cara membuat akuaponik sederhana dan murah

Cara Membuat Akuaponik Sederhana Dan Murah

Cara membuat akuaponik sederhana dan murah. Apakah Anda adalah pecinta tanaman? Apakah Anda ingin bercocok tanam tetapi hanya sedikit lahan yang tersedia? Ataukah Anda salah satu pecinta ikan yang gemar beternak ikan? Pernahkah Anda mendengar budidaya tanaman dan ikan dalam satu sistem? Daripada bertanya-tanya, lebih baik simak uraian pada artikel dan beberapa artikel selanjutnya.

Akuaponik

Dalam masyarakat, ada 2 masalah yang cukup besar yaitu persoalan perairan Indonesia dan sempitnya lahan tanam. Masalah sempitnya lahan tanam, pasti sudah tak dapat terelakkan lagi. Apalagi seiring kemajuan zaman yang ternyata menyedot nafsu masyarakat untuk mendirikan bangunan-bangunan megah di bumi.

Lalu ketika masalah ini bertemu dengan harga pangan yang melonjak dan ketersediaan pangan yang menipis, pastinya sempitnya lahan menjadi salah satu hal yang tertuding.

Jika Anda pernah membaca artikel sebelumnya, sudah ada pembahasan tentang pertanian sistem NFT dan hidroponik, yang menjadi contoh alternatif cara dalam bertanam pada lahan yang sempit.

Kemudian, persoalan perairan Indonesia yang sudah banyak tercemar, akibat hasil samping buangan pabrik, maupun kenakalan masyarakat itu sendiri.

Salah satu faktor penilaian pada perairan adalah oksigen terlarut (DO). Di mana, kadar oksigen terlarut bagi pertumbuhan ikan harus lebih dari 5 ppm.

Jika, kadar oksigen terlarutnya 1 – 5 ppm, pertumbuhan ikan akan melambat. Lalu, jika kadar oksigen terlarut kurang dari 1 ppm, maka besar kemungkinan, ikan akan mati.

Selain itu, perairan yang tercampur limbah domestik dengan kadar nitrogen dan fosfat yang tingginya melebihi kapasitas perairan dalam menguraikannya maka, akan memicu pertumbuhan organisme tertentu secara berlebihan, menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem perairan bahkan mampu menurunkan kualitas perairan dan keanekaragaman hayati pada perairan tersebut.

Tidak hanya itu saja. Limbah dari budidaya ikan juga bisa mengotori kolam yang jika tidak terjaga, maka bukan tidak mungkin akan mematikan ikan itu sendiri.

Ikan, sejatinya akan mengeluarkan 80 – 90% amonia melalui proses osmoregulasi, dan pada feses urine ada 10 – 20% dari total nitrogen.

Nah, dari kedua persoalan besar tersebut, ada cara yang menjawab sekaligus 2 permasalan tadi, yaitu sistem budidaya akuaponik.

Pengertian Akuaponik

Secara harfiah, akuaponik adalah gabungan dari kata akua dan ponik. Akua berasal dari kata akuakultur, sedangkan ponik dari hidroponik.

Dari situ diartikan bahwa, akuaponik adalah sistem budidaya tanaman secara akuakultur yang dikombinasikan dengan mengadopsi sistem hidroponik.

Di mana pada akuaponik, sistem budidayanya akan mendaur ulang nutrisi menggunakan sebagian kecil air daur ulang, yang memungkinkan pertumbuhan tanaman dan ikan secara terpadu.

Akuaponik merupakan kombinasi antara budidaya ikan dan tanaman, disertai hubungan yang saling menguntungkan atau yang sering disebut simbiosis mutualisme.

Akuaponik memiliki prinsip dasar yaitu resirkulasi. Merupakan pemanfaatan kembali air yang sudah digunakan pada pemeliharaan ikan, tentunya yang telah terfilter alami oleh tanaman dan medianya.

Air dalam kolam ikan merupakan limbah cair, yang dimanfaatkan melalui pengaliran secara kontinu sebagai nutrisi untuk tanaman yang sudah ditanam pada media tanamanya (arang, sabut, batu dan lainnya).

