13 Persyaratan Kemasan Yang Baik Untuk Produk Pangan

Pernahkah Anda mengamati dan membandingkan suatu produk pangan dengan produk pangan lain? Baik produk olahan hasil pertanian maupun hasil pertanian murni yang belum diolah. Ada sesuatu yang sering berbeda. Sesuatu yang sangat terlihat dalam sebuah produk makanan yaitu “baju” atau biasa dikenal dengan pembungkus. Dalam dunia pangan lebih diistilahkan dengan sebutan “kemasan” atau “pengemas”. Teknologinya disebut dengan pengemasan. Pengemasan merupakan cara/langkah/upaya meletakkan sesuatu dalam sebuah wadah yang tujuannya melindungi sesuatu/produk tersebut. Pengemasan juga merupakan upaya menyimpan produk dalam sebuah wadah. Terus persyaratan kemasan yang baik untuk produk pangan itu seperti apa? Lalu mengapa hasil pertanian harus disimpan dalam sebuah wadah? Mari kita bahas satu persatu…

Karena Kemasan Itu Penting

Hasil pengolahan pertanian harus disimpan kedalam sebuah kemasan karena beberapa sebab, diantaranya :

  • Kemungkinan ada gangguan terhadap hasil pertanian baik dari binatang atau serangga.
  • Adanya 2 masa yang seringkali tidak bisa dikendalikan yaitu paceklik dan panen raya.
  • Adanya kesadaran masyarakat modern akan daya tahan hasil pertanian.

Sedangkan pengemasan itu sendiri memiliki manfaat di antaranya:

  • Mempermudah dalam penyimpanan dan proses distribusi/pemasaran, agar tidak mudah rusak
  • Memperpanjang masa simpan produk yang dikemas
  • Mempertahankan mutu produk yang dikemas
  • Menambah daya tarik kepada para konsumen melalui informasi produk yang tertera

Fungsi Kemasan Produk Pangan

Lalu apa saja fungsi kemasan produk pangan?

  • Sebagai wadah/tempat/bungkus

Fungsi utama kemasan adalah mewadahi/membungkus hasil pertanian atau produk pangan.

  • Sebagai pelindung

Kemasan setidaknya mampu melindungi produk yang dikemas dari lingkungan luar, seperti dari sinar matahari, polusi udara/debu, suhu/kelembaban dan sebagainya.

  • Memudahkan penyimpanan dan distribusi

Seperti yang sudah diketahui bahwa hasil pertanian sifatnya bulky dan volumnious. Singkatnya, hasil pertanian bersifat “makan tempat”. Hal itu yang membuat adanya proses penanganan pascapanen seperti pembuatan tepung. Meskipun sudah menjadi produk setengah jadi yaitu tepung, tetap saja harus disimpan dengan baik menggunakan wadah/pembungkus. Wadah/pembungkus ini juga sangat penting untuk memudahkan para produsen atau distributor dalam memasarkan dan/ mendistribusi produk-produknya.

  • Media pemasaran

Jika kita perhatikan, sekarang ini sudah banyak produk pangan yang dikemas menarik sehingga tidak jarang masyarakat membeli suatu produk karena kemasannya. Itulah cara produsen dalam memikat pembeli/konsumen melalui kemasan.

Baca juga :  Di Balik Susu Bubuk yang Digemari

Jenis Kemasan

Pengemasan berdasarkan eksistensinya terdiri dari primer, sekunder dan tersier. Pengemasan primer merupakan cara menyimpan produk di mana kemasannya kontak langsung dengan produk. Pengemasan sekunder ialah metode mengemas dengan melapisi pengemas primernya. Di antara ketiganya, yang paling penting dan utama adalah pengemasan primer. Karena pengemasan primerlah yang langsung bersentuhan dengan produk. Hal itu membuat potensi perpindahan zat dari kemasan pangan ke dalam produk pangan, akan lebih besar.

Sebagian komponen pengemas yang dapat mempengaruhi produk dapat berasal dari sisa/residu bahan baku kemasan, seperti monomernya, katalis yang digunakan untuk mempercepat laju reaksi dan hasil uraian bahan dasar serta bahan tambahan yang digunakan dalam proses pembuatan kemasan. Apalagi perlakuan pascapanen yang mungkin melewati lebih dari satu proses, yang membuat produk pangan mengalami perubahan baik fisik, kimia atau kandungan gizinya.

Pengemasan primer juga penting dalam menjaga umur simpan dan mempertahankan kandungan gizi produk yang langsung kontak dengannya. Dari sini, pengemasan juga memiliki manfaat dalam hal keamanan produk pangan. Sudah banyak negara yang mengatur pangan beserta kemasan pangan. Seperti halnya negara kita, Indonesia, yang mengeluarkan Peraturan Kepala Badan POM tentang Bahan Kemasan Pangan nomor HK 00.0.55.6497 tahun 2007 kemudian berubah menjadi Peraturan Kepala Badan POM nomor HK.03.1.23.07.11.6664 tahun 2011 tentang Pengawasan Kemasan Pangan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI nomor 69 tahun 1999, telah disebutkan bahwa bahan pengemas atau kemasan merupakan bahan yang digunakan untuk mewadahi dan/ membungkus pangan, baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak. Untuk itu, ada beberapa persyaratan kemasan yang baik untuk produk pangan yang harus dipenuhi.

Persyaratan Kemasan Yang Baik Untuk Produk Pangan

1. Kemasan tidak toksik/berbahaya

Kemasan pangan harus bebas toksik yang bisa berpindah karena kontak langsung dengan pangan, seperti halnya unsur Timbal (Pb). Contohnya adalah bahan pangan dari sterofoam. Sudah banyak larangan sterofoam sebagai wadah untuk makanan, terlebih lagi makanan yang panas/hangat.

