Merah ‘Pantang Menyerah’ dari Alam Papua

Tahukah Anda apakah itu buah merah? Buah yang warnanya merah? Ya, ada benarnya juga. Tetapi ada juga lho buah merah warna kuning. Mengerti?

Sebelumnya, diingat lagi. Sudah membaca artikel sebelumnya tentang buah matoa? Salah satu produk hortikultura milik Papua. Nah, Papua ternyata tidak hanya mengandalkan buah matoa sebagai produk hortikulturanya. Ada lagi namanya “buah merah”. Agar lebih paham, simak ulasan tentang buah merah berikut, sampai tuntas.

Buah Merah dan Penyebarannya

Buah merah termasuk tanaman endemik. Buah merah adalah anggota keluarga pandan-pandanan. Tanaman buah merah merupakan salah satu aksesi pandan, memiliki ciri khas yaitu saat berbuah, buahnya merah dan tumbuh di bagian pucuk. Tetapi beberapa aksesi lain, warna buahnya kuning atau cokelat. Buah merah di Papua, total produksinya mencapai 1.889 ton atau setara dengan 3,04% dari keseluruhan produksi hasil perkebunan.

Persebaran buah merah meliputi lembah Baliem Wamena, Tolikara, Pegunungan Bintang, Yahukimo, Jayapura, daerah sekitar kepala burung (seperti Sorong, Manokwari dan Nabire), Kepulauan Biak, Serui, serta beberapa daerah pedalaman di Papua. Tak hanya di Papua, tanaman buah merah juga ditemukan di Maluku Utara dan Kepulauan Solomon.

Penyebaran tanaman sporadis tersebar di sekitar aliran sungai, lereng maupun lembah, baik di Sentani, Tolikara hingga Pegunungan Jayawijaya. Menurut Lebang et al (2004) dan Hadad et al (2006), penyebaran tanaman buah merah berada di wilayah agroekosistem dataran rendah dan tinggi. Pada wilayah agroekosistem dataran rendah meliputi Distrik Muara Tami dan Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura; Distrik Sentani, Distrik Sentani Timur, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura; dan Distrik Sota, Kabupaten Merauke. Sedangkan pada wilayah agroekosistem dataran tinggi meliputi Dobon, Kabupaten Jayawijaya; Kabupaten Tolikara; Kabupaten Paniai; dan Kabupaten Lanny Jaya.

Nah, sedangkan jika berdasarkan susunan taksonominya, tanaman buah merah termasuk dalam kategori seperti berikut ini.

Divisi               : Spermatophyta

Subdivisi         : Angiospermae

Kelas               : Monocotyledonae

Ordo                : Pandanales

Famili              : Pandanaceae

Genus              : Pandanus

Spesies            : Pandanus conoideus Lamk.

Ciri-ciri Tanaman Buah Merah

Agar lebih paham, cara mengenali buah merah adalah mengetahui ciri-ciri dari tanamannya. Tanaman buah merah memiliki ciri-ciri yang bisa diamati, seperti:

  • Tumbuh bergerombol, dengan 25 – 30 batang / rumpun, mengelompok dengan kerapatan 12 – 30 individu setiap rumpunnya. Tanaman bisa tumbuh tinggi mencapai 5 – 15,75 meter. Batang bebas cabangnya tumbuh tinggi 5 – 8 meter.
  • Dapat tumbuh pada wilayah dengan ketinggian 2 – 2500 m dpl. Wilayah penyebarannya dari tepi pantai sampai dengan dataran tinggi. Tanaman tumbuh pada topografi tanah yang rata sampai tebing. Tanaman buah merah mampu tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tanaman buah merah dapat tumbuh pada tanah lembab. Tanaman buah merah mampu tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi 2.500 m dpl. Tanaman buah merah bisa tumbuh meskipun tingkat kesuburan tanahnya rendah. Tumbuh pada tanah masam sampai agak masam.
  • Memiliki perakaran tunjang, besar dan banyak, tumbuh dari bagian batang di atas permukaan tanah. Di mana akar tanaman tersebut sebagai penguat dan penunjang batang tanaman.
  • Memiliki batang utama yang umumnya berwarna coklat, bercak putih, bentuknya bulat, arah pertumbuhannya vertikal dan permukaan berduri yang tidak setajam duri pada akar tunjangnya. Batang utama tumbuh tinggi sampai 1 – 5 meter dengan ukuran lingkar 26 – 78 cm.
  • Buahnya berbentuk silindris, bulat panjang atau segitiga, ujungnya tumpul dan pangkalnya menjantung. Buahnya berwarna merah, dengan panjang 45 – 108 cm, diameter 10 – 20 cm, berat rata-ratanya 2 – 3 kg dan terdiri dari ribuan biji yang berbaris tertata rapi membentuk kulit buah. Buah merah memiliki warna yang bervariasi. Hal itu dipengaruhi oleh klon / jenis dan tingkat kematangan buahnya. Semakin tua umur panen buahnya, warna merahnya akan semakin tua atau gelap. Hal itu dikarenakan karotenoid sudah terbentuk secara maksimal. Tingkat kematangan buah merah, dalam perkembangannya ditandai oleh perubahan warna buah, yang dimulai dari hijau, lalu merah muda atau merah pucat sampai akhirnya merah kehitaman saat sudah matang.
  • Bijinya kecil, warnanya kecoklatan terbungkus daging tipis yang merupakan lemak, memanjang sepanjang 9 – 13 mm, bagian atasnya meruncing, bagian pangkalnya menempel pada bagian jantung / empulur dan ujungnya membentuk totol-totol di bagian kulit buah. Buah merah utuh disebut dengan cepallum. Buah merah utuh terdiri dari kumpulan bulir atau yang disebut drupa, yang tersusun rapat dan menempel kuat pada bagian empulur atau pedicel. Setiap bulirnya terdiri atas biji-biji yang diselimuti daging buah atau pulp yang mengandung lemak. Bulir buah merah berisi lapisan daging yang berlemak, dilapisi biji buah dan teksturnya semakin lunak bersama tingkat kematangan buahnya. Empulur buah merah mengambil bagian 51 – 60%, yang menjadi bagian terbesar pada buah merah. Untuk jenis yang buahnya berwarna merah, empulurnya akan berwarna putih. Tetapi untuk jenis yang buahnya kuning, maka empulurnya warnanya juga kuning. Bentuk dari penampang melintang empulur yaitu segitiga, kecuali buah merah jenis monsrus yang berbentuk bulat. Bahkan, bentuk empulur akan berpengaruh pada bentuk buah utuh, yaitu silinder yang meruncing dengan lingkar pangkal yang lebih kecil dari bagian tengahnya dan bagian ujungnya yang mengecil. Kecuali, jenis mbarugum yang lingkar pangkalnya lebih besar, tetapi mengecil di bagian tengah sampai ujungnya.
  • Daunnya berwarna hijau tua pada permukaan atas dan hijau cerah pada permukaan bawah. Daun buah merah dilengkapi dengan duri di tepi-tepinya dan bagian bawah tulang daun.

