proses_pembuatan_teh

Meneguk Lebih Dekat, Teh Sang Penyegar

Tanaman teh. Teh adalah salah satu minuman yang sudah tidak asing lagi, bahkan seringkali mengisi bagian di meja makan. Banyak di antara kita yang menjadikan teh sebagai minuman utama. Mereka lebih rutin meminum segelas teh dibandingkan segelas air mineral.

Teh juga sudah lama dikenal sebagai salah satu minuman herbal. Dua kandungan utama dan paling populer adalah polifenol serta katekinnya. Di mana kedua kandungan tersebut menjadi “biang kerok” pemberi manfaat positif bagi kesehatan tubuh.

Lalu berikut, adalah ulasan tentang teh dari mulai sejarahnya hingga budidayanya nanti.

Sejarah Teh

Sebelum dikenal sebagai salah satu minuman “seribu umat”, teh memiliki cerita sepanjang sejarahnya. Berikut ringkasan sejarah teh :

  1. Tanaman teh menurut catatan sejarah, berasal dari Asia Tenggara.
  2. Tahun 2737 SM, teh terkenal di Cina. Sejak abad ke-4 Masehi pun, teh sudah menjadi salah satu ramuan obat herbal.
  3. Tahun 1601 M, teh pertama kali dikenalkan di Indonesia oleh pedagang Eropa.
  4. Mulai tahun 1664 M, teh menjadi minuman populer di Inggris.
  5. Tahun 1684, tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia. Yaitu berupa biji teh dari Jepang yang dibawa Andreas Cleyer. Tanaman teh awalnya hanya ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta.
  6. Tahun 1694, F. Valentijn menyatakan bahwa telah melihat tanaman perdu teh muda Cina yang tumbuh di Taman Istana Gubernur Jenderal Champhuys, Jakarta.
  7. Tahun 1824, Dr. Van Sierbold mempromosikan pembudidayaan tanaman teh yang berasal dari bibit teh Jepang.
  8. Tahun 1826, tanaman teh ditanam di Kebun Raya Bogor.
  9. Tahun 1827, disusul tanaman teh yang ditanam di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut.
  10. Tahun 1828, perkebunan teh pertama di Indonesia, yang diprakarsai ahli teh, Jacobus Lodewijk.
  11. Pada masa pemerintahan Van den Bosch menjajah Indonesia, tanaman teh harus ditanam rakyat melalui sistem tanam paksa, karena merupakan salah satu komoditas pertanian yang menguntungkan.
  12. Tahun 1835, teh yang berasal dari Jawa pertama kali diterima di Amsterdam.
  13. Tahun 1877, teh dari jenis Assam masuk ke Jawa dari Sri Lanka yang ditanam oleh R.E. Kerkhoven tepatnya di perkebunan Gambung, Jawa Barat.
  14. Sejak tahun 1989, teh hijau Indonesia telah diekspor ke Pakistan, Afganistan dan Maroko.
  15. Tahun 1910, menjadi awal mula adanya perkebunan teh di Simalungun, Sumatera Utara.

Tanaman Teh

Tanaman teh memiliki nama ilmiah Camellia sinensis. Tanaman teh berasal dari pegunungan Himalaya dan daerah pegunungan lainnya yang berbatasan dengan Cina, India dan Birma.

Ada juga sumber yang menyebutkan bahwa tanaman teh berasal dari daerah perbatasan negara Cina Selatan (Yunan), Laos Barat Laut, Muangthai Utara, Burma Timur dan India Timur laut. Di mana daerah-daerah terseut adalah wilayah vegetasi hutan daerah peralihan tropis dan subtropis.

Tanaman teh bisa tumbuh baik di pantai bahkan hingga pegunungan. Umumnya tanaman teh ditanam pada daerah pegunungan beriklim sejuk.

Di dataran rendah, tanaman teh bisa tumbuh, tetapi hasilnya memiliki mutu yang tidak baik. Semakin tinggi ketinggian areal penanaman teh, akan semakin tinggi pula mutu teh yang dihasilkan.

