Di Balik Susu Bubuk yang Digemari

susu bubuk

Menurut data, susu bubuk adalah salah satu dari produk turunan susu yang paling digemari oleh masyarakat di Indonesia. Susu bubuk bersaing dengan susu kental manis, dalam pangsa pasar nasional. Lantas bagaimana dan apa saja hal-hal penting soal susu bubuk yang perlu diketahui? Berikut uraiannya.

Sekelumit Sejarah Susu Bubuk

Susu bubuk pertama kali dibuat tahun 1802 oleh Osip Krichevsky, dokter dari Rusia. Kemudian, susu bubuk pertama dibuat secara komersial pada tahun 1855 di Inggris. Metode pengeringan drum drying dikembangkan sejak tahun 1900, jauh lebih awal daripada spray drying.

Susu Bubuk itu …

Menurut SNI 01-2970-2006 yang kemudian diperbaharui dalam SNI No. 3752-2009, susu bubuk merupakan produk olahan susu yang dihasilkan dengan jalan mengurangi sebagian besar air melalui proses pengeringan susu segar dan atau susu rekombinasi yang telah dipasteurisasi, dengan atau tanpa penambahan vitamin, mineral dan bahan tambahan pangan (lainnya) yang diizinkan. Susu bubuk terdiri dari susu bubuk berlemak, rendah lemak dan tanpa lemak. Sedangkan susu rekombinasi sendiri merupakan produk susu yang dihasilkan dari melarutkan kembali susu bubuk dengan air dan atau dicampur susu segar dengan atau tanpa penambahan vitamin, mineral dan bahan tambahan pangan yang diizinkan.

Menurut Deputi MENLH, susu bubuk adalah salah satu teknologi dalam mengawetkan susu untuk mendapatkan masa simpan yang lebih lama. Pada intinya, susu bubuk adalah produk olahan susu segar dari hasil proses penguapan dan pengeringan yang menggunakan teknik penyemprotan bertekanan tinggi.

Kemudian, susu bubuk memiliki beberapa sifat kimia yang setiap jenisnya pun sedikit berbeda, yaitu sebagai berikut.

Sifat kimia Jumlah
Kadar air (non fat) 4 – 5 % berat
Bulk density

Drum drying (non fat)

spray drying (non fat)

 

0,3 – 0,5 g/cm3

0,5 – 0,6 g/cm3

True density

Susu bubuk

Susu bubuk tanpa lemak (non fat)

 

1,31 – 1,32 g/cm3

1,44 – 1,46 g/cm3

Tekanan uap

Non fat, kadar air 5%, suhu 38 0C

Kadar lemak 13%, kadar air 5%, suhu 38 0C

 

1,17 kPa

0,75 kPa

Specific heat 1,04
Thermal conductivity (k)

40 0C

65 0C

 

0,05 W/mK

0,06 W/mK

Susu bubuk memiliki beberapa keuntungan dibandingkan turunan susu lainnya, di antaranya memiliki masa simpan yang lama serta kemudahan dalam pengemasan; pendistribusian; penyimpanan dan dicairkan kembali (disebut susu rekonstitusi, susu rekombinasi). Akan tetapi, susu bubuk mudah mengalami penurunan dan atau perubahan gizi, karena mudah beroksidasi dengan udara.

Susu bubuk lebih mampu bertahan pada kerusakan biologi, karena memiliki aktivitas air (Aw) yang rendah yang disebabkan kandungan air yang juga rendah. Akan tetapi, susu bubuk masih mungkin terjadi kerusakan kimia seperti proses oksidasi lemak maupun reaksi browning non enzimatik. Selain itu, kelemahan utama pada susu bubuk adalah sifatnya yang rentau (mudah) rusak, terutama oleh kondisi dan lamanya penyimpanan. Sehingga, hal yang perlu diperhatikan adalah cara menyimpan susu bubuk dengan baik dan benar, karena suhu dan lamanya penyimpanan, dapat mempengaruhi kualitas susu bubuk.

