panen buah buahan

Tips! Panen Buah Buahan di Luar Musim

Masih ingat artikel yang membahas buah-buahan? Ada beberapa contoh persoalan terkait buah-buahan dan komoditas hortikultura lainnya. ambillah contoh masalah lahan yang sesuai untuk tanaman buah yang akan ditanami di lahan tersebut, sulit dicari. Berikutnya, kualitas produk hortikultura di Indonesia masih rendah. Karena bibit unggul yang ada di Indonesia tidak tersebar merata pada berbagai wilayah dan jumlahnya pun masih terbatas. Selanjutnya, yang juga berkaitan dengan kualitas adalah banyak petani hortikultura yang masih berprinsip panen musiman untuk produk semusim.

Hal tersebut diatas menyebabkan adanya fluktuasi harga komoditi hortikultura, di mana saat musim panen buah buahan harganya akan merosot tajam dengan ketersediaan melimpah, padahal pada umumnya panen raya hanya 2-3 bulan. Tetapi di luar musim panen, ketersediaannya tidak mampu mengimbangi permintaan pasar dan harganya pun melambung tinggi. Kemudian, kembali ke sifat asli komoditi hortikultura yang perishable atau mudah rusak karena pada umumnya dipanen dan dikonsumsi saat masih segar, padahal proses kehidupan produk hortikultura masih terus berjalan meskipun telah dipanen. Sifat berikutnya adalah komoditi hortikultura yang voluminous atau bulky atau meruah.

Solusi Panen Buah Buahan

Salah satu solusinya adalah dengan mengatur pembuahan di luar musim panen raya. Yakni dengan mempercepat/memperlambat masa panen buah dalam selang waktu tertentu dari masa berbuah normalnya. Sebelumnya, kita kenali dan pahami dahulu tentang masa juvenil. Masa juvenil merupakan waktu sebelum tanaman mulai memproduksi, biasanya disebut juga masa muda atau masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).

Masa juvenil tergantung pada jenis bibit yang kita tanam. Jika kita menanam tanaman dari bibit asli (biji) maka masa juvenilnya akan lebih lama ketimbang bibit vegetatif yaitu dari cangkok, okulasi atau penyambungan. Semakin lama masa juvenilnya, semakin lama pula tanaman akan memproduksi. Berikut contoh tanaman buah beserta usia mulai berbuah.


Setelah mengenal masa juvenil, kita dapat melakukan percepatan/perlambatan masa pembungaan tanaman buah-buahan seperti dengan cara berikut:

1. Stres Air

Salah satu hal yang tanaman butuhkan dan pada hakekatnya sama dengan manusia atau pun hewan adalah air. Tanaman mendapatkan air dari hujan (proses alam) maupun irigasi/penyiraman (proses buatan/perlakuan dari manusia). Meskipun ada tanaman yang tergolong suka air, tetapi juga memerlukan masa kering untuk aktivitas tertentu. Pada tanaman buah-buahan, proses induksi bunga terjadi saat kemarau secara alami. Hal itu terjadi karena stres air alami dan akan muncul bunga menjelang musim penghujan.

Baca juga :  Mengenal Belimbing Wuluh

Kondisi di musim kemarau memicu pertumbuhan generatif pada tanaman. Sementara kondisi basah di musim hujan lebih memicu pertumbuhan vegetatifnya. Untuk memunculkan bunga dan buah, maka perlu penekanan pertumbuhan vegetatifnya dengan mengatur air yang diberikan. Dari situ bisa dilihat bahwa stres air mampu menginduksi bunga. Induksi bunga karena stres air akan membuat pati terhidrolisis menjadi gula sederhana yang berperan sebagai sumber energi untuk membentuk calon mata tunas generatif. Selain itu akan membuat protein terhidrolisis menjadi asam amino (prolin, triptopan, phenilalanin) yang mampu mendorong penginduksian bunga. Stres air juga mampu menurunkan sintesis protein dan aktivitas hormon giberelin yang nantinya dapat menginduksi bunga.

Perlakuan stres air akan lebih tinggi keberhasilannya jika kondisi lingkungan (agroklimat) mendukungnya. Artinya, selama stres air dilakukan, tanaman tidak boleh mendapat hujan agar tanaman mendapat periode kering yang cukup.

a. Untuk daerah yang lebih banyak beriklim kering

Biasanya tanaman lebih sulit tumbuh karena ketersediaan air yang realtif sedikit. Tetapi, pada daerah beriklim kering seperti wilayah Indonesia bagian timur, lebih diuntungkan dalam perlakuan panen di luar musim. Syaratnya, memastikan ketersediaan air irigasi. Di mana pemberiannya diatur dengan metode mikroirigasi contohnya irigasi curah (sprinkler irrigation) dan irigasi tetes (drip irrigation).

b. Untuk daerah yang lebih banyak beriklim basah

Pengaturan panen di luar musim dapat dilakukan pada daerah beriklim basah seperti halnya wilayah Indonesia bagian barat. Caranya dengan menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman buah-buahan. Yakni dengan pengaturan saluran drainase di sekeliling tanaman agar air sedikit menjauh dari tanaman.

Kemudian menutup lahan di bawah tajuk dengan mulsa plastik selama ± 2 bulan. Tak lama setelah mulsa plastik dibuka, tanaman akan segera berbunga. Selain itu lakukan juga pemangkasan tunas dan akar agar seluruh hasil asimilat dari proses fotosintesis dicadangkan untuk pembentukan bunga dan buah.

