Mengenal dan Budidaya Kopi

Jika ditanya tahukah Anda akan “Kopi”? Pastinya, semua orang tahu apa itu kopi. Kopi sudah menjadi minuman kedua setelah air mineral (air bening) atau mungkin minuman ketiga setelah air mineral dan teh. Kopi murni biasanya berwarna hitam, baik saat masih bubuk maupun ketika sudah diseduh dengan air. Nah, di artikel ini dan beberapa artikel ke depan, akan dibahas tentang apa dan bagaimana kopi.

Sejarah Kopi

Berikut track record kopi dalam perkebunan dunia:

  1. Kopi disebut-sebut berasal dari Afrika, tepatnya daerah pegunungan Etiopia, yaitu sekitar 3000 tahun yang lalu atau 1000 Sebelum Masehi.
  2. Justru kopi dikenal dunia setelah berkembang pesat di Yaman, tepatnya bagian selatan Arab, melalui pedagang Arab.
  3. Kopi masuk ke Indonesia dengan dibawa para anggota VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), terutama Henricus Swaardecroon (Komisaris VOC di Malabar-Sri Langka) sekitar tahun 1696.
  4. Tahun 1696 kopi arabika pertama ditanam di Indonesia, tepatnya di kebun Kedawung Batavia, Jakarta. Di antaranya di Bidaracina, Jatinegara, Palmerah dan Kampung Melayu.
  5. Tahun 1711, kopi diekspor oleh VOC ke Amsterdam dengan harga 6,47 gulden/kg.
  6. Tahun 1725, VOC memonopoli perdagangan kopi nusantara.
  7. Tahun 1793, perkebunan kopi di Batavia sudah mampu mengekspor 86.000 pikul kopi.
  8. Tahun 1817, Kebun Raya Bogor diresmikan. Sehingga, kopi di Indonesia semakin berkembang.
  9. Tahun 1831 – 1877, sistem tanam paksa Belanda oleh Gubernur Johannes Graaf van den Boscch, menghasilkan kopi yang hasil penjualannya digunakan untuk membayar hutang Belanda sebesar 12 juta gulden.
  10. Tahun 1840, Jawa telah menghasilkan lebih dari 1 juta karung kopi.
  11. Tahun 1875, semua kopi arabika di dataran rendah terserang karat daun.
  12. Tahun 1900, masuklah kopi robusta (era baru robusta) di Indonesia, terutama pada dataran rendah.
  13. Awalnya, kopi diproduksi di Jawa. Kemudian, karena dipandang menguntungkan dan semakin berkembang, maka kopi menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.
  14. Awalnya, di Indonesia kopi adalah minuman yang mampu menyegarkan badan. Yakni biji kopi diolah menjadi kopi bubuk, lalu diseduh dengan air panas. Karena itulah, perkembangan kopi terbilang lambat.

Fakta Kopi

Kopi si minuman teman begadang, memiliki banyak fakta di balik cita rasa dan aromanya, di antaranya adalah:

