gula tebu adalah

Si Putih Nan Manis

Jika di artikel sebelumnya sudah mengulas tentang tanaman tebu, maka di artikel ini masih cukup berhubungan dekat dengan tanaman tersebut. Siapa yang tidak tahu dan belum pernah mengonsumsi gula tebu atau yang biasa dikenal gula pasir? Nah, berikut adalah ulasan tentang gula tebu atau gula pasir.

Sejarah Gula Tebu

Tanaman tebu yang konon menurut sejarah berasal dari Papua, maka dalam track record pergulaan, justru lebih banyak terjadi di Pulau Jawa. Berikut ringkasan sejarah pergulaan dari masa ke masa.

  • Industri gula di Thailand sudah ada sejak abad ke-13.
  • Industri gula di Brazil sejak abad ke-15.
  • Industri gula di Indonesia sudah ada sekitar abad ke-16.
  • Sebelum masa Perang Dunia II yaitu tahun 1930 – 1940, Jawa adalah penghasil gula terbesar di dunia sekaligus pengekspor gula terbesar kedua setelah negara Kuba.
  • Tahun 1931, produksi gula mencapai 3 juta ton/tahun, 2,4 juta ton di antaranya bahkan diekspor. Saat itu, ada 179 pabrik gula yang beroperasi di Indonesia, dengan tingkat produktivitas 14,8 ton gula/Ha atau setara dengan 130 ton tebu/Ha.
  • Industri gula di Indonesia mengalami masa kejayaan sekitar tahun 1930-an. Hal itu dibuktikan dengan jumlah pabrik gula yang beroperasi sebanyak 179 pabrik, dengan produktivitas 14,80% dan rendemen 11 – 13,8%. Puncak produksinya sampai 3 juta ton serta mampu mengekspor sebanyak 2,4 juta ton gula tebu. Masa emas industri gula tersebut didukung oleh kemudahan dalam memperoleh lahan subur, tenaga kerja yang murah, prioritas irigasi dan kedisiplinan dalam penerapan teknologi yang ada saat itu.
  • Tahun 1989 – 1999, industri gula Indonesia mengalami permasalahan. Di antaranya peningkatan volume impor gula dengan laju 21,62% per tahun. Hal itu dikarenakan konsumsi meningkat sebanyak 2,56% per tahunnya, yang tidak diimbangi dengan produksi gula dalam negeri. Saat itu, laju produksi gula dalam negeri -2,02% per tahun.
  • Tahun 1994 – 1998, industri gula di Indonesia mengalami keterpurukan. Pada rentang waktu tersebut, produksi gula menurun sampai 40%, yaitu sekitar 1392 juta ton, yang semula 2454 juta ton. Di sisi lain, kebutuhan akan gula di dalam negeri meningkat sebanyak 6%, yaitu 3,13 juta ton, yang semula permintaan hanya 2,94 juta ton. Sebelumnya Indonesia hanya mengimpor 130 ribu ton gula, tetapi karena kondisi tersebut, memaksa kenaikan impor gula menjadi 1,8 juta ton.
  • Tahun 1997 – 2002, produksi gula di Indonesia turun, dengan laju 6,14% per tahun.
  • Tahun 2004 pun, Indonesia mengimpor gula sampai 1,8 juta ton. Hal itu disebabkan karena kebutuhan gula dalam negeri sampai 3,6 juta ton. Sedangkan industri gula hanya mampu memenuhi 1,7 juta ton saja.

Gula Tebu

Gula tebu atau lebih akrab dengan penyebutan gula pasir/gula putih adalah gula yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia yang berasal dari tanaman tebu melalui rangkain proses pengolahan dari batang tebu sampai menjadi produk jadi berupa gula yang siap dikonsumsi.

Baca juga :  Mengenal Dan Budidaya Markisa

Gula pasir (GKP) memiliki densitas (kerapatan) 1,587 g/cm3, titik leh (pada tekanan 1 atm) 186 C dan kelarutan (pada suhu 25 C) 2000 g/liter air.

Selanjutnya, berikut kandungan per 100 gram gula tebu:

Gula pasir sering diidentikan dengan penyakit diabetes dan obesitas. Gula pasir yang masuk ke dalam tubuh, akan diolah menjadi energi. Tetapi, hal tersebut menjadi tugas berat bagi pankreas. Normalnya, pankreas hanya sanggup mengubah ½ sdm gula pasir menjadi energi, untuk setiap harinya. Jika konsumsi gula pasir lebih dari ½ sdm per harinya, maka sisanya tidak akan diolah menjadi energi, tetapi justru menjadi lemak atau pun gula darah.