Sehingga, kandungan nutrisi dalam air kolam tersebut, akan diserap dan dimanfaatkan oleh tanaman sebagai bahan metabolisme sel-selnya.

Di sisi lain, tanaman juga berperan sebagai biofilter, yang menyerap atau menyaring air dalam kolam, dari zat berbahaya seperti nitrat, nitrit, amonia maupun fosfor, sehingga ikan tetap terjaga kesehatannya.

Dari sinilah, simbiosis mutualisme disebutkan. Selain itu, sistem akuaponik juga memiliki prinsip produksi limbah dari suatu sistem biologis perfungsi, sebagai nutrisi untuk sistem biologis berikutnya.

Singkatnya, sistem akuaponik akan berjalan dimulai dari air dalam kolam ikan, dialirkan menggunakan pompa air ke wadah atau media pemeliharaan tanaman.

Tanaman juga berfungsi sebagai filter biologis, yang akan menyerap karbon, lalu dijadikan sebagai bahan untuk proses fotosintesis, yang nantinya menyuplai oksigen dan menjaga kualitas air bagi pertumbuhan ikan.

Kelebihan Akuaponik

Untuk itu, sistem akuaponik memiliki kelebihan tersendiri, yaitu:

  • Aplikasi akuaponik sangat menguntungkan. Karena, dalam pengaplikasian tidak membutuhkan lahan yang luas, lebih hemat air, mengurangi penggunaan bahan kimia dalam budidaya tanamannya, hasil produksinya ganda yaitu dari tanaman dan ikan, serta merupakan sistem yang organik.
  • Tidak perlu menyirami tanaman setiap hari.
  • Tidak perlu lagi mencangkul, merumput dan semua aktivitas pra tanam yang biasa dilakukan di sawah.
  • Sistem akuaponik lebih efisien. Karena cukup memberi makan pada ikan, maka Anda akan mendapat hasil panen ganda.
  • Harga jual tanaman (sayuran atau buah) hasil akuaponik akan bernilai ekonomis yang tinggi. Karena, tanaman akuaponik bersifat organik.
  • Tidak perlu mengganti air. Karena air yang mengandung toksik atau racun, akan difilter oleh bakteri nitrifikasi, jadi ikan tetap sehat. Sedangkan air yang mengandung nutrisi, akan diserap tanaman sebagai pupuk organik.
  • Akuaponik menjadi salah satu cara mengurangi tingkat pencemaran air.
  • Akuaponik juga menjadi salah satu alternatif mengurangi jumlah pemakaian air dalam sistem budidaya ikan pada umumnya.
  • Mampu mengendalikan, memelihara dan mempertahankan kualitas air. Sehingga, akuaponik dapat menjadi langkah/cara/solusi untuk perbaikan kualitas air dalam pengolahan air limbah terutama dari sisi biologisnya.
Baca juga :  Cara Membuat Gula Semut Dari Nira Kelapa

Beranjak dari kelebihan akuaponik, selanjutnya adalah pembahasan lainnya yang masih seputar budidaya kombinasi tanaman dan ikan.

Macam-macam Sistem Akuaponik

Pada umumnya, ada beberapa macam sistem akuaponik yang banyak diterapkan di berbagai negara, yaitu sebagai berikut:

a. Sistem dengan Media Tanam

Pastinya, sistem akuaponik yang satu ini memanfaatkan sebuah media tanam dalam budidayanya.  Media tanam mampu memfilter limbah sisa ikan, karena fungsinya yang juga sebagai filter biologis.

Media tanam yang biasa digunakan seperti pasir, sabut kelapa, arang dan kerikil kecil.

b. Sistem Pasang Surut

Pada sistem pasang surut, akar tanaman terendam dalam air untuk beberapa waktu sebelum dikeringkan lagi.