  1. Konsumsi kopi dunia yang terbesar yaitu kopi arabika 70%, kopi robusta 26% dan 4% sisanya jenis kopi lainnya.
  2. Kopi adalah minuman berkafein tinggi. Sebut saja kafein pada kopi robusta 2,2% dan 1,2% dalam kopi arabika.
  3. Tanaman kopi memiliki sekitar 60 spesies di dunia.
  4. Sampai sekarang, sudah ada lebih dari 80 varietas kopi di dunia.
  5. Produktivitas kopi di Indonesia masih jauh lebih rendah, daripada negara penghasil kopi utama dunia, yakni Siere Loene, China dan Vietnam. Hal ini disebabkan karena kualitas bibit kopi yang dibudidayakan di Indonesia masih terbilang rendah. Bibit kopi di Indonesia, sebagian besarnya tidak memiliki kualitas yang seragam, yang diakibatkan oleh penyerbukan silang.
  6. Pada tahun 2014, data FAO menyebutkan bahwa Indonesia berada di urutan ke-39 dari 77 negara penghasil kopi dunia.
  7. Konsumsi kopi di Indonesia sekitar 3,3 million bags atau 0,9 kg/kapita/tahun.
  8. Indonesia menjadi negara produsen kopi robusta dengan pangsa 20% dari ekspor kopi robusta di dunia.
  9. Lampung, Sumatera Selatan dan Bengkulu adalah daerah penghasil kopi robusta utama di Indonesia.
  10. Menurut International Coffee Organization, ada 5 negara produsen kopi terbesar di dunia pada tahun 2016 – 2017, berturut-turut beserta produksinya (dalam ribu kantong, per 60 kg) ialah Brasil 55.000, Vietnam 25.500, Kolombia 14.500, Indonesia 11.491 dan Etiopia 6.600. Sedangkan 5 negara eksportir kopi terbesar di dunia (pada data 2016 – 2017), berturut-turut beserta produksinya (dalam ribu kantong, per 60 kg) ialah Brasil 34.500, Vietnam 23.200, Kolombia 12.800, Indonesia 6.891 dan Honduras 5.589.
  11. Indonesia menjadi negara importir kopi terbesar ke-4 di ASEAN. Tetapi juga menjadi negara eksportir terbesar ke-2 di ASEAN.
  12. Indonesia menjadi negara eksportir kopi terbesar di dunia pada urutan ke-4, dengan rerata ekspor sebanyak 471.240 ton kopi (selama 2011 – 2015).

Taksonomi Tanaman Kopi

Tanaman kopi sendiri memiliki nama latin coffea. Berikut tanaman kopi dalam sistem taksonomi.

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Sub divisi        : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Ordo                : Rubiales

Famili              : Rubiaceae

Genus              : Coffea

Spesies            : Coffea arabica, Coffea robusta, Coffea liberica, Civet Coffe

Ciri-ciri Tanaman Kopi

Tanaman kopi memiliki ciri-ciri atau morfologi yaitu sebagai berikut:

  1. Tinggi tanaman bisa sampai 12 meter.
  2. Batangnya tumbuh tegak. Batangnya memiliki 2 tipe percabangan atau disebut dengan dimorfisme. Pertama, cabang orthotrop, yang merupakan cabang batang yang tumbuhnya tegak lurus. Kedua, cabang plagiotrop, yang merupakan cabang batang yang tumbuhnya ke samping (tegak horisontal), sehingga menjadi tempat tumbuhnya bunga maupun buah.
  3. Bunga mulai tumbuh setelah tanaman berumur sekitar 2 tahun. Bunga kopi akan tumbuh dari ketiak daun pada cabang plagiotrop. Bunga kopi memiliki tangkai berukuran 1 mm, tersusun dalam kelompok di mana ada 3 – 5 kuntum bunga pada setiap kelompok, kelopaknya sedikit melengkung, warnanya hijau, mahkotanya ada 5 – 7 buah; dengan panjang 15 – 18 mm; lebar 2 – 3,5 mm; berwarna putih serta berbau harum. Selain itu, bunga kopi memiliki putik dan benang sari. Di mana putiknya, memiliki tangkai yang kecil dan panjang serta menjulang jauh di luar tabung mahkota dengan 2 cabang berukuran 5 mm. Sedangkan benang sarinya, ada 5 – 7 helai, ukurannya kecil, panjang kepala sari sekitar 5 mm dan tangkai sarinya 3 – 4 mm.
  4. Buah kopi berbentuk bulat, seperti kelereng. Diameter buah berukuran sekitar 1 cm.
  5. Kulit kopi, saat muda berwarna hijau. Lalu saat tua, warnanya kuning. Kulit kopi akan berwarna merah jika sudah masak.
  6. Buah kopi memiliki biji di dalamnya, yang warnanya cokelat kehijauan.
  7. Buah kopi terdiri dari kulit buah, daging buah, lapisan lendir, kulit tanduk serta kulit ari.
  8. Biji kopi memiliki lapisan kulit luar, berupa kulit ari yang sangat tipis. Bagian dalam biji kopi adalah endospermae, yang memiliki belahan tepat di tengah buah.
  9. Daunnya berwarna hijau, permukaannya licin dan mengkilap, panjangnya 15 – 40 cm, lebarnya 7 – 30 cm, memiliki tangkai daun berukuran 1 – 1,5 cm, memiliki 10 – 12 pasang urat daun yang pangkal daunnya tumpul dan ujungnya runcing, tepi daun berombak daun urat daunnya tenggelam, permukaan daun tampak berlekuk-lekuk serta tumbuh berhadapan pada batang, cabang dan ranting-ranting.
Baca juga :  11 Manfaat Sayur Bayam Dan Efeknya Sampingnya