Maka dari itu, di Indonesia kita akan mendapati perkebunan teh berada pada dataran tinggi, dengan suhu yang dingin.

struktur_daun_teh

Taksonomi Tanaman Teh

Tanaman teh atau Camellia sinensis dalam taksonominya, termasuk pada kelompok sebagai berikut:

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Sub divisi        : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledoneae

Ordo                : Guttiferales

Famili              : Theacceae

Genus              : Camellia

Spesies            : Camellia sinensis L.

Morfologi Tanaman Teh

Tanaman teh memiliki karakteristik atau morfologi yang menjadi ciri khasnya, yaitu:

  1. Teh termasuk tanaman perdu.
  2. Tanaman teh perakarannya tunggang dan masuk ke dalam lapisan tanah yang dalam.
  3. Tanaman teh memiliki percabangan dan batangnya bulat.
  4. Teh memiliki daun yang kecil dan banyak cabang. Daunnya hijau tua, mengkilat dan memiliki bulu-bulu halus.
  5. Daun tanaman teh bentuknya jorong dan tepinya bergerigi.
  6. Bunganya putih, kecil dan memiliki 5 – 7 kelopak.
  7. Bunga berada pada ketiak daun dan memiliki aroma wangi.
  8. Buahnya bulat kecil, berdiameter 1,2 – 1,5 cm, mirip seperti buah pala.
  9. Buah teh memiliki 3 biji dan warnanya putih.
  10. Buah muda berwarna hijau, tetapi jika sudah masak akan berubah cokelat.
  11. Tanaman teh mampu tumbuh hingga 3 – 5 meter, bahkan 6 – 9 meter. Akan tetapi, di perkebunan komersil, tanaman teh hanya ditumbuhkan sampai 1 meter saja, dengan pemangkasan yang rutin. Hal ini dilakukan agar didapatkan tunas daun teh yang banyak dan nantinya lebih mudah dalam pemetikan daun saat panen.
  12. Tanaman teh Cina dan teh Jawa, mampu tumbuh setinggi 9 meter. Sedangkan teh varietas Assamica mampu tumbuh hingga 12 – 20 meter.
  13. Tanaman teh mampu berproduksi sampai umur tanaman 100 tahun.

Syarat Tumbuh Tanaman Teh

Ada beberapa persyaratan kondisi lingkungan, yang dibutuhkan tanaman teh, agar hasilnya optimal, di antaranya adalah:

  1. Tanaman teh memerlukan sinar matahari yang cukup.
  2. Tanaman teh juga membutuhkan hujan sepanjang tahun.
  3. Tanaman teh cocok ditanam pada tanah dengan pH 4,5 – 5,6.
  4. Tanaman teh tahan pada suhu dingin.
  5. Tanaman teh mampu tumbuh di ketinggian 200 – 2300 m dpl. Bahkan disebutkan bahwa semakin tinggi daerah penanaman teh, maka akan semakin tinggi (baik) pula mutu teh yang dihasilkan.
  6. Tanaman teh menyukai iklim lembab dan suhu lingkungan 10 – 30
  7. Tanaman teh membutuhkan hujan dengan intensitas 2000 mm/tahun.

Jenis Teh

Ada 2 varietas tanaman teh yang biasa dibudidayakan secara komersial yakni:

  • Camellia sinensis (L) O. Kuntze sinensis

Varietas tanaman teh yang ini, memiliki daya tahan yang kuat pada cuaca dingin bahkan panas. Biasanya, varietas inilah yang dibudidayakan di Jepang dan Cina, yang nantinya menjadi bahan baku teh hijau.

  • Camellia sinensis (Master) Kitamura assamica

Varietas tanaman teh yang ini, justru memiliki produktivitas dan kualitas yang lebih baik. Varietas assamica mengandung polifenol yang lebih tinggi.

Baca juga :  Mengenal dan Budidaya Kopi Liberika

Maka dari itu, varietas tanaman teh ini banyak dibudidayakan di negara produsen teh terbesar, di antaranya Indonesia, India, Srilanka dan Kenya.

