Pranata Mangsa, Kalender “Emas” di Zamannya

Pernahkah Anda mendengar istilah “Pranata Mangsa” atau yang sering dibaca “Pronoto Mongso”? Barangkali orang tua atau kakek nenek Anda paham betul apa istilah tersebut. Pranata mangsa adalah istilah yang dahulu sangat populer, terutama di kalangan para petani dan nelayan, pada dunia pertanian. Pranata mangsa adalah sistem penanggalan berdasarkan kalender “alam”, yang biasa digunakan untuk kegiatan bercocok tanam sekaligus juga aktivitas melaut.

Lalu apa itu pranata mangsa dan bagaimana sejarahnya? Berikut ulasan tentang sistem penanggalan pranata mangsa.

Sejarah Pranata Mangsa

Pada zaman kerajaan di Indonesia, pranata mangsa menjadi sistem penanggalan yang tidak luput dari dunia pertanian. Pranata mangsa yang diterapkan pada kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, telah membuktikan bahwa pertanian Indonesia sukses, meskipun berbasis pangan lokal. Kejayaan sistem pranata mangsa pertanian kedua kerajaan besar tersebut, dituangkan pula dalam kitab Arjunawiwaha dan prasasti Kamalagi.

Menurut cerita Ronggowarsito, sistem penanggalan pranata mangsa sudah dikenal ribuan tahun yang lalu oleh masyarakat tanah Jawa. Akan tetapi, barulah pada 22 Juni 1856, pranata mangsa ditetapkan sebagai kalender oleh raja Surakarta, yaitu Sri Susuhunan Paku Buwana VII. Pada saat itu, pranata mangsa ditetapkan raja Surakarta agar menguatkan sistem penanggalan yang sudah mengatur lengkap tata kerja petani dalam bercocok tanam yang mengikuti peredaran musim dari tahun ke tahun.

Di sisi lain, dalam Serat Centini, yang disusun oleh Paku Buwono V pada tahun 1820 – 1833, serta pada buku The History of Java and Hien, istilah pranata mangsa termaktub di dalamnya.

Pranata mangsa sudah digunakan petani Jawa sejak zaman Hindu, sebagai kalender penentuan dalam bercocok tanam. Pranata mangsa kemudian dikenal dengan mangsa raja”. Karena, pranata mangsa disebut-sebut dibuat oleh Aji Saka yaitu raja Medhang Kamulan.

Pranata Mangsa

Pranata mangsa sebenarnya berasal dari bahasa Jawa, yaitu dari kata “pranata” yang artinya tata cara; prosedur; tata laksana; ketentuan, serta kata “mangsa” yang artinya musim. Pranata mangsa sendiri, terdiri dari pembagian musim atau mangsa beserta jumlah harinya, aktivitas petani di setiap mangsa, ciri-ciri atau tanda-tanda alam pada setiap mangsa, yang kesemuanya dapat membantu kegiatan bercocok tanam.

Sistem pranata mangsa merupakan metode penanggalan khusus untuk pertanian, dengan menjadikan alam sebagai acuan tentang apa dan bagaimana petani harus melakukan serta memberikan sesuatu pada tanamannya. Sistem pranata mangsa justru menjadikan petani memiliki indra yang lebih peka dan cermat, karena harus mengamati, membaca dan merasakan alam, untuk kemudian menerjemahkannya. Kondisi dan perubahan alam, seperti terik matahari, angin, awan, termasuk juga kicauan burung, kesemuanya menjadi petunjuk para petani dalam menjaga tanaman-tanamannya.

Penanggalan pranata mangsa bahkan menunjukkan sebuah korelasi, antara siklus biologi, klimatologi, kosmologi hingga sosiologi masyarakat pedesaan. Tidak hanya itu saja, pranata mangsa juga merekatkan hubungan antara manusia dengan alam menjadi lebih harmonis, seperti dasar konsep ekologi. Di mana manusia sebagai bagian yang penting pada sebuah ekosistem yang seharusnya memahami kondisi dan perubahan alam, sehingga manusia tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya.