Di satu sisi, masyarakat Indonesia mungkin berada di peringkat bawah dalam mengonsumsi susu sapi atau susu segar. Tetapi, Indonesia justru termasuk pada posisi atas dalam konsumsi susu bubuk.

Negara Jumlah konsumsi per kapita (%)
Susu cair Susu bubuk
Amerika / USA 94,4 5,6
India 96,49 3,51
Singapura 69,89 30,11
Thailand 64,67 35,33
Indonesia 22,87 77,13

Sumber: Canadean Survey (2008)

Sedangkan jika dilihat dalam skala nasional, konsumsi susu bubuk di Indonesia lebih tinggi dibandingkan susu segar. Walaupun memang masih kalah jika dibandingkan dengan konsumsi susu kental manis. Berikut adalah jumlah rata-rata konsumsi susu dan produk turunannya, per kapita per minggu di Indonesia.

Jenis susu Rata-rata konsumsi (liter)
Wilayah perkotaan Wilayah pedesaan Nasional
Susu segar 0,009 0,002 0,005/kapita/minggu

0,26/kapita/thn

Susu cair pabrik 0,068 0,032 0,048/kapita/minggu

2,5/kapita/thn

Susu bubuk bayi 0,014 0,004 0,009/kapita/minggu

0,47/kapita/thn

Susu bubuk 0,025 0,005 0,013/kapita/minggu

0,68/kapita/thn

Susu kental

manis

0,23 0,135 0,179/kapita/minggu

9,31/kapita/thn

Total 0,346 0,179 0,254/kapita/minggu

13,22/kapita/thn

Sumber: BPS, SUSENAS (2005)

Susu Bubuk Juga Ada Macam-macamnya

Menurut Chan (2008) dalam Heawaty (2008), susu bubuk terbagi menjadi 4 jenis, yaitu:

  1. Susu bubuk full cream     : susu sapi yang diubah bentuknya menjadi bubuk dengan kandungan lemaknya bisa sampai 100% dan kadar airnya ≤ 3%. Disebut juga susu bubuk berlemak atau dry whole milk. Dry whole milk mengalami proses homogenisasi dengan suhu 63 – 74 0C dan tekanan 17 – 24 MPa atau sekitar 2.500 – 3.500 psi.
  2. Susu bubuk half cream : susu sapi yang sudah diambil sebagian lemaknya dengan kandungan sekitar 50%, kemudian diubah bentuknya menjadi bubuk. Disebut juga susu bubuk rendah lemak atau reduced fat dry milk.
  3. Susu skim : susu sapi yang sudah diambil lemaknya sampai tersisa 3%, kemudian diubah bentuknya menjadi bubuk. Disebut juga susu bubuk tanpa lemak atau non fat dry milk.
  4. Whey powder : hasil samping pembuatan susu bubuk, dikenal juga dry whey products.

 Susu Bubuk Skim

Susu bubuk skim merupakan jenis susu bubuk, yang kandungan lemaknya maksimal 1,5% sehingga juga dikenal dengan susu bubuk rendah lemak (low fat dry milk). Susu bubuk skim dalam proses pembuatannya, memanfaatkan metode pengeringan dengan spray dryer dan roller dryer. Susu bubuk skim biasa digunakan dalam pembuatan es krim, coklat hingga permen. Susu bubuk skim mengandung zat gizi, setidaknya:

  • Protein sebanyak 34 – 37%
  • Laktosa sebanyak 49,5 – 52%
  • Lemak sebanyak 0,6 – 1,25%
  • Abu sebanyak 8,2 – 8,6%
  • Kelembutannya 3 – 4% (susu bubuk non instan) dan 3,5 – 4,5% (susu bubuk instan)

Susu bubuk skim memiliki komposisi yang berbeda dengan susu skim, perbedaan tersebut seperti pada tabel berikut.