Jenis Tanaman Teh Di Indonesia

Setidaknya ada sekitar 1500 jenis teh (atau bisa lebih) yang berasal dari 25 negara di dunia. Di Indonesia maupun di dunia, ada 3 jenis teh yang dikenal dan banyak diusahakan. Jenis teh ini dibedakan berdasarkan cara pengolahannya:

1. Teh hijau

Teh hijau dihasilkan tanpa melalui proses fermentasi. Teh hijau dihasilkan dari proses inaktivasi enzim oksidase atau fenolase dalam pucuk daun teh segar. Yaitu dengan cara pemanasan atau menggunakan uap panas, agar oksidasi enzimatis terhadap katekin dicegah.

Teh hijau yang dipanaskan dengan pemanggangan, akan menghasilkan teh dengan aroma dan flavor yang jauh lebih kuat, daripada teh hijau dari proses uap panas. Akan tetapi, teh hijau yang diproses dari pemberian uap panas nantinya menghasilkan warna seduhan teh yang nampak lebih hijau terang.

Teh hijau dihasilkan dari proses fisik dan mekanis, yang tanpa melalui oksidasi enzimatis atau disebut juga fermentasi, terhadap pucuk teh menggunakan sistem tanning.

Tidak adanya proses fermentasi karena diharapkan kandungan dalam daun segar dapat dipertahankan. Sehingga seduhan teh hijau menghasilkan banyak nutrisi dan manfaat positif bagi kesehatan, dibandingkan teh hitam atau teh oolong.

Jika di Cina teh hijau diproses melalui pemberian uap panas, maka berbeda dengan di Jepang yang hanya menyangrai daun tehnya.

Tahapan Pembuatan Teh Hijau

Ada 4 tahapan utama pada proses pembuatan teh hijau, yaitu:

  • Pelayuan, yakni melewatkan daun pada silinder yang panas selama 5 menit (disebut sistem panning) atau dengan melewatkannya pada uap panas tekanan tinggi (disebut sistem steaming). Pelayuan adalah proses untuk inaktivasi enzim polifenol oksidase, menurunkan kadari air menjadi 60 – 70% serta memudahkan pucuk daun agar menggulung saat proses selanjutnya.
  • Penggulungan daun, yakni pembentukkan daun teh menjadi gulungan kecil, yang juga berfungsi untuk mengeluarkan cairan sel agar nantinya menempel di permukaan daun.
  • Pengeringan, yakni penurunan kadar air pada daun teh yang dilakukan dalam 2x proses. Pada pengeringan pertama kadar air diturunkan menjadi 30 – 35% yang dilakukan pada suhu 110 – 135 C selama 30 menit, sehingga cairan sel menjadi pekat. Pada pengeringan kedua kadar air diturunkan menjadi 4 – 6% yang dilakukan pada suhu 70 – 95 C selama 60 – 90 menit, sehingga bentuk gulungan daunnya akan lebih baik.
  • Sortasi, yakni pemilahan teh hijau menurut kualitas mutunya. Teh hijau biasanya dipilah menjadi 4 yakni daun pucuk atau peko serta daun bawah (yang tua) atau jikeng, remukan daun atau bubuk serta tulang-tulang.

2. Teh hitam

Teh hitam justru berbanding terbalik dengan teh hijau. Teh hitam didapatkan dari proses fermentasi. Teh hitam dihasilkan dari reaksi oksdasi enzimatis terhadap kandungan katekin teh. Katekin akan dioksidasi menjadi teaflavin dan tearubigin, yang keduanya tidak sekuat katekin.

Masyarakat bangsa timur, menyebut teh hitam dengan nama teh merah. Karena, seduhan atau larutan teh yang dihasilkan bukan berwarna hitam melainkan merah. Bangsa barat yang menyebutnya teh hitam. Karena, warna daun teh sebelum diseduh berwarna hitam.