Tak hanya petani di ladang, nelayan juga tradisional juga terbiasa menggunakan sistem Pranata Mangsa dalam aktivitas melautnya. Dari pranata mangsa, nelayan tahu kapan saat-saat mereka mampu menjaring banyak ikan, kapan waktunya yang baik untuk melaut, waktu yang berbahaya sampai dengan saat-saat di mana ia tidak mendapat hasil apapun. Saat waktu yang tidak tepat itulah, para nelayan akan mengistirahatkan kapalnya. Nelayan memanfaatkannya untuk memperbaiki jaring yang mungkin rusak atau pun melakukan pekerjaan selain melaut.

Kalender Pranata Mangsa

Dalam pranata mangsa, dikenal 4 musim utama. Di mana musim-musim tersebut berhubungan dengan perilaku hewan, tumbuhan dan dikaitkan juga dengan kultur agraris. Contohnya, bambu yang ditebang di masa kanem, akan lebih awet dan bebas dari serangan bubuk. Musim-musim dalam pranata mangsa, yaitu:

  1. Musim rendheng atau penghujan, tiba pada tanggal 23 Desember – 26 Maret selama kurang lebih 94 atau 95 hari.
  2. Musim mareng atau pancaroba, tiba pada tanggal 27 Maret – 21 Juni selama kurang lebih 88 hari.
  3. Musim ketiga atau kemarau, tiba pada tanggal 28 Juni – 18 September selama kurang lebih 88 hari.
  4. Musim labuh atau pancaroba menjelang hujan, tiba pada tanggal 18 September – 22 Desember selama kurang lebih 95 hari.
Baca juga :  RASAKAN HARUMNYA TANAMAN INI

Mangsa ketiga (kemarau) diapit oleh 2 mangsa, yakni musim panen (mangsa destha) dan paceklik (mangsa karo). Berbeda dengan mangsa rendheng (penghujan) yang diapit oleh mangsa kalima dan kawolu.

Berdasarkan musim utama dalam pranata mangsa, pada mulanya para petani akan mempersiapkan dan mengolah lahannya pada mangsa labuh. Kemudian saat rendheng, para petani mulai menanami lahannya. Mereka akan melewati mangsa penghujan, lalu pancaroba yang disusul kemarau. Siklus tersebut terus berputar tanpa henti. Sehingga membuat para petani jaman dahulu, paham betul bab-bab apa saja yang harus mereka lakukan.

Dalam Pranata Mangsa, bulan Desember sampai Februari adalah musim penghujan, badai, banjir dan longsor. Pranata mangsa terdiri dari 12 mangsa, dengan nama, waktu, simbol serta watak yang berbeda-beda pada tiap mangsanya. Dalam sistem Pranata mangsa, ada 12 mangsa, yang masing-masingnya berumur 23 – 24 hari. Pranata mangsa yang terbagi menjadi 12 mangsa dengan lama/panjang hari yang berbeda, dalam 365 hari. Sistem pada pranata mangsa yaitu sebagai berikut:

  • Kasa (Kesatu), ciri-cirinya: daun berguguran, kayu mengering dan belalang masuk dalam tanah.
  • 15 Juli – 5 Agustus à pembakaran jerami dan memulai menanam palawija
  • 17 – 25 Agustus à penanaman palawija gelombang kedua
  • Kanem (Keenam), ciri-cirinya: buah mulai muncul dan belibis terlihat di tempat yang berair.
  • 20 – 30 November à menyebar benih padi gelombang pertama
  • 20 – 31 Desember à menyebar benih padi gelombang kedua, yaitu untuk padi umur 90 hari
  • Hapit Lemah (Kesebelas), ciri-cirinya: burung memberi makan anaknya dan buah kapuk randu yang merekah.
  • 15 – 25 April à panen raya genjah (untuk tanaman berumur pendek) dan menanam padi terbaik.
  • 5 – 20 Mei à menanam palawija terbaik

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa mangsa pertama jatuh pada tanggal 22 Juni dalam kalender pranata mangsa. Hal ini, jika berdasarkan ilmu meterologi, tanggal 22 Juni merupakan hari pertama bergesernya kedudukan matahari dari garis balik utara menuju ke garis balik selatan. Mangsa kasa dihitung mulai 22 Juni bertepatan saat matahari berada di zenit untuk garis balik utara. Sedangkan masa kapiti (apit / hapit) mulai dihitung pada 22 Desember saat matahari ada di zenit garis balik selatan.