Penampakan Buah Merah dan Biji

sumber: Lisye dan Eko (2016)

Dalam Letviany (2014), disebutkan ada beberapa ukuran panjang dan berat buah merah, yang berbeda-beda tiap jenisnya, termasuk juga ciri-ciri dari bulir buahnya.

Jenis buah merah Panjang (cm) Berat (kg) Bentuk permukaan & bagian bawah bulir Warna bulir Berat bulir per buah utuh (kg)
Menjib rumbai 42 – 27 1,7 – 2,2 Poligon

4 persegi panjang

Kuning – orange 0,9 – 1,2
Edewewits 71 – 80 4,6 – 6,4 Poligon mengerucut,

4 persegi panjang

Merah – merah tua 1,9 – 2,7
Memeri 54 – 65 4,6 – 5 1,9 – 2,4
Monsrus 50 – 62 3,5 – 5,5 1,8 – 2,3
Monsor 42 – 52 1,3 – 2,8 0,65 – 1,4
Hityom 61 – 79 5,9 – 6,1 2,8 – 3,4
Himbiak 72 – 80 4,5 – 8,4 1,9 – 3,2
Hibcau 43 – 74 3,8 – 8,5 1,7 – 3,8
Mbarugum 58 – 62 6,5 – 9,3 2,8 – 3,8

 

Kategori Kisaran ukuran (cm)
Panjang >50

80,2 (dataran tinggi)

70 (dataran rendah)

60 – 105*

Sedang 49 – 35

42 (dataran tinggi)

Pendek < 35

25 – 29 (dataran rendah)

55*

Sumber: Murtiningrum et al (2012)

Ket.: *) sumber: Hadad et al (2006)

Bukan hanya panjang maupun berat buah merah yang berbeda-beda setiap jenisnya. Persentase empulur pun demikian. Empulur pada buah merah berbeda-beda, tergantung jenis/klonnya dan tingkat kematangannya. Seperti yang sudah disebutkan bahwa empulur mendapat porsi bagian yang cukup besar pada buah merah. Jenis buah merah dengan persentase empulur di atas 55% (berturut-turut dari yang tertinggi) yaitu jenis himbiak, mbarugum, hibcau, edeweeits dan memiri. Sedangkan buah merah yang empulurnya di bawah 55% di antaranya (berturut-turut dari yang terendah) berasal dari jenis menjib rumbai, monsor, monsrus dan hityom.

Jenis buah merah Kadar Empulur (%) Bulir (%) Panjang empulur (cm) Warna & bentuk empulur
Biji (%) Daging buah (%) Total
Menjib rumbai 51 36 13 49 37 – 47 Kuning,

segitiga

Edewewits 56 32 12 44 67 – 76 Putih, segitiga
Memeri 56 33 10 44 51 – 61 Putih, segitiga
Monsrus 53 35 12 47 47 – 59 Putih, bulat
Monsor 52 33 17 48 34 – 48 Putih,

Segitiga

Hityom 53 34 13 47 54 – 76
Himbiak 61 27 11 39 67 – 76
Hibcau 56 33 12 44 38 – 69
Mbarugum 58 29 12 42 52 – 56

Sumber: Letviany (2014)

Buah dan Biji Buah Merah(kiri-kanan) var. Yangeru (a. kuning; b. merah) di Pegunungan Cyclops, Jayapura; dan (a) var. Hene; (b) var. Pa, di Distrik Kurulu, Jayawijaya.

sumber: Lisye dan Eko (2016)

 

Selain itu, buah merah juga memiliki sifat fisiko-kimia sendiri, yang menurut hasil riset adalah sebagai berikut.

Parameter (satuan) Jumlah
Sifat fisik

Kadar air (%)

Viskositas (cST)

Titik cair (0C)

Titik asap minyak rendah (0C)

Nilai bobot pada suhu 25 0C

 

0,7

4,8

26

71

0,9106

Sifat kimia

Bilangan iodin minyak (g)

Bilangan peroksida (mg/100 g)

Kandungan asam lemak bebas minyak (%)

Nilai penyabunan

 

2,4

3,2

0,2

285

Sumber: Beruatwarin (1997) dalam Doan Nainggolan (2001)

Jenis-jenis Tanaman Buah Merah

Menurut hasil eksplorasi, ada 5 wilayah di Papua yang menjadi sentra tanaman buah merah. Ditemukan ada 85 klon tanaman buah merah, dengan sifat fisik dan kimia yang bervariasi, yakni di Kabupaten Manokwari, Teluk Bintuni – Distrik Merdey, Sorong Selatan – Distrik Aifat dan Jayawijaya – Distrik Kelila.

Sebenarnya, menurut berbagai riset, ada lebih dari 30 jenis tanaman pandan buah merah. Tetapi, ada 4 jenis tanaman buah merah yang banyak dibudidayakan, karena bernilai ekonomis lebih tinggi daripada jenis lainnya. Menurut bentuk, ukuran, warna dan aksesinya, buah merah dibagi menjadi 4 jenis, di mana jenis inilah yang merupakan jenis unggulan, yaitu sebagai berikut:

  1. Buah merah tipe merah panjang

Cirinya: pohonnya dapat tinggi sampai 8 – 15 m, diameter 15 – 30 cm, percabangan pertama posisinya 5 – 8 cm di atas permukaan tanah, termasuk tipe perakaran dangkal, akar serabut, akar tunjangnya berukuran 2 – 3,7 m dengan diameter akar 6 – 6,25 cm; daunnya berukuran 88 – 102 cm dan lebarnya 5,7 – 9,5 cm, ujungnya meruncing, pangkalnya merompong, tepinya berduri 1 mm, tulang daun utama di permukaan bawah berduri; buahnya bentuk segitiga, silindris, ujung tumpul, pangkal menjantung, panjangnya 60 – 105 cm, lingkar pangkal buah berukuran 35 – 74 cm, ukuran ujung dan pangkal buah 14 – 20 cm, beratnya 6 – 10 kg/buah serta warna bijinya merah tua/tajam. Buah merah tipe panjang, cenderung tumbuh secara mengumpul (bergerombol) dalam satu rumpun, dengan jarak lebih dari 4 meter dari tumbuhan lain. Buah merah tipe panjang, memiliki nama lain (nama daerah) seperti “sait” (Dani), “mongka memyeri” (Meyah), “ubmera goije” (Sougb) dan “hiba menaurena” (Hattam). Buah merah tipe panjang dapat tumbuh di ketinggian 600 – 1200 m dpl pada daratan New Guinea serta 5 – 110  dpl dan 2300 m dpl pada daerah pegunungan Arfak. Contohnya buah merah panjang var. Mbarugum.