Jenis Gula Tebu

Ada beberapa bentuk/jenis dari gula tebu, yaitu:

1. Gula kristal putih (GKP) atau gula pasir

Model dari gula tebu yang ini, sangat umum dikonsumsi masyarakat baik sebagai pemanis makanan maupun minuman. Disebut gula pasir karena bentuk kristal-kristalnya yang putih kecoklatan seperti pasir.

2. Gula pasir kasar atau crystallized sugar

Gula pasir kasar teksturnya lebih besar dan terasa lebih kasar dibandingkan gula pasir (GKP). Gula pasir kasar tersedia dengan beragam warna dan biasa digunakan untuk bahan taburan.

3. Gula batu

Gula batu berasal dari gula pasir, tetapi tidak mudah larut, warnanya putih, bentuknya seperti batu dan kemanisannya lebih rendah daripada gula pasir.

4. Gula balok atau dadu

Gula berbahan dasar sari tebu ini memiliki bentuk balok seperti dadu dan warnanya putih bersih. Gula balok biasa dikonsumsi sebagai pemanis teh atau kopi.

5. Brown sugar

Brown sugar adalah gula berbahan baku nira tebu yang dicampur dengan tetes tebu (molase). Ada 2 jenisnya yaitu light brown sugar, yang digunakan sebagai pemanis kue seperti pembuatan butterscoth, kondimen dan glazes serta dark brown sugar yang digunakan untuk ginger bread, mince meat dan baked bean.

6. Gula icing atau confection sugar

Gula icing ialah campuran gula pasir yang digiling lagi sampai teksturnya halus seperti tepung, kemudian diberi tepung maizena agar tidak mudah menggumpal.

Beranjak dari jenis-jenis gula tebu, ternyata industri pergulaan di Indonesia dan dunia ramai diperbincangkan. Misalnya saja tingkat konsumsinya, kebutuhannya sampai dengan harga pasarannya.

Pergulaan di Indonesia dan Dunia

Di Indonesia sendiri, sejak dahulu sudah banyak berdiri pabrik gula tebu, terutama di Pulau Jawa. Hanya saja, kini sudah banyak yang berhenti beroperasi. Berikut jumlah pabrik gula yang ada di Indonesia.

Tingkat konsumsi dan kebutuhan akan gula di Indonesia, cukup tinggi. Berikut tingkat konsumsi gula di Indonesia selama tahun 2010 – 2015.

Kemudian, untuk mengetahuo perkembangan harga pasaran dari produk gula tebu (cane sugar) untuk setiap bulannya di Indonesia, seperti pada tabel berikut.

Sedangkan yang berikut ini adalah perkembangan harga pasaran dari gula mentah (raw sugar) di dunia.

Indonesia masih mengimpor gula atau pun turunannya dari negeri tetangganya. Maka berikut jumlah ekspor – impor produk turunan tebu di Indonesia selama tahun 2011 – 2016.

Kemudian, beralih dari kondisi pergulaan di Indonesia dan dunia, yang juga perlu diketahui adalah bagaimana si batang tebu bisa menjadi butiran-butiran gula yang halus.

Dari Tebu menjadi Gula

Tebu memang mengandung gula, yang jika digigit batangnya pun sudah terasa manis. Lalu bagaimana proses dari batang tebu menjadi gula yang sering kita konsumsi sehari-hari? Dari sebuah batang tebu yang diproduksi di pabrik gula, akan menghasilkan 35 – 40% ampas tebu atau bagasse, 5% nira yang akan dijadikan gula serta sisanya adalah air, tetes tebu atau molasse dan blotong.

Prinsip pembuatan gula tebu adalah pemisahan sukrosa dari kotoran yang bukan gula dan air, kemudian dilanjutkan pengkristalan.

Baca juga :  Mengenal Komoditas HORTIKULTURA Buah Buahan

Proses Pembuatan Gula

Adapun proses pembuatan gula yakni sebagai berikut:

1. Pemurnian nira

Pemurnian nira dapat dilakukan melalui 3 cara, yaitu sebagai berikut:

  • Defekasi –> cara pemurnian paling sederhana, karena hanya menggunakan kapur tohor. Kapur tohor berfungsi menetralkan asam-asam dalam nira.
  • Sulfitasi –> cara pemurnian dengan memberikan kapur secara berlebih, yang kemudian dinetralkan dengan gas SO2.
  • Karbonasi –> cara pemurnian yang dianggap paling baik daripada defekasi maupun sulfitasi. Pemurnian dilakukan menggunakan bantuan susu kapur dan penetral CO2.

