Si Merah “Penghuni” Papua

Pernahkah Anda mendengar nama “matoa”? Nama salah satu jenis buah lokal Indonesia. Di pertengahan tahun 2017 hingga kini pun, buah matoa masih serasa populer terdengar di masyarakat.

Matoa itu …

Habitat asal tanaman matoa ada di Papua. Tetapi, matoa juga tumbuh menyebar di daerah lain di Indonesia, seperti dataran Seko, Jayapura; Wondoswaar, Pulau Weoswar; Anjai Kebar; Warmare; Armina, Bintuni; Ransiki; Pami – Nuni, Manokwari; Samabusa – Nabire; dan Pulau Yapen. Akan tetapi, tanaman matoa juga dapat tumbuh di Maluku, Kalimantan, Sulawesi hingga Sumatera. Tak hanya itu, tanaman matoa juga tumbuh di Malaysia, sebelah timur Papua (Papua New Guinea), Sri Lanka, daerah tropis di Australia serta Kepulauan Andaman melalui Asia Tenggara, Fiji dan Samoa.

Jika di Papua New Guinea tanaman matoa dikenal dengan “taun”, maka di daerah lain pun dikenal dengan nama yang berbeda. Tanaman matoa memiliki nama lain seperti “ihi”, “miti”, “tawa”, “habele”, “kalasina”, “iwa”, “kablauw” (Papua); “leungsir” (Sunda); “kungkil”, “kasai”, “pakam” (Sumatera); “kase”, “latut”, “nautu” (Sulawesi); “kungkil”, “kasai gunung”, “pakam” (Kalimantan); “kayu”, “sapi” (Jawa); “matoa”, “kai”, “hatobu”, “ngaahe”, “ngaeke” (Maluku); “langsek anggang” (Minangkabau); “wusel”; “tawang”; “lanteneng”; “sapen”; “ganggo”; “jagir”; “mutoa” dan “lamusi”.

Ada sumber yang menyebutkan, harga buah matoa Rp 20.000 – Rp 30.000 per kilogramnya, atau bahkan lebih mahal. Kayu gergajian matoa, di Papua, dijual dengan harga yang cukup fantastis yaitu Rp 1,8 – 2 juta rupiah/kubik.

Matoa adalah flora identitas bagi Provinsi Papua Barat. Matoa khas Papua sudah ditetapkan sebagai varietas buah unggul yang layak dibudidayakan, seperti pada Keputusan Menpan RI No. 160/Kpts/SR.120/3/2006.

Botani Matoa

Matoa memiliki nama latin Pometia pinnata. Dalam ilmu botani, tanaman matoa termasuk dalam klasifikasi sebagaimana berikut.

Kingdom         : Plantae (tumbuhan)

Sub kingdom   : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)

Super divisi     : Spermatophyta (tumbuhan biji)

Divisi               : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)

Kelas               : Magnoliopsida (dikotil)

Sub kelas         : Rosidae

Ordo                : Sapindales

Famili              : Sapindaceae

Genus              : Pometia

Spesies            : P. Pinnata

Nama latin / binomial  : Pometia pinnata J.R dan G. Forst

Ciri-ciri / Morfologi Tanaman Matoa

Matoa merupakan tanaman berumah satu, disertai karakteristiknya yakni sebagai berikut:

  1. Memiliki pohon yang ukurannya sedang sampai besar. Tanaman matoa bisa tumbuh tinggi, dengan kayunya yang cukup keras.
  2. Batangnya mampu tumbuh tinggi 20 – 40 meter, diameternya mencapai 1,8 meter, bentuknya silinder tegak, warna kulitnya coklat keputihan, permukaannya kasar, memiliki banyak percabangan model simpodial dengan arah cabang yang miring sampai datar. Kulit batang matoa, memiliki warna abu-abu kemerahan atau cokelat, dengan permukaan yang licin, tidak beralur dan agak terkelupas.
  3. Memiliki dinding penunjang dan getah merah.
  4. Perakarannya tunggang, berwarna cokelat dan mampu menembus permukaan tanah jika sudah berumur puluhan tahun.
  5. Daun tanaman matoa tumbuh lebat, sehingga terlihat rimbun. Daunnya majemuk, menyirip genap (paripinate) dan susunannya spiral, memiliki tangkai utama yang berukuran 10 – 100 cm. Helaiannya berupa elips, berukuran 3 – 32 x 1,5 – 13 cm. Anak daun paling bawah di sumbu daun, bentuknya menyerupai daun penumpu dan sering tereduksi. Anak daun posisinya berhadapan sampai berseling, di mana pasangan bawah selalu berukuran lebih kecil, setiap pertulangan berakhir atau bermuara pada setiap ujung anak daun atau ujung dari tiap giginya (hydathoda) dan setiap pertulangan antara menekuk atau melengkung ke arah atas, tetapi tidak sampai ke tepi anak daun. Anak daunnya ada 4 – 13 pasang pada tiap sisi, di mana pasangan yang letaknya paling bawah mirip bentuk telinga, bentuknya menjarum sampai bergigi mencolok, memiliki kelenjar minyak di permukaan bawah pangkal daun, serta tangkainya melebar dan rapat di mana bagian atasnya terdapat 2 alur lateral atau tekukan tipis. Ada juga anak daun yang bentuknya bulat melonjong kecil seukuran telur puyuh atau buah pinang, diameternya 1 – 3 cm, panjangnya 1,5 – 5 cm, permukaan kulitnya licin, serta warnanya hijau – kuning saat muda dan cokelat kemerahan saat masak. Tangkai daun pulvinate dengan panjang sekitar 1 meter. Daun muda warnanya krem dan sangat mencolok. Daun pada pangkal perbungaan sering terduksi menjadi stipula semu. Daunnya berwarna merah cerah, saat tanaman masih muda. Saat tanaman tua, warna daunnya menjadi hijau. Daunnya memiliki panjang 30 – 40 cm dan lebar 8 – 15 cm.
  6. Bunga majemuk muncul dari bagian ujung tangkai daun. Bunganya termasuk bunga biseksual, penyerbukannya sendiri, tersusun atas malai, tangkai utama menjulur sepanjang 15 – 70 cm, memiliki bulu halus agak lebat serta berwarna coklat. Bunganya berbentuk corong, dengan tangkai yang bulat, pendek berwarna hijau, disertai kelopak berambut hijau. Benang sarinya pendek, warnanya putih dan berjumlah banyak. Sedangkan putiknya juga berwarna putih, memiliki tangkai dengan pangkal yang membulat dan mahkota yang terdiri dari 3 – 4 helai berbentuk pita kuning.
  7. Kulit buahnya tipis, licin dan kering. Kulit buah melindungi daging (di dalamnya) yang warnanya bening, kenyal, berair dan manis rasanya. Di dalam daging ada biji yang bulat, berukuran kecil dengan warna cokelat kehitaman dan mengkilap.

Jenis-jenis Matoa

Buah matoa yang ditanam di Irian Jaya (Papua) memiliki daging yang tebal, disertai rasa yang sangat manis dan khas, kombinasi antara rasa kelengkeng dan durian. Sedangkan buah matoa yang ditanam di Sulawesi dan Maluku, juga memiliki rasa yang manis dan dagingnya tebal.

Secara umum, matoa dibagi menjadi 3 jenis, yaitu matoa merah, hijau dan kuning. Berikut adalah perbedaan dari ketiga jenis tersebut.

Parameter Matoa merah

Emme Bhanggahe

Matoa kuning

Emme Khabhelaw

Matoa hijau

Emme Anokhong

Warna kulit Merah Kuning Hijau
Ciri daun Agak bulat / oval, tipis, warnanya hijau kekuningan Memanjang, kurang tebal, warnanya hijau muda Lebar, tebal, warnanya hijau tua
Warna bunga Coklat Kuning Coklat

 

Di Papua sendiri, terdapat 2 jenis matoa, yaitu matoa kelapa dan matoa papeda.

Parameter Matoa kelapa Matoa papeda
Tekstur daging buah Kenyal, agak kering, mirip selaput dalam (daging) buah kelapa muda

“nglotok” seperti rambutan aceh

Agak lembek, berair dan lengket melekat pada biji, mirip papeda (makanan khas Papua dari pati sagu)
Diameter buah 2,2 – 2,9 cm 1,4 – 2 cm
Diameter biji 1,25 – 1,4 cm
Penyebaran Lebih banyak di wilayah bagian tengah sampai timur (Provinsi Papua) Lebih banyak di wilayah bagian barat Papua (Provinsi Papua Barat)
Biji dan buah Daging buah mudah terlepas dari bijinya Daging buah agak sulit terlepas dari bijinya

 

Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua (2014), harga matoa papeda sebesar Rp 20.000 – Rp 35.000/kg, sedangkan matoa kelapa Rp 60.000 – Rp 80.000/kg.