  1. Buah merah tipe merah pendek

Cirinya: bentuk silindris, ujung lancip, pangkal menjantung, panjangnya 55 cm, diameter 10 – 15 cm, lingkar pangkal buah berukuran 20 – 30 cm serta beratnya 2,5 – 4 kg/buah.

  1. Buah merah tipe merah kecoklatan

Cirinya: bentuk silindris, warna buahnya merah kecoklatan, ujung tumpul, pangkal menjantung, panjangnya 27 – 33 cm, diameter 6,5 – 12 cm, serta beratnya 2,5 – 4 kg/buah.

  1. Buah merah tipe kuning

Cirinya: bentuk silindris, saat muda buahnya berwarna hijau kemudian berubah saat masak warnanya kuning, ujung lancip, pangkal menjantung, panjangnya 35 – 45 cm, diameter 12 – 14 cm serta beratnya 2,5 – 3,5 kg/buah.

(Dari gambar di atas) Jika diamati, buah merah pertama bentuknya silindris meruncing, dari bagian pangkalnya memanjang sampai bagian tengahnya tetapi mengecil sampai bagian ujung, contohnya dari jenis edewewits. Kedua, berupa silindris runcing dari bagian pangkalnya membulat besar, bagian tengahnya agak membesar, lalu bagian ujungnya mengecil, contohnya dari jenis himbiak, hityom dan hibcau. Ketiga, berbentuk silindris yang meruncing, bagian pangkalnya membulat besar dan mengecil sampai bagian tengah hingga ujung, contohnya dari jenis mbarugum. Keempat, berbentuk silindris, yang pangkalnya membulat dan membesar bagian tengahnya, lalu mengecil di ujungnya, contohnya dari jenis monsrus. Terakhir, berupa silindris runcing, yang pangkalnya membulat kecil, membesar di bagian tengahnya lalu mengecil di ujungnya, contohnya dari jenis menjib, rumbai, memeri dan monsor.

Terdapat sekitar 39 jenis tanaman buah merah dengan morfologi yang berbeda, di New Guinea, baik dari segi ukuran sampai dengan warna cephalium-nya.

Sedangkan, menurut riset yang dilakukan Lisye dan Eko (2016), didapatkan jenis-jenis tanaman buah merah yang ada pada beberapa suku di Papua, yaitu sebagai berikut.

Suku Mora, Kabupaten Yapen, Serui

Jenis tanaman buah merah Ciri-ciri
Arari Buahnya pendek, bijinya besar, minyaknya sedikit, ampasnya banyak dan warnanya merah marak
Waransine Buahnya pendek, bijinya besar, minyaknya banyak, ampasnya banyak dan warnanya merah marak
Manggaki Buahnya pendek, bijinya kecil, minyaknya banyak, ampasnya sedikit dan warnanya merah jenar

Ket.:

Buah panjang : > 70 cm

Buah pendek : < 40 cm

Biji besar/panjang : rata-rata 16,41 mm

Biji kecil : 12,66 mm

Suku Hatam, Pegunungan Arfak, Manokwari

Jenis tanaman buah merah Sub-jenis Ciri-ciri
Hib Hibci Buahnya panjang, bijinya pendek, minyak dan ampasnya banyak
Himbro Buahnya panjang, bijinya pendek, minyak banyak dan ampasnya sedang
Hibrang Buahnya panjang, bijinya pendek, minyak banyak dan ampasnya sedikit
Hibco Buahnya pendek, bijinya panjang, minyak sedikit dan ampasnya banyak
Hibminsien Buahnya pendek, bijinya panjang, minyak dan ampasnya banyak
Hibmena Buahnya pendek, bijinya pendek, minyak sedikit dan ampasnya banyak
Hibboi Buahnya pendek, bijinya pendek, minyak dan ampasnya sedang
Hibiekwak Buahnya pendek, bijinya pendek, minyak dan ampasnya banyak
Hibnjei Buahnya panjang, bijinya pendek, minyak banyak dan ampasnya cukup
Admedei Buahnya panjang, bijinya pendek, minyak banyak dan ampasnya sedikit
Sungkuar Buahnya pendek, bijinya pendek, minyak dan ampasnya sedikit

Ket.:

Buah panjang = ujung jari tengah sampai ketiak lengan orang dewasa

Buah pendek = ujung jari tengah sampai siku orang dewasa

Biji besar/panjang = 2 ruas jari tengah orang dewasa

Biji pendek = 1 ruas jari tengah orang dewasa

Kandungan minyak banyak = 1 – 1,5 gelas (200 cc)

Suku Dani, Pegunungan Cyclops, Jayapura

Jenis tanaman buah merah Ciri-ciri
Waningga Buahnya kecil dan pendek, bijinya kecil, daunnya besar dan panjang, duri akarnya rapat, warna buah merah dadu
Kenen Buahnya besar dan panjang, bijinya kecil, daunnya besar dan panjang, duri akarnya rapat, warna buah merah indian
Pery Buahnya besar dan panjang, bijinya besar, daunnya besar dan panjang, duri akarnya jarang, warna buah merah pompei
Kuni Buahnya besar dan panjang, bijinya besar, daunnya besar dan panjang, duri akarnya jarang, warna buah merah pompei
Yanggeru Buahnya kecil dan pendek, bijinya besar, daunnya besar dan panjang, duri akarnya jarang, warna buah merah merona atau kuning jenar
Tipe Buahnya besar dan panjang, bijinya kecil, daunnya besar dan panjang, duri akarnya jarang, warna buah merah pompei
Bargum Buahnya besar dan panjang, bijinya besar, daunnya besar dan panjang, duri akarnya rapat, warna buah merah indian
Pue Buahnya kecil dan pendek, bijinya kecil, daunnya besar dan panjang, duri akarnya jarang, warna buah merah indian
Maler Buahnya besar dan panjang, bijinya besar, daunnya besar dan panjang, duri akarnya rapat, warna buah merah indian
Hibakaya / Ibagaya Buahnya kecil dan pendek, bijinya kecil, daunnya besar dan panjang, duri akarnya rapat, warna buah merah pompei

Daunnya berukuran 1,1 – 1,6 cm dan lebar 4 – 8 cm, duri daunnya agak jarang.

