Mengenal dan Budidaya Rajungan

Pernahkah Anda mendengar binatang laut bernama “rajungan”? Atau mungkin pernah mengonsumsinya? Atau Anda mempunyai tambak budidaya rajungan? Atau mungkin Anda terbiasa menangkap rajungan di perairan.

Jika di artikel sebelumnya, sudah diulas tentang kepiting, maka di artikel berikut dan beberapa artikel selanjutnya akan dibahas tentang rajungan, sang saudara kepiting.

Rajungan

Perikanan rajungan di Indonesia diperkirakan berkembang pesat pada tahun 1990-an. Rajungan dikenal juga dengan sebutan blue swimming crab, Portunus pelagicus, kepiting portunid. Rajungan sangat senang memakan ikan runcah, bangkai binatang, kerang-kerangan, tiram, siput serta udang-udangan seperti rotifera maupun udang kecil. Rajungan jenis P. pelagicus biasa ditemukan di perairan sekitar pantai maupun muara perairan seluruh Indo-Pasifik Barat.

Rajungan banyak terdapat di perairan Indonesia, sampai kepulauan Pasifik, juga sepanjang negara Indo-Pasifik Barat, Samudera Hindia, Asia Timur dan Tenggara (seperti Singapura, Filipina, Jepang, Korea, Cina, Teluk Bengala), Turki, Libanon, Sisilia, Syiria, Siprus dan sekitar Australia.

Sementara di Indonesia sendiri, rajungan banyak ditangkap di perairan Gilimanuk, Pengambengan (pantai selatan Bali), Muncar (pantai selatan Jawa Timur), Pasuruan (pantai utara Jawa Timur), Lampung, Medan dan Kalimantan Barat. Selain itu, rajungan juga terdapat di daerah mangrove, seperti Cilacap.

Taksonomi Rajungan

Di dalam ilmu taksonomi, berikut kedudukan rajungan:

Kingdom  : Animalia

Filum        : Athropoda

Kelas         : Crustacea

Ordo         : Decapoda

Famili        : Portunidae

Genus       : Portunus

Spesies      : Portunus pelagicus

Nama FAO : Blue swimmer crab, blue manna crab, sand crab, blue crab

Rajungan dan Kepiting

Rajungan memiliki bentuk tubuh yang hampir sama dengan kepiting. Hanya saja, pada rajungan, duri akhir di karapasnya lebih panjang dan lebih runcing. Karapasnya pun cenderung bulat pipih dan warnanya cerah putih kebiruan. Ciri-ciri utama pada kepiting atau rajungan yaitu:

  • Karapasnya sangat menonjol, daripada abdomennya.
  • Cangkang atau karapas bagian depan di kiri dan kanan mata, terdapat 9 duri tajam. Duri pertama di anterior, ukurannya lebih besar daripada 7 duri di belakangnya. Sementara duri ke-9 di sisi karapas adalah duri terbesar.
  • Tubuhnya lebar dan melintang.
  • Abdomennya berbentuk segitiga, tereduksi dan terlipat ke sisi ventral karapas. Di mana rajungan jantan segitiga abdomennya meruncing, sedangkan pada betina segitiga abdomennya melebar karena berfungsi sebagai tempat menyimpan telur-telur.
  • Bagian depan di antara kedua tangkai matanya, terdapat 6 duri.
  • Memiliki capit yang agak pendek dan kasar.
  • Capit kanan lebih besar daripada capit yang kiri.
  • Di kedua ujung capit berwarna kemerahan.
  • Capit pada kepiting jantan dewasa berukuran lebih besar, daripada betina dewasa yang seumuran dan seukuran tubuhnya.
  • Capit pada kepiting bakau jantan, panjangnya hampir 2x lipat dari panjang karapasnya.
  • Memiliki 4 gigi triangular di lengan bagian depan.
  • Memiliki 5 pasang kaki jalan. Pasangan kaki pertamanya berfungsi menjadi capit, yang bertugas memegang dan memasukkan makanan ke mulutnya. Pasangan kelima berfungsi sebagai kaki perenang atau pendayung, yang tereduksi dan tersembunyi di balik abdomen. Sedangkan pasangan kaki yang lainnya hanya sebagai kaki jalan. Akan tetapi, pada rajungan betina, kaki perenang juga berfungsi sebagai pemegang dan inkubasi telur.

