budidaya kopi liberika

Mengenal dan Budidaya Kopi Liberika

Budidaya Kopi Liberika. Kopi adalah salah satu hasil perkebunan yang produktivitas dan permintaannya cukup tinggi. Ada 2 jenis kopi terbesar yaitu arabika dan robusta. Tetapi, selain keduanya, ada kopi liberika, sang penyelamat kopi arabika. Berikut adalah uraian tentang kopi liberika agar kita mengenalinya.

Sejarah Kopi Liberika

  1. Tanaman liberika dahulu pernah diserang penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix, sehingga diganti dengan jenis robusta.
  2. Produksi liberika yang diperdagangkan di dunia kurang dari 1% dari seluruh jenis kopi.
  3. Tahun 1875, liberika didatangkan ke Indonesia.
  4. Tanaman liberika masuk ke Jawa, di mana bibitnya mula-mula dikembangkan di kebun Penelitian Bogor, untuk menggantikan jenis arabika yang rusak terserang Hemileia vastatrix.
  5. Tahun 1885 dihasilkan kawin silang antara kopi jenis liberika dengan arabika, untuk menggantikan arabika yang terserang Hemileia vastatrix. Sehingga, menghasilkan hibrida baru yang lebih resisten terhadap Hemileia vastatrix.
  6. Tahun 1900, Linden mengirimkan robusta ke Jawa, untuk melihat resistensinya terhadap Hemileia vastatrix.
  7. Tahun 1907 hampir seluruh perkebunan liberika di dataran rendah rusak karena Hemileia vastatrix. Sehingga kemudian, pemerintah Belanda menggantinya dengan robusta.
  8. Tahun 1919, di Jawa dan pulau-pulau lain di Hindia Belanda memiliki 142.272 Ha areal perkebunan kopi. Di mana pada lahan seluas 4.940 Ha ditanami kopi jenis liberika.
  9. Dahulu, liberika dibudidayakan dan disenangi petani Indonesia. Tetapi justru kini mulai ditinggalkan. Karena, berat biji kopi kering yang hanya sekitar 10% dari berat biji kopi basah. Selain itu, rendemen bijinya 10 – 12% membuatnya semakin tidak berkembang.
  10. Di Pulau Jawa, kopi liberika populer pada tahun 1880 – 1905.

Kopi Liberika

Merupakan kopi yang berasal dari dataran rendah Monrovia, Liberika. Tanaman kopi liberika tumbuh liar di wilayah Afrika, terutama Afrika Barat. Daerah penyebarannya di Afrika, meliputi wilayah Uganda, Nigeria, Gana, Gambia, Gabon, Faso, Liberia, Burkina, Anggola, Kamerun, Pantai Gading serta Maurtania.

Tanaman kopi liberika penyebarannya sangat cepat serta tetap subur di daerah yang tingkat kelembabannya tinggi dan panas. Buah kopi liberika dan tingkat rendemennya yang rendah, sehingga menjadikannya lebih buruk kualitasnya dibandingkan kopi jenis arabika.

Taksonomi Kopi Liberika

Taksonomi dari tanaman kopi liberika adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Tracheophyta

Sub divisi        : Angiospermae

Kelas               : Magnoliopsida

Ordo                : Rubiales

Famili              : Rubiaceae

Genus              : Coffea

Spesies            : Coffea liberica W. Bull ex Hiern

Varietas           : Coffea liberica var. Liberica

Syarat Tumbuh Tanaman Kopi Liberika

Berikut adalah syarat tumbuh tanaman kopi liberika, yang sebaiknya dipenuhi untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan produksinya.

  1. Ketinggian 0 – 900 m dpl. Tetapi, tanaman liberika masih bisa tumbuh dan berbuah dengan baik di ketinggian 1200 m dpl.
  2. Curah hujan 1250 – 3500 mm/tahun atau optimalnya 1500 – 2500 mm/tahun, dengan bulan kering 3 bulan.
  3. Suhu rata-rata 21 – 30
  4. Dapat tumbuh subur di daerah dengan kelembaban yang tinggi dan panas.
  5. Kemiringan tanah < 30% dan kedalaman efektifnya > 100 cm.
  6. Ditanam pada tanah berlempung sampai tanah berpasir sekali pun, dengan struktur lapisan atas remah.
  7. Tetap bisa tumbuh baik di lahan marjinal, terutama lahan gambut.
  8. Jarak tanam yang dianjurkan 3 x 3 meter atau bisa juga 4 x 2,5 meter.
  9. Sifat kimia tanah yang dianjurkan, yaitu pada lapisan 0 – 30 cm:
  • Bahan organik > 3,5%, kadar C/karbon > 2%
  • Nisbah C/N 10 – 12
  • Kapasitas tukar kation > 15 me/100 g tanah
  • Kejenuhan bassa > 35%
  • pH 4,5 – 6,5
  • Unsur N, P, K, Ca, Mg: cukup sampai tinggi
Baca juga :  Ripening, Buah Klimaterik Dan Non Klimaterik