Awalnya, daun teh didiamkan dan dibiarkan layu dengan sendirinya, selama 14 – 24 jam. Jika sudah layu, daun yang masih berwarna hijau tersebut lalu digulung dan dipelintir, agar enzim alami terlepas dan daun akan siap untuk oksidasi.

Daun teh disimpan di tempat yang dingin dan lembab. Di situlah fermentasi berjalan, bersama oksigen dan enzim. Hingga terjadi perubahan warna dan rasa pada teh hitam. Terakhir, daun teh dikeringkan, agar oksidasi terhenti serta mendapatkan rasa dan aroma yang diharapkan.

3. Teh oolong

Di Indonesia, teh oolong tidak sepopuler teh hitam maupun teh hijau. Di Indonesia, ada beberapa daerah yang memproduksinya dengan nama tertentu, di antaranya Jawa Oolong, Olong organik Banten serta Olong Bengkulu. Pasalnya, teh ooling banyak dihasilkan di perkebunan Cina dan Taiwan.

Disebut teh “oolong”, karena daunnya memiliki bentuk menyerupai naga hitam kecil. Kata “oolong” sendiri, dalam bahasa Cina artinya naga hitam.

Teh oolong berasal dari 3 daun teh teratas dan dipetik tepat waktu (tidak terlalu muda, tetapi juga tidak terlalu tua).

Berbeda dari teh hijau dan teh hitam, teh oolong adalah campuran keduanya. Teh oolong dihasilkan dari proses semi fermentasi. Teh oolong dihasilkan dari pemanasan segera, setelah dilakukan proses rolling (penggulungan daun), tujuannya agar proses fermentasi berhenti. Maka dari itulah teh oolong disebut juga teh semi fermentasi.

Awalnya, daun dibiarkan layu selama beberapa jam (kurang dari 24 jam), lalu diaduk agar tetesan air keluar dari daun. Biarkan proses oksidasi berjalan, saat daun terpapar udara yang nantinya warnanya berubah menjadi gelap. Jika sudah, daun teh dipanaskan agar proses oksidasi berhenti dan daunnya mengering.

4. Teh Putih

Selain itu, ada pula teh putih. Teh putih berasal dari daun teh yang dipetik dan dipanen sebelum bunganya benar-benar mekar. Teh putih dipetik saat kuncup daun masih tertutupi benang-benang halus seperti rambut yang berwarna putih. Karena itulah jenis teh ini disebut teh putih.

Teh putih dijuluki dewa-dewinya teh. Karena teh putih hanya dipetik dari kuncup daun terbaik dari setiap tanaman teh. Teh putih tidak mengalami fermentasi. Proses pengeringan dan penguapan panasnya berjalan sangat singkat. Karena proses yang singkat tersebut, kandungan katekin dalam teh putih jauh lebih tinggi daripada jenis teh lainnya.

Selain itu, daripada jenis teh lainnya, teh putih lebih sedikit produksinya dan lebih mahal harganya. Di Indonesia, teh putih diproduksi seperti Oza Premium White Tea di PT. Chakra Ciwidey (Jawa Barat) serta di PTPN VIII (Garut, Jawa Barat) dan PTPN XII (Wonosari, Jawa Timur).

Jenis Teh Lainnya

Selain itu, ada pula jenis teh lain yang turut meramaikan industri teh dunia, yaitu:

  • Teh instan

Merupakan teh kering yang diolah lagi, sehingga menghasilkan serbuk teh yang bisa langsung diseduh tanpa menyisakan residu. Contohnya, teh celup.

Baca juga :  Macam Macam Tanaman Toga Dan Manfaatnya

Lalu apa itu teh instan, yang di Indonesia sudah diproduksi dengan berbagai merk brand terkenal?

Teh instan merupakan salah satu produk olah lanjut dari teh, yang diproses melalui tahap ekstraksi dan pengeringan. Pada tahapan ekstraksi, air menjadi pelarut yang nantinya akan mengekstrak semua komponen teh. Kemudian pada tahap pengeringan, dilakukan bisa dengan spray dryer, freeze dryer maupun kristalisasi dengan gula dan panas.