Rajungan dan kepiting memiliki beberapa persamaan, sehingga keduanya sering disamakan, di antaranya sebagai berikut:

  1. Berasal dari 1 famili yang sama, yakni Portunidae.
  2. Memiliki karapas dengan pinggir/tepian samping depan yang bergigi sebanyak 9 gigi.
  3. Memiliki abdomen yang terlipat ke depan di bagian bawah karapasnya. Selain itu, baik rajungan maupun kepiting, memiliki perbedaan abdomen antara yang jantan dengan betina. Abdomen jantan cenderung sempit dan meruncing ke arah depan. Abdomen betina justru melebar membulat, penuh dengan embelan, karena berfungsi untuk menyimpan telur.
  4. Memiliki cara berkembang biak yang sama yakni bertelur. Kemudian, ketika sudah dibuahi, telur disimpan dalam lipatan abdomen.

Tetapi, selain itu ada beberapa perbedaan utama antara rajungan dengan kepiting, di antaranya sebagai berikut:

Banyak yang menganggap bahwa rajungan adalah kepiting, atau kepiting merupakan rajungan. Rajungan dan kepiting memang memiliki beberapa kesamaan, salah satunya adalah sama-sama berasal dari 1 famili yang sama, yakni Portunidae. Akan tetapi, rajungan dan kepiting juga memiliki perbedaan yang mendasar. Baik persamaan dan perbedaan di antara keduanya, sudah diulas dalam artikel sebelumnya tentang “Mengenal dan Budidaya Rajungan”. Nah, jika ingin tahu lebih lanjut tentang anatomi tubuh rajungan maka berikut pembahasannya.

Ciri-ciri Rajungan

Rajungan ‘sendiri’ memiliki ciri-ciri yang bisa kita amati, di antaranya:

  • Karapasnya memiliki bentuk bulat dan pipih, warnanya pun menarik.
  • Di karapasnya terdapat 9 duri di bagian/sisi belakang matanya.
  • Total kakinya ada 5 pasang.
  • Sepasang kaki capit yang menjadi pemegang dan alat untuk memasukkan makanan ke mulutnya.
  • Tiga pasang kaki sebagai alat berjalan.
  • Sepasang kaki terakhir, yang pipih dan strukturnya seperti dayung. Kaki-kaki inilah yang digunakan untuk berenang.
  • Lebar karapasnya sekitar 2x panjang karapasnya.
  • Lebar karapasnya maksimal 20 cm. Rajungan jantan pada umumnya, memiliki karapas dengan lebar 14 cm.
  • Memiliki permukaan yang kasar, dengan tekstur granulosa.
  • Memiliki 9 gigi atau duri di sepanjang sisi depan karapasnya.
  • Gigi/duri terakhir, lebih memanjang daripada gigi lainnya.
  • Ukuran rajungan jantan lebih besar dibandingkan yang betina.
  • Rajungan jantan warnanya biru dan putih atau abu-abu.
  • Rajungan betina warnanya hijau kusam.
  • Tutup perut betina akan lebih besar dan lebih bundar, daripada yang jantan.
  • Tutup perut betina saat dewasa, warnanya akan berubah dari putih menjadi biru pucat.
Baca juga :  Mushroom Adalah Jamur : Semua Pasti Tahu !

Kemudian, jika ingin membedakan mana yang rajungan jantan dan mana yang betina, maka ada beberapa parameter yang bisa diamati dari ciri-ciri tubuhnya, di antaranya:

Beralih dari ciri-ciri rajungan agar dapat membedakan dengan kepiting, berikut pembahasan lain soal rajungan yang juga perlu untuk diketahui.

Jenis Rajungan

Ada 4 jenis rajungan yang dapat dimakan atau disebut edible crab, yakni rajungan (Portunus pelagicus), rajungan bintang (P. sanguinolentus), rajungan karang (Charybdis feriatus) dan rajungan angin (Podopthalmus vigil).

Tetapi secara garis besar, ada beberapa jenis rajungan, di antaranya:

  • Rajungan angin / Podophthalmus vigil

Rajungan angin hidup di laut terbuka sampai kedalaman 70 meter. Rajungan angin memiliki mata yang bertangkai sangat panjang dan bisa direbahkan.

  • Rajungan karang / Charybdis cruciata

Memiliki warna khas cokelat kemerah-merahan dan ada gambar menyerupai salib yang nampak samar-samar di bagian punggungnya.