Jenis-jenis Kopi

Ada 2 jenis kopi yang sangat terkenal, baik di Indonesia maupun dunia, yaitu kopi arabika dan robusta. Untuk pembahasan tentang kopi robusta, arabika dan liberika, akan diulas pada artikel selanjutnya. Selain itu, ada jenis kopi yang lainnya, yakni:

Kopi Hibrida

Jika mendengar kata “hibrida” pastinya yang ada di benak Anda adalah “perkawinan silang”. Ya, kopi hibrida adalah anak atau turunan pertama dari perkawinan 2 spesies, sehingga nantinya akan memiliki sifat unggul dari kedua induknya. Biasanya, kopi hibrida dikembang biakkan dengan cara stek atau sambung pucuk.

Kopi Luwak

Merupakan kopi yang bijinya dihasilkan dari proses pencernaan hewan luwak. Awalnya, luwak memakan buah kopi. Buah kopi yang telah dimakan lalu melewati saluran pencernaannya dan keluar melalui fesesnya. Tetapi yang perlu diingat adalah luwak tidak sembarangan dalam memakan buah kopi. Luwak pintar memilih buah kopi yang matang sempurna. Biji kopi yang keluar dari feses luwak, masih terlindungi kulit biji yang keras. Karena, kulit tersebut tidak bisa dicerna oleh saluran pencernaan luwak. Dari hal itu juga, sekarang sudah banyak luwak yang sengaja diternakkan, untuk menghasilkan kopi luwak. Kopi luwak disebut-sebut memiliki rasa yang enak, yang bisa menandingi kopi robusta atau pun arabika. Kopi luwak pun mengantongi harga jual yang lebih tinggi daripada kopi robusta dan arabika.

Kopi Khas Indonesia

Indonesia yang kaya akan hasil alamnya pun memiliki beragam jenis kopi nusantara dengan karakteristiknya masing-masing. Sebut saja kopi toraja atau kopi lintong. Ada beberapa nama kopi arabika spesiality Indonesia yang terkenal di pasaran. Di antaranya adalah kopi Lintong, Mandheling, Gayo Mountain, Toraja, Kalosi, Kintamani Bali, Flores-bajawa, Baliem Highland (Papua Wamena), Java Estate, Java Preanger, Java ‘kopi luwak’ Arabika dan Sumatera ‘kopi luwak’ Arabika.

Kopi robusta Toraja harganya sampai Rp 150.000/kg, sedangkan arabika Toraja mencapai Rp 200.000/kg kopi kering. Untuk kopi robusta Lampung dijual Rp 50.000 – 60.000/kg dan Rp 100.000/kg kering kopi arabika Lampung. Kopi Gayo Aceh dijual Rp 145.000 – 200.000/kg kering.

Beralih dari jenis-jenis kopi, masih ada ulasan lain tentang kopi yang akan dibahas seperti berikut.

Budidaya Tanaman Kopi

Syarat Tumbuh Tanaman Kopi

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, untuk mendukung dan mengoptimalkan pertumbuhan serta perkembangan tanaman kopi, di antaranya:

  1. Tumbuh baik di ketinggian lebih dari 700 m dpl, terutama jenis kopi robusta. Kopi arabika akan memiliki cita rasa yang baik jika ditanam pada ketinggian lebih dari 1000 m dpl. Jika kopi robusta ditanam di ketinggian 300 – 900 m dpl, maka kopi arabika ditanam di tanah mineral ketinggian > 1000 m dpl, sedangkan kopi liberika di tanah gambut lahan pasang surut maupun tanah mineral yang dekat dengan permukaan laut.
  2. Curah hujan 1500 – 3500 mm/tahun, dengan rata-rata 1 – 3 bulan kering dan suhu rata-rata 15 – 25
  3. Berikan tanaman penaung untuk menaungi tanaman kopi, bisa penaung sementara maupun penaung tetap. Tanaman penaung ditanam ± 1 tahun sebelum menanam bibit kopi. Meski demikian, tanaman penaung harus memiliki perakaran yang dalam, percabangan yang mudah diatur, ukuran daun kecil sehingga tidak mudah rontok dan memberi cahaya menyebar pada tanaman kopi, termasuk keluarga leguminosa dan berumur panjang, mampu menghasilkan banyak bahan organik, tidak menjadi inang atau HPT bagi tanaman kopi serta tidak menghasilkan senyawa yang bersifat alelopati. Selain itu, tanaman penaung harus memiliki tajuk yang tidak terlalu rimbun dan mampu meneruskan cahaya, sebaiknya merupakan jenis tanaman asli setempat serta sudah dipangkas dan segera pulih setelah tajuk dipangkas. Tanaman penaung sementara untuk kopi di antaranya Mogania macrophylla, Leucaena glauca, Crotalari anagyroides, Crotalari usaramoensis, Tephrosia candida, Desmodium gyroides serta Acacia villosa. Sedangkan tanaman penaung tetap yang biasa menaungi tanaman kopi seperti lamtoro, sengon serta dadap. Ada juga penaung tanaman campur, yang biasa ditanam di lahan kopi, di antaranya pohon buah-buahan seperti mangga; nangka; jeruk; cengkeh; terong belanda, dan tanaman sayuran (sebaiknya ditanam sampai tanaman kopi berumur 2 tahun) seperti: cabe; tomat; buncis; jagung.
  4. Jangan pernah mencampur tanaman kopi dengan pohon kelapa, pisang, cemara dan eucalyptus. Karena, akarnya berkompetisi dengan akar tanaman kopi (pohon kelapa), menjadi sumber nematoda (pohon pisang) dan kalau pun ingin ditanam jaraknya > 10 meter dengan tanaman kopi (pohon cemara dan eucalyptus).

Pemangkasan Tanaman Kopi

Pemangkasan menjadi salah satu tahapan penting dan sebaiknya jangan dilewatkan dalam pertumbuhan tanaman. Pemangkasan pada tanaman kopi, juga berfungsi sebagai:

  • Pemutus siklus hidup HPT.
  • Pembentuk tajuk tanaman, sehingga seimbang antara daun dan produksi buahnya.
  • Pencegah kelebatan buah dan mati pucuk.
  • Pemberi mulsa untuk tanah. Mulsa di sini akan menjaga kelembaban tanah dan mencegah erosi tanah. Setelah mulsa membusuk pun, akan menjadi pupuk organik yang baik bagi tanah.

Ada 2 macam pemangkasan kopi yang utama dan sebaiknya harus dilakukan, agar pertumbuhan tanaman kopi tidak terganggu, yaitu:

a. Pemangkasan Bentuk

Pemangkasan bentuk dilakukan pada tanaman kopi sebelum berbuah. Pemangkasan bentuk dibagi menjadi 2 yaitu bentuk batang tunggal dan ganda.

b. Pemangkasan Lepas Panen

Pemangkasan lepas panen dilakukan pada tanaman kopi setelah dipanen. Caranya yaitu dengan memangkas cabang yang kering, cabang cacing, cabang balik serta cabang yang sudah berbuah 3 – 5 kali.

Selain itu, tanaman penaung juga perlu dilakukan pemangkasan. Hal itu dimaksudkan agar:

  • Melindungi tanaman kopi, sehingga tidak terlalu lembab dan tidak mudah terserang HPT.
  • Mengurangi kehilangan humus.
  • Mengurangi kematian pucuk karena produksi berlebih.

Tanaman penaung dipangkas pada awal musim hujan dan pembuangan daun penaung dilakukan pada awal kemarau. Saat tanaman penaung berumur 3 – 4 tahun, kelebatan tajuk penaung dikurangi sampai 50%. Karena sebaiknya, tingkat kelebatan tajuk penaung cukup dipelihara 50% per tahunnya.