Hal ini terjadi berulang kali dalam satu hari. Sistem pasang surut memberi kesempatan akar tanaman untuk bernafas.

c. Sistem NFT

Pada sistem ini, akar tanaman akan terendam sedikit di lapisan air yang tipis mengalir dan biasanya dibuat dari pipa PVC.

d. Sistem Floating Raft

Pada sistem ini, tanaman dibudidayakan pada sterofoam yang dilubangi kecil-kecil sebagai wadah tanaman yang diletakkan dalam pot kecil.

Sayangnya, nutrisi pada sistem ini relatif rendah, bio-filternya terpisah, dimungkinkan ada organisme berbahaya dalam air serta kemungkinan akar yang dimakan ikan.

e. Sistem Tetes (Drip)

Air yang mengandung nutrisi dipompakan ke media budidaya, melalui pipa berlubang kecil, kemudian air yang bersih dikembalikan ke kolam ikan melalui sistem gravitasi.

f. Sistem Aliran Kontinu

Air mengandung nutrisi, dialirkan 1 – 2 inci di bawah permukaan media tanam, secara kontinu (terus-menerus).

Selain itu, ada beberapa jenis budidaya akuaponik yang lainnya, yaitu:

  1. Single barrel
  2. Barrel ponic
  3. Barrel ponic – rangkaian banyak
  4. Akuaponik bertingkat
  5. Akuaponik vertikal
  6. Akuaponik UVI
  7. Kombinasi media tanam dan sistem raft

Model Sistem Akuaponik

Berangkat dari macam-macam akuaponik, yang sudah ada, kini banyak pegiat akuaponik yang mengembangkan jenis/macam akuaponik yang sudah ada.

Berikut ada beberapa model sistem akuaponik yang sudah dicoba dan berhasil dikembangkan di Indonesia, yang dihimpun dari Trubus, yaitu:

1. Pasang Surut

Model akuaponik pasang surut yang satu ini, dirancang oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar.

Model pasang surut didesain dengan ukuran 2 x 4 meter, untuk menampung 4000 ekor ikan dan 26 pot tanaman.

Model pasang surut membutuhkan modal awal Rp 6 – 7 juta, dengan masa ekonomisnya 10 tahun.

Pada model ini, air dari kolam akan mengalir ke bak penampungan di bibir kolam. Kemudian, air dialirkan dari bawah sampai media tanam terendam, melalui pipa yang dihubungkan dengan pot tanaman.

Pengaliran ini membutuhkan waktu 5 menit saja. Setelah itu, air surut dan mengalir melalui pipa ke bak pembuangan, kemudian mengalir lagi ke kolam.

2. Rakit Apung

Seperti model pasang surut, rakit apung didesain oleh badan riset yang sama. Model rakit apung dibuat dengan ukuran 2 x 4 meter, yang mampu menampung 4000 ekor ikan dan 20 lubang tanam, dengan jumlah populasi sayuran maksimalnya 80% dari permukaan air. Rakit apung membutuhkan modal Rp 6 – 7 juta, dengan masa ekonomis 10 tahun.

Pada rakit apung, sayuran ditanam di atas permukaan air. Di mana bagian perakaran tanaman akan terapung atau terendam dalam bak penampung.

3. Aliran Atas

Model aliran atas juga dirancang oleh balai riset yang sama seperti 2 model yang sudah diuraikan sebelumnya. Berbeda dari 5 model yang lain, model aliran atas berbentuk lingkaran dengan diameter 3 meter.

Akuaponik alira atas mampu menampung 4000 ekor ikan dan 27 lubang tanam. Jika Anda ingin membuatnya dengan bahan beton, maka dibutuhkan modal sekitar Rp 6 – 7 juta, dengan masa ekonomis 10 tahun.

Tetapi, model aliran atas juga bisa dibuat dengan terpal sederhana, sehingga modalnya bisa kurang dari Rp 3 juta dan masa ekonomisnya hanya 1 tahun.

Pada model aliran atas, air dari kolam dialirkan ke pipa-pipa yang terhubung di setiap pot. Pipa yang digunakan adalah pipa dengan diameter 0,5 inci dan diletakkan di atas pot.