  • Rajungan / Portunus pelagicus
  • Rajungan hijau / Thalamita crenata
  • Rajungan batik / Charybdis natator
  • Rajungan hijau / Thalamita danae
  • Rajungan bintang / Portunus sanguinolentus

Memiliki bintik merah cokelat di bagian punggungnya. Rajungan bintang berukuran lebih kecil daripada jenis P. pelagicus. Rajungan bintang hidup di laut terbuka, dari tepi pantai sampai kedalaman > 30 meter.

Fakta Rajungan

Ada beberapa fakta tentang rajungan yang juga perlu diketahui, yaitu sebagai berikut:

  1. Rajungan biasanya diekspor dalam bentuk beku, tanpa kelapa dan kulit. Selain itu, rajungan juga diekspor dalam bentuk olahan yakni yang sudah dikalengkan.
  2. Menurut data, 60% rajungan Indonesia di ekspor ke Amerika. Sedangkan sisanya, diekspor ke Jepang, Singapura dan beberapa negara di Eropa.
  3. Harga jual rajungan bisa sampai Rp 30.000 – 50.000,-/kg daging.
  4. Rajungan segar dijual Rp 27.500 – Rp. 30.000,-/kg. Sedangkan rajungan dalam bentuk kemasan yang sudah diolah dijual seharga Rp 300.000.-/kg, tergantung mutu dan kualitasnya.
  5. Rajungan biasa ditangkap dengan beberapa alat seperti:
  • Bubu hanyut –> berukuran 80 x 60 cm, dioperasikan selama 24 – 48 jam
  • Jaring insang –> jenisnya bermacam-macam, seperti jaring insang hanyut, tetap, lingkar, klitik dan tramel net.
  • Pukat pantai
  • Trawl
  1. Rajungan memiliki kebiasaan berenang, sehingga sering digolongkan sebagai hewan perenang aktif. Tetapi, kadang kala rajungan tidak aktif berenang. Rajungan akan menguburkan diri dalam sedimen pasir. Sehingga hanya akan terlihat matanya, antenanya nampak di permukaan dasar laut dan ruang insangnya akan terbuka.
  2. Rajungan dengan lebar karapas 95 – 228 mm merupakan ukuran yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
  3. Rajungan terdiri dari 20 – 25% daging yang dapat dimakan dan 50 – 60% sisanya adalah limbah/buangan.
  4. Rajungan tangkapan dari perairan pantai, biasanya memiliki lebar karapas 8 – 13 cm dan berat sekitar 100 gram. Sedangkan jika menangkap rajungan dari perairan yang lebih dalam lagi, maka akan mendapati rajungan berukuran lebar karapas 12 – 15 cm dan berat sekitar 200 gram.
  5. Menurut Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/MEN-KP/1/2015 tentang Penangkapan Lobster (Panulirus ), Kepiting (Scylla spp.) dan Rajungan (Portunus spp.), menyatakan bahwa rajungan yang boleh ditangkap adalah yang beratnya lebih dari 55 gram.
  6. Limbah rajungan berupa 57% cangkang dan 3% body reject.

Kemudian, selain melihat fakta rajungan, tentunya kehidupan rajungan juga baik untuk diketahui, terutama jika ingin membudidayakannya.

Kehidupan Rajungan

Habitat asli rajungan ada di perairan, dengan pasang surut yang berpasir, berlumpur dan terdapat rumput laut. Habitat rajungan di alam ialah di pantai dengan substrat pasir, pasir berlumpur, pulau berkarang serta dekat permukaan laut dengan kedalaman 1 – 65 meter. Rajungan mampu hidup pada perairan kedalaman 50 meter. Habitat asli rajungan sangat beragam. Rajungan bisa hidup di daerah pantai bersubstrat pasir, bercampur rumput laut di pulau karang maupun di laut terbuka. Rajungan juga biasa berenang ke dekat permukaan, sehingga bisa ditemukan di kedalaman 1 – 65 meter.

Ketika rajungan sedang diam atau tidak aktif atau tidak melakukan pergerakan, mereka akan merendamkan diri di dasar perairan sampai kedalaman 3 – 5 meter, serta membenamkan diri dalam pasir daerah pantai berlumpur, hutan bakau dan batu karang.

Awalnya, rajungan akan hidup di daerah estuaria. Lalu, mereka akan bermigrasi ke perairan dengan salinitas lebih tinggi, untuk menetaskan telurnya. Jika sudah menjadi rajungan muda, lalu mereka akan kembali ke estuaria.

Kemudian, tingkat mortalitas pada budidaya rajungan cukup tinggi. Terutama terjadi saat moulting pada rajungan, karena tidak tersedia shelter, sehingga rajungan yang sedang mengalami moulting akan dengan mudah dimangsa rajungan lain.