Di Papua, tanaman matoa sebenarnya dikenal sebagai pohon endemik penghasil kayu, yang terbagi menjadi 3 jenis. Yaitu Pometia pinnata Forst., Pometia acuminata Radlk dan Pometia coreaceae Radlk.

Parameter pembeda Pometia pinnata Forst Pometia acuminata Radlk Pometia coreaceae Radlk
Diameter buah 2,2 – 2,9 cm 1,4 – 2 cm 1,7 – 2,4 cm
Diameter biji 1,25 – 1,4 cm
Warna buah Saat muda : hijau

Saat matang : kuning kemerahan sampai cokelat

Saat muda : hijau

Saat matang : merah kehitaman

Saat muda : hijau muda

Saat matang : hijau tua

Untuk buah matoa yang kulitnya relatif lebih tebal dan keras, masa simpannya lebih lama yaitu 1 minggu (jika tanpa perlakuan pengawetan) dan 20 hari (disimpan pada suhu 5 – 10 0C).

Manfaat Tanaman Matoa

Daun dan kulit buah matoa mengandung tanin dan saponin. Sedangkan bijinya mengandung lemak dan polifenol. Kulit batang tanaman matoa mengandung flavonida, zat besi dan pectic substance. Selain kandungan yang bermanfaat bagi tubuh manusia, bagian lain dari tanaman matoa juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Berikut adalah manfaat dari tanaman matoa, termasuk berdasarkan hasil riset-riset.

  1. Buah matoa mengandung vitamin C, yang mampu membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan antioksidan dalam tubuh.
  2. Buah matoa mengandung vitamin E yang membantu meringankan stres, meningkatkan kesuburan sampai dengan meminimalisir resiko penyakit jantung dan kanker. Selain itu juga membantu menjaga kesehatan kulit yaitu menjaga dan meningkatkan kelembaban serta elastisitas kulit.
  3. Karena mengandung glukosa (gula alami), buah matoa dapat meningkatkan stamina untuk tubuh.
  4. Buah matoa dapat membantu dalam mengatasi ambeien, melancarkan peredaran darah, hingga mencegah hipertensi.
  5. Hasil riset dari Bandung menyatakan bahwa ekstrak buah matoa untuk dosis 100 mg/kg berat badan, dapat membuang air dan garam dalam tubuh melalui urin. Hal itulah yang membuat tekanan darah bisa sedikit menurun.
  6. Menurut sebuah riset yang dilakukan di Bogor, buah matoa mampu menghambat perkembangan bakteri penyebab infeksi saluran nafas dan saluran kemih.
  7. Buah matoa juga bermanfaat dalam mencegah penuaan dini, menyamarkan garis keriput, membantu menjaga wajah tetap bersih dari jerawat dan paparan sinar matahari.
  8. Batang kayu pohon matoa bisa digunakan sebagai bahan bangunan. Kayu pohon matoa masuk dalam kelas II – III kategori kayu kuat dan kelas III – IV kategori kayu awet.
  9. Kulit buah matoa, menurut riset, mengandung tanin, saponin dan alkaloid. Tanin dalam kulit buah matoa, memiliki aktivitas antibakteri yang menginaktifkan adhesin sel mikroba dan enzim, memiliki target pada polipeptida dinding sel yang menyebabkan pembentukan dinding sel kurang sempurna dan berimbas pada sel bakteri menjadi lisis dikarenakan tekanan osmotik maupun fisik sehingga sel bakteri mati. Saponin juga menjadi antibakteri yakni menurunkan tegangan permukaan yang mengakibatkan naiknya permeabilitas atau kebocoran sel dan senyawa intra seluler keluar. Dalam sebuah penelitian, kulit buah matoa diekstrak untuk menjadi hand sanitizer karena sifat antibakteri dari tanin, saponin dan alkaloid.
  10. Selain sebagai bahan bangunan, kayu matoa juga bisa dimanfaatkan untuk bahan pembuat kertas. Karena, kayu matoa mengandung 57% selulosa, 20% lignin, 20% pentosa dan sisanya 0,8% abu. Seperti riset Kurniawan et al (2017), bahwa kulit buah matoa mengandung 50,6% α-selulosa; 9,28% air; 28,24% lignin; 4,21% abu dan 7,67% adalah zat lainnya.
  11. Bahkan, menurut riset Suharno dan Tanjung (2011), kayu matoa juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan kayu bakar karena mengandung nilai energi sebesar 19.760 kJ/kg.
  12. Kulit kayu dari tanaman matoa biasa dimanfaatkan oleh masyarakat priangan sebagai obat luka.
  13. Daun besar dari tanaman matoa, dimanfaatkan masyarakat Papua sebagai mulsa untuk tanaman gembili atau gadung.
  14. Daun dan kulit kayunya, di Malaysia, biasa direbus untuk mandi mengobati demam.
  15. Selain itu, daun matoa juga bisa membantu mengobati batu ginjal, batu empedu, hipertensi serta meminimalisir resiko diabetes (karena memberikan asupan gula alami).
  16. Ekstrak daunnya biasa dimanfaatkan masyarakat Fiji untuk menghitamkan rambut.
  17. Berendam di dalam air panas yang sudah diberi daun matoa, dapat membantu mengobati disentri.

