Pangan Fungsional, Sudah Berfungsikah?

Pernah dengar tentang “pangan fungsional”? Akhir-akhir ini, seiring semakin banyaknya penyakit seperti kanker, tumor, kardiovaskuler dan sebagainya.

Belum lagi hubungan antara pangan dan program diet. Di zaman modern ini, masyarakat terutama kaum muda atau yang disebut para manusia milineal, banyak yang melakoni diet ketat. Bahkan di beberapa pemberitaan, diet ketat yang kurang tepat, dapat menimbulkan penyakit atau yang lebih bahaya lagi, kematian. Diet modern yang kaya akan protein hewani, justru akan mengganggu kesehatan. Contohnya timbul penyakit kanker maupun kardiovaskuler.

Sebenarnya, masyarakat (tidak hanya di Indonesia), lebih menginginkan mendapat asupan gizi ‘secara langsung’ dari bahan pangan yang mereka konsumsi. Bukan dari bahan pangan yang telah difortifikasi atau disuplementasi vitamin dan mineral tambahan. Bahan pangan memiliki 3 fungsi bagi manusia, yaitu:

  • Fungsi primer : memenuhi kebutuhan zat gizi untuk tubuh manusia, sesuai jenis kelamin; usia; bobot tubuh dan aktivitas fisik.
  • Fungsi sekunder : cita rasa dan penampakkannya baik dan menarik.
  • Fungsi tersier : memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh.

 

Pangan Fungsional, Apa Itu?

Konsensus (1996) dalam The First International Conference on East-West Perspective on Functional Foods, menyebutkan bahwa pangan fungsional merupakan bahan pangan yang mengandung komponen aktif, yang bermanfaat untuk kesehatan, selain manfaat dari zat gizi yang memang ada di dalamnya.

Pangan fungsional sebenarnya merupakan bahan pangan, baik yang segar maupun olahan, dengan memberi manfaat positif bagi kesehatan, yaitu memenuhi asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh serta pencegahan dan atau pengobatan penyakit tertentu. Biasanya, untuk mendongkrak pemasaran, pangan fungsional disebut-sebut sebagai makanan yang bergizi dan menyehatkan. Maka dari itu, pangan fungsional memiliki sebutan lain di beberapa negaranya, seperti functional food, designer food, pharmafood, nutraceuticals food dan lainnya.

Perka BPOM RI No. HK.03.1.23.11.11.09909 tahun 2011 tentang Pengawasan Klaim dalam Label dan Iklan Pangan Olahan, menyebutkan bahwa pangan fungsional merupakan bahan pangan yang asli/alami atau pun yang melalui proses tertentu, yang mengandung 1 atau lebih senyawa yang menurut kajian ilmiah memiliki fungsi fisiologis dengan manfaat bagi kesehatan, melalui konsumsi seperti makanan atau minuman pada umumnya, serta memiliki karakteristik tertentu, baik penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang diterima konsumen.

sumber: Tri Dewanti et al. (2017)

Sejak tahun 1991, Jepang meluncurkan kategori pangan khusus atau disebut Food for Specified Health Uses (FOSHU), sebagai sistem penjaminan (keamanan dan efektivitas) bagi konsumen pangan serta memberikan insentif bagi industri untuk menghasilkan produk pangan yang diproduksi khusus guna memecahkan masalah kesehatan konsumen. Di Jepang, pangan fungsional menjadi bahan pangan (yang wujudnya bukan berupa kapsul, tablet atau bubuk) dan merupakan bahan alami (bukan olahan). Kedua, pangan fungsional dikonsumsi sebagai menu diet setiap hari, yang jika dikonsumsi akan berfungsi mengatur proses tertentu, di antaranya meningkatkan sistem imun, mencegah dan memulihkan ketahanan tubuh dari penyakit tertentu serta memperlambat proses penuaan dini. Menurut aturan di Jepang, ada 3 fungsi dasar pangan fungsional, yakni:

  1. Sensori / fisik : warna serta penampilan yang menarik, cita rasa enak.
  2. Nutritional : mengandung nutrisi / gizi yang tinggi.
  3. Physiological : memberi pengaruh fisiologis yang positif untuk tubuh, di antara seperti mencegah dari serangan penyakit; meningkatkan sistem imun; memperlambat proses penuaan; recovery tubuh dan regulasi kondisi ritme fisik tubuh.