  • Cider teh atau teh kombucha

Merupakan minuman tradisional hasil fermentasi larutan antara teh dan gula serta starter mikroba (seperti Acetobacter xylium, Saccharomyces cereviseae). Cider teh dapat mencegah dan atau membantu menyembuhkan influenza hingga kanker.

Macam perkebunan Teh Di Indonesia

Ada 3 macam perkebunan teh Indonesia, yang dibedakan menurut ketinggian tempat penanamannya, yaitu sebagai berikut:

1. Perkebunan teh daerah rendah

Perkebunan teh ini berada di ketinggian kurang dari 800 m dpl dan bersuhu 23,86 C.

2. Perkebunan teh daerah sedang/menengah

Perkebunan teh ini berada di ketinggian 800 – 1200 m dpl dan bersuhu 21,24 C.

3. Perkebunan teh daerah tinggi

Perkebunan teh ini berada di ketinggian lebih dari 1200 m dpl dan bersuhu 18,98 C.

Kandungan Kimia Teh

Komposisi utama teh yakni sebagai berikut:

  • Senyawa fenol à tanin (katekin), teaflavin dan tearubigin
  • Senyawa bukan fenol à karbohidrat, pektin, protein, asamamino, klorofil dan zat warna lainnya, asam organik, resin, vitamin serta mineral.
  • Senyawa aromatik à karbonil, karboksilat, senyawa bebas karbonil
  • Enzim à amilase, invertase, protease, peroksidase dan β-glukosidase

Menurut PPTK Gambung, polifenol dalam teh yang berasal dari Indonesia, menjadi komponen aktif untuk kesehatan sebesar 1,34x lebih tinggi daripada teh negara lain.

Selain itu, sari teh Indonesia dikenal mengandung senyawa katekin tertinggi di dunia. Katekin dalam teh yang berasal dari Indonesia ada sekitar 7,02 – 11,6% (berat kering) yang lebih tinggi dari teh negara lain yang hanya 5,06 – 7,47% (berat kering). Berikut adalah perbandingan kandungan dalam daun teh 2 varietas berbeda, per-100 gram daun kering.

Dari keempat jenis teh yaitu teh hijau; teh hitam; teh oolong dan teh putih, komponen bioaktif yang dikandungnya pun berbeda-beda kuantitasnya, berikut perbandingannya.

Setidaknya, daun teh mengandung beberapa zat kimia yang baik bagi tubuh, di antaranya sebagai berikut.

Sedangkan menurut data dari Depkes, daun teh segar mengandung beberapa senyawa kimia, seperti:

Daun teh mengandung beberapa zat kimia yaitu substansi fenol (seperti katekin dan flavanol), senyawa bukan fenol (seperti karbohidrat, pektin, alkaloid, asam amino, asam organik, protein dan klorofil), senyawa aromatik serta enzim-enzim. Teh mengandung polifenol, kafein, minyak atsiri, tanin, gula dan protein.

  1. Polifenol yang terkandung dalam teh termasuk dalam sub kelas flavonoid, di antaranya adalah flavanols dan flavonols. Polifenol juga akan berubah dan menghasilkan senyawa turunan asam-asam galat serta katekin. Turunan asam galat di antaranya seperti senyawa tanin, yang memegang peranan penting pada penentuan mutu teh hijau dan teh hitam. Polifenol berperan penting pada mutu teh. Selama proses ekstraksi, polifenol berubah menjadi senyawa yang menghasilkan warna, rasa dan aroma. Polifenol teroksidasi dan berubah menjadi teaflavin serta tearubigin, yang keduanya mempengaruhi karakter seduhan teh (warna, rasa dan aroma). Teaflavin akan membuat seduhan teh menjadi jernih dan berwarna kuning cerah. Tearubigin justru membuat seduhan teh menjadi berwarna coklat tua.
  2. Tanin juga menjadi salah satu penentu mutu seduhan teh. Tanin memiliki warna kehijauan sampai dengan tidak berwarna. Tanin akan mempengaruhi proses pencoklatan pada tanaman. Tanin juga lah yang menimbulkan rasa sepat pada seduhan teh. Tanin menjadi senyawa yang tahan pada pemanasan. Kemudian, semakin sepat atau makin pahit rasa seduhan tehnya, berarti kandungan taninnya semakin tinggi. Akan tetapi, kandungan tanin yang rendah akan membuat penampakan seduhan teh menjadi kurang menarik. Sedangkan jika dilihat dari sisi kesehatan, semakin tinggi kandungan katekinnya, maka semakin baik pula manfaat positifnya untuk kesehatan. Katekin ada sekitar 20 – 30% dari berat kering daun.

