwenang. Tetapi ada pula yang hanya menuliskannya secara sederhana tanpa pengesahan Pemerintah, bahkan ada yang tidak menuliskannya. Meski demikian, awig-awig tetap dihormati dan diikuti para anggota subak.

Awig-awig yang termasuk manajemen subak serta perlindungan tradisional dan konservasi properti budaya, dibentengi oleh Peraturan Provinsi Bali No. 5 Tahun 2005 Bagian 19, yakni memperjelas zonasi untuk situs suci dilindungi seperti pura atau kuil, berdasarkan awig-awig lokal. Teras sawah dalam situs dilindungi dari pengembangan pariwisata skala besar, oleh Keputusan Kabupaten Tabanan No. 9 Tahun 2005.

Tata Tertib Subak

Dalam subak, ada tata cara pengairan/irigasi sawah, yaitu:

  • Air dari sungai atau mata air à mengalir melalui pengambilan bebas à saluran (telabah) atau terowongan (aungan).
  • Pengairan air untuk bangunan bagi (tembuku) menggunakan sistem perbandingan luas sawah yang akan diairi.
  • Satuan aliran berdasarkan jumlah pemakaian benih : ayahan (setara dengan satu ukuran benih atau sama dengan 0,3 – 0,5 Ha atau air untuk sawah dengan benih 25 kg/Ha).

Setiap ayahan mendapatkan air irigasi sebanyak 1 tektek/kecoran.

1 tektek/kecoran = penampang dengan lebar 8 – 10 cm dan kedalaman 1 cm

  • Kemudian, pemberian air irigasi ini akan berbeda saat ketersediaan air sedikit atau musim kemarau. Ada beberapa cara untuk pembagian air saat krisis, yaitu sebagai berikut:
  • Subak akan dibagi menjadi 2 atau 3 bagian yang lebih kecil, atau disebut juga “tempek”. Pemberian air irigasi lalu dilakukan secara bergiliran atau rotasi untuk masing-masing tempek.
  • Pemberian air irigasi saat masa krisis dalam subak juga bisa menggunakan sistem “nyorog” atau “nugel bumbung”. Sistem nyorog merupakan cara pengaturan waktu tanam agar tidak bersamaan antara subak yang satu dengan subak yang lainnya. Cara pemberian air irigasinya yaitu dengan memberikannya terlebih dahulu pada subak bagian hulu. Jika subak bagian hulu sudah selesai mengolah lahannya, maka giliran subak bagian tengah yang menerima air irigasi. Begitu juga ketika subak bagian tengah sudah selesai mengolah lahan, maka giliran subak bagian hilir yang menerima air.

Jaringan dan Sistem Irigasi Subak

Pada irigasi subak, terdapat beberapa bagian penting yaitu pengalapan (bendungan air), jelinjing (parit) dan cakangan (tempat atau alat untuk memasukkan air ke sawah atau lahan yang digarap). Kemudian, sistem subak sendiri terdiri dari hutan (fungsinya melindungi pasokan air), lanskap sawah dengan terasering atau tingkatan atau berundak, sawah yang terhubung dengan sistem kanal, bendungan yang dilengkapi terowongan, desa dan pura tempat ritual (pura air dibangun dengan ukuran yang berbeda, karena menunjukkan seberapa pentingnya sumber air atau aliran air yang melalui pura yang kemudian mengairi lahan subak).

Layaknya saluran irigasi pertanian pada umumnya, sistem subak pun memiliki jaringan-jaringan, yang diberi nama dengan sebutan tersendiri, yaitu:

  1. Empelan : bendungan atau bangunan peninggi muka air.
  2. Bungas : bangunan pengambilan air atau
  3. Telabah : saluran air; terdiri dari saluran primer “telabah gede”, saluran sekunder “telabah pemaron”, saluran tersier “telabah cerik”, saluran kuarter “talikunda” dan saluran pembuangan “pengutangan”.
  4. Tembuku : bangunan bagi; terdiri dari bangunan bagi primer “tembuku aya”, sekunder “tembuku pemaron” dan tersier “tembuku cerik”.
  5. Abangan : talang air
  6. Aungan : terowongan atau saluran air yang tertutup
  7. Pekiuh : bangunan pelimpah samping
  8. Petaku : bangunan terjun
  9. Jengkuwung : gorong-gorong
  10. Keluwung : urung-urung
  11. Titi : jembatan
  12. Telepus : sipon

Rutinitas Subak

Ada beberapa kegiatan yang tak kalah pentingnya dalam sistem persubakkan, tentunya juga dengan sebutan tersendiri menurut kamus Bahasa Bali, di antaranya adalah:

  1. Dalam subak ada kegiatan pemantauan saluran irigasi, dimulai dari empelan sampai ke bangunan bagi primer. Kegiatan yang memiliki tujuan guna mencegah kemungkinan terjadinya bocor pada air irigasi sepanjang jalur pantauan itu, disebut dengan “matelik”. Di musim hujan, matelik dilakukan 2 – 3 hari sekali. Normalnya, matelik dilakukan 1 – 2 minggu sekali.
  2. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa ketika mengalami kemarau atau krisis air, maka subak akan melakukan sistem pinjem air atau yang disebut “nyilih yeh”. Tak hanya saat krisis itu saja. Nyilih yeh juga biasa dilakukan jika sedang membutuhkan air dalam jumlah yang cukup besar, misalnya untuk mengolah tanah, yang jika dilakukan bersamaan dalam satu kelompok subak maka dimungkinkan bisa kekurangan air. Nyilih yeh dilakukan dengan cara memberikan air irigasi yang lebih banyak dari biasanya kepada si peminjam air, untuk kurun waktu tertentu sesuai perjanjian/kesepakatan. Si pemberi pinjaman hanya mendapat air irigasi yang lebih kecil. Jika sudah selesai masa peminjamannya, si peminjam wajib mengatur (mengembalikan) sistem distribusi atau pembagian air menjadi normal seperti sedia kala (air dalam jumlah biasanya). Apabila si peminjam sudah melakukan penormalan sistem distribusi tersebut, maka sudah dianggap lunas hutang pinjam airnya.
  3. Pemakaian air irigasi secara bergilir atau yang dikenal dengan istilah “magilihan”. Magilihan dilakukan khususnya pada saat krisis air. Di mana petani yang mendapat giliran pertama, akan diberi jumlah air irigasi yang lebih banyak dari biasanya. Sedangkan giliran kedua dan seterusnya hanya mendapatkan air yang lebih sedikit. Kemudian di kesempatan selanjutnya, barulah giliran petani kedua yang mendapat air lebih banyak dan seterusnya sampai urutan yang terakhir.
  4. Seperti halnya pada aktivitas pertanian umumnya, dalam subak pun ada kegiatan menguras atau membersihkan lumpur sebagai salah satu aktivitas pemeliharaan saluran primer. Aktivitas yang lebih dikenal dengan “ngeduk nyanyad” ini, biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan kempelan.
  5. Dalam subak, ada juga kegiatan pengontrolan bangunan bagi atau tembuku, dimulai dari bangunan bagi primer atau tembuku aya sampai bangunan bagi individu atau tembuku pengalapan. Pengontrolan bangunan bagi biasa disebut dengan “nabdab yeh” dan dilakukan secara rutin 6 bulan sekali, sebagai upaya mengatasi kerusakan bangunan bagi serta kemungkinan adanya pembagian air yang tidak sesuai lagi dengan kesepakatan.
  6. Sebelum mengolah tanah serta setelah panen, para petani subak akan rutin membersihkan dan memperbaiki bangunan irigasi, baik itu saluran sekunder (telabah gede) hingga saluran tersier (telabah pemaron) atau saluran kuarter (telabah penyahcah). Baik tanaman liar pengganggu maupun endapan lumpur, semuanya dibersihkan dari saluran irigasi. Kegiatan pembersihan inilah yang lebih dikenal dengan “ngampad”.
  7. Aktivitas yang tak kalah pentingnya dari sistem irigasi pertanian adalah menutup kebocoran talud saluran. Tentunya agar tidak terjadi atau paling tidak, meminimalisir kebocoran air di bagian talud. Hal ini dilakukan dengan membeton pinggiran dan atau bagian dasar saluran.

Ritual Suci dalam Subak

Masyarakat, khususnya para petani Bali, biasa melakukan ritual untuk waktu-waktu tertentu. Misalnya, “nwasen meniwih” yang merupakan ritual saat akan mulai penanaman bibit. Dilanjutkan “ngendag amacul” yaitu ritual saat akan mulai mengolah tanah. Kemudian, “nwasen nandur”, ritual yang dilakukan saat mulai penanaman.

Selain itu, ada beberapa ritual keagamaan lainnya dalam subak. Masyarakat Bali meyakini bahwa tanah di bumi adalah milik Dewa. Karenanya, setiap akan melakukan sesuatu di sebuah lahan, mereka akan meminta ijin kepada para dewa yaitu melalui ritual khusus. Mereka juga meyakini jika tidak melakukan ritual khusus, maka pekerjaan mereka akan terganggu, misalnya saja gagal panen karena tanaman padi dirusak hama.

Ritual suci yang umumnya dilakukan oleh sistem subak, di antaranya adalah:

  1. Pengaci : ritual yang dilakukan rutin tiap bulannya dan biasanya akan ada pemberitahuannya dahulu oleh prajuru subak.
  2. Mendak toya : ritual yang dilakukan saat para petani subak memulai mencair air.
  3. Tedun kecarik : ritual atur piuning dan dilakukan seluruh petani subak.
  4. Amaluku : ritual tanda dimulainya aktivitas membajak sawah.
  5. Nagluk merana : ritual yang dimaksudkan untuk mencegah serangan hama.

Sekitar tahun 80-an, dari hasil sebuah studi tentang subak menyatakan bahwa setidaknya 60% dari pengeluaran dalam anggaran subak merupakan biaya penyelenggaraan ritual persubakkan. Setidaknya ada 5 ritual utama yang dilakukan rutin setiap tahunnya dan menelan pengeluaran sampai dengan puluhan juta rupiah.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.