Membuat Obat Tani Organik

Pertanian adalah bidang yang paling mendominasi perannya di kehidupan manusia. Ingat, bahwa pertanian yang merupakan kegiatan bercocok tanam adalah pengertian dalam arti sempit saja. Dalam artian luas, pertanian adalah aktivitas bercocok tanam, perkebunan, kehutanan, peternakan sampai dengan perikanan. Dalam artikel sebelumnya tentang “Pertanian Dulu dan Nanti” sudah disinggung bagaimana kondisi dan jalan kehidupan pertanian dari zaman purba sampai dengan masa kini. Di mana saat ini seperti yang kita amati bersama, lahan pertanian telah berubah menjadi gedung pencakar langit, pertokoan hingga perumahan rakyat.

Nah, dalam pertanian organik nantinya akan menghasilkan produk pertanian termasuk hortikultura yang organik. Organik di sini berarti kesemua bahan baik bibit atau benih, pupuk, pestisida, insektisida serta seluruh obat-obatan yang berkaitan dengan kegiatan pertanian baik pra, panen sampai dengan pasca panen, haruslah dari bahan yang hayati/alami/organik terbebas dari unsur kimia pabrikan.

Bahkan, bahaya pestisida kimia tidak hanya berdampak pada manusia yang mengonsumsi produk pertanian yang mengandung zat tersebut. Tetapi juga dapat berdampak pada mereka yang bekerja di ladang. Menurut hasil penelitian, para perempuan Asia yang bekerja di kebun dan berhubungan/bersentuhan langsung (menggunakan) pestisida kimia, mengalami beberapa gangguan kesehatan seperti gatal-gatal, sesak nafas, nyeri otot, mata rabun hingga kanker. Sedangkan para perempuan di Amerika yang melakukan hal yang sama, memiliki resiko 2x lebih besar dalam melahirkan bayi cacat.

Dari situlah, pertanian organik menjadi solusi paling ampuh dalam menjawab permasalahan pertanian dan seputar kesehatan yang diakibatkan oleh makanan yang dikonsumsi. Karena produk pertanian organik sudah dipastikan 100% bebas residu pestisida beracun/berbahaya, mengandung antioksidan yang lebih tinggi serta vitamin C dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan produk pertanian yang menggunakan pestisida kimia. Produk hasil pertanian organik sangat baik bagi kesehatan tubuh karena mampu membantu dalam mencegah diabetes, jantung, obesitas karena indeks glikemik yang rendah, dapat menstabilkan metabolisme, memperbaiki sel tubuh, mengandung serat yang tinggi dan baik untuk melancarkan pencernaan (sehingga baik untuk penderita autis, karena autis memiliki masalah pada saluran pencernaannya), memberi rasa kenyang dan tidak mudah lapar (baik bagi Anda yang menjalani program diet), membantu sistem kekebalan tubuh, detoksifikasi hati, memenuhi nutrisi penting untuk otak, bahkan secara tidak langsung dapat membantu membersihkan darah, membuang racun pada sel, membentuk sel-sel baru, menjaga keseimbangan asam-bassa dalam tubuh serta sebagai suplemen makanan. Selain itu, produk hasil pertanian organik mengandung beberapa zat gizi yang lebih banyak daripada yang non-organik di antaranya sebagai berikut :

Jika di artikel sebelumnya sudah pernah diulas tentang pupuk organik seperti pupuk kompos, pupuk kandang atau pupuk cair organik, maka di sini dan beberapa artikel ke depan akan diulas obat-obatan pertanian yang organik, alami bukan pabrikan. Misalnya saja fungisida, insektisida, pestisida sampai dengan obat untuk mengatur pertumbuhan tanaman (mempercepat). Berikut uraiannya.

PESTISIDA NABATI (BIOPESTISIDA)

Sebenarnya, pestisida sendiri adalah obat atau zat yang berfungsi untuk membasmi hama yang menyerang tanaman. Hama sendiri bentuknya bermacam-macam. Ada hama yang berwujud hewan (seperti walang sangit, wereng, ulat dan lainnya), ada pula yang bentuknya jamur. Pestisida itu terbagi menjadi 2 yaitu insektisida dan fungisida.