Jepang menjadi negara pertama yang menerapkan regulasi pangan fungsional (FOSHU). Disusul Amerika pada tahun 1996, yang menetapkan 12 jenis klaim kesehatan dalam pangan fungsional.

Menurut Functional Food Center / Functional Food Institute, Dallas – USA (2015), pangan fungsional ialah makanan alami atau olahan, mengandung senyawa bioaktif yang efektif dengan jumlah tidak toksik, terbukti secara ilmiah/klinis serta bermanfaat bagi kesehatan baik untuk pencegahan; pengelolaan atau terapi penyakit kronis.

Ada beberapa kriteria yang membuat bahan pangan disebut pangan fungsional, dalam Widyaningsih (2006), yaitu sebagai berikut:

  1. Harus merupakan produk pangan; bukan berupa kapsul, tablet atau puyer; berasal dari bahan alami bukan kimiawi.
  2. Layak konsumsi, baik untuk menu makanan sehari-hari atau pun menu diet.
  3. Memiliki fungsi tertentu jika dicerna, memberi manfaat dalam proses tertentu pada tubuh, membantu recovery tubuh setelah sakit tertentu, menjaga kondisi fisik dan atau mental serta memperlambat penuaan dini.
  4. Terbukti kandungan fisik dan kimianya, mutu dan jumlah kandungannya, serta terjamin keamanannya untuk dikonsumsi.
  5. Zat yang terkandung tidak menurunkan gizinya.

Kemudian, pangan fungsional sendiri macam-macamnya bisa dibedakan menurut parameter tertentu, yaitu:

A. Menurut sumber bahan pangan

  • Nabati: kedelai, tempe, bawang (putih, merah), tomat, brokoli, teh, cincau (hitam, hijau) dan sebagainya.
  • Hewani: susu fermentasi, minyak ikan, ceker ayam dan produk olahan hasil hewan lainnya.

B. Menurut cara pengolahan

  • Alami (sudah tersedia di alam, tanpa pengolahan): sayuran dan buah-buahan segar.
  • Tradisional (pengolahan tradisional): tempe, teh, jamu beras kencur, cincau (hitam / hijau), yogurt, dadih.
  • Modern (melalui proses pengolahan khusus, teknologi baru): minuman ibu hamil, makanan/minuman penderita diabetes dan lainnya.

C. Menurut golongan dari pangan

  • Susu dan turunannya
  • Minuman
  • Sereal
  • Minyak
  • Lemak
  • Produk kembang gula

D. Menurut penyakit yang dihindari/dicegah

  • Diabetes
  • Kanker kolon
  • Osteoporosis

E. Menurut efek fisiologisnya

  • Imunologi
  • Ketercernaan
  • Aktivitas anti tumor

F. Menurut komponen bioaktifnya

  • Mineral
  • Antioksidan
  • Probiotik
  • Lipid

G. Menurut sifat organoleptik dan fisikokimia

  • Warna
  • Tekstur
  • Kelarutan

H. Menurut proses produksi yang digunakan

  • Pembekuan
  • Kromatografi
  • Enkapsulasi

sumber: Tri Dewanti et al (2017)

Kandungannya?

Pangan fungsional setidaknya mengandung 4 komponen gizi yang penting dan sangat baik bagi tubuh. Yaitu serat pangan, yang dapat membantu dalam melancarkan saluran pencernaan; mineral; serta vitamin, yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu juga kandungan fitosterol, yang membantu mengurangi resiko penyakit jantung; kolin, yang baik untuk mencegah penurunan kemampuan kognitif bagi para manula (manusia lanjut usia); serta isoflavon, yang membantu mengurangi resiko aterosklerosis dan jantung koroner.

