manfaat keong sawah untuk kesehatan

Manfaat Keong Sawah Untuk Kesehatan

Manfaat keong sawah untuk kesehatan pria dan wanita. Sosial media Twitter, beberapa waktu lalu sempat diramaikan dengan “kicauan” dari Bapak Menteri Pertanian RI, Andi Amran. Seperti yang telah diberitakan bahwa ada beberapa bahan pangan yang mengalami kenaikan harga, termasuk di antaranya daging sapi.

Pak Menteri Andi pun berkomentar agar masyarakat mengalihkan konsumsi proteinnya. Beliau menyarankan agar masyarakat beralih ke daging keong sawah, sebagai asupan protein hewaninya.

Sudah pasti, masyarakat ramai mengomentarinya. Terutama komentar yang kontra dengan saran tersebut. Banyak yang merasa jijik pada seekor hewan sawah yang memiliki “rumah”nya sendiri.

Banyak juga yang sontak kaget, mengapa hewan yang jarang dibicarakan, justru tiba-tiba naik daun, karena dianggap bisa menjadi asupan protein hewani.

Keong Sawah dan Taksonominya

Lalu, sebenarnya harus bagaimana menyikapi saran Pak Menteri tersebut? Pastinya Pak Menteri tak sembarangan berdalih.

Lalu mengapa keong sawah menjadi saran beliau? Padahal, keong atau yang nama ilmiahnya Pila ampullacea, hanyalah hewan dari gerombolan mollusca, yang “kubangannya” di sawah, aliran parit atau danau, serta termasuk hewan bercangkang dengan tinggi cangkang mencapai 40 mm dan warna cangkangnya hijau sampai kecoklatan atau kehitaman.

Nah, berikut adalah klasifikasi keong sawah dalam ilmu taksonomi.

Kingdom         : Animalia

Filum               : Mollusca

Kelas               : Gastropoda

Superfamili      : Ampullariodidae

Famili              : Ampullaridae

Bangsa            : Ampullariini

Genus              : Pila

Spesies : Pila ampullacea

Keong Sawah atau Keong Mas?

Jangan kira keong sawah sama dengan keong mas. Meski sama-sama berasal dari keluarga Mollusca, tetapi keduanya berbeda. Apa bedanya selain warnanya yang keemasan?

Baca juga :  Cara Membuat Durian Berbuah Lebat

1. Keong murah dan mudah didapat

Jika Anda tinggal di pedesaan atau di tempat yang dekat dengan areal persawahan, maka nikmatilah pemandangan alam hijau sembari mencari gerombolan keong di sana.

Anda yang “berani” turun ke sawah, carilah keong di sana. Keong termasuk bahan pangan yang mudah didapat, plus harganya pun murah.

Apalagi saat bulan Ramadhan, keong bak salah satu santapan wajib buka puasa. Maka dari itu, keong lebih terkenal sebagai santapan buka puasa.

Berikut dibawah adalah komposisi dari daging keong sawah :

2. Proteinnya?

Dengan kandungan proteinnya, maka keong dapat menjadi pengganti daging sapi atau ayam yang harganya melonjak. Data dari Positive Deviance Resource Centre menyatakan bahwa setiap 100 gram daging keong mengandung protein sebanyak 12% atau sekitar 12 gram.

3. Lemaknya?

Daging keong memiliki kadar lemak sekitar 1 gram per-100 gram daging, sehingga lebih rendah dibandingkan daging merah/sapi. Bukan hanya lemaknya, kolesterol dalam daging keong pun relatif lebih rendah.

Jadi bagi Anda yang membutuhkan asupan protein tetapi sedang menghindari lemak, maka keong bisa dijadikan salah satu makanan Anda.

Apalagi, lemak yang terkandung dalam daging keong adalah asam lemak esensial, berupa asam linoleat dan asam linoleat.

Bahkan, ada sebuah riset di Brazil yang menyatakan bahwa daging keong mengandung asam lemak tidak jenuh, yang mampu menurunkan kolesterol dalam darah.

4. Kalsium?

Menurut riset, 100 gram daging keong mengandung sekitar 217 mg kalsium atau setara dengan segelas susu. Bahkan, jika Anda salah satu individu yang alergi protein susu atau mungkin tidak suka susu, maka asupan kalsium bisa didapat dari daging keong

5. Vitamin dan Mineral Lainnya

Daging keong mengandung vitamin A, vitamin E, asam folat dan niasin atau vitamin B3. Selain itu, daging keong juga mengandung mineral seperti zat besi, kalium, fosfor dan magnesium.