Syarat Tumbuh Tanaman Matoa

Untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, tanaman matoa juga membutuhkan beberapa syarat kondisi lingkungan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Tanaman matoa tumbuh secara berkelompok, di tempat tertentu di dalam hutan. Tanaman matoa tumbuh alami di tanah datar dan bertekstur liat, yang pada saat hujan tiba akan mendapat (sedikit) genangan air. Tanaman matoa akan tumbuh baik di tanah kering atau tidak tergenang disertai lapisan tanah yang tebal.
  • Tanaman matoa juga bisa tumbuh pada tanah yang terkadang tergenang air tawar, berpasir, berlempung, berkarang atau bahkan berbatu cadas.
  • Tanaman matoa tumbuh berkelompok sporadis, pada lahan yang datar, bergelombang ringan sampai berat, dengan lereng landai sampai curam.
  • Tanaman matoa dapat tumbuh baik di ketinggian 20 – 400 m dpl. Tanaman matoa dapat tumbuh dengan mudah di ketinggian 500 – 1700 m dpl, dengan topografi tanah datar atau miring. Akan tetapi, pada ketinggian 0 – 120 m dpl, di luar habitat aslinya, pertumbuhannya tetap berlangsung dengan baik.
  • Tanaman matoa biasanya tumbuh tinggi sekitar 50 meter, dengan akar papan tingginya sampai 5 meter dan batangnya memiliki diameter 1 – 1,8 meter.
  • Tanaman matoa dapat tumbuh dengan baik pada curah hujan yang tinggi yaitu > 1200 mm/tahun.
  • Membutuhkan suhu 22 – 28 0C dan intensitas cahaya 70 – 100% untuk pertumbuhannya.

Budidaya Tanaman Matoa

Tanaman matoa biasanya diperbanyak dengan cara generatif (biji) atau pun vegetatif (cangkok dan okulasi). Tanaman matoa yang dibudidayakan dengan disertai pemindahan bibit dari hasil persemaian, harus dilakukan dengan hati-hati. Bibit tanaman matoa sangat peka terhadap perubahan lingkungan, terutama perakarannya. Maka, jika akan memindahkan bibit, sebaiknya jangan dicabut. Nah, sebagai solusinya, sebaiknya persemaian dibuat sedemikian rupa agar teratur dan pembibitan dilakukan menggunakan polybag. Sehingga nantinya, akan lebih mudah dalam memindahkan bibit yang akan dibudidayakan. Budidaya matoa secara generatif yakni menanam langsung bijinya ke tanah, akan memiliki hasil yang jauh berbeda dengan cara vegetatif. Cara generatif mampu menghasilkan buah yang lebih banyak.