Di sisi lain, perpindahan kedudukan matahari akan berkaitan dengan unsur meteorologis suatu daerah, yang kemudian mempengaruhi fenologi tanaman dan hewan, sehingga menjadi dasar utama indikator mangsa dalam sistem pranata mangsa.

Nah berikut penanggalan Pranata Mangsa yang lebih detailnya.

Mangsa Tanggal Musim Tanam dan Ciri-ciri
Kasa / Kahiji 22/23 Juni – 2/3 Agustus Palawija.

Masa kering, intensitas matahari 76%, RH 60,1%, curah hujan 67,2 mm, suhu 27,4 C.

Daun gugur, tanah kering, mata air mulai sedikit.

Karo / Kadua 2/3 Agustus – 25/26 Agustus Kapok bertunas, tanam palawija kedua, pohon randu dan daun mangga bersemi.

Cuaca panas seperti masa Kasa, curah hujannya 32,2 mm.

Tanah banyak yang retak.

Katiga / Katilu 25/26 Agustus – 18/19 September Umbi-umbian bertunas, panen palawija, sama seperti sebelumnya tetapi curah hujannya menjadi 42,2 mm
Kapat / Kaopat 18/19 September – 13/14 Oktober Tanam pisang, kapuk berbuah, panen palawija, tanaman yang mulai tumbuh: pohon bambu, uwi, gadung, kunci dan lainnya.

Sumur kering, intensitas matahari 72%, RH 75,5%, curah hujan 83,3 mm, suhu 26,7 C.

Kalima / Kalima 13/14 Oktober – 9/10 November Pohon asam bertunas, tanaman kunyit berdaun muda, panen mangga.

Ular dan lalat bermunculan.

Turun hujan, sama dengan masa sebelumnya tetapi curah hujannya 151,1 mm, sehingga disebut masa hujan pertama.

Kanem / Kagenep 9/10 November – 22/23 Desember Buah-buahan mulai tua, musim buah-buahan seperti rambutan, durian dan manggis.

Waktu memulai menggarap sawah dan menyebar benih padi.

Sama dengan masa sebelumnya tetapi curah hujannya 402,2 mm.

Kapitu / Katujuh 22/23 Desember – 3/4 Februari Memulai masa tandur.

Banjir, badai, longsor, intensitas matahari 67%, RH 80%, curah hujan 501,4 mm, suhu 26,2 C.

Kawolu / Kadalapan 2/3 Februari – 1/2 Maret Padi menghijau, serangan ulat dan penyakit tanaman, waspada terhadap ancaman penyakit yang mungkin menyerang manusia dan hewan.

Sama dengan masa sebelumnya tetapi curah hujannya 371,8 mm dan hawanya mulai panas.

Kasonga / Kasalapan 1/2 Maret – 26/27 Maret Padi berbunga, hama turaes (dari bangsa serangga) berbunyi.

Sama dengan masa sebelumnya tetapi curah hujannya 252,5 mm

Kadasa / Kasapuluh 26/27 Maret – 19/20 April Padi sudah berisi tetapi masih hijau, burung-burung mulai membuat sarang lalu mengeram dan menetaskan telurnya, binatang mulai bunting, menanam palawija di lahan kering.

Intensitas matahari 60%, RH 74%, curah hujan 181,6 mm, suhu 27,8 C.

Desta / Kasabelas / Apit Lemah / Hapitlemah 19/20 April – 12/13 Mei Masih bisa menanam palawija, burung-burung mulai menyuapi anaknya, hujan mereda.

Sama dengan masa sebelumnya tetapi curah hujannya 129,1 mm.

Sada / Kaduabelas / Apit Kayu / Hapitkayu 12/13 April – 22/23 Juni Menumpuk jerami, udara dingin pada pagi hari, kemarau mulai datang.

Sama dengan masa sebelumnya tetapi curah hujannya 149,2 mm.

Ket:     RH à Relativiy Humidity (Kelembaban Udara)

            Suhu à suhu udara

Sumber: Unak-anik Basa Sunda (2000) dalam Dedik Wiriadiwangsa (2005); Hyankasu Adeca (2016)

Ke-12 mangsa dalam pranata mangsa memiliki indikator masing-masing, yang menjadi pedoman dalam bercocok tanam. Ada pula indikator dan penafsirannya (artinya), untuk masing-masing mangsa beserta nama rasi bintang petunjuk, yaitu sebagai berikut.