2. Cocok dengan produk yang dikemas

Baca juga :  Cara Bercocok Tanam Cabai Yang Baik Dan Benar

Pengemas harus cocok dengan produk yang dikemas baik dari segi bahan pengemas, sifat hingga harga pengemas yang nantinya mempengaruhi harga produksi (harga jual produk).

3. Bersifat permeabilitas udara sesuai jenis bahan pangan yang dikemasnya

Permeabilitas merupakan kemampuan uap air dalam melewati suatu bidang tertentu pada suhu dan kelembaban tertentu. Karena salah satu sifat yang juga penting dalam pemilihan bahan kemasan adalah permeabilitas gas dan uap airnya. Di mana permeabilitas uap air dan gas serta luas permukaan kemasan dapat mempengaruhi jumlah gas. Luas permukaan yang kecil mampu membuat masa simpan produk lebih lama. Plastik sebagai kemasan memiliki keunggulan daripada bahan lain karena sifatnya yang transparan, ringan, kuat, termoplastis dan selektif dalam permeabilitas terhadap uap air, O2 dan CO2. Misalnya permeabilitas uap air plastik PP lebih rendah dari PE. Artinya, jumlah uap air yang dapat melewati plastik PP lebih kecil dari PE.

4. Tidak bereaksi dengan bahan pangan (inert) dan kedap air

Seperti dalam uraian di atas, terutama pengemas primer, harus cocok dengan bahan yang dikemas sehingga tidak menimbulkan kerusakan/perubahan fisik, kimia, mikrobiologi karena bersentuhan langsung (bahan pengemas – bahan yang dikemas). Untuk produk kering, selain kadar air bahan yang harus rendah untuk menghindari reaksi kimia atau kerusakan oleh mikroba yang mungkin terjadi, peran bahan kemasan juga penting. Bahan kemasan yang digunakan harus kedap air agar uap air tidak mudah keluar masuk kemasan. Sehingga tidak menimbulkan kerusakan terhadap bahan kering yang dikemas tersebut.

5. Tahan panas atau suhu beku

Contohnya plastik polipropilen (PP) yang sifatnya tahan beku, tidak tahan panas dan tahan minyak. Plastik PP biasa digunakan untuk membungkus es. Selain itu, makanan panas sangat jelas tidak cocok dikemas dengan plastik atau bahan yang tidak tahan panas, seperti sterofoam.

6. Sanitasi dan syarat kesehatan terjamin

Kemasan tidak rusak karena mikroba. Hindari penggunaan kemasan jika dianggap tidak menjamin sanitasi atau syarat-syarat kesehatan.

7. Kemudahan kemasan saat dibuka dan ditutup

Pernahkah kita memperhatikan minuman yang akan kita beli? Misalnya saja di perjalanan, kita ingin menikmati teh kemasan untuk dibawa dalam sepanjang perjalanan sampai tujuan. Banyak produsen yang mengemas teh dalam botol kaca, botol plastik hingga tetra pack. Lalu yang mana yang akan kita pilih agar praktis saat diminum di kendaraan/perjalanan? Pasti konsumen akan lebih memilih kemasan botol plastik atau tetra pack yang lebih mudah saat dibuka untuk diminum.

Baca juga :  Mengenal Pengemasan Aseptik

8. Kemudahan dan keamanan dalam mengeluarkan isi (terutama bagi konsumen)

Kemasan dibuat untuk memudahkan dalam penyimpanan, distribusi hingga konsumsi. Kemasan dibuat sedemikian rupa agar tidak hanya mudah tetapi juga aman saat produk yang dikemas diambil dari kemasan tidak mudah tercecer/tumpah.

9. Bentuk, ukuran dan berat

Bentuk kemasan akan mempengaruhi efisiensi penggunaan ruang penyimpanan, cara penyimpanan, daya tarik konsumen, cara pembuatan pengemas hingga bahan kemasan yang digunakan. Berat dan ukuran kemasan secara langsung akan mempengaruhi ruang penyimpanan dan mengurangi total berat dalam kepentingan distribusi (packing).

10. Harga relatif murah

Bagi para produsen, yang terpenting adalah mengemas produk yang menarik konsumen tetapi harga kemasan itu sendiri diupayakan serendah mungkin. Sehingga tidak meningkatkan harga jual produk.

11. Penampilan dan pencetakkan yang baik

Sudah tidak diragukan lagi jika masyarakat (konsumen) memilih produk karena penampilan pengemasannya. Penampilan kemasan yang menarik mampu menunjang penjualan produk. Dalam hal ini, peran label juga penting. Karena label dalam kemasan pangan adalah sarana komunikasi “bisu” antara produsen dengan konsumen.

12. Kemudahan pembuangan kemasan bekas

Jenis bahan kemasan di antaranya plastik, logam, botol, kayu, karton, kertas dan pengemas sederhana (kulit, daun dan sebagainya). Setelah produk pangan dikonsumsi, biasanya pengemas akan dibuang. Bahan kemasan logam dan kertas sebagian besar dapat didaur ulang atau dimanfaatkan lagi. Sedangkan plastik biasanya akan dibuang dan dibakar yang dapat menjadi polusi udara.

13. Syarat khusus lain yang mungkin dipersyaratkan

Bahan kemasan harus memenuhi persyaratan yang ada. Karena jika tidak, dapat menurunkan kualitas produk yang dikemas agar tidak menimbulkan hal-hal merugikan lainnya, terutama bagi konsumen.

Itulah 13 persyaratan kemasan yang baik untuk produk pangan dan hasil pengolahan pangan untuk peningkatan dan optimalisasi hasil pertanian demi kesejahteraan masyarakat.

Semoga bermanfaat 🙂

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.