Pranata Mangsa untuk Melaut

Pranata Mangsa untuk Melaut

Sejatinya, Indonesia memiliki 3 pola iklim utama yaitu:

  • Pola moonson : pola hujan bersifat unomodal yaitu memiliki 1 puncak musim dingin. Selama Desember sampai Februari curah hujan tinggi (musim hujan), Juni sampai Agustus curah hujan rendah (musim kemarau) dan 6 bulan sisanya adalah pancaroba.
  • Pola ekuatorial : pola hujan yang bersifat bimodal yaitu memiliki 2 puncak musim hujan, pada bulan Maret dan Oktober saat matahari dekat garis ekuator.
  • Pola lokal : pola hujan unimodal, tetapi bentuknya berlawanan dari pola

Iklim di Indonesia dipengaruhi banyak oleh sirkulasi moonson, sehingga muncul perbedaan musim yaitu kemarau dan penghujan. Iklim menjadi faktor alam dan proses fisika atmosfer yang paling penting serta berpengaruh dalam aktivitas pertanian, termasuk bercocok tanam di sawah hingga menangkap ikan di perairan lepas. Jika dalam aktivitas cocok tanam, iklim berpengaruh pada penentuan komoditas yang akan ditanam pada suatu masa, menguasai proses budidaya, kemungkinan kegagalan panen karena serangan hama, memprediksi ledakan HPT yang mungkin menyerang sampai dengan pasca panen. Sementara itu, iklim juga berpengaruh terhadap aktivitas perikanan yang sejatinya masih menjadi bagian dari dunia pertanian. Di perairan pantai selatan Yogyakarta misalnya, ikan dari kelompok ekonomis penting pada umumnya lebih mudah tertangkap saat pertengahan angin musim timur hingga musim barat, menggunakan perangkap yang dipasang pada permukaan dan kolom perairan, seperti hand line.

Pada artikel sebelumnya, sudah pernah diulas cukup banyak tentang apa dan bagaimana pranata mangsa atau dibaca pranoto mongso. Pranata mangsa merupakan gabungan dari kata “pranata” yang artinya peraturan / aturan dan “mangsa” yang artinya waktu, musim atau masa. Sehingga pranata mangsa diartikan sebagai suatu peraturan untuk menentukan apa saja yang harus dikerjakan/dilakukan di setiap masa/waktu tertentu.

Menurut sejarah, masyarakat terutama para petani zaman dahulu, menggunakan sistem penanggalan saka Hindu berdasarkan pergerakan matahari untuk melakukan pekerjaannya. Kemudian, tahun Saka Hindu 1554 atau 1633 Masehi, Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo, sang Raja Mataram, mengganti sistem penanggalan pergerakan matahari tersebut menjadi seperti kalender hijriyah yaitu dibuat sistem bulan. Tepatnya pada Jum’at legi tahun baru Saka 1555 atau 1 Muharram 1043 Hijriyah atau 8 Juli 1633 Masehi. Sistem penanggalan yang baru berlaku untuk semua daerah di Jawa dan Madura, kecuali Banten, Batavia (Jakarta) dan Banyuwangi (Blambangan). Selanjutnya, pada tahun 1855 Masehi, sistem penanggalan bulan atau pranata mangsa, diperbaharui oleh Sri Paduka Mangkunegara IV. Sri Paduka mengaitkan musim/masa dengan faktor lainnya seperti perilaku binatang, perkembangbiakan tanaman serta situasi dan kondisi alam sekitar. Sri Paduka membagi 4 musim utama dan 2 musim pendamping dalam satu tahun penanggalan, yaitu musim terang (masa langit cerah, durasinya 82 hari), semplah (masa penderitaan, durasinya 99 hari) pendampingnya: masa paceklik (pada 23 hari pertama) dan udan (masa hujan, durasinya 86 hari), serta pengarep-arep (masa penuh harap, durasinya 98 – 99 hari) pendampingnya: masa panen (pada 23 hari terakhir).

Baca juga :  Si Putih Nan Manis

Sebenarnya, ada beberapa jenis kalender di dunia yaitu kalender waktu tradisional dan modern. Kalender waktu tradisional ada 9 jenis, di antara yaitu:

  1. Kalender Cina
  2. Kalender Yahudi
  3. Kalender Mesir
  4. Kalender Maya
  5. Perhalaan (dari suku Batak)
  6. Kalender Suku Dayak
  7. Kalender Sultan Agung
  8. Wariga
  9. Kalender Pranata Mangsa

Selain kalender waktu tradisional, ada juga kalender waktu modern. Yaitu merupakan pengenalan waktu menggunakan ukuran homogen dalam ukuran wilayah yang luas, dengan dasar matahari (surya) dan bulan (candra) dalam penyusunannya. Kalender waktu modern ada 4 jenis, yaitu sebagai berikut:

  1. Kalender Julian
  2. Kalender Augustan
  3. Kalender Gregorian
  4. Kalender Muhammad atau yang lebih dikenal dengan Kalender Hijriyah

Seperti yang sudah disebutkan pada artikel tentang pranata mangsa sebelumnya, sistem penanggalan pranata mangsa, selain digunakan oleh petani di ladang, juga diterapkan para nelayan ikan. Jika musim berpengaruh pada keberhasilan dan hasil panen petani dalam menanam tanaman tertentu yang sesuai dengan cuacanya, maka sama halnya dengan para nelayan.

