Memanfaatkan Iklim Bagi Pertanian

Masih ingat artikel sebelumnya “Mengenal Agroklimatologi, Iklim untuk Pertanian”? Ada iklim dan cuaca. Iklim dan cuaca memiliki pengaruh yang erat terhadap tanaman. Untuk itu, memanfaatkan iklim bagi pertanian adalah tindakan yang perlu dioptimalkan.

Tanaman membutuhkan kondisi iklim yang cocok agar mampu tumbuh dan berkembang dengan optimum sehingga produksinya pun sesuai yang diharapkan.

Kenali Dan Memanfaatkan Iklim Bagi Pertanian

Memanfaatkan Iklim Bagi Pertanian

Ketika kita dapat mengetahui tipe iklim suatu daerah maka kita juga mampu menentukan jenis tanaman atau komoditas pertanian apa yang cocok dikembangkan di daerah tersebut.

Hal – hal yang perlu diperhatikan antara lain :

1. Suhu udara

Suhu udara ialah derajat panas udara dalam waktu tertentu. Suhu udara yang berbeda-beda dipengaruhi oleh garis lintang, ketinggian tempat dari permukaan laut serta pengaruh daratan dan lautan.

Ketinggian tempat sangat mempengaruhi perbedaan suhu udara. Di mana ketika ketinggian tempat (dihitung dari ketinggian permukaan laut sampai 1500 m dpl) naik 100 meter maka terjadi penurunan suhu sebesar 0,6 C.

Sedangkan saat ketinggian tempat (di atas ketinggian 2000 m dpl) naik per 100 meter, akan terjadi penurunan suhu 0,55 C. Kemudian, semakin tinggi garis lintang suatu tempat, suhu udara akan semakin rendah.

Suhu udara merupakan bagian dari iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Suhu dapat mempengaruhi beberapa proses fisiologi penting seperti pembukaan stomata, laju transpirasi, laju penyerapan air dan nutrisi, respirasi dan fotosintesis.

Fotosintesis tanaman mengalami peningkatan ketika suhu udara meningkat hingga 30 C. Suhu pada daun sebaiknya pada kisaran 10 – 20 C di atas suhu udara, sehingga proses fotosintesis berjalan dengan optimal. Suhu juga mempengaruhi kondisi cuaca di sekitar tajuk tanaman.

Baca juga :  Cara Membuat Mikroorganisme Lokal (MOL)

Tanaman akan tumbuh baik pada suhu 13 – 30 C dan optimum pada 18 – 25 C. Namun, suhu yang tinggi yakni > 30 C menyebabkan hasil fotosintesis bersih akan dirombak, serta suhu > 45 C membuat fotosintesis berhenti karena jaringan daun rusak. Karena jika sudah melampaui titik optimum maka proses fotosintesis akan terhambat baik secara fisik atau pun kimia dan menurunkan aktivitas enzim (enzim akan terdegradasi).

Jika suhu tanah di sekitar iklim mikro tanaman maka dapat menghilangkan kandungan lengas tanah dengan cepat, terutama jika terjadi pada musim kemarau. Kehilangan lengas tanah karena peningkatan suhu tanah terjadi melalui proses transpirasi dan evaporasi.

Di musim kemarau, peningkatan suhu tanah karena pengaruh iklim mikro tanaman akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama pada daerah yang kadar lengas tanahnya terbatas. Akan tetapi, hal itu dapat diatasi dengan pengurangan evaporasi dan transpirasi.

2. Radiasi Surya

Sinar matahari yang terpancar ke bumi, sebanyak 47% akan diabsorbsi (diserap) oleh permukaan bumi dan 4% akan direfleksikan (dipantulkan) lagi oleh bumi. Sehingga dari total sinar matahari yang terpancar, hanya 43% yang sampai ke bumi.

Suhu udara berkorelasi positif dengan radiasi surya. Di mana jumlah energi dari matahari yang sampai ke bumi sangat bervariasi dari hari ke hari, musim ke musim dan dari lintang ke garis lintang. Hal tersebut membuat suhu udara juga bervariasi.

Cahaya matahari mempengaruhi suhu udara dan suhu daun yang secara langsung berimbas pada laju fotosintesis bersih. Tanaman ada yang menyukai cahaya (sun species) dan suka naungan/kurang suka cahaya (shade species).

3. Curah Hujan

Merupakan air yang jatuh di permukaan bumi akibat proses kondensasi massa uap air dalam jumlah besar. Curah hujan yang berbeda disebabkan oleh kondisi topografi seperti bukit, gunung/pegunungan sehingga penyebaran hujan tidak merata.

Baca juga :  Air Bagi Tanaman Dan 4 Faktor Yang Mempengaruhi

Selain itu juga karena tipe vegetasi, drainase, kelembaban, letak lintang, ketinggian tempat hingga arah angin umum. Curah hujan di Indonesia rata-rata 2000 – 3000 mm/tahun.

Klasifikasi Pola Iklim

Menurut Tjasyono (1999) dalam bukunya “Klimatologi” mengklasifikasikan pola iklim utama berdasarkan pola curah hujan selama setahun menjadi 3 yaitu:

  • Pola Moonson, pola hujannya unimodal (satu puncak musim hujan pada Desember). Enam bulan (Oktober – Maret) curah hujan relatif tinggi (musim hujan) dan 6 bulan berikutnya (April – September) lebih rendah (musim kemarau). Pola Moonson ada di Jawa, Bali, NTT, NTB dan sebagian Sumatera.
  • Pola Lokal, pola hujannya unimodal (satu puncak hujan) tetapi bentuknya berlawanan dengan pola Moonson. Pola Lokal di wilayah Ambon.
  • Pola Equatorial, pola hujan bimodal (2 puncak hujan) pada bulan Maret dan Oktober saat matahari dekat dengan equator. Pola Equatorial sebagian besar ada di wilayah Indonesia sepanjang garis khatulistiwa.

Manusia Indonesia yang cerdas tentu akan memanfaatkan iklim bagi pertanian tanah air tercinta. Jadilah pribadi yang cerdas dan bermanfaat !

Semoga tulisan ini juga bermanfaat 🙂

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.