Komposisi Susu bubuk skim (per 100 g) Susu skim (per 100 g)
Kalori (kal) 362 36
Air (g) 3,5 90,5
Protein (g) 35,6 3,5
Lemak (g) 1 0,1
Karbohidrat (g) 52 5,1
Kalsium (mg) 1.300 122
Fosfor (mg) 1.030 97
Besi (mg) 0,6 0,1
Vitamin

Vit. A (SI)

Vit. B1 (mg)

Vit. C (mg)

 

40

0,35

7

 

Sedikit

0,04

1

 

Untuk komposisi fisik dan kimianya, susu bubuk skim memiliki persyaratan khusus:

Komposisi Jumlah maksimal yang diijinkan
Mikrobiologi

Standart plate count

Non instan

Instan

Coliform

Instan

Lainnya

E. coli

Salmonella

Listeria

Staphylococcus koagulase positif

 

 

≤ 50.000 cfu/g

≤ 35.000 cfu/g

 

≤ 10 cfu/g

≤ 50.000 cfu/g

Negatif

Negatif

Negatif

Negatif

Partikel abu

Spray dryer

Roller dryer

 

7,5 – 15 mg

≤ 22,5 mg

Kadar keasaman 0,14 – 0,15%
Daya larut

Instan

Spray dryer

Roller dryer

 

≤ 1 ml

≤ 1,25 ml

≤ 15 ml

Warna Putih, jika terkena cahaya warnanya krem
Aroma, rasa Aroma khas susu, bersih

Sumber: USDEC (2006)

Karena low fat, susu skim baik untuk dikonsumsi bagi seseorang dengan program diet rendah kalori. Meski rendah energi, rendah lemak, tetapi susu bubuk skim masih baik untuk menjadi salah satu asupan protein. Akan tetapi, dalam susu bubuk skim, kandungan vitaminnya kurang, khususnya vitamin yang larut lemak seperti vitamin A dan D.

Susu Bubuk Full Cream

Merupakan susu bubuk dengan lemak yang cukup tinggi, dihasilkan dari susu segar cair atau pencampuran susu cair dengan susu kental atau krim bubuk. Hasil pencampuran susu tersebut lalu dipasteurisasi dan dikeringkan. Susu bubuk full cream mengandung laktosa (lemak susu) tidak kurang dari 26% dengan kadar air yang tidak lebih dari 5%.

Susu Bubuk Instan

Susu bubuk instan sebenarnya merupakan susu bubuk rendah lemak, yang dihasilkan dari pengeringan susu yang sebelumnya sudah diambil sebagian lemaknya menggunakan alat pemisah krim atau cream separator. Susu bubuk instan mengandung lemak susu ≥ 1,5% sampai ≤ 26% serta kadar air ≤ 5%. Susu bubuk instan seharusnya memiliki daya larut yang sangat baik dan partikelnya membentuk agregat berpori, sehingga mudah larut dalam air. Secara sederhana, proses pembuatan susu bubuk instan yaitu:

  • Rewetting dari kadar air 3% menjadi 6%, yaitu dengan menghadapkan permukaan susu dengan kelembaban tinggi. Sehingga akan terjadi aglomerasi partikel susu bubuk dan lactose glass dapat mengkristal.
  • Dikeringkan kembali produk tersebut.

Butter milk

Susu bubuk butter milk, biasanya dimanfaatkan sebagai bahan makanan seperti untuk roti atau pun kue. Butter milk  dihasilkan dari proses pengadukan yang mengandung 91% air dan 9% sisanya, total padatan. Total padatan tersebut mengandung 4,5% laktosa; 3,4% nitrogen; 0,4% lemak dan 0,7% abu. Tidak jarang, butter milk dihasilkan dari fermentasi susu skim yang ditambahkan cream. Butter milk  mudah dicerna karena diproses dari suhu yang tinggi dan mengandung asam laktat. Butter milk merupakan cairan kental, yang bisa langsung diminum atau bisa juga sebagai campuran dalam membuat kue / roti. Ketika dicampur dengan soda kue, butter milk bisa menjadi bahan pengembang.

Berikut adalah kandungan gizi untuk beberapa jenis susu bubuk.