Mangsa ke- Indikator Arti indikator Bintang petunjuk
1 Sotya murca saka embanan

(ratna jatuh dari tatahan)

Daun-daun gugur Sapi gumarang
2 Bantala rengka

(tanah retak)

Permukaan tanah retak Tagih
3 Suta manut ing bapa Umbi-umbian tumbuh dan mengikuti lanjaran Lumbung
4 Waspa kemembeng jroning kalbu Sumber air mengering Jaran dawuk
5 Pancuran emas sumawur ing jagad Mulai musim penghujan Banyak angrem
6 Rasa mulyo kesucian Buah mulai berbuah Gorong mayit
7 Wisa kentar ing maruta Muncul penyakit Bima sakti
8 Anjrah jroning kayun

(tersiar dalam kehendak)

Masa kawin beberapa hewan Wulanjar ngirim
9 Wedaring wacana mulya

(keluarnya sabda mulya)

Jangkrik, gangsir dan hama gareng berbunyi Wuluh
10 Gedhong minep jroning kalbu

(gedong tertutup dalam kalbu)

Beberapa ternak bunting Waluku
11 Sotya sinarawedi

(intan diasah)

Telur burung menetas, induk burung menyuapi anaknya Lumbung
12 Tirta sah saking sasana

(air lenyap dari tempatnya)

Manusia sulit berkeringat Tagih

Sumber: Dedik Wiriadiwangsa (2005)

Kalender pranata mangsa kemudian mengalami kesejajaran dengan kalender Gregorius atau yang lebih dikenal dengan kalender Masehi.

Musim utama Mangsa ke- Lama periode (hari) Periode kalender Gregorius
Ketiga (kemarau) 1 41 22 Juni – 1 Agustus
2 23 2 Agustus – 24 Agustus
3 24 25 Agustus – 17 September
Labuh (menjelang hujan) 4 25 18 September – 12 Oktober
5 27 13 Oktober – 8 November
6 43 9 November – 22 Desember
Rendheng (hujan) 7 43 22 Desember – 2 Februari
8 26 – 27 3 Februari – 28/29 Februari
9 25 1 Maret – 25 Maret
Mareng (menjelang kemarau) 10 24 26 Maret – 18 April
11 23 19 April – 11 Mei
12 41 12 Mei – 21 Juni

Sumber: Sukardi Wisnubroto (2005)

Dulu dan Sekarang

Pranata mangsa masih kental diterapkan terutama oleh petani di sekitar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Terutama petani di Pulau Jawa-lah yang sebagian masih menerapkan pranata mangsa sebagai penanggalan pertaniannya.

Di zaman modern seperti sekarang ini, pranata mangsa selain masih digunakan oleh sebagian petani, juga diterapkan oleh aktivitas lainnya seperti pemeliharaan waduk atau bendungan yang airnya menjadi sumber pengairan tanaman.

Hal utama yang menjadikan Pranata Mangsa sukses pada zaman dahulu adalah nilai kearifan lokalnya, yaitu hubungan atau simbiosis mutualisme yang harmonis antara manusia dengan alam sekitarnya.

Nah, berikut adalah beberapa kelebihan sistem penanggalan pranata mangsa yang menjadikannya patut dilestarikan.