Ciri-ciri Tanaman Liberika

Berikut dibawah ini adalah ciri ciri tanaman kopi liberika :

  1. Tajuk tanaman tingginya 3,5 – 4 meter, bahkan bisa lebih dari 5 meter.
  2. Cabang primer dalam 1 buku, bisa menghasilkan bunga atau buah lebih dari 1x. Cabang primernya mampu bertahan lebih lama.
  3. Buahnya bulat sampai lonjong dan panjangnya 18 – 30 mm.
  4. Satu buah berisi 2 biji kopi.
  5. Buahnya berukuran lebih besar sekitar 2 – 3 cm, tetapi bijinya kecil.
  6. Daging buahnya tebal.
  7. Bijinya membulat oval, dengan ukuran panjang 0,83 – 1,1 cm atau sekitar 7 – 15 mm dan lebar 0,61 cm.
  8. Bijinya tidak seragam, meskipun tumbuh/berasal dari satu pohon yang sama.
  9. Rendemen biji rata-rata 9,03%.
  10. Daunnya lebat, besar dan mengkilat serta berwarna hijau atau hijau kecokelatan.
  11. Termasuk tanaman menyerbuk silang dengan tanaman lain yang satu jenis.
  12. Tanaman akan berbuah pada usia 3,5 tahun.
  13. Mampu berbuah sepanjang tahun, dengan masa panennya 1 x 1 bulan.
  14. Panen raya buah kopi liberika pada bulan Mei, Juni dan Juli. Panen kecil biasanya di bulan November, Desember sampai Januari.
  15. Produktivitas buahnya lebih tinggi daripada kopi robusta.
  16. Potensi produksi rata-rata sekitar 1,2 kg biji kopi/pohon atau sekitar 1,1 ton biji kopi untuk populasi 900 – 1100 pohon/Ha.
  17. Memiliki 4 ciri warna buah kopi yang sudah masak/matang, yakni masak merah, oranye, kuning dan hijau.
  18. Selain tahan terhadap kekeringan dan mampu tumbuh di tanah gersang, tanaman liberika memiliki susunan pohon yang kokoh dan tidak memerlukan hortikultura intensif.

Fakta Tanaman Kopi Liberika

Berikut dibawah ini adalah fakta tetang tanaman kopi liberika :