Sudah banyak diberitakan bahwa pestisida akan menempel di produk hasil pertanian setelah dipanen. Bahkan ketika kita mencucinya tidak bersih atau hanya sekedar membersihkan hasil pertanian tersebut dari tanah atau kotoran yang menempel. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika sisa/residu pestisida masih ada yang menempel di produk hasil pertanian lalu ikut termakan oleh kita. Bagaimana jika pestisida tersebut adalah jenis pestisida kimia/pabrikan? Jadi sama saja kita mengonsumsi zat kimia. Meskipun mungkin hanya residu yang jumlahnya sedikit, tetapi bagaimana jika itu terjadi pada hampir semua produk hasil pertanian yang kita konsumsi? Maka solusinya adalah pertanian organik menggunakan pestisida nabati. Pestisida nabati berbahan baku dari makhluk hidup yaitu mikroorganisme seperti cendawan, bakteri, virus atau pun nematoda.

Pestisida nabati ditekankan untuk diaplikasikan di lahan karena memiliki fungsi yaitu untuk:

  • Pengusir serangga
  • Agar hama tidak suka tanaman yang disemprot pestisida nabati
  • Menghambat metamorfosis serangga
  • Menghambat reproduksi serangga betina dan mengacaukan hormon serangga
Baca juga :  Klasifikasi Tanah Di Indonesia

Akan tetapi, pestisida nabati bukan hanya memiliki kelebihan. Ada beberapa kekurangan dari pestisida nabati sehingga menjadikannya masih jarang diaplikasikan hingga saat ini. Berikut adalah perbandingan kelebihan dan kekurangan pestisida nabati.

Seperti yang sudah dikatakan bahwa pestisida nabati dapat terbuat dari mikroorganisme seperti cendawan, bakteri, virus maupun nematoda, maka ada beberapa mikroba yang baik untuk memperbaiki kesehatan tanah. Di antaranya adalah cendawan Trichoderma sp, Azotobacter sp, Gliocladium sp, Rhizobium, Azosperillum sp dan Bradyrhizobium. Bahkan, Anda juga bisa membiakkan mikroba tersebut dengan bahan yang mudah didapat. Berikut adalah cara membiakkan mikroba yang dapat Anda praktekkan langsung.

  • Membuat media. Campurkan dalam baskom/wadah 1 kg serbuk gergaji dan 1 kg dedak (dedak padi). Tambahkan adonan dengan air (sekitar 20 – 30% dari adonan) dan campur sampai rata. Masukkan 500 gram adonan yang sudah jadi ke dalam plastik tahan panas tetapi bening (bukan berwarna, bukan plastik es/kresek). Padatkan dan rekatkan plastik dengan selotip. Sterilkan/panaskan dalam dandang atau autoklaf selama 1,5 jam.
  • Membuat mikroba. Siapkan inokulum/starter (bisa Trichoderma sp atau Gliocladium sp) sebanyak 1/25 bagian dari total biakan murni dengan cawan (petridish) untuk setiap plastik media. Masukkan inokulum ke dalam plastik media dengan ujung sendok di depan lilin yang menyala atau lampu bunsen. Tutup rapat plastik media yang sudah diberi inokulum. Simpan di tempat bersih dan sejuk selama 7 – 14 hari. Kemudian (jika berhasil), hasilnya akan berwarna hitam dan tidak bau.
  • Cara penggunannya. Campurkan tanah dengan pupuk kandang dan mikroba yang sudah dibuat sebelumnya. Perbandingan tanah : pupuk kandang : mikroba sebanyak 2:1:1. Dosisnya 10 – 20 gram per lubang tanam. Aplikasi 140 kg mikroba dan 1000 – 2000 kg pupuk kandang cukup untuk lahan seluas 1 Ha.

Selain dari mikroba, ternyata ada beberapa tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan baku pestisida nabati, seperti tanaman mimba (Azadirachta indica), tembakau (Nicotiana tabacum L), mindi (Melia azedarach), culan/pacar cina (Aglaia odorata), serai (Andropogon nardus), kenikir dan sebagainya.

Berikut adalah tanaman yang sangat potensial dijadikan pestisida nabati, dengan cara pembuatan dan penggunaannya sehingga Anda bisa membuat sendiri di rumah.

Berikut adalah tanaman selain kenikir atau pun mimba, yang berpotensi sebagai pestisida nabati.