Jenis susu bubuk Air (%) Protein (%) Lemak (%) Laktosa (%) Mineral (%)
Full cream 3,5 25,2 26,2 38,1 7
Skim 4,3 35 0,97 51,9 7,8
Krim 4 21,5 40 29,5 5
Whey 7,1 12 1,2 71,5 8,2
Butter milk 3,1 33,4 2,28 54,7 6,5

Sumber: Sudarwanto dan Lukman (1993)

Bagaimana Susu Bubuk Dibuat?

Susu bubuk dibuat berdasarkan prinsip proses pengurangan kadar air yang terkandung di dalam susu segar, sampai pada batas tertentu. Tujuannya adalah untuk menghambat aktivitas kimia atau mikroba dalam susu, sehingga nantinya produk susu ini akan memiliki masa simpan yang relatif lebih lama dibandingkan susu segar.

Proses pembuatan susu bubuk bermula dari pemanasan pendahuluan, pada suhu 65 – 170 0C, agar kadar air dalam bahan yang tersisa hanya 45 – 50%. Susu bubuk dibuat melalui metode semprot (spray process) atau dengan pengeringan silinder (drum process). Susu bubuk dibuat dengan mencampurkan susu segar, krim, skim, butter milk dan whey. Susu bubuk biasa dibuat menggunakan spray dryer. Yaitu, susu segar dihomogenisasi terlebih dahulu. Kemudian dikentalkan dalam vacuum pan pada suhu 82 – 99 0C selama 15 – 30 menit. Baru setelah itu, semprotkan susu kental menggunakan tekanan tinggi dalam spray dryer pada suhu 150 – 200 0C selama 25 – 900 detik. Nantinya, bubuk susu akan keluar sebagai output-nya secara otomatis. Susu bubuk juga bisa dibuat menggunakan drum dryer. Pada drum dryer, proses perpindahan panas terjadi secara tidak langsung. Ada 4 tipe alat drum dryer yaitu pengering silinder atmosferik tunggal, atmosferik ganda, vakum tunggal dan vakum ganda.

Susu bubuk dibuat dengan tahapan utama yaitu:

  1. Perlakuan pendahuluan

Meliputi proses penyaringan (klarifikasi), separasi dan standarisasi.

  1. Pemanasan pendahuluan

Yaitu proses menghilangkan atau menguapkan sebagian air yang ada dalam susu segar, sampai kadar airnya 45 – 50%, dengan bantuan evaporator.

  1. Pengeringan

Yaitu cara untuk mengurangi jumlah air dalam susu segar, sampai tercapai keseimbangan kadar air dengan kelembaban relatif sekitarnya. Dalam pembuatan susu bubuk, proses pengeringan biasanya dilakukan menggunakan spray dryer dan drum dryer, atau roller dryer bersuhu tinggi atau pun freeze dryer bersuhu rendah.

 

Secara garis besar, susu bubuk dibuat melalui 2 proses utama yaitu proses basah dan kering. Di dalam 2 proses tersebut, terdiri dari beberapa rangkaian proses. Berikut proses pembuatan susu bubuk.

  1. Proses Basah (Wet Process)

Disebut demikian karena bahan baku yang digunakan dalam proses, masih berupa zat cair atau liquid. Proses basah terdiri dari beberapa rangkaian proses yaitu:

  • Input susu segar

Bahan baku utama susu bubuk adalah susu sapi segar yang diambil langsung dari sapi perah. Dilakukan pula pengecekan atau uji kelayakan susu segar, dengan parameter uji seperti bakteriologis, fisis dan organoleptis. Susu segar yang lolos uji, kemudian masuk dalam balance tank untuk disaring dari bahan lain yang tidak diharapkan ada. Baru setelah itu susu masuk ke plat pendingin.

  • Pendinginan

Susu yang masuk plat pendingin (cooler plate) yang berupa plate heat exchanger (PHE), didinginkan pada suhu maksimal 14 0C, sampai suhu susu mencapai 4 0C atau 2 0C menggunakan media chilled water. Pada proses ini, susu yang mengalir pada plat pendingin, arahnya berlawanan dengan media pendingin. Suhu rendah akan menonaktifkan mikroba dalam susu, menghambar reaksi enzimatis dan mencegah reaksi kimia yang menyebabkan kerusakan pada produk susu.