Katekin dapat berkurang atau bahkan hilang setelah melalui proses pembuatan teh. Berikut perbandingan kehilangan katekin pada 3 jenis teh ternama.

Hal Hal Yang Perpengaruh Terhadap Jumlah Katekin

Ada beberapa hal yang mempengaruhi jumlah katekin yang terkandung dalam daun teh, di antaranya:

1. Varietas dan atau klon tanaman teh

Sebagian besar tanaman teh di Indonesia berasal dari varietas Assamica. Pucuk daun teh varietas Assamica sendiri, mengandung katekin yang lebih banyak, yaitu 17,26% daripada varietas sinensis yang hanya 13,52%.

2. Ketinggian tempat penanaman

Semakin tinggi tempat penanaman, maka semakin lambat pertumbuhan pucuk daun, tetapi jumlah katekinnya akan semakin tinggi.

3. Umur daun teh

Untuk setiap bagian daun teh pun memiliki kandungan katekin dan kafein yang berbeda jumlahnya. Bagian pucuk peko adalah pemilik kandungan katekin dan kafein tertinggi dibandingkan daun bagian bawah-bawahnya.

Hal ini disebabkan karena semakin muda umur daun teh, maka kadar katekinnya semakin tinggi.

4. Teknik pemetikan (pemanenan)

Semakin muda pucuk daun yang dipetik, maka akan semakin tinggi kualitas mutu daunnya.

5. Proses pengolahan daun teh

Pengolahan daun teh dapat menyebabkan kandungan katekin menurun, karena adanya reaksi oksidasi katekin oleh enzim polifenol oksidase, yang menghasilkan theaflavins dan thearubigins.

Syarat Mutu Teh

Syarat mutu teh dipengaruhi oleh setiap lembar daunnya. Kualitas teh yang dihasilkan akan sangat baik jika berasal dari daun pucuk pertama sampai ketiga. Karena, ketiga tingkatan tersebut mengandung katekin dan kafein yang tinggi.

Teh mengandung beberapa komponen bioaktif, yang dapat memberikan manfaat yang baik bagi tubuh jika meminumnya secara rutin. Komponen bioaktif tersebut, akan mempengaruhi karakteristik mutu seduhan dari teh itu sendiri.

Rasio polifenol dan kafein adalah komponen bioaktif yang paling menentukan kualitas seduhan dari teh.

Komponen bioaktif dalam teh, mampu berperan sebagai antioksidan. Tetapi dalam jumlah berlebih, bisa menjadi pro-oksidan. Kemudian, semakin tinggi komponen bioaktif yang terkandung dalam teh, menandakan bahwa aktivitasnya semakin tinggi.

Adapun standar teh hitam celup yang dipersyaratkan agar layak konsumsi, yaitu:

Pucuk daun yang rusak, akan menghasilkan seduhan teh yang gelap dan kekuatan rasanya rendah.

Pucuk daun yang rusak ciri-cirinya seperti adanya memar, lembaran daunnya terserang HPT dan terdapat 2 atau lebih patahannya serta keutuhan lembaran kurang dari 75%.