Fungsi utama

Cara membuat

Cara penggunaan

Mengendalikan kutu daun (Aphis sp) ·         Haluskan 5 lembar daun tembakau dan 10 buah lerak

·         Campurkan keduanya dengan parutan 3 labu siam

·         Rendam dalam 1 liter air selama semalam

·         Encerkan 3 – 5 sdm larutan dalam 1 liter air

·         Aplikasikan pada 5 – 10 tanaman dengan disemprotkan ke tajuk tanaman

Mengendalikan ulat daun ·         Haluskan/blender 1 kg gadung dan 1 kg labu siam

·         Campurkan keduanya

·         Rendam dalam 5 liter air selama semalam

·         Peras dan saring

·         Encerkan 500 ml larutan dengan 10 liter air

·         Semprotkan pada tanaman di lahan 1000 m2

Mengendalikan wereng batang cokelat, penggerek batang dan nematoda ·         Tumbuk 50 g biji nimba sampai halus

·         Aduk dengan 1 cc alkohol 70%

·         Campurkan dengan 1 liter air

·         Biarkan selama semalam. Saring endapannya

·         Larutan langsung diaplikasikan pada serangga

·         Takaran tersebut digunakan untuk 3 – 5 pot tanaman

Mengendalikan wereng batang cokelat ·         Haluskan/blender 50 lembar daun sirsak, 100 g rimpang jaringau dan 1 siung bawang putih

·         Campurkan dan rendam dalam air selama 2 hari

·         Saring dan campur larutan dengan 20 g detergen (pengemulsi)

·         Encerkan 1 liter larutan dengan 10 – 15 liter air

·         Semprotkan ke tajuk tanaman di lahan 1000 m2

Mengendalikan belalang dan ulat ·         Tumbuk 50 lembar daun sirsak dan 5 lembar daun tembakau sampai halus

·         Campurkan dan endapkan semalam dengan 20 liter air. Saring

·         Encerkan 1 liter larutan dengan 10 – 14 liter air

·         Larutan untuk lahan 1000 m2

Mengendalikan hama dan penyakit yang umum ·         Haluskan 8 kg daun mimba, 6 kg lengkuas dan 6 kg serai

·         Campurkan semuanya ke dalam 20 liter air

·         Tambahkan 20 g detergen

·         Biarkan semalam. Saring

·         Encerkan 1 liter larutan dengan 60 liter air

·         Larutan untuk lahan 1 Ha

Mengendalikan wereng hijau dan wereng batang cokelat ·         Parut 1 kg gadung

·         Tambahkan 3 gelas air

·         Biarkan selama 1 – 2 hari dalam wadah tertutup

·         Rendam 1 ons tembakau dalam air dan biarkan 1 – 2 hari

·         Campurkan larutan gadung dan tembakau. Aduk sampai rata

·         Saring larutan

·         Encerkan larutan sebanyak 2 – 2,5 gelas bekas air mineral dengan 10 – 14 liter air

·         Larutan cukup untuk lahan 1000 m2

Mengendalikan walang sangit dan hama ulat padi ·         Parut 1 kg gadung

·         Tambahkan air secukupnya

·         Peras dengan kain bersih

·         Encerkan larutan 5 – 10 ml dengan 1 liter air

·         Kocok dahulu

·         Semprotkan pada 3 – 5 pot tanaman hias

Dari bahan-bahan tersebut, tentunya mudah dibuat pada skala rumahan. Karena bahannya mudah didapat dan tidak membutuhkan peralatan serta cara-cara yang rumit. Cara penggunan pestisida nabati dari tanaman tersebut juga pastinya mudah diterapkan.

Selain itu, ada beberapa tanaman lain yang memiliki kandungan kimia alami (dari bagian tanaman tersebut) yang juga mampu menjadi bahan pestisida nabati.

FUNGISIDA NABATI (BIOFUNGISIDA)

Pada dasarnya, fungisida berfungsi untuk membasmi fungi atau jamur yang menyerang tanaman. Apalagi di musim hujan, jamur akan lebih banyak menyerang tanaman karena suhu yang lembab. Fungisida juga membasmi bakteri atau penyakit yang menyerang tanaman, yang nantinya menyebabkan bagian tanaman misalnya daun, mengalami kelayuan atau noda bercak-bercak. Salah satu mikroorganisme yang bisa menjadi bahan fungisida nabati karena kemampuannya dalam mengusir HPT adalah bakteri Corynebacterium sp.