Memilih Varietas Kopi

Jangan hanya mengejar produktivitas tinggi. Lalu bagaimana memilih varietas atau klon kopi yang akan ditanam? Berikut cara untuk memilih varietas atau klon kopi, yang baik dan benar:

  1. Pilihlah varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan penanaman yang sudah Anda siapkan.
  2. Jika lahan Anda banyak terdapat cacing/nematoda pada akar, sambunglah bibit dengan batang bawah yang lebih tahan nematoda, seperti varietas Robusta BP 308.
  3. Jika Anda ingin memilih varietas Arabika tipe Katai atau pun Komasti, berarti Anda harus siap memupuk dengan dosis yang tinggi dan menanam pohon penaung.
  4. Tetapi jika Anda malas atau jarang memupuk tanaman, berarti pilihlah varietas kopi yang tahan pada kondisi miskin nutrisi, misalnya Arabika varietas Gayo 1 atau S 795.
Baca juga :  Proses Pematangan Buah Dan Sayur Secara Ilmiah

Panen Kopi

Tanaman kopi, mulai menghasilkan buah saat berumur 4 tahun. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan soal pemanenan kopi, di antaranya:

  1. Kopi sebaiknya dipanen saat sudah masak penuh, yakni berwarna merah sampai merah tua. Untuk kopi robusta, sudah bisa dipanen pada usia 8 – 11 bulan, yaitu dari kuncup sampai matang. Sedangkan untuk kopi arabika, bisa dipanen di usia 6 – 8 bulan. Kemudian untuk kopi liberika dan varietas kopi yang ditanam di daerah basah, bisa memproduksi dan memanen buah sepanjang tahun. Sementara untuk kopi yang ditanam di daerah kering, panen hanya dilakukan sekitar bulan Mei/Juni – Agustus/September.
  2. Buah kopi yang sudah masak, akan memiliki daging yang lunak, berlendir dan mengandung gula yang relatif tinggi, sehingga rasanya manis. Tetapi, jika buah kopi sudah terlalu masak (buah berwarna hitam) maka rasa manisnya mulai berkurang, karena sebagian gula dan pektin terurai alami akibat respirasi tanaman.

Jika buah kopi dipanen saat sudah masak, maka akan ada beberapa kelebihan dibanding memanen buah kopi muda (buahnya berwarna hijau atau kuning), yaitu:

  • Mudah diproses pasca panen, karena kulit buah mudah mengelupas.
  • Rendeman hasil lebih tinggi. Yaitu perbandingan berat biji kopi beras per berat buah kopi segar.
  • Biji lebih besar karena sudah matang fisiologis optimum.
  • Waktu pengeringan biji nantinya akan lebih cepat.
  • Mutu fisik biji dan cita rasanya akan lebih baik.
  1. Pemanenan dilakukan secara manual, yakni buah kopi dipetik satu per satu dengan tangan. Sebaiknya, pada akhir masa panen, semua buah kopi dipanen habis (panen rampasan), yang juga bertujuan untuk memutus daur/siklus hidup hama. Buah kopi kering yang sudah jatuh ke tanah, dipanen dan ditempatkan dalam wadah terpisah, atau yang biasa disebut dengan panen lelesan.
  2. Jika kopi sudah dipanen, maka harus sesegera mungkin diolah dan jangan dibiarkan selama lebih dari 12 jam. Jika kopi tidak segera diolah, maka akan terfermentasi secara alami dan terjadi reaksi kimia lainnya, yang keduanya dapat menurunkan mutu kopi. Jika memang setelah panen kopi belum diolah, maka rendamlah dahulu di dalam air bersih yang mengalir.

Pasca Panen Kopi

Secara garis besar, menurut Ciptadi dan Nasution (1985), kopi bisa diolah melalui 2 proses yaitu olah kering dan olah basah.