Buahnya berukuran 30 – 46 cm, agak bulat, dengan lingkar pangkal 35 – 44 cm, lingkar ujung 10 – 15 cm, beratnya 4 – 7 kg, bijinya merah dan berbaris tidak teratur, mulai berbuah umur 16 bulan, minyaknya sedikit tetapi enak dimakan.

Batang pohonnya pendek-sedang, cabang sedang 2 – 8 cabang/batang, diameter bawah 30 – 46 cm, akar tunjangnya ada 6 – 13 buah/batang.

Ket.:

Buah panjang : 75 – 100 cm, bentuknya agak silindris, cenderung segitiga dan ujungnya tumpul, lebih diidentikkan dengan ukuran buah yang besar

Buah pendek : 60 – 70 cm, bentuknya silindris, agak segitiga dan ujungnya tumpul, lebih diidentikkan dengan ukuran buah yang kecil

Biji besar/panjang : 12 – 16 mm

Biji kecil : 7 – 11 mm

Daun besar : 150 – 350 cm

Suku Dani, Distrik Kurulu, Jayawijaya

Jenis tanaman buah merah Ciri-ciri
Wosih Buahnya panjang dan besar, bijinya besar, warna merah pompei, rasa paling enak, minyaknya banyak
Wu Buahnya panjang dan besar, bijinya kecil, warna merah pompei, minyaknya sedikit
Hiwa Buahnya panjang dan besar, bijinya kecil, warna merah marak, minyaknya sedikit
Hene Buahnya panjang dan besar, bijinya besar, warna merah indian, minyaknya banyak
Pa Buahnya panjang dan besar, bijinya besar, warna merah venetia, minyaknya sedikit, tetapi rasa buah kurang enak

Ket.:

Buah besar : 75 – 90 cm

Biji besar : 14 – 16 mm

Biji kecil : < 13 mm

Minyak banyak : sekitar 200 cc

Minyak sedikit : 100 – 150 cc

Suku Dani, Distrik Kelila, Jayawijaya

Ada beberapa jenis tanaman buah merah yang dikenal di sana. Jenis tersebut memiliki waktu panen yang berbeda. Di musim pertama yaitu minggu 1 – 2 bulan November, dipanen jenis kenen, magari, kwambir dan wanggene. Di musim kedua yaitu minggu ke-3 bulan November sampai minggu ke-1 Desember, dipanen jenis wona dan bargum. Di musim ketiga yaitu minggu 2 – 4 bulan Desember, dipanen jenis gepe. Di musim keempat yaitu minggu pertama Januari, dipanen jenis maler. Pada musim terakhir yaitu bulan Februari, dipanen jenis owagelu.

Jenis tanaman buah merah Ciri-ciri
Kenen Buahnya pendek, berukuran 30 – 46 cm, agak bulat, lingkar pangkalnya 35 – 44 cm, lingkar ujung 10 – 15 cm, beratnya 4 – 7 kg, berbuah mulai umur 16 bulan, bijinya merah pendek berbaris tidak teratur, minyaknya sedikit tetapi enak dimakan

Daun berukuran sedang, 1,1 – 1,6 cm dan lebarnya 4 – 8 cm, duri daun agak jarang

Batangnya pendek, jumlah cabang sedang, dengan 2 – 8 cabang/batang, diameter bawah 30 – 46 cm, jumlah akar tunjang 6 – 13 buah/batang

Sering dikonsumsi untuk sarapan jika tidak ada ubi

Maler Buahnya panjang, 60 – 86 cm, bulat agak segitiga, lingkar pangkalnya 35 – 54 cm, lingkar ujung 16 – 28 cm, beratnya 6 – 9,5 kg, berbuah mulai umur 3 tahun, bijinya pendek merah berbaris tidak teratur, minyaknya banyak

Getah buahnya menyebabkan gatal

Daunnya besar, panjangnya 1,4 – 2,1 cm dan lebarnya 7 – 10 cm, duri daunnya agak rapat

Batangnya tinggi, besar dan ada 2 – 15 cabang/batang, diameter bawang 40 – 65 cm, jumlah akar tunjang 6 – 16 buah/batang

Magari Buahnya panjang, bijinya pendek, minyaknya banyak

Rasanya sangat enak dan biasa disuguhkan untuk tamu kehormatan

Gepe Buahnya panjang, bijinya pendek, minyaknya banyak

Rasanya sangat enak dan biasa disuguhkan untuk tamu kehormatan

Wona Buahnya panjang, bijinya pendek, minyaknya banyak

Rasa enak tetapi tidak disuguhkan tamu

Owagelu Buahnya panjang, bijinya panjang, minyaknya sedikit

Buahnya sangat berat, paling besar dan panjang, biasa diangkut oleh 2 orang

Rasa kurang enak, hanya untuk pakan babi

Kwambir Buahnya pendek, bijinya pendek, minyaknya sedikit

Sering dikonsumsi untuk sarapan

Bargum Buahnya panjang, bijinya panjang, minyaknya banyak
Wanggene Buahnya pendek, bijinya pendek, minyaknya sedikit

Biasa dimakan langsung tanpa diolah, dimanfaatkan untuk melumasi tubuh saat akan bepergian ke pesta adat atau perang dan untuk penyubur rambut pria

Ket.:

Buah besar : 75 – 90 cm

Buah pendek : 40 – 65 cm

Biji besar / panjang : 14 – 16 mm

Biji kecil / pendek : < 13 mm

Ada 6 jenis tanaman buah merah yang banyak dibudidayakan di Papua. Ada 3 jenis yang sudah dijelaskan di atas, yaitu jenis maler, ibagaya dan kenen. Kemudian, 3 jenis lainnya adalah:

Jenis / Varietas Ciri-ciri
Mbarugum Buahnya besar, panjangnya 68 – 100 cm, silindris, dengan lingkar pangkal 31,5 – 40,5 cm, lingkar ujung 14 – 20 cm, beratnya 7 – 10 kg, berbuah mulai umur 3 – 5 tahun dan umur panen 3 – 4 bulan, bijinya merah berbaris tidak teratur, menghasilkan minyak 120 cc/buah dengan rendemen 15%

Daunnya besar berukuran 323 cm dan lebar 15 cm, duri daunnya rapat, dengan ujung yang bertusuk

Batangnya setinggi 2 – 3,5 m, berdiameter 20 – 40 cm, ada 2 – 4 cabang/batang, akar tunjangnya ada 11 – 97, akarnya berduri panjang

Kuanggo Buahnya agak segitiga berukuran 35 – 58 cm, lingkar pangkalnya berukuran sedang, lingkar ujung 10 – 15 cm beratnya 5 – 6 kg, berbuah mulai umur 16 bulan, bijinya merah berbaris tidak teratur, kandungan minyaknya sedang