Bakteri Corynebacterium sp.

Bakteri Corynebacterium sp. berperan dalam membasmi bakteri patogen penyebab penyakit hawar daun yang diakibatkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae. Selain itu, bakteri Corynebacterium sp. juga membasmi patogen lain seperti bakteri Pseudomonas sp (hawar pada daun jingga), Plasmodiophora brassicae (akar gada tanaman kubis), Ralstonia solanacearum (layu pada tanaman pisang), Helminthosporium sp dan Cercospora sp. (bercak daun tanaman jagung). Nah, Anda juga bisa membuat biakkan bakteri Corynebacterium sp. sendiri di rumah. Secara sederhana, pembiakkan  bakteri Corynebacterium dalam larutan EKG (ekstrak kentang dan gula) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Siapkan 4 kg kentang, kupas kulitnya dan iris sampai berukuran kecil agar mudah dimasak.
  • Rebus kentang dengan air 15 liter hingga kentang terasa empuk.
  • Saring kentang dan ambil ekstraknya. Tambahkan ekstrak kentang dengan 250 gram gula pasir.
  • Masak dengan api kecil sampai gula larut lalu dinginkan.
  • Masukan ekstrak kentang ke dalam jerigen.
  • Masukan isolat/starter Corynebacterium ke dalam jerigen tadi.
  • Buat rangkaian fermentor sederhana dengan urutan: aerator, KmnO4, kapas filter dan larutan EKG (dalam jerigen). Jangan lupa beri air destilasi yang disimpan dalam botol plastik. Gunakan selang ukuran kecil sepanjang ± 2 meter.

Jika sudah jadi, fungisida nabati bisa digunakan untuk mengusir HPT. Caranya yaitu sebagai berikut:

  • Rendam benih/bonggol sebelum ditanam pada larutan EKG selama 15 menit
  • Penyemprotan/pengaplikasian ke tanaman : biasanya pada padi, di umur 14; 28; 42 HST (Hari Setelah Tanam)
  • Dapat diaplikasikan bersama (tambahan) perekat seperti larutan kanji
  • Dosisnya 5 cc/liter air sehingga untuk lahan 1 Ha = 500 – 600 liter larutan EKG dengan

waktu pemberian sore hari (jam 3 sore)

INSEKTISIDA NABATI (BIO-INSEKTISIDA)

Insektisida merupakan ‘obat’ pembasmi hama serangga yang biasa menyerang tanaman. Karena seperti yang diketahui bahwa serangga yang menyerang tanaman mampu membuat tanaman menjadi layu, buah yang dihasilkannya rusak/cacat atau bahkan sulit berbuah, hingga tanaman menjadi mati.

Insektisida nabati akan bekerja mengendalikan hama dengan cara membuatnya sakit terlebih dahulu, sampai akhirnya mati. Bioinsektisida yang biasa digunakan seperti bakteri Beauveria sp dan Metarhizium sp.

Bakteri Beauvaria bassiana sp, dapat membasmi walang sangit, wereng batang cokelat serta hama kutu pada sayuran. Akan tetapi, bakteri ini dilarang digunakan pada tanaman yang penyerbukannya dibantu serangga. Karena jika bakteri ini diaplikasikan pada tanaman yang penyerbukannya dibantu serangga maka tanaman tersebut tidak bisa terjadi penyerbukkan. Serangga tersebut bersifat membantu/menguntungkan tanaman. Bakteri ini hanya diaplikasikan untuk tanaman yang diserang serangga pengganggu. Mekanisme kerja bakteri Beauvaria bassiana sp yaitu: menginfeksi tubuh serangga dengan kontak inang –> bakteri lalu masuk dalam tubuh inang –> bakteri akan bereproduksi dalam satu atau lebih jaringan inang –> bakteri akan mengeluarkan racun beauvericin yang berkembang dan menyerang seluruh jaringan tubuh serangga –> serangga yang terserang beauvaria mati dengan kondisi tubuh diselimuti miselia/jamur sehingga berwarna putih –> serangga yang mati akan mengontaminasi lingkungan dan serangga sehat akan terinfeksi/tertular sehingga rantai serangan serangga tersebut akan terhenti/terputus.