1. Olah kering (Dry Process)

Proses olah kering pada kopi merupakan tahap pasca panen yang lebih singkat dan sederhana. Maka dari itu, proses olah kering cocok dilakukan para petani yang lahannya tidak luas dan atau kapasitas olahannya kecil. Tetapi, jika Anda memiliki lahan yang luas dan ingin melakukan olah kering, maka tetap saja bisa. Olah kering kopi untuk lahan luas, biasanya dilakukan hanya untuk buah kopi yang warnanya hijau, mengambang atau yang terserang bubuk. Pada umumnya, olah kering kopi setelah panen didahului dengan sortasi atau pemisahan kopi berdasarkan ukuran atau kualitasnya. Kopi lalu dikeringkan di bawah panas matahari, selama 10 sampai 20 hari, tergantung pada cuaca. Kopi lalu dikupas dengan huller atau bisa juga ditumbuk sederhana. Sortasi lagi biji kopi. Biasanya, biji kopi kecil adalah yang tidak lolos ayakan 3 mm. Sedangkan biji kopi besar adalah yang tidak lolos ayakan 5,6 mm. Dari proses olah kering, kopi bisa disimpan dengan berat yang sudah lebih ringan.

2. Olah basah (Wet Process)

Berbeda dengan olah kering, setelah kopi disortasi kemudian dikupas kulitnya, yang biasanya menggunakan pulper. Biji kopi lalu difermentasi, bisa fermentasi basah atau pun kering. Biji kopi lalu dicuci bersih dan kemudian dikeringkan. Barulah biji kopi dikupas untuk memisahkan kulit tanduk. Sortasi lagi biji kopi. Buah kopi yang menggunakan olah basah, umumnya menghasilkan kualitas yang baik dan cenderung seragam. Tetapi, jika pengolahannya tidak tepat, maka bisa saja terjadi kerusakan cita rasa kopi yang menjadi fermented (biji kopi terfermentasi berlebihan).

Kopi dan Penyangraian

Penyangraian adalah proses utama dalam pembuatan kopi bubuk. Penyangraian akan membuat sebagian kecil dari kafein menguap, lalu membentuk komponen lain, seperti aseton, asam asetat, asam formiat, amonia, furfural dan trimethilamin. Penyangraian akan memberi aroma dan cita rasa khas kopi, karena mendapat ‘sentuhan’ panas. Penyangraian dilakukan menggunakan oven, yang dioperasikan secara batch maupun continous. Penyangraian diawali dengan pembuangan uap air ada suhu penyangraian 100 C, kemudian dilanjutkan pirolisis dengan suhu 180 C. Lama penyangraian ditentukan dari warna biji kopi yang disangrai. Semakin lama waktu penyangraian, berarti warna biji kopi sangrai mendekati cokelat tua atau kehitaman. Suhu penyangraian ternyata bisa mempengaruhi nilai keasaman (pH) kopi yang sudah disangrai. Perubahan nilai keasaman pada berbagai suhu, dengan lama penyangraian yang sama yaitu 40 menit adalah:

  • Suhu penyangraian 160 C –> pH menjadi 6,04
  • Suhu penyangraian 180 C –> pH menjadi 6,13
  • Suhu penyangraian 200 C –> pH menjadi 6,88

Kemudian, dilihat dari suhu penyangraian, kopi sangrai dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu:

a. Light roast (penyangraian ringan)

Penyangraian biji kopi menggunakan suhu 193 – 199 C. Kadar air kopi yang dihilangkan sebanyak 3 – 5%. Sebagian warna permukaan biji kopi akan berubah menjadi kecoklatan serta nilai lovibond-nya (L) turun menjadi 44 – 45.

b. Medium roast (penyangraian sedang/biasa)

Penyangraian biji kopi menggunakan suhu 204 C. Kadar air kopi yang dihilangkan sebanyak 5 – 8%. Proses ini akan menurunkan nilai lovibond-nya (L) menjadi 44 – 45.

c. Dark roast (penyangraian gelap)

Penyangraian biji kopi menggunakan suhu 213 – 221 C. Kadar air kopi yang dihilangkan sebanyak 8 – 14%. Warna biji kopi nantinya berubah menjadi kehitaman. Proses ini akan menurunkan nilai lovibond-nya (L) sampai dengan 34 – 35.