  • Pasteurisasi

Proses ini bertujuan untuk membunuh semua mikroba patogen yang merusak susu dan bisa menyebabkan penyakit pada bayi. Mikroba tersebut di antaranya Mycobacterium tuberculosis penyebab tuberkolosis, Coxiella burnetti penyebab Q fever, Salmonella, Shigella sp. penyebab penyakit enterik misalnya thypoid dan parathypoid, serta Enterobacter sakazakii penyebab radang otak pada bayi. Tidak hanya itu, proses pasteurisasi juga mampu memperpanjang masa simpan produk, karena enzim dalam susu seperti lipase, katalase, fosfatase dan peroksidase, telah ter-inaktivasi. Pasteurisasi pada pembuatan susu bubuk biasanya dilakukan pada suhu 82 – 99 0C selama 15 – 30 menit, atau bisa juga pada suhu 120 – 140 0C selama 15 – 25 detik.

Dalam pembuatan susu bubuk, pasteurisasi yang dilakukan menggunakan sistem High Temperature Short Time  (HTST) yakni pada suhu tinggi sekitar 83 0C dalam waktu yang relatif singkat selama 15 detik. Sistem HTST bertujuan untuk mencegah kerusakan nutrisi, khususnya protein yang mudah terdenaturasi.

  • Pencampuran basah (compounding)

Yakni proses pencampuran, pendispersian dan pelarutan komponen padat atau bubuk di antaranya susu segar yang sudah dipasteurisasi dan minyak nabati yang terformulasi (sudah mengalami proses oil blending sebelum masuk ke unit compounding), untuk mendapatkan campuran homogen sebelum proses pengeringan. Komponen padat tersebut di antaranya susu bubuk, skim, gula, whey, penambah aroma, emufifier atau stabilizer (lechittin), vitamin serta mineral.

  • Sterilisasi

Proses sterilisasi pada susu bubuk bertujuan untuk menurunkan jumlah total sel mikroba dan spora agar susu bisa disimpan lama tanpa melalui pendinginan (tidak seperti susu olahan lainnya, yogurt, susu UHT, yang bisa disimpan di lemari pendingin). Jika pasteurisasi dilakukan dengan metode HTST, maka sterilisasinya menggunakan UHT (Ultra High Temperature). Yaitu menyemprotkan atau menginjeksi steam (metode DSI / Direct Steam Injection) dalam campuran susu yang berada pada tabung sterilisasi. Susu melalui 2x proses DSI, yang bertujuan untuk mencegah denaturasi dan menghindari browning. Proses DSI tahap I, susu dipanaskan dengan suhu 85 0C selama 4 detik. Lalu proses DSI tahap II dipanaskan lagi pada suhu 120 0C selama 1 detik.

  • Homogenisasi

Adalah proses penyeragaman ukuran globula lemak, yang awalnya memiliki ukuran berbeda-beda sekitar 4 – 8 mikron menjadi sama yaitu 2 mikron. Homogenisasi dilakukan untuk menghindari pemecahan lemak dan terbentuknya lapisan krim saat susu didiamkan. Homogenisasi menghindari / menghambat terbentuknya lapisan krim dengan cara memecah globula lemak serta pencegahan pembentukan flokula oleh aglutinasi. Homogenisasi dilakukan menggunakan tekanan 200 bar, lalu dilanjutkan pada tekanan 80 bar. Homogenisasi dilakukan 2x, di mana proses yang kedua tersebut bertujuan untuk memecah globula lemak yang mungkin (ada yang) belum pecah pada proses pertama dan mencegah penggabungan kembali globula lemak hasil pemecahan proses pertama.

Selesai homogenisasi, susu masuk ke Mixed Storage Tank, yang dilengkapi mantel berisi air dingin, untuk menjaga kestabilan suhu campuran, serta pengaduk dengan kecepatan 400 rpm, untuk menghomogenkan campuran selama penyimpanan. Umumnya, Mixed Storage Tank  ada 4 tangki dengan kapasitas masing-masingnya 10.000 L.