  • Selain Indonesia dan daerah asalnya, Afrika Barat, tanaman liberika banyak dibudidayakan di Malaysia, Filipina, Guyana dan Suriname.
  • Tanaman liberika juga dibudidayakan (meskipun sedikit) di India, Srilangka, Vietnam, Taiwan, Thailand, Timor-Timur serta Mauritius.
  • Tanaman kopi liberika banyak ditanam di lahan pasang surut yang sebagian besarnya berupa tanah gambut, di antaranya Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi; Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah; dan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
  • Total produksi kopi liberika pada tahun 2015, ada 3.790 ton di Kalimantan Barat dan 322,80 ton di Kalimantan Tengah.
  • Tanaman liberika memiliki ukuran daun, cabang, bunga kopi, buah serta pohonnya yang relatif lebih besar daripada jenis arabika dan robusta.
  • Kopi liberika (dan kopi ekselsa) termasuk kurang ekonomis dan kurang komersial. Karena, kedua jenis kopi tersebut memiliki beragam variasi bentuk dan ukuran biji, serta cita rasanya yang masih kalah dibandingkan arabika.
  • Kopi liberika unggul dari segi cita rasa.
  • Kopi liberika memiliki cita rasa khas yang disebut dried fruit atau jack fruit.
  • Kopi liberika sering disebut juga dengan kopi nangka. Karena beraroma jack fruit (buah nangka) dan bijinya besar-besar. Karena itu pula, tidak sedikit orang (dalam hal ini petani maupun pecinta kopi) menyebut kopi liberika sebagai kopi ‘nongko’ (nangka).
  • Kopi liberika juga mengandung cita rasa sayur, seperti kacang panjang mentah. Bahkan, ada yang menganalogikan cita rasa kopi liberika seperti karedok Sunda.
  • Kadar kafein kopi liberika lebih rendah yaitu hanya 1,1 – 1,3%.
  • Kopi liberika Tanjabar (Tanjung Jabung Barat), memiliki cita rasa yang lebih baik, daripada robusta yang ditanam pada ketinggian yang sama sekitar 10 m dpl.
  • Kopi liberika tidak sebaik arabika dalam hal kualitas cita rasa. Tetapi, liberika lebih berdaya saing daripada robusta.
  • Tanaman liberika cukup tahan pada penyakit karat daun dan penggerek buah.
  • Tanaman liberika memang sensitif terhadap serangan Hemileia vastatrix. Tetapi, liberika lebih tahan pada serangan tersebut.
  • Tanaman kopi liberika kini banyak dibudidayakan pada lahan marginal atau gambut, yang tidak mungkin bisa ditanami jenis kopi lainnya.
  • Tanaman kopi liberika tidak menghendaki syarat tumbuh yang khusus. Karenanya, tanaman tersebut lebih bisa beradaptasi di berbagai tempat, termasuk dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 700 m dpl.
  • Tanaman liberika menjadi tanaman hutan yang banyak terdapat di wilayah pedalaman Kalimantan. Di sana, liberika menjadi minuman tradisional suku Dayak.
  • Bobot kering buahnya hanya 10% dari bobot basahnya. Penyusutan bobot yang terjadi saat panen sampai buah siap diolah cukup tinggi. Ongkos panen pun akan lebih mahal. Sehingga, petani meninggalkan budidaya kopi liberika.
Baca juga :  Mengenal Lebih Dekat, Si Manis “Khas” Timur (Bag. 2)

Kopi Liberika Speciality Jambi

Tanaman kopi liberika di Tanjung Jabung Barat, ditanam pada iklim yang tropis basah, datarang tinggi dengan suhu maksimum 27 C dan dataran rendah dengan suhu 32 C serta curah hujan rata-rata 241,88 mm/tahun atau sekitar 100 – 300 mm/bulan.

Kopi Libtukom ditanam pada 2.710 Ha lahan dengan ketinggian 0 – 5 m dpl, di lahan gambut, Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang tersebar di Kecamatan Betara, Bram Itam, Pengabuan, Tungkal Ilir, Kuala Tungal dan Senyerang.

Kopi Libtukom sudah dibudidaya di Tanjung Jabung Barat sejak tahun 1940-an. Kopi liberika menjadi jenis kopi yang banyak berkembang, dibudidayakan serta merupakan komoditas andalan selain sawit, karet dan pinang, di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, dengan sebutan “Kopi Liberika Tungkal Jambi” atau “Kopi Libtukom”.

Nama Tungkal berasal dari nama ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat, yaitu Kuala Tungkal. Tetapi awalnya, Libtukom dinamai dengan kopi Excelsa. Kemudian pada tahun 2012, Susilawati Lubis melakukan identifikasi morfologi yaitu membandingkannya dengan morfologi kelompok liberika, yang meliputi ciri bentuk daun, bentuk ujung daun, pupus daun yang warnanya hijau, ukuran buah sampai dengan ketebalan kulit buah.

Dari situlah, terbukti bahwa Libtukom berasal dari jenis kopi liberika, bukan excelsa. Sehingga, melalui Keputusan Mentan, kopi excelsa Jambi dilepas menggunakan nama Libtukom.

Kopi Libtukom sudah ditetapkan sebagai varietas bina dalam Keputusan Mentan RI No 4968/Kpts/SR.120/12/2013 tertanggal 6 Desember 2013. Karena kopi Libtukom, Provinsi Jambi adalah wilayah/daerah ke-13 dengan luas areal dan produksi perkebunan kopi terbesar di Indonesia.

Berikut adalah produktivitas Kopi Liberika Tungkal Jambi di Tanjung Jabung Barat.

Luas perkebunan kopi Libtukom mengalami fluktuasi karena pengembangan lahan. Sedangkan produktivitasnya pun turut berfluktuasi. Selain karena pengembangan lahan, produktivitas kopi Libtukom mengalami fluktuasi bahkan di tahun 2014 lalu justru menurun, karena kondisi tanaman kopi itu sendiri.