Sedangkan bakteri Metarhizium anisopliae, digunakan terutama untuk membasmi belalang dan kumbang penggerek. Bakteri ini dapat menembus jaringan atau kutikula serangga. Sehingga serangga terinfeksi kemudian mati.

Pembuatan insektisida nabati dengan cara pembiakkan bakteri, bisa Beauvaria bassiana sp atau bisa juga Metarhizium anisopliae. Cara membuatnya adalah sebagai berikut:

1. Membuat media:

Cuci bersih 10 – 20 kg jagung pecah giling atau beras giling. Bisa memilih salah satu dari bahan tersebut.

Rendam selama semalam. Kemudian tiriskan sampai kering.

Masukkan 100 g jagung atau beras ke kantong plastik tahan panas ukuran 1 kg. Padatkan dan rekatkan plastik dengan selotip.

Kukus dalam dandang atau autoklaf selama 1,5 jam.

Dinginkan pada suhu kamar dan jadilah media.

2. Masukan inokulum/starter Beauveria sp atau Metarhizium sp sebanyak 1/25 bagian dari biakkan murni lalu masukkan ke kantong media, di depan lampu bunsen atau lilin menyala, di tempat yang bersih agar tidak terkontaminasi.

3. Tutup rapat plastik dan simpan di ruangan bersih selama 7 – 14 hari. Jika miselia putih sudah tumbuh, berarti Beauveria sp atau Metarhizium sp siap digunakan.

Jika sudah selesai membuat insektisida nabati, langkah selanjutnya adalah memberikannya pada tanaman, terutama yang terserang HPT. Cara menggunakan insektisida nabati ini adalah sebagai berikut:

  • Masukan 100 g Beauveria sp atau Metarhizium sp (yang dibuat tadi) dalam 1 liter air. Cuci untuk melepas Miselianya.
  • Saring larutan, pisahkan media jagung/beras dengan miselia cendawan.
  • Encerkan saringan miselia dan spora cendawan dalam 14 liter air.
  • Larutan insektisida dapat digunakan untuk tanaman 1 – 2x per minggu tiap sore. Jika serangan hama tinggi, berikan insektisida lebih banyak lagi yaitu 3 – 4x per minggu.
  • Catatan: jika Beauveria sp atau Metarhizium sp (yang dibuat tadi) tidak habis digunakan maka simpan dalam lemari pendingin.

Kemudian, selain 3 obat tani yang penting yaitu pestisida, fungisida dan insektisida, masih ada obat lain yang juga seringkali digunakan di dunia pertanian. Yaitu zat pemacu tumbuh. Di mana zat ini digunakan para petani untuk memicu dan atau mempercepat pertumbuhan tanaman. Jika Anda terbiasa menggunakan zat pemacu tumbuh yang berasal dari pabrikan kimia, maka kini saatnya beralih ke nabati/hayati. Zat pemacu tumbuh nabati tersebut adalah Plant Growth Promoting Rhizobacteria atau yang biasa dikenal dengan PGPR.

PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA (PGPR)

PGPR merupakan bakteri yang mengkoloni perakaran tanaman dan berperan pada pertumbuhan tanaman. Peran PGPR adalah sebagai:

  • Penghasil fitohormon, di antaranya Indole Acetic Acid, sitokinin, giberelin dan senyawa penghambat etilen.
  • Pupuk hayati
  • Bioprotektan, yaitu kemampuan mengendalikan penyakit dan hama dengan cara menghasilkan antibiotik dan menginduksi tanaman untuk memproduksi senyawa ketahanan agar tanaman lebih sehat.

Kemudian, ada 2 cara penggunaan PGPR untuk tanaman.

1. Cara ini terdiri dari 2 langkah.

Pertama (I), merendam benih/bibit (10 ml/liter air). Caranya, jika benih yang dibeli mengandung pestisida maka sebelumnya benih dicuci 2 – 3x. Kemudian, rendam benih sesuai waktunya.

Kedua (II), penyiraman suspensi bakteri (5 ml/liter air). Kemudian, sebelum ditanam, keringkan dahulu benih di tempat teduh yang tidak kena sinar matahari langsung, kecuali untuk bibit yang nantinya akan divegetatif (contoh setek).

Berikut adalah waktu kapan benih diberi perlakuan pertama (I) dan kedua (II).

2. Cara berikutnya yaitu dengan mengaplikasikan ‘langsung’ ke tajuk tanaman.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.