2. Penguapan

Penguapan pada pembuatan gula dilakukan untuk memisahkan air dan nira yang sudah melalui pemurnian. Nira dipanaskan sampai mengental. Uap dari nira akan diembunkan dengan sistem penguapan efek banyak.

3. Pengkristalan

Larutan gula dari hasil penguapan selanjutnya dikristalkan.

4. Pengeringan

Gula kristal putih (GKP) harus mengandung kadar air yang rendah. Maka, tahap akhir setelah pengkristalan adalah pengeringan, untuk mengurangi sebanyak-banyaknya kadar air di dalamnya.

Proses Pengolahan Gula Skala Pabrik

Di skala pabrik, proses pengolahan gula melalui beberapa stasiun, yaitu stasiun penggilingan, stasiun pemurnian, stasiun penguapan, stasiun kristalisasi, stasiun pemisahan atau putaran dan stasiun akhir.

1. Stasiun penggilingan

Pada stasiun penggilingan, batang tebu yang sudah ditebang akan masuk ke timbangan, lalu terangkat oleh pesawat pengangkat tebu dan diletakkan di atas meja umpan gilingan.

Batang tebu masuk ke crusher yaitu penghancur atau pemotong batang tebu. Keluar dari crusher, tebu masuk ke mesin penggiling. Biasanya jika di pabrik gula, akan melewati beberapa mesin penggiling, untuk diambil niranya sampai habis.

Di stasiun penggilingan, nira tebu akan diekstraksi sebanyak mungkin, sehingga kehilangan gula dalam ampas bisa ditekan sekecil mungkin. Semakin banyak nira yang diekstraksi berarti semakin tinggi pula rendemen gula yang dihasilkan.

Nira akan masuk ke wadah penampungan. Nira ekstraksi ini dikenal dengan sebutan nira mentah, yang memiliki warna hijau kecoklatan. Sedangkan ampasnya akan diangkut dan disimpan untuk digunakan sebagai bahan bakar ketel uap.

2. Stasiun pemurnian

Pada stasiun pemurnian, nira dimurnikan dengan mencampurkannya bersama susu kapur atau Ca(OH)2, yang diakhiri dengan penetralan gas SO2.

Pada stasiun ini, nira akan melalui beberapa rangkaian yaitu nira mentah masuk ke pemanas pertama, dilanjutkan ke reaktor atau sulfitator, masuk lagi ke pemanas berikutnya, masuk ke tangki pengendapan dan masuk ke pemanas akhir.

3. Stasiun penguapan

Keluar dari stasiun pemurnian, nira lalu masuk ke stasiun penguapan. Di stasiun ini, nira encer dengan kadar gula 12,5 Brix akan dikentalkan menjadi 60 Brix.

4. Stasiun kristalisasi

Nira yang sudah kental, masuk ke stasiun kristalisasi untuk diuapkan sampai lewat jenuh, yang nantinya akan muncul kristal-kristal gula.

5. Stasiun pemisahan atau putaran

Stasiun kristalisasi akan menghasilkan 2 bentuk yaitu larutan dan kristal sakarosa. Sentrifuge akan memisahkan antara larutan dan kristal.

6. Stasiun akhir

Pada stasiun akhir, ada mesin talang goyang, yang akan memecah gula yang menggumpal menjadi butiran gula. Butiran gula yang sudah terpisah akan berjalan di sepanjang talang dan dihembuskan udara pengering.

Butiran gula berjalan menuju talang saringan. Nantinya akan terpisah lagi. karena butiran gula yang tidak memenuhi standar, akan diproses lagi, sedangkan yang sudah lolos standar akan disimpan sebagai produk gula kristal putih (GKP).

Limbah Pabrik Gula

Selain memproduksi tetes tebu pabrik gula juga menghasilkan ampas tebu. Tetes tebu biasanya akan diproses lagi menjadi etanol serta MSG (Monosodium glutamate) atau yang lebih dikenal dengan micin/vetsin.

Ampas tebu dimanfaatkan untuk pakan ternak, pupuk, pulp, particle board serta bahan bakar boiler. Pemanfaatan lain dari ampas tebu yang belum banyak dilakukan di Indonesia, di antaranya untuk bahan sirup glukosa, etanol, bahan penyerap zat warna, bahan kanvas rem, furfural sampai dengan sumber energi listrik.