Baca juga :  11 Manfaat Sayur Bayam Dan Efeknya Sampingnya

Manfaat Teh

Teh telah lama dikenal sebagai salah satu minuman herbal, yang karena kandungan gizinya memberikan dampak positif bagi kesehatan si peminumnya. Berikut beberapa manfaat dari konsumsi teh yang rutin :

a. Mengurangi resiko penyakit jantung

b. Mencegah kanker

Di dalam teh, terutama teh hijau, mengandung antioksidan seperti Epigallocatechin Gallate (EGCG) yang mampu memperlambat pertumbuhan sel kanker paru-paru secara signifikan.

Konsumsi secangkir teh hijau setiap hari, menurunkan resiko hingga 5x lebih rendah dari kanker paru-paru. Bahkan, kombinasi teh hijau dengan tamoxifen, mampu menekan pertumbuhan kanker payudara.

c. Membantu menurunkan dan atau menstabilkan berat badan serta mengurangi kolesterol dalam darah

Hal ini karena dalam teh terutama teh hijau, mengandung antioksidan yaitu katekin, yang bisa mengurangi penyerapan lemak terutama lemak perut serta merangsang metabolisme tubuh untuk mengurangi penimbunan lemak berlebih. Menurut penelitian, 4 cangkir teh sehari dapat membakar 70 – 80 kalori dalam tubuh.

d. Meningkatkan metabolisme tubuh

Menurut hasil penelitian dari Universitas Jenewa dan Universitas Birmingham, teh hijau memiliki kemampuan dalam meningkatkan metabolisme tubuh, kecepatan oksidasi lemak, sensitivitas insulin sampai dengan toleransi glukosa. Selain itu, polifenol katekin yang terkandung dalam teh hijau mampu menghangatkan tubuh karna sifat termogenesis-nya.

e. Melancarkan sirkulasi darah

f. Memperbaiki sel-sel yang rusak

g. Menghaluskan kulit

h. Mengatasi kelebihan zat besi

Secangkir teh hitam yang dikonsumsi rutin, mampu membantu menghentikan kelebihan zat besi, terutama pada penderita hemakromatosis atau zat besi berlebih dalam darah.

i. Mengatasi artritis rematik

Teh hijau yang dikonsumsi rutin dalam jumlah yang cukup, dapat mengurangi artritis rematik sampai dengan 78%. Sedangkan jika teh hijau dikonsumsi dengan takaran yang lebih sedikit, maka hanya mampu mengurangi artritis rematik sekitar 40%.

j. Mengurangi dan atau mencegah asam urat

Teh mengandung komponen bioaktif di antaranya kafein. Kafein memberikan rasa pahit dan segar, yang bersifat sebagai anti asam urat. Menurut penelitian, kafein mampu menghambat pembentukan asam urat dalam darah.

k. Kesehatan gigi

Polifenol dalam teh, terutama teh hitam, mampu membunuh dan atau mengurangi pertumbuhan bakteri penyebab plak. Teh mengandung klorin dan flour yang memiliki sifat antiseptik dalam menjaga kesehatan mulut dan gigi sampai tenggorokan.

l. Mengatasi bau mulut

Menurut penelitian yang dilakukan peneliti di Universitas Illinois, Chicago, polifenol dalam teh akan membantu menghambat pertumbuhan bakteri bau mulut.

m. Kewaspadaan mental

Teh juga mengandung asam amino yaitu L-tehanine. Senyawa tersebut mempengaruhi neurotransmitter pada otak dan meningkatkan aktivitas gelombang alfa, yang nantinya akan membuat fikiran rileks dan tenang, tetapi juga lebih siaga/waspada.

n. Teh mengandung klorin dan flour, yang bersifat antiseptik serta mampu menjaga keseimbangan mikroflora sistem pencernaan dan meningkatkan penyerapan kalsium untuk pertumbuhan tulang.

Budidaya Tanaman Teh

Ada beberapa hal yang perlu dipahami agar budidaya tanaman teh dapat optimal pertumbuhan dan produktivitasnya.