Daunnya berukuran 1,1 – 1,6 cm dan lebarnya 4 – 8 cm, dengan duri daun yang rapat dan tajam

Batangnya berukuran sedang, ada 2 – 8 cabang/batang, diameter bawah 30 – 46 cm, akar tunjangnya ada 6 – 13 buah/batang

Muni Buahnya segitiga berukuran sedang, agak pendek, berukuran 50 – 73 cm, lingkar pangkal 55 – 74 cm, lingkar ujung 14 – 20 cm, beratnya 5 – 8 kg, berbuah mulai umur 3 tahun, bijinya merah berbaris tidak teratur, minyaknya banyak

Daunnya besar berukuran 1,4 – 2,1 cm dengan lebar 7 – 10 cm dan duri yang tidak tajam

Batangnya agak tinggi, ada 2 – 9 cabang/batang, diameter bawah 40 – 56 cm, akar tunjangnya ada 6 – 12 buah/batang

Menurut Lebang et al (2004), ada 3 jenis/klon buah merah unggulan, yakni jenis Mbarugum, Maler dan Magari. Buah merah var. Mbarugum dilepas oleh Menteri Pertanian RI, pada tahun 2006 silam, sebagai varietas unggul. Ada beberapa kriteria untuk jenis buah merah yang termasuk unggulan, di antaranya:

  1. Memiliki jumlah buah 5 – 10 butir/rumpun;
  2. Empulurnya lunak;
  3. Buahnya berukuran besar, yakni berdiameter 10 – 15 cm dan panjang 60 – 110 cm;
  4. Mampu menghasilkan banyak sari atau minyak, yakni dengan hasil rata-rata 120 ml/kg buah;
  5. Memiliki banyak jumlah anakan, yaitu 5 – 10 anakan/rumpun;
  6. Memiliki jumlah akar tunjang yang banyak, yaitu 11 – 97 akar/rumpun, yang membuatnya mampu memasok zat hara dalam jumlah yang lebih banyak, mampu menyerap oksigen dari udara dan tanamannya berdiri tegak lebih kokoh.

Kandungan Buah Merah

Kulit buah mengandung beta karoten, tokoferol, asam linolenat, asam oleat serta kanoat. Kulit buah merah mengandung beta karoten dan tokoferol (vitamin E), yang merupakan senyawa antioksidan yang mampu menghambat perkembangan radikal bebas di dalam tubuh.

Buah merah mengandung antioksidan alami, di antaranya α-carotenoid, β-carotenoid, α-tocopherol, β-cryptoxanthin, senyawa fenolik dan flavonoid.

Senyawa aktif (satuan) Jumlah
Karotenoid (ppm) 12.000
Tokoferol (ppm) 11.000
Beta karoten (ppm) 700
α-tokoferol (ppm) 500
Asam oleat (%) 58
Asam linoleat (%) 8,8
Asam linolenat (%) 7,8
Dekanoat (%) 2

Sumber: Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia (2009)

Sedangkan yang berikut ini adalah kandungan buah merah secara umum.

Kandungan (satuan) Jumlah
Energi (kal) 394
Protein (mg) 3300
Lemak (mg) 28100
Serat (mg) 20900
Kalsium (mg) 54000
Fosfor (mg) 30
Besi (mg) 2,24
Vitamin B1 (mg) 0,9
Vitamin C (mg) 25,7
Niasin (mg) 1,8
Air (mg) 34,9

Sumber: Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia (2009)

Sari buah merah tidak hanya mengandung karotenoid dan tokoferol. Tetapi juga asam lemak jenuh seperti asam laurat, palmitat dan stearat, serta asam lemak tak jenuh seperi asam palmitoleat, oleat, linoleat, omega-3 dan lainnya.

Kandungan (satuan) Jumlah
Energi (kal) 369
Protein (mg) 3300
Lemak (mg) 28100
Serat (mg) 20900
Kalsium (mg) 54000
Fosfor (mg) 30
Besi (mg) 2,44
Vitamin

Vit. B1 (mg)

Vit. C (mg)

 

0,9

25,7

Niasin (mg) 1,8
Air (mg) 34,9
Karotenoid (ppm) 12000
Tokoferol (ppm) 11000
Betakaroten (ppm) 700
α-tokoferol (ppm) 500
Asam oleat (%) 58
Asam linoleat (%) 8,8
Dekanoat (%) 2

Sumber: Budi dan Paimin (2005) dalam Lisye dan Eko (2016)

Berikut adalah kandungan buah merah untuk varietas Sentani dan Tolikara.

Kandungan (satuan) Buah merah Sentani Buah merah Tolikara
Beta karoten (ppm) 3698 8590

1040*

Ca (%) 0,058 1,42
Mg (%) 0,291
K (%) 0,262
Na (%) 0,006
Protein (%) 0,186 0,2074
Tokoferol (%) 1,520 1,713
Asam lemak

Kaprat (%)

Laurat (%)

Miristat (%)

Palmitat (%)

Stearat (%)

Oleat (%)

Linoleat (%)

Linolenat (%)

Dietary fiber (%)

Total lemak (%)

 

0,075

0,376

0,175

14,976

0,37

72,608

8,86

1,281

 

0,0758

0,84

0,22

9,363

0,8391

31,834

4,87

6,62

1,54

56,205

Ket.: *) dalam pasta buah merah

Sumber: Hadad et al (2005) dalam Afrizal dan Rohimah (2014)

Buah merah yang ditanam di dataran tinggi, Wamena, mengandung beta karoten yang lebih banyak, yaitu sampai dengan 700 ppm. Berbeda dengan buah merah yang ditanam di dataran rendah, Sentani, yang beta karotennya hanya sekitar 50 ppm. Bahkan, buah merah di dataran tinggi, seperti di Wamena, Kelila, Bokondini dan sekitarnya, mencapai 8.590 ppm. Sedangkan di daerah dataran rendah seperti di Sentani dan sekitarnya rata-rata 3.698 ppm.

Sari buah merah mengandung minyak dan pasta yang kandungan betakaroten dan tokoferolnya lebih banyak daripada biji buah merah.

Berikut adalah kandungan gizi dalam 100 gram ekstrak minyak buah merah.