Rajungan akan menjadi dewasa setelah berusia 1 tahun. Di umur 12 bulan, lebar karapas rajungan bisa mencapai 90 mm. Rajungan baik yang jantan maupun yang betina, akan matang seksual saat ukuran lebar karapasnya 7 – 9 cm atau berusia sekitar 1 tahun.

Pada fase larva, rajungan adalah pemakan plankton. Kemudian, semakin besar tubuhnya atau semakin tua umurnya, rajungan menjadi omnivora.

Baca juga :  Cara Menanam Bayam Cabut : 5 Tahap Yang Harus Di Lalui

Selama hidupnya, rajungan akan terus berganti kulit, bisa sampai 20x berganti. Sepanjang hidupnya, rajungan mencapai ukuran lebar karapas maksimal 18 cm. Pada suhu lingkungan yang relatif tinggi, interval moulting akan lebih pendek. Sehingga, pertumbuhan rajungan akan lebih cepat dan keseragaman ukuran pun tercapai.

Pertumbuhan lebar karapas rajungan jantan lebih cepat daripada si betina. Hal ini dikarenakan aktivitas makan rajungan jantan yang lebih tinggi daripada si betina. Tak hanya itu, rajungan betina membutuhkan energi untuk proses perkembangan gonad. Karena itu, aktivitas makan rajungan betina akan menurun dan bahan material dalam tubuhnya, di antaranya kalsium, akan digunakan untuk proses pembentukan cangkang telur.

Tingkat perkembangan rajungan, berdasarkan lebar karapasnya, dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:

  1. Juwana –> memiliki lebar karapas 20 – 80 mm
  2. Remaja –> memiliki lebar karapas 70 – 150 mm
  3. Dewasa –> memiliki lebar karapas 150 – 200 mm

Secara garis besar, siklus hidup rajungan dimulai dari zoea –> megalopa –> juvenil –> young adults –> mating/mature –> spawning and barried females.

  • Fase Zoea : biasanya hidup di perairan dangkal. Di mana, mereka akan tumbuh dan bermetamorfosis selama kurang lebih 6 minggu. Zoea belum bisa berenang, sehingga pergerakan mereka dipengaruhi angin dan arus perairan. Fase zoea adalah fase dengan angka mortilitas yang tinggi, karena dimangsa ikan atau pun ubur-ubur, yang ukurannya lebih besar dari mereka.
  • Fase Megalopa : setelah zoea bermetamorfosis 6 minggu, mereka akan berkembang menjadi megalopa. Megalopa biasanya hidup di perairan dasar estuary.
  • Fase juvenil crabs : setelah sukses menjadi megalopa, mereka akan berkembang lagi menjadi juvenil. Pada fase juvenil crabs inilah, mereka memiliki bentuk rajungan sejati, dengan lebar karapas 3 – 6 cm.
  • Fase young adults : juvenil crabs lalu mulai dewasa, dengan lebar karapas sekitar 9 cm.

Kematangan Gonad dan Fekunditas

Tingkat kematangan gonad menjadi tahap perkembangan gonad saat sebelum dan sesudah rajungan mengalami pemijahan. Tingkat kematangan gonad akan sangat diperlukan, untuk menentukan dan mengetahui jumlah rajungan yang sudah matang gonad di perairan, ukuran pertama kali mengalami matang gonad serta jumlah pemijahan yang dilakukannya selama setahun. Rajungan akan mulai matang gonad pada saat musim panas tiba, yang ditandai dengan moulting.

Pengamatan gonad secara morfologi, dilakukan dengan mengamati bentuk, ukuran panjang dan berat, warna serta perkembangan isi gonad.

Tingkat kematangan gonad dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. Faktor internnya seperti umur, ukuran dan sifat fisiologis dari seekor rajungan. Kemudian faktor eksternalnya seperti keadaan lingkungan dan hormonnya.

Pertumbuhan gonad akan sebanding dengan meningkatnya berat dan ukuran, sampai tercapai tingkat maksimum saat pemijahan terjadi. Akan tetapi, nilai IKG rajungan betina lebih besar daripada pejantannya. Karena, struktur gonad rajungan betina lebih padat, dengan massa yang lebih kompak, daripada gonad pejantan.

Berikut Tingkat Perkembangan Gonad (TKG) pada rajungan jantan

Sementara Tingkat Perkembangan Gonad (TKG) pada rajungan betina adalah sebagai berikut:

Fekunditas merupakan total telur matang yang siap untuk dilepaskan selama proses pemijahan. Di mana, fekunditas pada rajungan akan berkorelasi dengan lebar karapasnya. Semakin lebar karapas pada rajungan, maka akan semakin banyak pula telur yang dihasilkan.

