Mari Kita “Culik Tanam”

curi tanamSeperti yang kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara tropis. Di mana setiap tahunnya mengalami 2 musim yaitu musim penghujan dan kemarau. Parahnya lagi, pada masa yang disebut era globalisasi termasuk adanya pemanasan global seperti sekarang ini, membuat masyarakat terutama yang berposisi sebagai produsen, kelimpungan. Pemanasan global berdampak pada musim yang menjadi tidak menentu siklusnya.

Di artikel sebelumnya tentang “Iklim dan Dunia Pertanian” telah disebutkan bahwa musim dan cuaca berpengaruh langsung pada bidang pertanian. Mulai dari pra, saat dan pasca panen. Apalagi jika musim kemarau tengah berlangsung. Hal itu akan menimbulkan keresahan yang rutin bagi para petani.

Mari Kita Culik Tanam

Banyak cara dalam menghadapi persoalan iklim dan pertanian. Baik itu dengan pemahaman soal pranata mangsa, sampai dengan teknologi budidaya tanpa media tanah. Ada lagi satu metode atau sistem dalam dunia pertanian, yang termasuk baru diterapkan. Namanya, sistem culik tanam.

Lantas, mengapa disebut culik tanam? Kementerian Pertanian Indonesia sendiri yang menamainya. Filosofinya, “culik” berarti “mencuri” atau “mengambil”, ditambah kata “tanam”. Secara harfiah, culik tanam berarti mencuri (waktu) tanam.

Culik Tanam dan Kekeringan

Sistem culik tanam merupakan teknologi yang dikenalkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BALITBANGTAN), Kementerian Pertanian, sebagai langkah optimalisasi pemanfaatan hujan dan mengatasi problema kekeringan di tingkat petani, melalui waktu tanam yaitu dengan mempercepat waktu tanam. Budidaya pertanian dengan sistem culik tanam menjadi salah satu solusi dalam mengatasi musim kekeringan atau kemarau. Sistem culik tanam membuat petani untuk lebih produktif lagi dalam memanfaatkan musim kemarau. Sehingga, meskipun musim kemarau, masih bisa terselamatkan panennya.

Bagaimana Culik Tanam Bekerja?

Sistem pertanian culik tanam merupakan sistem budidaya pertanian dengan penetapan waktu untuk menyemai lebih awal dari biasanya. Penyemaian dilakukan sebelum masa panen atau sekitar 1 – 2 minggu sebelum panen. Sebelum panen padi di musim penghujan, lahan yang dipanen lebih awal dijadikan persemaian selama air hujan masih bisa didapatkan. Setelah panen, petani menanam lahan dengan benih padi yang sudah disemai sejak awal. Sistem tersebut membuat waktu tanam lebih cepat, sehingga dapat mempengaruhi waktu panen. Sistem “mencuri start tandur (tandur = tanam)” dimaksudkan untuk membuat tanaman sudah mencapai usia primordia saat curah hujan sudah berkurang. Sistem ini mampu menghindari kejadian gagal panen, yang diakibatkan karena kekeringan, serta mampu mempertahankan produksi padi.

Dalam sistem culik tanam, proses pemanenan dilakukan lebih cepat dari jadwalnya. Misalnya 7 hari sebelum jadwal panen yang seharusnya, kemudian dilanjutkan untuk persiapan persemaian lagi.

Penyemaian padi dengan cara menculik waktu tanam, dilakukan sebelum waktu panen tiba. Misalnya, seminggu sebelum panen, petani sudah bisa menculik 1 per 20 hektare lahannya untuk disemai. Lalu, saat panen tiba, persemaian tanaman sudah menginjak usia 1 minggu. Setelah panen dan lahan selesai diolah kembali, persemaian tanaman memasuki usia 3 minggu. Maka, persemaian sudah bisa ditanami lagi. Tepatnya, 7 – 20 hari setelah panen, padi langsung ditanami kembali. Sehingga, saat tanaman berbunga, masih terpasoki hujan.

Daerah Percontohan Culik Tanam

Di Subang, Jawa Barat, petani yang menerapkan sistem culik tanam atau memanen sawahnya lebih cepat, hasil panennya relatif lebih baik, walaupun serangan hama tetap terjadi, serta mampu menyelamatkan petani meskipun mengalami kekeringan.

Selain petani Subang, beberapa petani di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, juga berhasil meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) melalui aplikasi sistem culik tanam. Sistem pertanian culik tanam juga sudah dikenal para petani di Indramayu.

Sayangnya, belum ada sebagian dari wilayah di Indonesia yang menerapkan sistem ini. Petani di 3 Kabupaten tersebut juga belum semuanya menerapkan sistem ini.

Disertai Kelebihan dan Kekurangan

Jika dengan sistem pertanian biasa, pada umumnya petani hanya menanam 2x setahun. Sedangkan sistem culik tanam, memungkinkan petani untuk menanam 3x setahun, yakni menanam padi, padi dan jagung atau tembakau. Bahkan, sistem culik tanam tidak hanya meningkatkan hasil padi untuk pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Tetapi, jeraminya pun langsung dirasakan kebermanfaatannya bagi kebutuhan pakan ternak.

Sayangnya, kelemahan dari sistem culik tanam ini adalah kemungkinan menjadi sasaran hama tikus. Namun demikian, hal ini masih bisa ditanggulangi dengan pemberantasan hama secara intensif.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.