  1. Ada anjuran jarak tanam berdasarkan kemiringan lahan, yang setidaknya dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman teh, yakni:
  2. Untuk pemasangan ajir, sebaiknya berukuran 50 x 1 cm. Ajir dipasang pada lahan datar dan landai serta pada kedua sisi lahan, dengan sistem barisan lurus atau pun zig-zag.
  3.  Ukuran lubang tanam untuk bibit setek 20 x 20 x 40 cm. Sedangkan jika bibitnya dari stump biji maka ukuran lubang tanamnya 30 x 30 x 40 cm.
  4.  Tanam juga tanaman pelindung. Ketika tanaman teh berumur 2 – 3 tahun, maka tanaman pelindung sudah ditanam setahun sebelum tanaman teh ditanam, atau bisa juga ditanam bersama-sama. Tanaman pelindung yang disarankan di antaranya Albizia falcata, Albizia sumatrana, Albizia chinensis, Alvizia procera, Derris microphylla, Leucaena glauca, Leucaena pulverulenta, Erythrina subumbrans, Erythrina poeppingiana, Gliricidia maculata, Acacia decurens, media azedarach dan Grevillea robusta.
  5. Pilihlah tanaman teh dari varietas yang tahan terhadap HPT, tetapi juga tingkat produktivitasnya tinggi, seperti klom GMB 7, GMB dan GMB 11 serta PS 1.
  6. Panen TehTanaman teh mulai dipetik daunnya secara kontinu setelah berusia 5 tahun dan bisa menghasilkan daun teh dalam jumlah yang cukup banyak selama 40 tahun. Barulah setelah itu, tanaman harus diremajakan.Daun-daun pucuk tanaman teh dipetik dengan selang (jarak antar pemetikan) sekitar 7 – 14 hari, tergantung pada keadaan tanaman di suatu daerah.Ada 3 jenis petikan teh yang utama, yaitu:
  • Petikan halus –> bagian daun yang dipetik yaitu pucuk peko satu daun atau bisa juga pucuk burung yang disertai satu daun muda.
  • Petikan medium (sedang) –> bagian daun yang dipetik yaitu pucuk peko disertai 2 – 3 daun muda dan pucuk burung disertai 1 atau 2 atau 3 daun muda.
  • Petikan kasar –> bagian daun yang dipetik yaitu pucuk peko disertai lebih dari 4 daun atau pucuk burung disertai beberapa daun tua.

7. Teh yang sudah diproses, disimpan dalam karung, kemudian ditumpuk secara horisontal dengan maksimal 10 tumpukan. Karung-karung berisi teh lalu disimpan dalam ruangan dengan kondisi ruang bersuhu 25 – 30 C dan RH 80%.

Dunia Per-Teh-an

Berdasarkan volumenya, Indonesia menjadi eksportir teh terbesar ke-5 di dunia, setelah Sri Lanka, Kenya, Cina dan India. Jenis teh yang banyak diproduksi di Indonesia adalah teh hitam. Baru setelah itu, teh hijau.

Masalah Ekspor Teh Indonesia

Ada beberapa masalah yang menyebabkan ekspor teh Indonesia jauh di bawah ekspor teh dunia, bahkan sempat mengalami nilai minus untuk pertumbuhan ekspornya.

  1. Komposisi produk teh Indonesia kurang mengikuti kebutuhan pasar dunia.
  2. Negara tujuan ekspor teh Indonesia, kurang ditujukan untuk negara pengimpor teh dengan pertumbuhan impor yang tinggi.
  3. Daya saing teh Indonesia di pasar dunia tampak lemah.
  4. Ekspor teh Indonesia dalam bentuk teh hijau curah, lebih kecil daripada ekspor teh hitam curah.

Provinsi Penghasil Teh Di Indonesia

Ada 5 besar provinsi di Indonesia yang memiliki hasil produksi teh tinggi, yaitu:

Kemudian, hasil produksi teh di Indonesia juga didorong oleh luasan perkebunan teh. Di mana ada 5 besar provinsi dengan areal perkebunan teh yang luas.

Dari luasan perkebunan dan hasil produksinya, maka berikut 5 provinsi dengan tingkat produktivitas tanaman teh terbesar di Indonesia, yaitu:

Semoga bermanfaat 🙂

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.