Pangan fungsional mengandung komponen-komponen tertentu yang terbukti secara ilmiah, tidak berbahaya serta bermanfaat untuk kesehatan, selain manfaat yang ‘memang’ diberikan komponen/zat tersebut. Komponen-komponen tersebut, menurut BPOM RI (2005) yaitu vitamin, mineral, asam lemak tak jenuh, gula alkohol, asam amino, serat pangan, peptida dan beberapa turunan protein tertentu, probiotik dan prebiotik, kolin; lesitin; inositol, karnitin dan skualen, isoflavon (kedelai), polifenol serta fitosterol dan fitostanol.

 

Contohnya Apa?

Berikut contoh pangan fungsional, yang beberapa di antaranya ‘asli’ Indonesia.

  1. Tempe

Tempe yang merupakan bahan pangan dari kedelai, yang terfermentasi oleh jenis kapang Rhyzopus oligosporus ini, dapat menjadi hipokolesterolemik, anti diare (khususnya untuk bakteri E. coli enteropatogenik) dan antioksidan.

  1. Sayuran dan kacang-kacangan

Di antaranya seperti kangkung, daun singkong, bayam, daun katuk, labu siam, kacang panjang, kecipir, tauge, leunca, terong, pare dan sebagainya. Sayuran dan kacang-kacangan mengandung serat pangan dan fitokimia dalam jumlah yang tinggi. Selain itu, sayuran jenis Cruciferae seperti kol, brokoli dan lobak, mengandung glukosinolat, isotiosianat, ditioltion, indol, sulfonat, serta vitamin C dan E. Sayuran Cruciferae yang dikonsumsi lebih dari ½ gelas setiap minggunya, mampu menurunkan resiko terserang kanker prostat sampai dengan 40%.

  1. Rempah-rempah

Semua rempah-rempah mengandung komponen yang bermanfaat bagi tubuh. Manfaatnya seperti sebagai antiradang (jahe), analgenik, anti bakteri, anti jamur, meningkatkan produksi cairan empedu, melindungi kerusakan sel hati dan masih banyak lagi lainnya. Beberapa di antara rempah-rempah seperti jahe, kencur, kunyit, temulawak dan lengkuas. Rempah-rempah tersebut biasanya dibuat menjadi minuman atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘jamu’, sehingga dinamakan minuman fungsional. Misalnya, sari jahe, beras kencur, kunir asem, sari temulawak.

Tak hanya sebagai minuman, ada juga beberapa rempah-rempah yang menjadi bumbu masakan. Selain memberikan cita rasa alami pada masakan yang ditambahkannya, rempah-rempah menyumbangkan komponen gizi yang baik bagi tubuh. Contohnya bawang putih, yang bisa menurunkan kolesterol darah, menstabilkan tekanan darah, antioksidan alami serta menghambat berkembangnya tumor dan kemunculan agregasi trombosit (antitrombotik). Bawang-bawangan mengandung senyawa alium yang mampu mengurangi resiko kanker dan jantung.

Pangan fungsional Kandungan penting dan manfaat
Oats Serat dan β-glukan : mengurangi kolesterol dalam darah
Biji-bijian (utuh) Inulin : meningkatkan kesehatan sistem pencernaan

Serat : menjaga aktivitas mikroflora usus

Lignan : antioksidan, mencegah kanker

Fitosterol : absorpsi kolesterol

Tokotrienol : menurunkan sintesis kolesterol, agregasi platelet

Fitin (inositol fosfat) : regulator pembelahan sel dan apoptosis

Bekatul (dalam bentuk oats) Nitrilosid : antikanker

Dietary fiber : melancarkan sistem pencernaan dan proses metabolisme tubu

Tokoferol : antioksidan

Pagamic acid (vitamin B15) dan oryzanol : menurunkan kolesterol dalam darah, membantu mencegah kanker, melancarkan sekresi hormonal