  • Sistem pranata mangsa mampu membuat aktivitas bercocok tanam lebih tertata rapi dan teratur.
  • Sistem pranata mangsa mengajarkan saat-saat yang tepat untuk melakukan aktivitas bercocok tanam. Mulai dari mengolah lahan, menanam bibit atau benih, bahkan mendengar kicau burung yang memberikan makan untuk anaknya, yang menandakan masa panen segera datang. Karena, alam merupakan petunjuk dan sahabat bagi petani.
  • Sistem pranata mangsa mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang merupakan hasil turunan ilmu “titen” nenek moyang kita dahulu.
  • Pranata mangsa sendiri, sebenarnya memiliki tujuan untuk mengurangi resiko dan pencegahah biaya produksi tinggi.
  • Pranata mangsa mampu menjadi perhitungan yang sifatnya semi kuantitatif. Pranata mangsa dimanfaatkan untuk pengelolaan hama terpadu, khususnya dalam merencanakan dan memilih waktu tanam yang sesuai, untuk menghindari serangan hama. Petani akan menghitung melalui pranata mangsanya, sehingga puncak perkembangan populasi hama tidak bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang paling peka terhadap hama.
  • Meskipun jaman semakin maju, tetapi masih ada petani yang menerapkan pranata mangsa. Bahkan sebenarnya, dalam pranata mangsa terdapat nilai kearifan lokal yang cukup sulit didapatkan di era seperti sekarang ini. Karena, pranata mangsa akan mendorong petani untuk lebih mengenali dan lebih dekat dengan karakter alam di setiap daerah. Petani akan lebih mengamati gejala atau tanda-tanda alam. Hal itulah yang membuat petani akan lebih hidup menyatu bersama alam. Alam pun tidak akan teraniaya atau rusak oleh para petani. Di sinilah bisa dikatakan ada sebuah simbiosis mutualisme, di mana kedua pihak saling diuntungkan.
  • Pranata mangsa menjadikan petani lebih mengenal waktu tanam dan waktu istirahat yang tepat untuk lahan pertanian. Dari situlah, lahan pertanian beserta ekosistem di sekitarnya akan memiliki waktu yang cukup untuk mengembalikan kondisinya, yakni kondisi setelah ditanami sampai dengan akan ditanami kembali. Termasuk juga kondisi tanah, yang akan memiliki waktu untuk beristirahat pasca bekerja dalam memproduksi bahan makanan dan atau nutrisi bagi tanaman. Maka dari itu, pranata mangsa juga dinilai lebih menjamin sustainabilitas lahan pertanian.

Jika dahulu sistem pranata mangsa pernah menjunjung pertanian menjadi sukses dan berjaya, maka tidak dengan sekarang. Sudah jarang petani Indonesia yang menggunakan sistem pranata mangsa secara keseluruhan. Sistem pranata mangsa mulai ditinggalkan. Bahkan, banyak anak Indonesia zaman sekarang yang tidak tahu atau merasa asing dengan istilah ‘pranata mangsa’ tersebut. Banyak hal yang melunturkan sistem pranata mangsa pada kalender cocok tanam. Di antaranya adalah:

1. Global warming

Pastinya sudah paham apa dan bagaimana global warming itu. Cuaca dan alam yang tidak bersahabat dengan manusia. Cuaca dan kondisi alam yang tak jarang berubah tanpa tanda dan gejala yang pasti. Hujan di musim kemarau atau justru kekeringan di saat yang seharusnya musim penghujan. Perubahan iklim yang tidak menentu menjadi faktor utama penyebab kemunduran sistem pranata mangsa.

2. Kemajuan jaman (Era globalisasi)

Global warming beriringan dengan perubahan pola hidup dan tingkah laku masyarakat. Termasuk juga teknologi yang selalu berkembang. Bercocok tanam kini bisa lebih mudah dengan mesin transplanter. Mengolah tanah kini bisa menggunakan traktor, yang beroperasi dengan mesin, bukan lagi kerbau si pembajak. Kotoran ternak yang semula menjadi nutrisi utama tanaman, kini menjadi sekunder karena pupuk primer buatan pabrik kimia. Bahan nabati yang dahulu dipuja sebagai vitamin untuk imunitas tanaman, kini mulai tergantikan oleh cairan/larutan pestisida buatan pabrik kimia. Era sekarang inilah yang bisa dikatakan sebagai globalisasi pertanian.

3. Bertani masa kini (modernisasi pertanian)

Masih berkaitan dengan kemajuan jaman, maka masa kini aktivitas pertanian mulai sepi peminat. Jika jaman dahulu putra tani menjadi salah satu kebanggaan, maka saat ini banyak yang menjadikannya sebagai hal memalukan. Sudah banyak petani yang meninggalkan lahannya. Belum lagi tren bertani masa kini yang sejatinya tidak membutuhkan sistem pranata mangsa. Sebut saja teknik bercocok tanam tanpa tanah, yang hanya membutuhkan pemahaman ilmu dan keterbukaan terhadap teknologi, sebagai dasar bertani yang utama.

4. Pengairan teknis

Pemerintah memberikan bantuan berupa pengairan teknis yang membuat sawah warga tidak ‘begitu’ kesulitan dalam mendapatkan air. Pengairan teknis membuat petani tidak memusingkan permasalahan irigasi di sawahnya.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.