Baca juga :  Mushroom Adalah Jamur : Semua Pasti Tahu !

Blotong juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik. Bahkan abu dari boiler, bisa dicampur dengan beberapa bahan lain yang kemudian dibuat pupuk mixed atau disebut fine compost.

Sayangnya, limbah proses pembuatan gula belum diolah dan dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia. Padahal hampir semua limbah pabrik gula memberikan manfaat, yang positif tentunya.

Syarat Mutu Gula Tebu

Dalam pergulaan terutama untuk mengetahui mutu gula, baik secara kuantitas maupun kualitas, akan dikenal beberapa satuan nilai atau syarat yang harus dipenuhi, yaitu kadar brix, polarisasi serta harkat kemurnian.

Brix ialah satuan yang menyatakan jumlah zat padat yang larut dalam 100 gram larutan. Zat padat tersebut merupakan campuran antara gula dan bahan non gula. Misalnya, jika suatu nira memiliki kadar brix 19%. Berarti dalam 100 gram nira, 19 gramnya ialah zat padat terlarut dan 81 gram sisanya adalah air. Semakin tinggi kadar brix-nya, maka akan semakin baik kualitas gulanya.

Polarisasi merupakan jumlah total gula yang larut dalam 100 gram larutan, yang memiliki kesamaan putaran optik dengan sukrosa murni. Polarisasi dinyatakan dengan satuan % pol.

Harkat kemurnian (HK) menyatakan persentase % pol terhadap % brix. Semakin tinggi nilai HK-nya, berarti semakin baik kualitas gulanya.

Selanjutnya, ada beberapa syarat dalam standar mutu GKP, menurut SNI-3140-2001/Rev 2005, yaitu.

Adapun standar kualitas gula pasir SHS (Super High Sugar) yang dikeluarkan oleh P3GI.

Menurut SNI No. 3140.3 tahun 2010, gula kristal putih dibagi menjadi 2 kelas mutu yakni GKP 1 dan GKP 2.

Masalah “Manis” di Indonesia

Ada beberapa persoalan gula nasional. Pertama, produktivitas yang rendah, yang mengakibatkan rendahnya efisiensi pengolahan gula.

Kedua, kondisi varietas tebu yang menjadi bahan baku justru tidak seimbang komposisi atau tingkat pemasakannya, yaitu antara masak awal, tengah dan akhir. Kemudian mengakibatkan masa giling yang berkepanjangan serta akan ada banyak tebu yang sudah ditebang dan diolah di masa awal padahal proses pemasakannya masih lambat.

Permasalahan agroindustri gula di Indonesia diidentikan dengan permasalahan Jawa. Hal ini disebabkan karena menurut data tahun 2006:

  • Sebagian besar pabrik gula ada di Jawa. Dari 59 pabrik gula yang beroperasi, 80% di antaranya ada di Jawa.
  • Dari jumlah pabrik gula di Jawa, 70% di antaranya ada di Jawa Timur, dengan luas areal tanam tebu sekitar 172.942 hektare.
  • Produksi gula di Jawa Timur tahun 2006 telah menyumbangkan sebanyak 46,6% dari total produksi gula nasional.
  • Ada sekitar 32% pabrik gula di Jawa yang teknologi pengolahannya masih rendah.

Ada 3 persoalan utama yang menjadi tantangan industri gula nasional, baik di masa sekarang maupun masa depan, yaitu:

  1. Produksi gula didominasi dari pabrik dengan kapasitas giling kecil.
  2. Pabrik gula di Indonesia sudah banyak yang berumur tua, termasuk juga mesin-mesinnya, yang mengakibatkan kinerja pabrik atau daya operasinya tidak efisien dan tidak optimal. Ada sekitar 68% pabrik gula di Jawa yang sudah berusia lebih dari 75 tahun.
  3. Sebagian besar pabrik gula, bahan bakunya yaitu tebu berasak dari perkebunan rakyat (PR). Padahal, perkebunan tebu rakyat berasal dari sawah, yang cukup sulit untuk bersaing dengan tanaman tebu alternatif yang panennya lebih cepat dan biaya produksinya lebih murah.

Pemerintah pun mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mengatasi masalah pergulaan nasional, di antaranya melalui regulasi-regulasi yakni keputusan presiden maupun keputusan menteri. Berikut kebijakan pergulaan di Indonesia.

Itulah gula tebu yang berbahan dasar batang tanaman tebu, bukan akar atau daunnya.

Semoga bermanfaat 🙂

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.