Rajungan mampu menghasilkan telur 900.000 – 1.000.000 butir, dalam sekali pemijahan. Akan tetapi, telur yang mampu bertahan sampai fase zoea hanya sekitar 75%.

Rajungan akan mengeluarkan telurnya secara bertahap. Karena, ada telur sisa pada rajungan fase barried female, meskipun si betina sudah siap melepaskan telur yang telah dibuahi.

Pemijahan Rajungan

Musim pemijahan pada rajungan, akan mengalami puncaknya di musim barat bulan Desember, dengan musim peralihan pertama pada bulan Maret, musim timur bulan Juli serta musim peralihan kedua bulan September. Selama pemijahan, rajungan betina akan memilih substrat berpasir, sehingga mereka akan pergi ke daerah berpasir.

Telur yang sudah dibuahi, akan melekat pada lipatan abdomen bersama pleopoda di tubuh rajungan betina dewasa. Seekor rajungan saja, sudah mampu menetaskan telurnya menjadi lebih dari sejuta ekor larva. Rajungan betina dewasa dengan panjang karapas 160 mm, mampu menghasilkan 2.000.000 butir telur. Sedangkan yang panjang karapasnya 220 mm, mampu menghasilkan sampai 4.000.000 butir telur.

Terlepas dari bagaimana kehidupan rajungan, maka yang selanjutnya juga perlu diketahui adalah tentang daging rajungan untuk konsumsi.

Kandungan Gizi Rajungan

Berikut adalah kandungan zat kimia pada daging rajungan beserta cangkangnya yang masih menyatu.

Rajungan mengandung protein yang cukup tinggi. Untuk itu, limbah padat rajungan memiliki kemungkinan mengandung protein yang masih tinggi juga. Limbah tersebut berupa cangkang dan kaki, yang keduanya juga mengandung kalsium yang cukup tinggi.

Rajungan termasuk ke dalam kategori hasil perikanan dengan kandungan lemak medium yaitu 2 – 5%. Berikut adalah perbandingan beberapa kandungan antara daging rajungan dengan kepiting.

Cangkang menjadi bagian paling keras dari semua bagian tubuh rajungan. Cangkang rajungan mengandung beberapa zat seperti kitin sebanyak 20 – 30%, protein, CaCO3, sedikit MgCO3 dan pigmen astaxanthin. Cangkang rajungan mengandung mineral terutama kalsium 19,97% dan fosfat 1,81%. Akan tetapi, pemanfaatan cangkang rajungan masih kurang optimal. Cangkang rajungan biasanya dimanfaatkan sebagai campuran untuk pakan ternak. Padahal, zat kitin yang juga terkandung dalam cangkang, bisa dimanfaatkan untuk banyak bidang kehidupan, seperti pertanian, kesehatan dan farmasi, tekstil, kosmetik, penanganan air limbah serta pada teknologi pangan yaitu sebagai edible coating.

Whey adalah air rebusan rajungan, yang memiliki aroma rajungan cukup kuat. Maka dari itu, whey berpotensi dijadikan bahan dasar pembuatan kerupuk.

Baca juga :  Mengenal dan Budidaya Kerang Hijau

Mutu dan Kualitas Rajungan

Dalam urusan perdagangan rajungan, mutu dan kualitas pastinya akan menjadi sangat penting, karena menyangkut nilai ekonomisnya.

Seperti halnya dengan hasil perikanan lainnya, rajungan yang berkualitas tinggi akan memiliki aroma yang tidak tajam, permukaan kulit yang bersinar bersih atau tidak keruh/kotor, lalu jika dagingnya dipotong akan terlihat segar atau tidak kering.

Rajungan yang masih segar akan memiliki aroma harum yang khas, tubuhnya bersih tanpa cacat, dagingnya yang putih mengandung lemak kuning yang bebas dari pengawet kimia, rasanya manis khas rajungan.

Rajungan yang kualitas mutunya rendah atau tidak segar lagi, akan memiliki aroma busuk, warna dagingnya akan berubah, dagingnya mengering karena sudah tidak ada cairan dalam kulit, kulitnya sudah terbuka dan mulai merenggang, daging lembek, warna daging kekuningan serta rasa khasnya yang hilang/berkurang karena rongga-rongga yang terbentuk pada daging.