Air akan mengalir dari pipa yang dilubangi, secara kontinu, selama minimal 8 jam. Setelah keluar dari lubang pipa, air kembali menuju bak penampungan.

4. Rak Sayuran Bertingkat

Rak sayuran bertingkat dirancang oleh Fathulloh Abu Syairi, salah satu pegiat akuaponik. Rak bertingkat dengan ukuran 1 x 2 meter ini berisi 500 ekor ikan, 220 – 250 lubang tanam sayuran.

Dengan menanam modal awal Rp 8,5 juta, rak bertingkat ini memiliki masa ekonomis sekitar 10 tahun.

Rak bertingkat bekerja dimulai dari air dalam bak penampung yang naik ke sayuran paling atas. Lalu mengalir turun ke rak sayuran di bawahnya. Di mana, 2 tingkat sayuran tersebut ditanam menggunakan sistem DFT dengan kedalaman air 4 – 5 cm.

Kemudian, air mengalir di setiap pot pada sekeliling bak penampungan, di mana setiap pot memiliki 1 lubang untuk drainase air. Aliran air akhirnya akan kembali ke kolam.

5. Kolam Bertingkat

Kolam bertingkat juga dirancang oleh Fathulloh, di mana kolam tersebut berukuran 1 x 5 meter, berisi ikan 2.500 ekor di kolam bawah dan 1.250 ekor di kolam atas, populasi tanamannya ada 211 lubang tanam, dengan modal awal Rp 6 – 8 juta dan masa ekonomis sekitar 3 tahun.

Baca juga :  Pohon Bidara : Dari Obat Herbal Sampai 'Pengusir' Setan

Pada model akuaponik kolam bertingkat, air akan mengalir dari kolam paling bawah, menuju rak sayuran teratas, di mana aia menggenangi pipa sedalam 4 – 5 cm. Lalu, air akan mengalir menuju kolam terpal tengah.

Air lalu dialirkan lagi ke setiap pot di sekeliling kolam, dengan 1 lubang air di setiap pot. Hingga akhirnya air kembali lagi ke kolam paling bawah.

6. Kolam Tunggal DFT (Deep Flow Technique)

Kolam tunggal DFT juga bagian dari rancangan Fathulloh. Didesain dengan ukuran 1 x 5 meter, kolam tunggal DFT mampu menampung 2500 ekor ikan dan 200 lubang tanam.

Biaya awalnya pun relatif lebih murah dibanding rancangan sebelumnya, yaitu hanya Rp 3 – 4 juta, dengan masa ekonomis hanya 3 tahun.

Pada kolam tunggal DFT, air akan mengalir dari kolam terpal menuju pipa tanam sayuran. Di mana ketebalan air dalam pipa adalah 4 – 5 cm. Air pun akan kembali lagi mengalir ke kolam terpal.

Bagaimana, apakah Anda tersentuh untuk mencoba salah satu atau beberapa model sistem akuaponik tersebut?

Terlepas dari itu, masih ada hal lain terkait sistem akuaponik yang menarik untuk dipelajari.

Pembudidayaan Akuaponik

Ada beberapa hal yang penting dan perlu diperhatikan pada susunan kerangka akuaponik, di antaranya adalah:

1. Bak/kolam penampungan

Kolam penampungan memiliki fungsi untuk mengatur sirkulasi air dalam sistem akuaponik. Kolam penampungan tidak diletakkan dalam kolam ikan.

Karena, kolam penampungan yang diletakkan dalam kolam ikan, dapat membuat sistem kolam ikan kering.

2. Tempat budidaya tanaman

Harus diatur sedemikian rupa ukurannya, kepadatan tanaman per meter lahannya maupun padat tebar benih per meter lahannya. Kepadatan untuk tanaman sayuran dengan tanaman yang bisa diambil buahnya, akan berbeda.

