Sifat – Sifat Kimia Tanah : 5 Ciri Penting !

Pada artikel paling awal, sudah diuraikan sifat – sifat fisik yang dimiliki tanah. Selain sifat fisik, tanah juga memiliki karakter kimia dan biologinya. Di artikel ini, yang akan diuraikan adalah sifat – sifat kimia tanah.

Sifat kimia dan fisika tanah dipengaruhi oleh koloid tanah. Koloid tanah tersebut yaitu koloid liat dan koloid humus, yang keduanya adalah pusat aktivitas tanah.

Koloid tanah mempengaruhi banyak aktivitas seperti drainase, pH, KTK, kejenuhan basa, adsorbsi kation, aktivitas jasad renik tanah serta pembentukan struktur, tata air dan udara tanah.

Sifat – Sifat Kimia Tanah

sisfat sifat kimia tanah

Berikut sifat-sifat kimia tanah yang erat hubungannya dengan aktivitas tersebut:

1. Mineral Liat

Ialah mineral berukuran < 2µ, terbentuk dari proses alterasi (perubahan dari mineral primer) maupun rekristalisasi (hasil pelapukan mineral primer). Hasil pelapukan mineral primer dipengaruhi oleh reaksi tanah (pH). Di mana tanah masam membentuk liat kaolinit (tipe liat 1:1).

Sedangkan tanah netral dan basa membentuk liat montmorilonit (tipe liat 2:1). Tipe liat 1:1 dengan 2:1 memiliki perbedaan yakni pada ikatan antar kisi liat 1:1 terdapat jembatan H (hidrogen) yang membuat air sulit masuk dan derajat kerut tanahnya kecil.

Sementara itu ikatan antar kisi liat 2:1 yang lemah membuat air mudah masuk dan derajat kerut tanahnya besar. Selain itu, tipe liat 1:1 memiliki muatan negatif (-) yang kecil yang berasal dari patahan tepi kristal liat. Sementara tipe liat 2:1 bermuatan negatif (-) besar yang berasal dari patahan tepi kristal dan subtitusi isomorfik.

2. Koloid Tanah

Adalah bahan mineral dan bahan organik yang merupakan partikel terkecil dari tanah berukuran < 1µ, terbagi menjadi dua yaitu koloid organik dan anorganik (mineral).

Baca juga :  Sekilas Pandang – PUPUK DAN PEMUPUKAN

a. Koloid Organik

Bahan koloid organik adalah humus. Humus merupakan senyawa rumit, berwarna cokelat, bersifat amorf, kolodial, tahan lapuk, terdiri dari unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Dia berasal dari gugus karboksil dan phenol serta berasal dari jaringan tumbuhan dan hewan yang diubah/dibentuk oleh jasad mikro.

Humus mempengaruhi tanah yakni membuat tanah menjadi kehitaman, plastisitas rendah, daya kohesi rendah dan kapasitas menahan air tinggi (KTK tinggi).

b. Koloid Mineral

Koloid mineral terdiri dari liat silikat, hidrus oksida aluminium (Al2O3. nH2O) dan hidrus oksida besi (Fe2O3. nH2O).

Liat silikat merupakan garam yang sifatnya masam, bentuknya kristal, bermuatan negatif, memiliki permukaan yang luas dan mengalami substitusi isomorfik. Liat silikat berdasarkan sifatnya terdiri dari kristalin dan non-kristalin (amorf).

Liat kristalin (berbentuk kristal) terbagi menjadi tipe 1:1 (kaolinit, haloisit), tipe 2:1 (montmorilonit, illit, vermikulit), tipe 2:2 (clorit). Sedangkan liat non-kristalin/amorf (tidak berbentuk) seperti alofan dan imogolit.

Hidrus oksida Fe dan Al terbentuk dari mineral primer maupun sekunder. Tanah latosol dan oxisol memiliki sifat fisik tanah yang baik karena tidak plastis, tidak lengket dan daya kohesifnya rendah. Tetapi, sifat kimianya buruk karena termasuk kaolinit (hidrus oksida).

Tanah vertisol dan grumosol teksturnya plastik, lengket dan kohesif sehingga sifat fisiknya buruk. Kedua tanah tersebut termasuk montmorilonit yang membuat sifat kimianya baik.

3. Reaksi Tanah/Tingkat Keasaman (PH)

Reaksi tanah menunjukkan konsentrasi ion hidrogen dalam tanah yang akan membedakan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah dengan pH sebagai nilai kuantitasnya. Jika ion hidrogen semakin tinggi konsentrasinya berarti tanah tersebut semakin masam.

Nilai pH tanah pertanian biasanya antara 4 – 9. Semakin nilai pH berarti tanah tersebut masam karena tingginya konsentrasi H+. Pembahasan lebih lanjut tentang reaksi tanah, dapat disimak pada artikel “Tips Ketahui Kemasaman Tanah”.

Baca juga :  Cara Membuat Mikroorganisme Lokal (MOL)

4. Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Menunjukkan banyaknya kation (kation asam-basa) yang mampu diserap tanah per satuan berat tanah (per 100 gram tanah kering mutlak) dan merupakan sifat kimia yang hubungannya sangat erat dengan kesuburan tanah.

Tanah yang memiliki KTK tinggi, lebih mampu menyerap dan menyediakan unsur hara yang lebih baik daripada tanah yang KTK-nya rendah. KTK dipengaruhi oleh tekstur tanah serta jumlah dan jenis koloid.

Selain itu, ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai KTK di antaranya kandungan liat dan bahan organik serta jenis mineral liatnya.

Jenis mineral liat Nilai KTK (me/100 gram tanah)
Humus 100-300
Klorit 10-40
Kaolinit 3-15
Montmorilonit 80-150
Haloisit (2H2O) 5-10
Haloisit (4H2O) 40-50
Sesquioksida 0-3

Ket: 1 me (1 miliekivalen) ialah satuan nilai KTK yang secara kimia setara dengan 1 gram hidrogen.

5. Kejenuhan Basa (KB)

Ialah perbandingan antara jumlah kation basa dengan jumlah semua kation (kation asam+basa). Komposisi ini merupakan hara yang dibutuhkan tanaman dan sifatnya mudah tercuci (jika KB tinggi maka tanahnya belum banyak mengalami pencucian dan termasuk subur). Kation basa di antaranya Ca, Mg, K dan Na. Sedangkan kation asam yaitu H dan Al.

Jika KB 60% berarti 60% dari total KTK tanah dipenuhi kation basa dan 40% sisanya kation asam.

Semoga pembahasan lanjutan tentang sifat – sifat kimia tanah ini bermanfaat 🙂

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.