Komponen Gizi (Satuan) Jumlah
Air (g) 0,7
Energi (kkal) 868
Lipida (mg) 94,2
Karbohidrat (mg) 5,1
Sodium (mg) 3
α-karoten (µg) 130
β-karoten (µg) 1980
β-kriptosantin (µg) 1460
Vitamin E α-tokoferol (mg) 21,2

Sumber: Surono et al. (2006)

Tanaman Buah Merah dan Papua

Papua adalah provinsi dengan luasan wilayah mencapai 808.105 km2. Di mana sekitar 90% daratannya adalah hutan. Ada lebih dari 1000 spesies tanaman hutan yang menjadi produk hortikultura unggulan. Ada lebih dari 150 varietas di hutan yang menjadi tanaman komersial. Tanaman buah merah hanya mengambil porsi produksi 3,04% atau sekitar 1889 ton, dari total produksi hasil perkebunan Papua, baik Perkebunan Rakyat (PR) atau pun Perkebunan Besar (PB). Porsi tersebut masih kecil, karena jauh dibandingkan dengan hasil produksi kelapa sawit atau pun kakao. Padahal, seperti yang sudah disebutkan bahwa buah merah menyebar hampir di seluruh tanah Papua, dataran rendah hingga dataran tinggi.

Masyarakat Papua lebih menyukai buah merah untuk dikonsumsi bersama daun labu siam, daun ubi jalar atau kol, yang kemudian dimasak menjadi sajian sayur. Masyarakat Papua kurang menyukai buah merah yang diolah menjadi saus. Karena, konsumsi saus buah merah dalam jumlah banyak, bisa membuat sulit tidur. Masyarakat Papua sudah terbiasa memanfaatkan buah merah. Di mana buahnya dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari, minyaknya dijual, lalu limbahnya untuk pakan ternak mereka. Buah merah, selain sebagai sayuran, juga menjadi unsur pelengkap dalam upacara adat bakar batu.

Buah merah sangat dianjurkan untuk dibudidayakan, khususnya di Papua. Karena, tanaman buah merah mudah beradaptasi baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, tetap bisa tumbuh meskipun ditanam pada tanah miskin hara dan cukup air dengan curah hujan lebih dari 1000 mm/tahun, budidayanya cukup mudah, tidak banyak kasus penyerangan HPT, buah tidak cepat busuk, pengolahan buah menjadi minyak dapat dilakukan skala rumah tangga (kecil) serta pemasaran minyak buah merah yang peluangnya tinggi karena permintaan berasal dari dalam dan luar negeri.

Manfaat Buah Merah

Karena kandungannya, buah merah juga memberikan banyak manfaat. Bahkan tidak hanya buahnya saja, tetapi bagian lain dari tanamannya, seperti batang, daun, atau bahkan limbah dari proses pengolahan lanjutannya. Bahkan, menurut hasil penelitian, masyarakat pedalaman Papua banyak yang lebih tinggi angka kuantitas hidupnya (lebih panjang umur) dan jarang yang mengidap penyakit berbahaya seperti kanker, jantung koroner dan semacamnya. Hal itu dikarenakan pola hidup serta buah merah yang menjadi salah satu menu makanannya. Nah, berikut adalah beragam manfaat dari tanaman buah merah yang bisa dinikmati.

  • Di wilayah tengah Provinsi Papua, buah merah biasanya digunakan sebagai makanan sehari-hari atau bumbu makanan pokok.
  • Sudah ratusan tahun tanaman buah merah dimanfaatkan masyarakat terutama di New Guinea, sebagai sumber pangan, penyedap makanan serta obat herbal.
  • Karena kandungan tokoferolnya, maka dari itu, buah merah dimanfaatkan menjadi bahan baku obat degeneratif, misalnya untuk gangguan jantung, lever, kolesterol, diabetes, asam urat, osteoporosis bahkan anti infeksi HIV.
  • Ekstrak buah merah, memberi dampak positif untuk kesehatan secara in vivo. Yakni kemampuannya dalam menghambat tumor, membunuh sel kanker, anti inflamasi, meningkatkan sel imun hingga menurunkan gula darah (pada tikus diabetik, hasil penelitian). Dari situlah, buah merah berpotensi dikembangkan menjadi pangan fungsional.
  • Buah merah memiliki aktivitas sebagai anti inflamasi, anti diabetik serta kemampuannya dalam meningkatkan imunitas tubuh.
  • Buah merah juga sering dijadikan minyak dan sari buah merah. Sari buah merah banyak diproduksi di Wamena. Sari buah merah mengandung 12.000 ppm karoten, 11.000 ppm tokoferol dan beberapa asam lemak tak jenuh.
  • Buah merah juga bisa dimanfaatkan sebagai minyak goreng, sebagai pengganti minyak kelapa.
  • Buah merah yang hanya menghasilkan sedikit minyak, biasanya untuk pakan ternak saja. Sedangkan buah merah dengan kandungan minyak yang banyak dan ampas yang sedikit, biasanya dimanfaatkan sebagai obat herbal.
  • Pasta sari buah merah dimanfaatkan sebagai bahan baku saus. Sedangkan limbah dari proses pembuatannya digunakan sebagai pakan ternak dan ikan serta pupuk organik tanaman.
  • Bagi suku Dani, ada 3 fungsi utama dari tanaman pandan merah. Pertama, menanam tanaman merah dalam jumlah yang banyak akan menaikkan wibawa dan atau harga diri si penanamnya. Pada umumnya, pemilik kebun buah merah dengan kuantitas yang besar yaitu para kepala suku. Kemudian jika ada upacara adat besar, misalnya ritual adat pernikahan atau penyambutan tamu, siapa yang menyumbang buah merah, maka ia akan dihormati. Kedua, mereka percaya bahwa minyak buah merah mampu menjaga stamina tubuh. Sehingga, mereka akan membawanya saat bepergian jauh atau pun membuka kebun. Ketiga, karena buah merah terkenal akan khasiatnya sebagai obat herbal, maka kemudian harganya pun melambung tinggi yang mencapai Rp 50.000 – 100.000. Dari situlah, mereka memilih menukar buah merah yang hasil kebunnya dengan kebutuhan pokok (seperti beras, gandum dan lainnya) atau pakaian atau pun barang lainnya.
  • Buah merah dapat mengobati mata rabun, gatal-gatal, luka luar kulit, pegal-pegal, menyuburkan rambut hingga untuk kesehatan ternak terutama babi.
  • Buah merah mengandung asam lemak tak jenuh seperti omega-3 (linolenat) dan omega-9 (oleat), yang mudah dicerna dan diserap oleh tubuh, sehingga berfungsi untuk melancarkan metabolisme.
  • Buah merah sudah banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, terutama babi. Banyak limbah dari pengolahan buah merah yang diberikan untuk pakan babi, secara kontinu saat musim buah merah tiba. Limbah buah merah yang biasa dijadikan pakan adalah biji utuh dan pasta. Untuk Distrik Kelila sendiri, biasanya adaah biji dan sari buah merah.
  • Dalam sebuah riset, pasta buah merah sebanyak 3% yang dikombinasikan dengan pakan utama, akan meningkatkan berat badan ayam buras periode grower serta menurunkan angka mortilitas anak ayam.
  • Dalam pembuatan minyak buah merah, juga menghasilkan limbah yang biasanya dimanfaatkan untuk pakan ternak, terutama ayam. Menurut penelitian (yang dilakukan Usman, 2007), limbah minyak buah merah sebanyak 3% yang dikombinasikan dengan pakan utama, mampu meningkatkan berat badan ayam buras.
  • Buah merah mengandung karotenoid, yang bisa menjadi zat pewarna alami yang baik untuk warna merah dan kuning pada kosmetik.
  • Tidak hanya sebagai makanan dan obat herbal bagi manusia, buah merah juga biasa dimanfaatkan sebagai salah satu umpan binatang buruan. Masyarakat Papua menggunakan buah merah sebagai umpan untuk burung cendrawasih, kuskus pohon serta tikus tanah. Hal itu karena buah dan bunga dari tanaman buah merah memiliki aroma yang wangi dan rasa yang manis.
  • Akar tanaman buah merah bisa dimanfaatkan untuk membuat tali, pengikat hingga tikar.
  • Batang tanaman buah merah juga bisa dimanfaatkan sebagai papan rumah.