2. Proses Kering (Dry Process)

Setelah serangkaian proses basah, kemudian dilanjutkan dengan proses kering, untuk nantinya menjadi susu berbentuk bubuk. Proses kering juga terbagi menjadi beberapa tahap, yaitu sebagai berikut:

  • Evaporasi

Hasil dari proses basah, masih menyisakan air di dalam susu. Maka, dalam proses kering, yang dilakukan dahulu adalah evaporasi atau menguapkan sebagian air dalam susu, hingga menghasilkan susu pekat dengan kadar padatan sesuai keinginan. Susu yang keluar dari Mixed Storage Tank  dievaporasi  dengan falling film type of single effect evaporator. Di dalamnya, susu akan mengalir dan turun, lalu membentuk lapisan tipis yang bersifat mudah menguap oleh panas dari uap di sekeliling luar tabung evaporator.

  • Pengeringan

Proses pengeringan pada pembuatan susu bubuk, biasanya hanya menyisakan kadar air akhir 2 – 5%. Dalam pembuatan susu bubuk, metode pengeringan yang digunakan adalah spray drying. Yaitu proses pengeringan dengan teknik semprotan bertekanan tinggi, dari bahan dasar berupa cairan, bubur atau pasta, yang nantinya menghasilkan susu dengan bentuk kabut dan butiran halus atau seperti tepung.

Proses pengeringan dilakukan dalam 4 tahap. Pertama, menyemprotkan bahan melalui penyemprot atau dengan metode atomisasi. Kedua, kontak antara partikel hasil atomisasi dengan udara dalam pengering. Ketiga, terjadinya penguapan air dari bahan. Keempat, pemisahan bubuk kering dengan aliran udara yang membawanya. Teknik pengeringan spray drying bekerja ketika susu cair masuk ke sebuah celah yang sangat sempit. Di mana spray dryer memiliki diameter kurang dari 300 µm, pada umumnya hanya 10 – 100 µm. Lalu kemudian, dari celah tersebut terpancar udara kering. Hanya udara kering tersebut yang mengenai langsung susu cair. Susu cair lalu keluar dengan cara tersemprot dari dalam karena atomisasi, yang nantinya hasilnya berupa bubuk, kabut atau tepung. Susu yang disemprot dari ruang berisi udara panas, menyebabkan molekul air menguap dan padatan susu yang kering terjatuh lalu terkumpul di dasar ruangan/wadah.

Susu bubuk yang dikeringkan dengan spray dryer akan menghasilkan butiran susu berukuran 10 – 15 µ, yang sifat kelarutan dalam air sempurna, hampir mirip sifat susu segar. Tidak hanya menghasilkan partikel yang lebih halus, metode spray drying lebih banyak digunakan di pabrik-pabrik susu bubuk karena waktu pengeringannya relatif lebih singkat serta rasa, warna dan nilai gizi susu relatif tidak banyak berkurang/hilang. Sayangnya, metode spray drying mempengaruhi total padatan yang dihasilkan dari proses pembuatan susu bubuk. Karena, suhu pengeringan yang tinggi, menghasilkan susu bubuk dengan kadar air yang rendah dan total padatan yang tinggi.

Susu bubuk juga bisa dikeringkan dengan drum dryer. Dalam drum dryer, yang digunakan adalah 2 silinder yang saling berhimpitan, dipanaskan dengan uap panas 130 – 150 0C, lalu diputar pada arah yang saling berhadapan (arah berlawanan). Sekitar ¾ dari titik putaran, susu sudah berubah menjadi lapisan tipis kering, menempel pada dinding silinder, yang kemudian terkelupas oleh pisau / scraper statis. Lapisan kering susu tersebut lalu ditumbuk/dihaluskan menjadi serpihan atau bubuk.

Di mana nantinya akan menghasilkan susu bubuk dengan butiran berbentuk pipih berketebalan 8 – 10 µ, yang memiliki sifat kelarutan dalam air kurang sempurna karena butiran lemak mengapung di atas permukaan (air). Tetapi, drum dryer termasuk salah satu metode pengeringan paling hemat energi.