Baca juga :  Manfaatkan Sayuran dan Buah “Buruk” Rupa

Tanaman Libtukom sudah berusia 40 – 50 tahun. Padahal, umur ekonomis harapan untuk tanaman Libtukom hanya 30 tahun.

Kopi Libtukom (Liberika Tungkal Komposit) sebagian besarnya diekspor ke Malaysia, dengan harga petani Rp 33.000 – 40.000 per kg. Selain Malaysia, Singapura dan beberapa kota di Pulau Jawa pun turut mengincar kopi kebanggaan masyarakat Jambi ini.

Jika, kopi Libtukom berasal dari pemilihan biji terbaik kualitas SOP, maka harga jualnya bisa sampai Rp 65.000 per kg. Kemudian, untuk kopi Libtukom sangrai berkualitas SOP maka harganya menjadi Rp 150.000 per kg. Sedangkan untuk kopi Libtukom bubuk siap konsumsi dihargai Rp 160.000 per kg.

Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi, tanaman Libtukom memiliki 5 tipe daun dan buah, yaitu:

  1. Ukuran daun sedang, pupus daun warna hijau muda, ujung daun meruncing, buah bulat, diskus datar lebar, ruas antar dompolan buah relatif sedang dan tingkat kelebatan buahnya sedang.
  2. Ukuran daunnya besar, lebar daun sempit, ujungnya meruncing, buahnya besar dan oval, diskus besar menonjol, ruas cabang sedang serta buahnya lebat.
  3. Ukuran daun hampir sama dengan daun nangka, ujung meruncing, buahnya oval, diskus kecil menonjol, ruas sangat pendek serta buahnya lebar.
  4. Ukuran daun sedang, ujung meruncing, buahnya bulat besar, diskus menonjol, ruas antar dompolan pendek serta buahnya sangat lebat.
  5. Ukuran daun dan buahnya sedang, diskus menonjol tinggi, dompolan buah rapat serta tingkat kelebatan buahnya sedang.

Hal Hal Yang Perlu Di Ketahui Tentang Budidaya Kopi Liberika

Bibit kopi membutuhkan waktu setidaknya 4 – 6 minggu, untuk sampai pada stadium serdadu, yaitu hipokotilnya tegak lurus. Lalu, untuk sampai stadium kepelan atau membukanya kotiledon, akan membutuhkan waktu 8 – 12 minggu. Untuk budidayanya, ada beberapa hal yang mendasar, yaitu sebagai berikut:

A. Pembibitan

Bibit kopi sebaiknya memiliki label dan jelas asalnya dari pohon induk, yang sehat, dengan 2 – 3 pasang cabang primer. Pasangan cabang primer pertama, masing-masingnya memiliki (minimal) 2 pasang daun.

B. Persiapan Lahan

Buatlah parit primer di tengak perkebunan per 1 hektare. Buatlah lubang tanam 40 x 40 x 30 cm. Biarkan lubang tanam terbuka selama sebulan. Untuk lahan datar, jarak tanamnya 3×3 meter atau 3×4 meter.

C. Penanaman

Bersihkan gulma di sekitar lubang tanam.

Penanaman dimulai di awal musim hujan.

Potong pangkal polybag dengan ketebalan 1 – 1,5 cm, untuk menghindari kemungkinan akar bengkok.

Sebulan pasca tanam, lakukan penyulaman jika ada tanaman yang mati.

D. Pemeliharaan / Perawatan

Untuk Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), tebas gulma dan bersihkan parit primer 1 x 3 bulan. Untuk Tanaman Menghasilkan (TM), lakukan pemangkasan ujung batang saat berumur 3 – 4 tahun, agar ketinggian tanaman seragam. Lakukan juga (pada TM) penyiangan gulma 1 x 3 bulan dan setelah usia 6 bulan pangkas tunas yang tidak diperlukan.

E. Panen

Panen dilakukan pagi sampai siang hari, manual dengan tangan dan selektif dalam memilih. Untuk pemanenan Buah Masak/merah yang Sehat dan Segar (BMSS), harus segera diolah. Tanpa penyimpanan atau pun pemeraman pasca panen, yang bisa menimbulkan kecacatan pada cita rasa.

Setelah membaca artikel ini semoga Anda memahami tanaman kopi liberika dan mampu mengenali setiap permasalahan yang akan timbul ketika Anda melakukan budidaya kopi liberika ini.

Semoga bermanfaat 🙂

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.