Budidaya Tanaman Buah Merah

Budidaya tanaman buah merah diduga mulai dilakukan sekitar tahun 1980-an. Budidaya di sini adalah dalam arti terbatas (sistem TOT / Tanpa Olah Tanah). Buah merah ditanam masyarakat Papua dengan metode pembudidayaan yang sederhana, yaitu sistem Tanpa Olah Tanah (TOT), tanpa areal khusus. Mereka akan menyetek dengan tinggi 0,5 – 1 meter, dipangkas secara asal, lalu ditugalkan ke dalam tanah, ditutupi sedikit serasah/dedaunan, kemudian dibiarkan begitu saja tanpa perawatan / pemeliharaan. Bisa juga, tanaman buah merah diberi naungan 0 – 15%. Sedangkan pada habitat aslinya, tanaman buah merah hidup di area terbuka, terkena sinar matahari langsung, tanpa terhalang tanaman lain. Tetapi, syarat tumbuh tanaman buah merah juga harus diperhatikan, meskipun budidayanya cukup mudah. Tanaman buah merah memang mampu tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi yaitu sekitar 40 – 2000 m dpl. Tetapi, pada ketinggian 1550 – 1700 m dpl adalah area dengan populasi terbanyak tanaman buah merah.

Selain itu, habitat asli tanaman buah merah yaitu di tanah lempung dan lempung berpasir, pH 5 – 7, serta suhu lingkungan 17 0C (siang hari) dan 10 0C (malam hari).

Tanaman buah merah dapat dibudidayakan dengan sistem tumpang sari, misalnya bersama tanaman jagung, kacang-kacangan, ubi jalar dan sebagainya. Tanaman buah merah jarang dan atau sedikit terserang HPT, kalau pun terserang terjadi saat usia tanaman masih muda. Justru yang sering terjadi adalah serangan dari ternak, baik sapi, babi, kambing atau pun kerbau. Tanaman buah merah biasanya dibudidayakan dengan cara perbanyakan vegetatif, setek. Perbanyakan setek yang digunakan yaitu setek tunas dari akar, berukuran 20 – 40 cm, atau dengan setek batang berukuran 80 – 100 cm. Berikut cara-caranya:

  • Pilihlah tunas yang hanya memiliki 1 akar, agar memacu pertumbuhan tunas.
  • Jika setek dipindahkan ke lokasi yang jauh, maka letakkan setek di tempat yang basah, agar anakan tidak mati karena kekurangan air.
  • Buatlah persemaian sementara di bawah induk tanaman.
  • Bibitkan ke dalam kantong plastik yang sudah diisi dengan tanah dan pupuk kandang, perbandingan 3:1. Proses pembibitan biasanya selama 1 – 2 bulan.
  • Siapkan lahan untuk bibit yang sudah tumbuh besar. Tanah dicangkul sampai kedalaman 15 – 20 cm. Pilihlah lokasi yang dekat dengan sumber air. Keringkan tanah selama 1 – 2 hari. Tanam langsung setek tersebut ke lahan yang sudah diberi naungan, sampai tanaman dapat tumbuh dengan baik, dengan ukuran lubang tanam 30 x 30 x 30 cm dan jarak tanam 5 x 5 meter.
  • Setiap tahunnya, buah merah mampu dipanen selama 2x, pada bulan Juni – Agustus dan November – Januari. Buah dipanen menggunakan galah kayu, yang ujungnya berbentuk huruf V. Lakukan hati-hati agar buah tidak rusak.

Panen dan Pascapanen Buah Merah

Buah merah sendiri, dalam perkembangannya melalui 4 tahap, yaitu buah muda, agak matang, matang dan lewat matang. Maka, pada tahap matang itulah, buah merah sebaiknya dipanen. Untuk menghindari kerusakan saat panen, pemanenan buah merah dilakukan pagi atau sore hari, menggunakan galah bambu, di mana bagian ujungnya diberi pengait agar buah tidak jatuh langsung ke tanah.

Tanaman buah merah mampu tumbuh sampai 10 tahun. Dengan rincian, tanaman berbuah pada usia 3 – 5 tahun dan usia buah sampai panen 3 – 4 bulan. Tanaman buah merah memulai masa berbuah pada umur 3 tahun HST. Tetapi, tanaman buah merah yang ditanam di dataran rendah, sudah bisa berbuah pada umur 2 tahun. Buah merah muncul mengikuti putaran daun. Buah merah terletak di pucuk batang yang dilindungi seludang, yang menutupi empulur (tempat menempelnya biji) dan terbungkus daging buah. Pada masa tanaman berbuah pertama kali, tanaman ini memproduksi 1 buah saja, di setiap batangnya. Pada awalnya, buah muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi cokelat, lalu merah saat tua, kecuali buah merah tipe kuning yang saat tua warnanya bukan merah. Diperkirakan, tingkat kematangan buah maksimal yaitu saat umur 6 bulan setelah bunga mekar.

Buah merah yang dipanen terlalu muda, perkembangan bentuk dan ukuran serta pengembangan cita rasa dan zat gizi di dalamnya akan terganggu. Tetapi jika dipanen terlalu tua atau kelewat matang, sebagian zat gizinya akan rusak atau hilang. Sehingga, waktu pemanenan harus tepat pada usia buah itu sendiri.