Penurunan mutu rajungan bisa disebabkan oleh penyimpanan suhu yang terlalu tinggi atau pun terlalu rendah, hidup terlalu lama dalam bubu penangkapan atau pun karena didiamkan kontak langsung dengan oksigen di udara setelah ditangkap selama beberapa jam.

Rajungan adalah salah satu produk perikanan yang sebagian besar tubuhnya bisa dikonsumsi. tidak hanya tubuh/badannya (perutnya) saja, bahkan capit, kaki serta karapasnya pun bisa dikonsumsi. Maka, agar daging rajungan aman dikonsumsi, mutu dan kualitasnya pun harus diperhatikan.

Salah satu hal yang tak luput dari mutu dan kualitas rajungan adalah grade. Yakni rajungan dikelaskan berdasarkan parameter tertentu.

Menurut Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, daging rajungan sebagian besarnya ada di badan dan capitnya. Tetapi, daging rajungan juga ada di bagian kaki dan capit. Sehingga, ada mutu (grade) untuk daging rajungan, yakni sebagai berikut:

  1. Super atau daging jumbo –> daging pada badan bagian bawah yang dekat kaki renang dan berupa gumpalan putih yang besar.
  2. Reguler –> daging bagian badan berupa serpihan di sekat rongga badan yang warnanya putih.
  3. Daging merah atau claw meat –> daging yang warnanya putih kemerahan, daging yang diambil adalah bagian kaki dan capit rajungan.

Sedangkan untuk rajungan yang dikalengkan, ada beberapa grade dalam pengkelasannya, yaitu:

Kemudian, ada beberapa persoalan yang sempat mengganggu ekspor rajungan di Indonesia. Indonesia sendiri, sudah mampu menguasai pasar kepiting dan rajungan di Amerika sampai dengan 31% dan sudah lebih dari 90% rajungan kalengan diekspor. Indonesia menjadi negara pemasok terbesar kedua pada pasar kepiting dan rajungan dunia. Akan tetapi, pada tahun 2002 -2013 lalu, ada penurunan dalam volume dan nilai impor kepiting dan rajungan ke Amerika, karena alasan mutu dan kualitas. Termasuk Indonesia yang ekspor kepiting dan rajungannya ke Amerika, pernah ditolak oleh United States Food and Drug Administration (USFDA). Kasus ekspor kepiting dan rajungan yang ditolak USFDA disebabkan karena adanya chloramphenicol, vetrudges, poisonous dan filthy, dalam olahan kepiting atau rajungan. Kasus chloramphenicol menjadi ancaman terbesar dalam produktivitas kepiting dan rajungan di Indonesia. Residu chloramphenicol dalam daging yang dikonsumsi manusia, bisa menyebabkan kematian terutama pada penderita anemia maupun leukimia, serta neuritis perifer dan neuritis optic. Zat chloramphenicol sendiri merupakan antibiotik yang penggunaannya luas dalam membunuh bakteri. Antibiotik dan beberapa obat-obatan, biasanya akan digunakan dalam budidaya hewan, agar serangan mikroba maupun bakteri yang bisa membuat kepiting dan rajungan sakit, bisa dikendalikan dan atau dikurangi.

Berikut adalah data jumlah ekspor kepiting dan rajungan di Indonesia.

Budidaya Rajungan

Rajungan dapat hidup di perairan dengan salinitas 32 – 34 ppt. Salinitas optimal untuk pertumbuhan rajungan sekitar 27 – 32 ppt. Tetapi, sebenarnya rajungan masih bisa bertahan pada perairan dengan salinitas 9 – 39 ppt. Rajungan fase megalopa dan crablet, dapat dibudidayakan di tambak dengan salinitas 36 ppt.

Untuk penetasan telur rajungan, bisa dalam bak beton bervolume 1 ton. Setelah menetas, angkat dan pindahkan induk rajungan pada bak induk. Sementara larva (dari tetasan telur), dipindahkan ke dalam bak khusus pemeliharaan larva. Berikan pakan alami untuk larva, yaitu rotifer dan nauplii artemia serta pakan buatan komersil.

Bibit rajungan yang berbeda induknya, bisa dipelihara bersama dalam tambak. Tetapi, sebelum bibit ditebar, masukkan rumput laut yang berfungsi sebagai shelter, ke dalam tambak sebanyak 1 kg/m2. Tebar bibit rajungan ± 1 induk/m2. Berikan ikan runcah kering 2% dari berat rajungan untuk pakan setiap harinya.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.