Baca juga :  Macam-Macam Tanaman Hias Indoor Dan Outdoor Yang Mudah Dirawat

Vitamin dan mineral tersebut, diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan, mulai dari mata, kulit, metabolisme, sel darah sampai dengan enzim-enzim beserta kinerjanya.

6. Obat Alternatif

Daging keong, dipercaya dapat mengatasi beberapa keluhan penyakit. Mulai dari ambien atau wasir, diabetes, kolesterol, maagh, liver, hepatitis, asma, penyakit kulit, hingga pembentukkan masa atau perkembangan otot.

Maka dari itu, cukup banyak pengobatan alternatif yang melibatkan daging keong sebagai makanan herbal.

7. Cangkang Keong

Sisi lain dari daging “tubuh” keong adalah cangkang atau rumahnya. Tubuh keong termasuk lunak dan dilindungi oleh cangkangnya yang keras berbentuk spiral.

Selain dagingnya, cangkang keong yang memiliki bobot 83 – 85% dari berat utuh keong, juga mengandung beberapa mineral. Di antaranya kalsium yang mencapai 54%, zat besi, kalium, fosfor dan natrium.

Lalu bagaimana dengan mereka yang berada dipihak yang ‘kontra’? Ada yang beranggapan jika keong menjijikan karena “kubangannya” di sawah dan parit.

Ada juga yang ragu/takut mengonsumsinya karena bahaya bakteri maupun cacing yang terkandung didalamnya, yang mungkin hadir berkat lingkungan tempat tinggal keong.

Lalu sebenarnya, apakah anggapan masyarakat tentang bahaya keong itu benar? Apa saja ya bahaya daging keong?

Berikut adalah fakta fakta tentang keong yang beredar di masyarakat :

a. Cacingan

Tubuh manusia yang mengalami cacingan, dapat disebabkan karena cacing Trematoda dari daging keong. Apalagi, jika masyarakat telah terbiasa mengonsumsi daging keong mentah.

b.Infeksi

Cacing Schistosoma, dapat menyebarkan infeksi Schistososmiasis urogenital. Di mana jika menyerang manusia, maka akan mengganggu sistem kemih, urin/ureter hingga ginjal.

Selain itu, cacing Schistosoma dapat menyebabkan schistosomiasis usus, yang nantinya mengganggu sistem pencernaan manusia.

Cacing ini menyebar jika mengonsumsi keong sawah mentah dan penggunaan air yang dimungkinkan sudah tercemar cacing tersebut.

Baca juga :  Susu Yogurt : Cerita di Balik Fermentasi dan Si Bakteri Baik

c. Penyakit meningitis

Jika keong sawah tidak dimasak dengan baik, apalagi mentah, maka cacing Angiostongylus Cantonensis (salah satu penyebab meningitis) dapat masuk tubuh manusia.

Tetapi, bahaya tersebut dapat terjadi, jika daging keong yang dikonsumsi tidak diolah dengan baik dan benar.

Tips Mengolah Daging Keong Sawah

Maka, berikut adalah beberapa tips agar konsumsi daging keong tidak menjadi ancaman bagi tubuh Anda :

  1. Cuci sampai bersih keong dari lumpur atau tanah yang menempel.
  2. Rendam keong dengan air panas yang sudah dicampurkan kapur sirih dan biarkan beberapa menit. Tujuan dari proses ini adalah agar bakteri maupun zat yang tidak berguna (bukan gizi) terlepas dari daging keong.
  3. Rendam (lagi) keong selama semalam, untuk memastikan agar lebih bersih.
  4. Anda juga bisa melepas daging dari cangkangnya (misalkan jika ingin dibuat sate). Kemudian bersihkan daging keong, termasuk bagian yang bulat berwarna merah di tengah daging.
  5. Untuk mengurangi bau amis, rendam daging keong di dalam air yang sudah dicampurkan perasan jeruk nipis, kurang lebih selama 1 jam.
  6. Jangan lupa untuk mencuci bersih tangan Anda setelah mengurusi keong. Karena keong sawah pastinya mengandung lumpur.
  7. Rebus keong dalam api besar paling tidak 20 menit, atau dengan api sedang sekitar 40 menit, atau jika dengan api kecil berarti sekitar 62 menit.

Setelah ‘sibuk’ membersihkan daging keong, maka Anda bisa langsung memasaknya.

Karena begitu banyaknya manfaat daging keong untuk kesehatan, masyarakat biasa mengolahnya menjadi sate, rica-rica, oseng keong, direbus dengan bumbu sederhana ala santapan buka puasa dan olahan lainnya.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.