Baca juga :  11 Manfaat Sayur Bayam Dan Efeknya Sampingnya

Selain stres air, masih ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar bisa memanen buah di luar musimnya, yaitu sebagai berikut:

2. Teknik Ringing atau Girdling dan Strangulasi

Pertama, ringing/gidling yang merupakan perlakuan dengan cara menguliti kayu (membuang kulit kayu) atau melukai (secara melingkar) pangkal pohon/cabang yang akan diinduksi pembungaannya, yang lebarnya 2-5 mm, tergantung tanaman dan ukuran pohonnya. Kedua, strangulasi yang merupakan perlakuan dengan melilitkan kawat pada batang/cabang. Di mana diameter kawat harus sesuai dengan ketebalan kulit pohon.

Kedua perlakuan tersebut sebaiknya dilakukan sebelum musim kemarau. Karena saat itu kambium lateral sedang aktif membelah dan kulit pohon mudah dihilangkan. Saat itulah yang merupakan waktu efektif karena proses induksi bunga lebih cepat, luka karena perlakuan tersebut juga lebih cepat sembuh, kerusakan pohon yang mungkin terjadi akibat perlakuan tersebut juga dapat diminimalisir.

Kedua perlakuan tersebut mampu menginduksi bunga karena translokasi fotosintat dari tajuk ke akar terhambat yang menyebabkan karbohidrat menumpuk di tajuk tanaman. Selain itu juga karena translokasi karbohidrat ke akar terhambat yang menyebabkan akar kekurangan fotosintat (menurunkan giberelin), respiras akar pun menurun yang membuat terganggunya aktivitas akar dalam mengabsorbsi air (terjadi stres air) dan unsur hara (dapat meningkatkan nisbah C:N di bagian pucuk). Penurunan giberelin, stres air dan peningkatan nisbah C:N, mampu menginduksi pembungaan.

3. Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

ZPT yang sering digunakan untuk mendorong pembungaan pada tanaman buah yakni paklobutrazol. Paklobutrazol ialah ZPT yang dapat menghambat biosintesis hormon giberelin, sehingga menurunkan laju pertumbuhan vegetatif yang merangsang pembungaan. Tetapi, pemberian paklobutrazol sebaiknya diiringi dengan zat pemecah dormansi. Karena paklobutrazol berefek meningkatkan karbohidrat dalam jaringan kayu yang juga meningkatkan biosintesis ABA dan menyebabkan dormansi tunas. Sehingga pemberian ZPT paklobutrazol yang dikombinasi zat pemecah dormansi dapat mempercepat kemunculan tunas bunga sehingga lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan vegetatif dan mempercepat pembungaan.

Baca juga :  Mengenal dan Budidaya Kopi

4. Pemangkasan

Perlu dilakukan agar sinar matahari yang diterima pohon merata ke semua tubuh/bagiannya. Caranya dengan memangkas/membuang cabang, ranting dan daun-daun ternaungi yang tidak bermanfaat sehingga meningkatkan akumulasi fotosintat yang terbentuk dan dapat digunakan sebagai energi untuk merangsang pembungaan. Kemudian pangkas juga akar tanaman. Tujuannya agar kemampuan akar dalam penyerapan air dan hara akan menurun dan apeks akar (tempat produksi hormon giberelin dan sitokinin) hilang. Sehingga memicu induksi bunga.

5. Pemberian nutrisi

Pemberian nutrisi untuk tanaman atau yang dikenal dengan pupuk, haruslah optimal dan sesuai takaran serta waktunya. Untuk mempercepat pembungaan, jangan memberi pupuk dengan kandungan nitrogen yang terlalu banyak karena justru akan mendominasi pertumbuhan vegetatif sementara generatifnya terhambat.

Meskipun langkah-langkah tersebut dilakukan, tetapi juga harus memperhatikan hal-hal lain seperti:

  1. Perhatikan agroklimat (kondisi iklim) di lingkungan tempat tanaman tumbuh
  2. Sebaiknya, sebelum diberi perlakuan-perlakuan di atas, pastikan tanaman buah sudah melewati masa juvenilnya dengan kondisi pertumbuhan yang sehat dan vigor. Kondisi tersebut didapatkan jika lingkungan sesuai dengan syarat tumbuh tanaman yang ditanam disertai pemeliharaan yang baik dan benar.
  3. Ringing/gidling tidak terlalu lebar sayatannya karena akan terbentuk jembatan kalus yang terlalu lama. Hal itu mengakibatkan akar kekurangan fotosintat yang menyebabkan tajuk kekurangan air dan unsur hara.
  4. Strangulasi juga tidak boleh melebihi 1-2 bulan. Karena dampaknya akan sama dengan ringing/gidling.
  5. Dosis ZPT paklobutrazol tidak berlebih, yang mengakibatkan pertumbuhan pucuk menjadi roset karena pemendekan ruas tunas baru dan ukuran daun yang mengecil.

Demikian pembahasan seputar cara merubah waktu panen buah buahan untuk menghasilkan produk yang optimal. Share tulisan ini jika dianggap bermanfaat dan berikan komentar jika dirasa kurang tepat.

Semoga bermanfaat 🙂

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.