Kemudian, komposisi biji kopi arabika dan robusta saat sebelum (green) dan sesudah (roasted) penyangraian.

Baca juga :  Ripening, Buah Klimaterik Dan Non Klimaterik

Beralih dari kopi sangrai, ada hal lain yang juga setidaknya harus tahu dan dipahami, tentang kopi sebagai salah satu minuman (bahan pangan).

Standar Kelayakan Kopi

Agar aman untuk dikonsumsi, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu bahan pangan, termasuk di dalamnya kopi. Berikut persyaratan umum mutu biji kopi.

Sedangkan untuk biji kopi yang disangrai, paling tidak harus memenuhi syarat menurut SNI nomor 01-2983-1992 sebagai berikut:

Kemudian, ada juga standar untuk biji kopi secara umum menurut SNI Nomor 01-2907-2008 yaitu sebagai berikut:

Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi produksi dan mutu dari kopi, di antaranya adalah:

  • Varietas atau klon yang ditanam.
  • Ketinggian tempat/area penanaman kopi. Kopi arabika akan tumbuh baik jika ditanam pada ketinggian > 100 m dpl. Sedangkan kopi robusta akan baik jika ditanam di ketinggian 40 – 900 m dpl. Ketinggian 0 – 40 m dpl, sudah cukup baik untuk pertumbuhan kopi liberika.
  • Pengelolaan lahan kopi. Yaitu harus ada tanaman penaungnya, pemupukan sesuai dosis dan waktu pemberian serta pemangkasan yang tepat (terutama pemangkasan bentuk dan pemeliharaan).
  • Teknik pemanenan kopi, harus tepat. Saat panen, pakailah karung plastik atau terpal, untuk mengindari buah kopi yang jatuh ke tanah. Karena, buah kopi yang tertinggal di atas tanah, bisa menjadi salah satu sumber perkembangbiakkan hama.
  • Perlakuan pasca panen, di antaranya penjemuran, penyimpanan biji kopi kering dan pengolahan lanjutan. Selain itu, limbah pengolahan seperti kulit dan biji kopi yang terserang hama, harus dipendam dalam tanah. Karena, jika limbah tersebut dibuang di kebun, akan menjadi salah satu sumber perkembangbiakkan hama.

Kopi Instan

Awalnya, pada tahun 1906, kopi instan ditemukan oleh warga Inggris yang hidup di Guatemala yaitu G. Washington. Kopi instan sendiri ialah kopi yang mudah larut dalam air, tanpa meninggalkan serbuk atau endapan atau ampas.

Kopi instan menurut SNI 01-2983-1992, merupakan produk kering yang mudah larut dalam air, di mana produk tersebut diperoleh dengan cara mengesktrak biji kopi yang sudah disangrai menggunakan air. Kopi instan merupakan hasil dari pengekstrakan biji kopi, yakni melalui tahap penyangraian, penggilingan, ekstraksi, pengeringan (biasanya menggunakan spray drying atau pun freeze drying) dan diakhiri pengemasan produk. Sehingga, pengolahan kopi instan sangat tergantung dari proses-proses sebelumnya itu. Biji-biji kopi dengan ukuran partikel berbeda, harus disesuaikan saat proses penggilingan, agar proses ekstraksi lebih efisien. Biji kopi yang diharapkan keluar dari proses penggilingan berupa partikel yang agak kasar, bukan yang terlalu halus. Karena, biji kopi gilingan yang terlampau halus, justru akan mengganggu peredaran cairan kopi pada kolom-kolom ekstraksi.

Kopi instan memungkinkan para penikmatnya untuk menyeduh kopi tanpa peralatan lain, selain cangkir dan pengaduk. Maka dari itulah, kopi instan harus sesuai standar mutu yang ditetapkan Badan Standarisasi Nasional. Berikut standar mutu kopi instan menurut SNI Nomor 01-2983-1992.