3. Tempat budidaya ikan (kolam ikan)

Salah satu yang perlu diperhatikan adalah tingkat kerapatan ikan per meter kubik (m3). Misalnya, jika yang akan dibudidayakan adalah 1 kg ikan lele isi 7 ekor, lalu Anda akan membudidayakan 30 kg/m3, berarti butuh padat tebar ikan 30 kg x 7 ekor/m3 = 210 ekor.

4. Aliran air

Aliran air akan mengatur input nutrisi sebagai makanan untuk tanaman dan aliran balik menuju kolam ikan. Air harus berjalan lewat berulang kali ke media tanam, agar limbah ikan tersaring dengan baik. Pada budidaya akuaponik, volume air sirkulasi dari kolam ke media tanam, berjalan 2 x 1 jam.

5. Volume Kolam

Volume kolam haruslah kokoh, tidak beracun (terutama pada tanaman dan ikan) serta titik penempatan yang sesuai (kolam yang sudah diisi air, tentunya sulit dipindah).

Semakin besar media tanamnya, maka akan semakin besar pula volume kolam ikan.

6. Keasaman air

Baik tanaman, ikan serta bakteri membutuhkan pH air yang berbeda masing-masingnya. Tanaman membutuhkan pH 4,5 – 6,5; ikan perlu pH 6,5 – 8 sedangkan bakteri baik perlu pH 6 – 8.

Sebagian besar jenis ikan, akan mampu tumbuh pada pH 6,5 – 9. Tanaman akan menyerap nutrisi secara optimal pada pH 5,5 – 6,5.

Proses nitrifikasi akan berjalan optimum pada pH 7,5 – 9. Sehingga, pada sistem akuaponik, pH optimalnya ialah 6,5 – 7,5.

Jika pH di bawah 6,5 maka air bisa ditambahkan CaOH, pottasium carbonate, pottasium hydroxyda dan kulit telur; cangkang bekicot; cangkang kerang.

Sementara itu, untuk menurunkan pH yang di atas 7,6 maka bisa diberikan cuka, sulfur dan hydrocloric.

Budidaya Akuaponik

Salah satu hal yang penting dalam sistem akuaponik adalah pemilihan komoditas tanaman dan jenis ikan.

Ada beberapa komoditas tanaman yang bisa dibudidayakan menggunakan sistem akuaponik di antaranya, kangkung, selada, bayam hijau, bayam merah, cabai, tomat, melon, terong, timun dan lainnya.

Sedangkan jenis ikan yang cocok untuk dikombinasikan dengan tanaman pada sistem akuaponik, seperti ikan lele, mas, mujair, nila, koi, udang galah dan sebagainya.

Tetapi, jenis ikan yang biasa dan atau lebih disarankan pada sistem akuaponik itu pertama ikan lele, kedua ikan nila dan ketiga ikan mas.

Ketiga ikan tersebut, mampu memproduksi amonia yang tinggi, sebagai nutrisi untuk tanaman, serta ketahanan ikan pada air yang relatif kotor.  Apalagi ikan lele.

Ikan lele memiliki laju metabolisme yang relatif tinggi, sehingga baik sebagai sumber zat karbon, nitrogen dan fosfat yang digunakan dalam akuaponik, yaitu sebagai nutrisi tanaman. Belum lagi, ikan lele dikenal sebagai ikan sejuta umat, yang pasarannya sangat mudah dijangkau.

Selain itu, pemilihan komoditas tanaman harus sesuai dengan tinggi media tanam dan jenis sistem pasang surutnya. Misalnya, jika tinggi media tanamnya 5 – 10 cm, maka yang bisa ditanam adalah tanaman berbatang pendek, contohnya sawi, selada, kangkung serta seledri. Tetapi, jika tinggi media tanamnya sekitar 20 – 30 cm, maka tanaman yang bisa ditanam misalnya tomat atau pun cabai.

Dikutip dari Trubus, ada beberapa jenis ikan dan sayuran yang cocok dipadukan pada sistem akuaponik dan sudah banyak dibudidayakan para pehobinya.