Ada beberapa ciri-ciri untuk buah merah yang sudah siap dipanen, di antaranya adalah:

  1. Berumur 3 – 4 bulan
  2. Perubahan warna buah dari merah muda menjadi merah tua
  3. Pelepah buah berubah warna menjadi cokelat kering
  4. Terlepasnya biji pada ujung buah

Banyak petani yang lokasi kebun tanaman buah merahnya jauh dari pemukiman, pasar atau pun produsen minyak. Karena itulah, buah merah biasanya setelah dipanen lalu dikeluarkan empulurnya. Caranya yaitu dengan membelah buah merah secara membujur, menjadi 2 bagian, lalu keluarkan empulur menggunakan parang. Kemudian, buah merah yang sudah dibelah tadi, diikat menjadi 1 bagian, lalu dimasukkan dalam karung.

Akan tetapi, metode penanganan pasca panen buah merah tersebut, sebenarnya tidak cukup bagus untuk buah merah. Karena, membelah buah merah bisa menimbulkan luka, retak dan rontok pada bulir buah, yang selanjutnya memicu hidrolisis minyak oleh enzim lipase, yang akan menghasilkan asam lemak bebas dan mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan.

Selain itu, buah merah yang sudah dibelah biasanya masa simpannya lebih pendek.

Jika disimpan pada suhu kamar, buah merah utuh bertahan selama 4 – 5 hari dan 2 hari untuk buah merah pipilan.

Minyak Buah Merah

Untuk menghasilkan 1 liter minyak, dibutuhkan buah merah Tolikora 3 – 5 buah dan jenis Sentani 9 – 10 buah. Nah, kalau ingin tahu bagaimana cara membuat minyak buah merah, simak langkah-langkah berikut.

  • Pilih buah yang matang.
  • Belah buah dan keluarkan empulurnya.
  • Potong daging buah dan cuci bersih.
  • Kukus daging buah tadi, selama 1 – 1,5 jam.
  • Angkat dan dinginkan daging buah yang sudah matang dan lunak.
  • Tambahkan sedikit air pada daging buah yang sudah matang.
  • Peras sampai menjadi pasta.
  • Saring pasta, agar ampas biji terpisah dari pasta.
  • Masak pasta selama 4 – 5 jam.
  • Jika sudah mendidih, biarkan pasta di dimasak selama ± 10 menit. Biarkan sampai muncul minyak hitam di permukaannya.
  • Angkat pasta dan diamkan selama 1 hari.
  • Ambil minyak, perlahan dan hati-hati menggunakan sendok.
  • Pindahkan minyak ke wadah yang transparan. Diamkan selama 2 jam agar minyak benar-benar terpisah dari air dan pasta. Ulangi sampai tidak ada air di bawah lapisan minyak. Langkah ini juga bisa diganti dengan cara lain yaitu panaskan minyak pada suhu 95 – 100 0C selama 2 – 3 menit, sampai tidak terlihat ada gelembung air.

Analisis Ekonomi Minyak Buah Merah

Apakah budidaya buah merah menguntungkan? Apakah bisnis buah merah mampu diperhitungkan?

Buah merah sebenarnya sudah dikenal masyarakat luar negeri. Bahkan minyak buah merah sudah diekspor ke luar negeri. Meskipun mungkin di dalam negeri sendiri, minyak buah merah tidak lebih populer dibandingkan minyak kelapa, minyak zaitun maupun minyak atsiri. Nah, berikut analisis ekonomi dalam pengolahan minyak buah merah, untuk sekali proses, dengan asumsi harga buah merah Rp 35.000 – 50.000/buah.

Deskripsi Qty (satuan) Harga satuan (Rp) Total (Rp)
Bahan habis pakai

Buah merah var. Tolikara

Buah merah var. Sentani

Air

Kayu bakar

Minyak tanah

 

20 buah

60 buah

4 drum

4 ikat

20 L

 

50.000

35.000

3.000

5.000

3.000

 

1.000.000

2.100.000

12.000

20.000

60.000

Alat

Dandang

Toples/wadah

Jerigen

Drum

Kompor

 

2 buah

4 buah

16 buah

1 buah

1 buah

 

170.000

35.000

25.000

125.000

375.000

 

14.150

3.800

64.000

5.200

15.625

Biaya operasional

Tenaga kerja

Packing

 

80 OH

8 OH

 

35.000

35.000

 

2.800.000

280.000

Total input 6.374.775
Output

Minyak

 

45 L

 

500.000

 

22.500.000

Pendapatan 16.125.225
R/C ratio (500.000 x 45) / (6.374.775) 3,53

Sumber: Wamaer dan Malik (2009), dengan pengubahan seperlunya

Minyak buah merah juga biasa dijual dalam kemasan botol ukuran 250 ml, dengan harga Rp 125.000. Akan tetapi, salah satu kendala usaha minyak buah merah adalah harganya yang cukup tinggi, yaitu sekitar Rp 300.000 – 1.000.000/liter.

Menurut riset (Yuhono dan Rini, 2007), dari bahan awal 300 tandan buah merah, mampu menghasilkan 100 liter minyak buah merah dalam 1x prosesnya, dengan biaya proses Rp 107.810/liter. Sedangkan para pedagang (luar Papua) membeli minyak buah merah dengan harga Rp 60.000/100 ml, lalu bisa menjualnya secara eceran dalam kemasan 100 ml dengan harga Rp 100.000. Berikut adalah rata-rata harga jual pada pedagang menurut tingkatannya dalam wilayah.

Tingkat pedagang Harga jual (Rp/liter)
Petani/produsen 212.500
Pedagang tingkat kecamatan 300.000
Pedagang tingkat kabupaten 426.500
Pedagang antar pulau 600.000

Sumber: Yuhono dan Rini (2007)

Berdasarkan kebermanfaatannya, minyak buah merah mampu sejajar dengan minyak zaitun maupun minyak atsiri. Hanya saja, pengembangan usaha minyak buah merah masih kalah dengan jenis-jenis minyak yang ada di pasaran.

Selain minyaknya, buah merah dan olahannya yang lain sebenarnya berpotensi dalam dunia bisnis. Karena, saat ini sudah banyak artikel yang membahas buah merah. Bahkan sudah banyak juga penjual online yang menjajakan buah merah dan olahannya. Apalagi tren masa kini adalah back to nature dan therapeutic foods (pangan fungsional), yang sedang digembor-gemborkan pemerintah, peneliti, para ahli maupun para akademisi. Di mana buah merah dapat menjadi kedua hal tersebut. Belum lagi, buah merah itu dihargai Rp 100.000 – Rp 120.000/kg.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.