Manfaat Kopi

Biji kopi mengandung beberapa senyawa seperti kafein, kaffeol, trigonelline, amino acid, alifatik acid, chlorogenat acid, karbohidrat, mineral, komponen volatil dan komponen karbonil. Dari kandungannya, kopi memiliki beberapa manfaat, dengan catatan jika dikonsumsi dalam batas wajar.

  1. Kopi dapat mengurangi resiko diabetes, pembangkit stamina, mengurangi sakit kepala hingga melegakan nafas.
  2. Kopi juga bisa membuat peminumnya sulit tidur. Maka dari itu, kopi sering menjadi “teman” begadang.
  3. Kopi juga bisa menimbulkan jantung yang berdebar-debar. Hal itu disebabkan karena kafein dalam kopi berfungsi meningkatkan denyut jantung.
  4. Kopi mengandung kafein, yang juga berfungsi menstimulasi otak dan sistem syaraf, sehingga setelah meminum kopi, akan ada sensasi kesegaran psikis.
  5. Kafein dalam kopi menjadi stimulan dari sistem syaraf pusat yang mampu meningkatkan kinerja otak. Apalagi, banyak area dan struktur di dalam otak yang bertugas dalam proses belajar dan mengingat.
  6. Serbuk biji kopi juga bisa menjadi masker wajah, yang bisa mengangkat sel-sel kulit mati dan menghilangkan bekas jerawat.

Perkopian Indonesia

Kopi termasuk hasil perkebunan yang potensial di Indonesia. Pada tahun 1980 lalu, areal kopi di Indonesia seluas 707.46 Ha. Kemudian, di tahun 2016, areal kopi sudah meluas lagi menjadi 1.233.294 Ha. Menurut data Ditjen Perkebunan, pada tahun 2014 ada 643.857 ton produksi kopi Indonesia. Di mana seluruh produksi kopi tersebut, berasal dari 1.230.495 Ha perkebunan kopi, dengan rincian 96,19% adalah kebun milik rakyat (PR), 1,99% perkebunan besar milik swasta (PBS) dan 1,82% sisanya adalah milik negara (PBN). Indonesia adalah negara dengan luas tanaman yang menghasilkan kopi terbesar pertama se-ASEAN, yaitu dengan rerata 912.342 Ha atau sekitar 44,39% dari total luas tanaman yang menghasilkan kopi di ASEAN. Selain itu, Indonesia menempati urutan ke-2 sebagai negara dengan luas tanaman yang menghasilkan kopi terbesar di dunia, tepatnya setelah Brazil. Perkebunan kopi di Indonesia ada sekitar 1,24 juta Ha. Di mana 933 Ha adalah kebun kopi robusta dan 307 Ha kebun kopi arabika. Kopi robusta Indonesia, banyak dibudidayakan di Bengkulu dan Lampung (Sumatera) serta Sulawesi Selatan. Sedangkan kopi arabika, lebih banyak dibudidayakan di Aceh dan Sumatera Utara. Pastinya, nama Aceh dan Lampung melambung sebagai daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia.

Pada tahun 2014 produksi kopi Indonesia sudah sebanyak 685.089 ton, dengan rincian daerah produsen yakni sebagai berikut.

Menurut data Dirjen Perkebunan Indonesia, berikut adalah luas areal kopi di 10 provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia.

Kemudian, masih menurut Dirjen Perkebunan, dari 10 provinsi produsen kopi terbesar di Indonesia itu, tercatat jumlah kopi yang diproduksi

Dari provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia, melambungkan nama kopi yang dikenal negara tetangga.

Berikut adalah produksi dan ekspor kopi di Indonesia secara keseluruhan.

Sedangkan yang berikut ini adalah konsumsi domestik kopi di Indonesia dalam 1000 bungkus, dengan masing-masing bungkusnya 60 kg.

Pada tahun 2015, tercatat ada 7 negara sebagai tujuan utama ekspor kopi Indonesia, yaitu dalam bentuk segar dan olahannya.

Pada tahun 2015, tercatat ada 4 negara pengimpor kopi ke Indonesia, yaitu dalam bentuk segar dan olahannya.

Harga dan jumlah konsumsi kopi di pasar dalam negeri.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.