Kemudian, hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah media tanam bagi si tanaman itu sendiri. Media tanam yang dipilih sebaiknya berupa lembaran, tidak terdekomposisi, tidak merubah komposisi kimia dalam air serta bebas dari potensinya dalam menghasilkan senyawa toksik bagi tanaman dan bakteri nutritif.

Hal Hal Yang Perlu Di Perhatikan 

Dalam pembudidayaan tanaman secara akuaponik, ada beberapa perhitungan yang perlu dilakukan, yaitu sebagai berikut:

1. Tentukan total luas area budidaya tanaman akuaponik.

2. Tentukan kebutuhan berat ikan per kg, dengan rasio 5 kg per 1 m2 luas tanam dan asumsi kedalaman media tanam 30 cm. Kebutuhan berat ikan ditentukan dengan melihat luas area budidaya tanaman pada langkah 1 di atas.

Baca juga :  Penanganan Pasca Panen Buah Dan Sayuran

3. Tentukan volume kolam kepadatan ikan: 0,5 kg per 20 – 26 liter air. Catatan: jika ikan masih kecil, jumlah tanaman harus dikurangi.

Nah, dari langkah sederhana tersebut, Anda bisa mencoba menghitungnya sendiri.

  • Luas area : 2 x 4 meter –> 8 m2
  • Kebutuhan ikan : 8 m2 x 5 kg –> 40 kg
  • Volume air : (40 kg/0.5 kg) x 20 L –> 1600 L

1 m3 = 1000 L = 2 m3

Terlepas dari perhitungan tersebut, menurut situs Urbanina, ada 10 hal penting dalam sistem budidaya akuaponik, yaitu:

1. Rasio pakan ikan patokan perhitungan jumlah tanaman

Rasio pakan ikan maksudnya ialah perbandingan antara jumlah pakan yang diberikan dengan jumlah ikan pada kolam.

Perhitungan rasio pakan ikan, menjadi patokan untuk menghitung jumlah tanaman yang sebaiknya ditanam, agar bisa optimal dalam memfilter sisa makanan dan kotoran sebagai limbah kolam ikan.

Contohnya: sistem akuaponik deep water culture atau floating raft, ikan diberi makan 1000 gram/hari, berarti luasan jumlah tanaman yang ditanam 17 m2.

2. Pengaturan jadwal pemberian pakan ikan

Pemberian pakan ikan sebaiknya sama. Artinya, waktu pemberiannya sama setiap harinya dan dosis atau jumlahnya pun sama. Sehingga, pertumbuhan ikan akan terjaga.

3. Suplemen nutrisi

Jika memang diperlukan, Anda bisa memberikan sedikit tambahan suplemen nutrisi untuk tanaman, seperti kalsium, pottasium atau pun zat besi.

4. Aerasi sistem

Aerator menjadi salah satu peralatan vital pada sistem akuaponik. Aerator akan menjaga kadar oksigen dalam air. Maka dari itu, Anda perlu mengecek dan memastikan aerator berfungsi baik.

5. Pembersihan kolam

Meskipun sistem akuaponik menganut prinsip resirkulasi, tetap saja kolam ikan harus dibersihkan. Karena bukan tidak mungkin, sisa pakan ikan dan kotoran yang mengendap di dasar kolam, bisa mengundang bakteri yang menyerang imun para ikan atau pun tanaman. Sehingga, kolam harus tetap dikuras secara rutin.

6. Agregat media tanam

Ada beberapa media tanam yang perlu pengontrolan secara rutin, untuk melihat kemungkinan terjadinya penyumbatan. Penyumbatan media tanam, bisa menyebabkan berkurangnya kekuatan penyaringan serta kematian akar karena oksigen yang tersuplai kurang.

7. Pipa dalam sistem

Sebaiknya, Anda menggunakan pipa berukuran besar pada sistem akuaponik berpipa, misalnya NFT maupun EBB and flow. Pipa berukuran besar dapat memberikan rongga yang cukup bagi pertumbuhan tanaman serta melancarkan aliran airnya.

8. Pestisida organik

Jangan coba-coba memberikan pestisida kimia pada sistem akuaponik. Karena, selain tidak baik bagi tanaman, pestisida kimia dapat meracuni ikan-ikan pada kolam.