Kedelai Protein : menurunkan kolesterol

Isoflavon : menjaga kesehatan tulang sehingga menurunkan resiko menopouse

Anggur ungu Polifenol : menjaga kesehatan jantung
Tomat dan produknya Likopen : mengurangi resiko kanker, seperti kanker prostat
Brokoli Sulforafan : antioksidan alami, khususnya untuk kanker payudara
Salmon, tuna Asam lemak omega-3 : mengurangi resiko penyakit jantung
Jeruk, sayuran dan daun hijau, wortel, ubi jalar, waluh, mangga, bayam Beta karoten : mengurangi resiko kanker
Singkong (Manihot utilisima), dalam bentuk singkong utuh, gaplek atau tepung tapioka Energi (kalori), pati / karbohidrat, fosfor, zat kapur : pengganti nasi, menu diet
Oyek / beras singkong / cassava rice Energi (kalori), pati / karbohidrat, fosfor: pengganti nasi, menu diet
Tiwul (olahan dari singkong) Rendah kalori, dengan kandungan seperti singkong
Garut / irut / harut / patat sagu (Marantha arundinaceae L.) Pati, serat pangan, protein kasar : mampu mensubstitusi tepung terigu dan menu diet pengganti nasi
Suweg (Amorphophallus campanullatus) Pati, energi (kalori), protein, fosfor, kalsium : mampu mensubstitusi nasi
Teh, cokelat Flavanol : melancarkan peredaran darah
Produk fermentasi susu Probiotik : meningkatkan kesehatan usus

Sumber: Nurheni (2013)

 

Produk pangan fungsional (lainnya) Contoh produk Keterangan
Produk konvensional dipasarkan dengan informasi baru –          Oat

–          Tempe

–          Kaya akan serat

–          Kaya serat dan isoflavon

Produk konvensional yang ditambah dan atau ditingkatkan ingredien-nya –          Selai/jam

–          Cokelat

–          Penambahan sterol nabati

–          Peningkatan flavanol

Produk baru dengan ingredien fungsional –          Minuman –          Teh fungsional
Produk dengan menghilangkan fungsi negatif –          Minyak nabati –          Minyak untuk menjaga kesehatan jantung

 

Dari Sisi Pemasaran

Data dari HBP Consulting menyebutkan angka penjualan pangan fungsional global (di dunia) dari jumlah 2000 ritel per regional atau $ 50,2 billion, yaitu:

  • Amerika Utara sebanyak $18,9 billion atau 37,6%
  • Eropa Barat sebanyak $17 billion atau 33,9%
  • Asia dan Australia – New Zealand sebanyak $13,3 billion atau 26,5%
  • Lainnya, sebanyak $1 billion atau 2%

Sebenarnya, kecepatan perkembangan pangan fungsional bergantung pada 4 pelaku utama, dengan perannya masing-masing, yaitu:

  1. Konsumen

Seperti permasalahan lainnya, semua yang terjadi kembali ke diri sendiri dan solusinya pun dari diri sendiri. Termasuk juga pangan fungsional. Bagaimana gerakan pangan fungsional dapat berkembang dengan cepat dan baik, tentunya faktor utamanya adalah konsumen (diri sendiri). Misalnya, kesadaran akan hidup sehat atau back to nature sebagai semboyan dalam pemenuhan gizi maupun pengobatan. Keduanya bisa menjadi faktor yang mempercepat perkembangan pangan fungsional.

2. Pemerintah

Dukungan pemerintah diperlukan dalam rangka percepatan perkembangan pangan fungsional. Seperti regulasi-regulasi soal kebijakan pangan fungsional, pedoman dan atau kerangka kerja pemerintah. Bahkan, biaya kesehatan yang tinggi, secara langsung atau tidak langsung akan mendorong masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat dan menjadikan keragaman pangan tradisional sebagai bagian yang tak terpisahkan dari konsumsi kita. Dari situlah pangan fungsional dapat berkembang dengan baik. Akan lebih baik lagi jika pemerintah memberi contoh pada masyarakat dalam mengonsumsi pangan fungsional.

3. Praktisi kesehatan

Para ahli, akademisi dan praktisi kesehatan, dapat turut serta dalam mendorong dan atau mengajak masyarakat untuk menjadikan pangan fungsional sebagai salah satu menu kesehariannya, yang dapat juga berperan sebagai pangan sehat.

4. Agen / distributor

Distributor secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kecepatan perkembangan pangan fungsional. Distributor pasti harus jeli melihat peluang pasar.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.