Musim dapat mengindikasikan keberhasilan nelayan dalam memperoleh suatu jenis ikan yang sangat tinggi pada waktu-waktu tertentu, dibandingkan dengan waktu lainnya.

Berikut ini adalah contoh hubungan antara tanggalan pranata mangsa dengan jenis ikan yang banyak/mudah didapatkan beserta tanda alamnya, tepatnya di wilayah Samudera Hindia Selatan DI. Yogyakarta.

Mangsa Tanda alam Jenis ikan Alat tangkap
Di darat Di laut
Kasiji / kasa

22 Juni – 1 Agustus (41 hari)

Udara dingin, daun berguguran, pohon tak berdaun, musim kemarau, fluktuasi suhu udara harian tinggi Arus laut ke barat, angin timur mulai terasa Tuna mata besar, cakalang, pari, layaran dan madidihang Jaring insang dasar, jaring insang hanyut, hand line, rawe
Karo / kadua

2 Agustus – 24 Agustus (23 hari)

Udara dingin, mangga podang dan randu berbuah, klereside berbunga, udara kering, tanah retak-retak suhu air permukaan laut rendah, arus barat kuat Cucut, cakalang, madidihang, campuran Hand line, jaring insang dasar, jaring insang hanyut
Katiga / katilu

25 Agustus – 17 September (24 hari)

Kupu-kupu kuning keluar, angin timur kencang, udara dingin, bunga berjatuhan, umbi gadung mulai bertunas Air laut keruh, muncul ubur-ubur Cucut, tongkol, madidihang, campuran Jaring insang hanyut, hand line, pancing rawai dasar
Kapati / kaopat

18  September – 12 Oktober (25 hari)

Bunga berguguran, angin bergerak tidak kencang, udara dingin Perubahan ara angin (pancaroba), arus laur dan gelombang mereda, air laut keruh Tongkol, tuna, layur, cakalang, bawal hitam dan putih, campuran Jaring insang hanyut, jaring bawal, jaring ciker, jaring sirang, pancing rawai dasar
Kalima / kalimo

13 Oktober – 8 November (27 hari)

Musim hujan, banyak lalat, angin tidak kencang, tanaman rimpang mulai bertunas Pergantian arus air (arus timur), air laut keruh, udang renik (plankton) mulai muncul Bawal hitam dan putih, tenggiri, tuna, tongkol, teri, layur, lobster Jaring insang hanyut, jaring insang dasar, jaring ciker, jaring bawal, pancing rawai dasar, serok, krendet
Kanem / kaganep

9 November – 21 Desember (43 hari)

Musim hujan, banyak buah masak, kupu-kupu keluar, banyak lalat, angin tidak kencang Air laut keruh, air laut hangat, air keruh, angin barat, arus timur Bawal hitam dan putih, tenggiri, teri, lobster Jaring insang dasar, jaring sirang, pancing rawai dasar, krendet
Kapitu / katujuh

22 Desember – 2 Februari (43 hari)

Musim hujan, banyak lalat, angin tidak kencang, sungai banyak yang banjir Arus air ke timur, angin barat agak kencang, air laut keruh Kakap, kerapu, cucut, lobster, layur, pari kecil, manyung Jaring insang dasar, jaring insang hanyut, jaring ciker, jaring sirang, krendet, pancing rawai dasar
Kawolu / kadalapan

3 Februari – 28/29 Februari (26/27 hari)

Musim hujan, banyak lalat, angin barat kencang Arus timur, angin barat cukup kencang, air laut keruh Bawal, pari, layur, manyung, kembung, udang dogol, jerbung, campuran Jaring insang dasar, jaring ciker, pancing rawai dasar, hand line, krendet, trammle net
Kasongo / kasalapan

1 Maret – 25 Maret (25 hari)

Musim hujan mulai reda, banjir, bunga malai berguguran, banyak lalat, angin kadang kencang kadang tidak (pancaroba), hama gareng keluar Arus timur melemah, angin barat reda, ombak kecil, burung camar di atas laut Bawal, kakap, manyung, udang dogol, jerbung, kacangan Jaring sirang, hand line, pancing rawai dasar, trammle net
Kadasa / kasapuluh

26 Maret – 18 April (24 hari)

Musim hujan berakhir, angin tidak kencang, telur burung mulai menetas Pergantian arus air, pancaroba Bawal, layur, manyung, jerbung, udang dogol, campuran Jaring ciker, jaring sirang, jaring eret, hand line, pancing rawai dasar, trammle net
Desta / kasabelas

19 April – 11 Mei (23 hari)

Musim hujan berakhir, banjir mereda, bunga rontok Burung camar di atas laut, arus barat terasa, air menyala di malam hari Cucut, bawal hitam, tongkol, layaran, marlin Jaring insang tetap, jaring insang hanyut, rawai hanyut, hand line
Sada / kadua belas

12 Mei – 21 Juni (41 hari)

Daun/bunga rontok, musim tanam palawija (jagung, kedelai, cabai) Arus barat mendominasi, angin terasa dingin, air laut mulai dingin Tuna, cucut, marlin, campuran Jaring insang hanyut, jaring eret, hand line

Sumber: Partosuwiryo (2009)

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.