9. Pengontrolan pH

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa pH juga memegang peranan penting dalam sistem akuaponik. Diingat lagi bahwa, pada sistem akuaponik, pH optimalnya ialah 6,5 – 7,5 atau sebaiknya dijaga 6 – 7.

Jika pH berlebih maka nutrisi tidak terserap baik dan menyebabkan defisiensi nutrisi pada tanaman. Tetapi jika pH terlalu rendah dapat menghasilkan banyak amonia yang meracuni ikan.

Maka, lakukan pengontrolan pH secara rutin, minimal 1×1 hari. Anda bisa menggunakan kertas lakmus untuk mengukur pH secara manual, atau dengan pH meter untuk mendapat nilai yang akurat.

10. Pompa untuk perangkat/sistem

Menurut pakar akuaponik, Dean Farrel, sistem akuaponik sebaiknya hanya menggunakan satu pompa air, agar nantinya berjalan lebih efektif dan efisien.

Pompa diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengalirkan nutrisi ke tanaman serta menyaring air yang akan kembali ke kolam ikan.

Kedalaman pada Media Tanam

Pada sistem akuaponik, semakin dalam media maka akan semakin tinggi biaya yang harus dikeluarkan untuk menopang berat sistem yang berlebih. Ada beberapa hal soal kedalaman media tanam ini, yaitu:

a. Kedalaman dangkal

Kedalaman dangkal cocok untuk tanaman yang dibudidayakan terbatas, yaitu yang memiliki akar pendek. Kedalaman ini tidak cocok untuk tanaman seperti tomat, melon atau jagung.

b. Daerah Mati (Dead Zone)

Pembersihan tempat tanam dan media tanam dijaga supaya tidak berada dalam kondisi dead zone atau disebut juga anaerobic zone.

Walau demikian, lingkungan kolam akan dibersihkan oleh cacing dan bakteri baik, sehingga banyak ruang tersedia untuk pertumbuhan akar.

c. Daerah Kering (Zone 1)

Daerah kering atau yang disebut lapisan atas, kedalaman 2 inci (50 mm), yang merupakan daerah penetrasi cahaya dan kering.

d. Daerah Akar (Zone 2)

Daerah akar atau yang disebut lapisan tengah, kedalaman 6 – 8 inci (150 – 200 mm), di mana sebagian besar akar dan tanaman dapat tumbuh.

Saat masa pasang surut, daerah akar kaya akan air serta dikeringkan menyeluruh. Hal ini membuat proses pada sistem berjalan sempurna dan efisien dalam mentransfer oksigen ke perakaran tanaman, cacing tanah, mikroba tanah hingga bakteri baik.

e. Daerah Pengumpulan Materi Padat (Zone 3)

Daerah yang disebut lapisan bawah, kedalaman 2 inci (50 mm), di tempat inilah ikan dan limbah cacing (dari tanaman) berada.

Aplikasi Sistem Akuaponik

Sudah disebutkan apa saja contoh komoditi tanaman dan jenis ikan yang telah banyak dibudidayakan dengan sistem akuaponik.

Nah, jika Anda ingin mencobanya, berikut ada sedikit panduan tanaman yang bisa langsung ditanam benihnya pada media sistem akuaponik dan tanaman yang sebaiknya disemai terlebih dahulu.

Kemudian, jika Anda lebih tertarik membudidayakan ikan selain lele dengan komoditas tanaman buah (bukan tanaman sayur), maka bisa dicoba ikan mas atau mungkin ikan nila.

Tetapi, setelah benih ikan mas atau nila ditebar di kolam, maka harus menunggu 5 – 6 bulan. Anda bisa menunggu sambil menanam tanaman sayuran daun. Setelah 5 – 6 bulan, barulah bisa menanam tanaman buah.

Sampai disini saya yakin Anda sudah tahu bagaimana cara membuat akuaponik sederhana dan murah. Bagaimana, apakah ingin mencoba akuaponik?

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.