Jangan lupa untuk memilih biji matoa yang baik (berkualitas). Biji matoa disemai di tanah dan campurlah dengan pupuk kandang. Setelah 2 minggu, biji akan berkecambah. Kemudian setelah berumur 3 minggu, pindahkan kecambah ke polybag yang berukuran lebih besar. Pastikan polybag tersebut tanahnya sudah tercampur pupuk kandang. Bisa ditambahkan sedikit pupuk urea dan NPK. Pupuk NPK digunakan untuk meningkatkan oksigen dalam tanah, karena perkembangan tanaman matoa bisa berlangsung dengan baik. apabila tanahnya mengandung oksigen yang cukup. Pada umur 5 bulan, bibit tersebut sudah bisa tumbuh sampai ½ meter dan siap dipindahkan ke lahan terbuka. Jangan lupa untuk tetap memberinya pupuk 1 x 2 bulan sebagai kebutuhan nutrisinya. Di umurnya yang 2 tahun, tanaman matoa sudah tumbuh tinggi lagi, sekitar 1,5 – 2 meter.

Tanaman matoa sangat cocok dijadikan sebagai tanaman penghijauan. Apalagi, kelebihan tanaman matoa seperti kemampuannya untuk tumbuh di segala medan, memiliki akar dan pangkal batangnya yang kokoh dan lebih tahan terhadap segala jenis serangga. Tanaman matoa umumnya lebih tahan terhadap serangan serangga, yang biasanya merusak tanaman lain. Jika membudidaya, jarak tanam pada umumnya untuk tanaman matoa sekitar 8 – 12 meter. Seperti syarat tumbuhnya, tanaman matoa membutuhkan sinar matahari 70 – 100%, maka sebaiknya tanamlah matoa di lahan terbuka yang terkena sinar matahari langsung. Tanaman matoa yang ditanam pada lahan yang mendapat banyak sinar matahari, akan menghasilkan buah matoa yang tumbuh besar dan kulit buahnya memerah. Berbeda dengan tanaman matoa yang ditanam pada lahan yang kurang mendapat sinar matahari. Buah yang dihasilkan tetap bisa tumbuh besar. Tetapi, kulitnya akan retak dan isinya (daging buah) sedikit terlihat. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan dan diingat adalah tanaman matoa tidak cocok jika dibudidayakan secara tambulapot. Karena, pot hanya memberi ruang pertumbuhan yang terbatas, sehingga tidak mampu menghasilkan buah secara maksimal.

Tanaman matoa akan berbunga pada bulan Juli – Agustus. Sedangkan masa buahnya jatuh pada bulan November – Februari. Masa kematangan buah rata-rata sekitar 4 bulan. Saat buah mulai berbunga, berarti 2 bulan kemudian sudah bisa dimakan. Jika biasanya buah dibungkus dengan plastik untuk melindungi dari hama, maka tidak untuk matoa. Bungkuslah buah matoa dengan jaring, agar cepat matang dan tidak mudah busuk. Cara panen buah matoa dengan dipetik, dipisahkan dari tangkai buahnya.

Satu pohon matoa yang berumur 10 tahun, mampu berbuah dan dipanen 300 – 500 kg buah/tahun. Di tingkat petani, buah matoa dijual Rp 20.000,-/kg. Tetapi coba saja Anda amati harga buah matoa di toko atau supermarket atau pun di toko online. Buah matoa dijual dengan harga yang cukup fantastis. Ada yang menjualnya dengan harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah per kilogramnya.

Matoa, Soal Rasa ??

Jika diibaratkan, aroma buah matoa mirip dengan aroma durian, tetapi tekstur daging buahnya mirip daging buah kelengkeng dan agak kenyal seperti nangka, serta rasanya yang manis legit. Saat musimnya berbuah, tanaman matoa menghasilkan buah yang cukup banyak dengan rasa buah yang manis. Soal rasa, ada yang menyamakan buah matoa seperti perpaduan antara buah kelengkeng dan durian, manis. Ada pula yang menyebutkan rasanya seperti buah leci dan rambutan. Jika mau mencicipi buah matoa, cara membuka buahnya adalah cukup pecahkan kulit dengan menekannya menggunakan ibu jari tangan. Itu karena kulit buah matoa licin, sedikit keras, tetapi sangat mudah dipecahkan.

Buah matoa dikenal manis, karena mengandung glukosa jenuh yang cukup tinggi. Maka dari itu, jika mengonsumsi buah matoa, sebaiknya tidak terlalu banyak, karena bisa mengakibatkan pusing dan mabuk.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.