Sifat Spray dryer Drum dryer
Kadar lemak 1,25% 1,25%
Kelembaban 4% 4%
Keasaman titrasi 0,15% 0,15%
Indeks kelarutan 1,25 ml 15 ml
Estimasi bakteri 50.000 50.000
  • Dry Blending

Yaitu proses pencampuran bubuk yang keluar dari spray dryer pada tahapan pengeringan, bersama raw material lain seperti whey powder, gula dan material premiks.

Perjalanan dry blending dimulai dari bahan-bahan yang masuk melewati conveyor lalu ditimbang di weight hopper. Lalu berhenti di hopper lindor untuk mengurangi tekanan besar dari aliran material. Hopper lindor sendiri terpasang hammer silicon sebagai bagian untuk menggetarkan dinding hopper agar semua material bisa turun ke lindor blender, serta slang pneumatic untuk mendapat udara dari luar. Keluar dari hopper lindor, bahan-bahan masuk ke lindor blender berkapasitas maksimal 4 ton, untuk proses pencampuran. Akan tetapi, biasanya bahan yang dimasukkan dalam sekali pencampuran hanya 2 ton. Di mana pencampuran dilakukan dengan frekuensi putaran 40 Hz selama 5 menit. Selanjutnya, bubuk hasil dari lindor blender dilakukan pemeriksaan. Jika sudah lolos pemeriksaan, bubuk akan masuk ke wooden bin melalui bin filling. Bin filling sendiri, dilengkapi metal detector yang akan mendeteksi logam yang mungkin terbawa dalam bubuk. Jika ada logam dalam bubuk, pengisian bubuk dalam wooden bin akan otomatis berhenti. Wooden bin memiliki kapasitas muat 700 kg dan menjadi media penyimpanan susu bubuk, sementara, yaitu sebelum proses pengemasan.

Dalam prosesnya, susu bubuk mengalami proses fortilisasi kembali. Fortilisasi merupakan penambahan nutrisi (kembali) ke dalam susu bubuk, sehingga meskipun telah melewati pemanasan dengan suhu yang tinggi, kandungan gizinya bisa tetap didapatkan. Akan tetapi, nilai gizi alami dari susu segar, sudah berkurang atau bahkan mungkin tidak ada.

Setelah melalui proses panjang, susu bubuk mesti dikemas dengan baik dan benar, untuk mempertahankan sifatnya yang memiliki ‘masa simpan lama’.

Susu bubuk, biasanya dikemas dalam beberapa jenis pengemas, seperti:

  • Kantong plastik khusus (plastic milk powder bag): terbuat dari linen, dilapisi kertas semen lalu dikemas dengan ukuran 25 kg atau 600 kg, disimpan dalam gas nitrogen untuk memproteksi susu bubuk dari oksidasi agar aroma dan kualitasnya terjaga dengan baik.
  • Kertas karton (multiwall paper): terdiri dari 3 lapis, ketebalan 5 mm, di mana lapisan terluarnya adalah jenis plastik PP.
  • Aluminium foil atau yang biasa dikenal dengan alufoil: kebanyakan susu bubuk baik untuk anak-anak, dewasa maupun orang tua, dikemas menggunakan kemasan alufoil.

Kemudian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan dan atau penyimpanan susu bubuk, di antaranya adalah:

  • Susu bubuk harus bebas dari pengembunan, karena laktosa susu mampu menyerap air dengan cepat, yang bisa menimbulkan koagulasi pada susu bubuk.
  • Susu bubuk dikemas secara vakum untuk meningkatkan masa simpannya.
  • Susu bubuk disimpan pada suhu dingin dan kering, yang dilengkapi ventilasi udara dan suhu yang tidak lebih dari 25 0C, kelembaban tidak kurang dari 65%, tidak boleh terkena sinar matahari langsung serta bau menyengat (dari benda/bahan lain).
  • Kadar oksigen dalam susu bubuk harus kurang dari 0,02 cm3/gram, sehingga produk memiliki masa simpan hingga 2 – 3 tahun.
  • Untuk susu bubuk yang disimpan pada suhu 4 – 20 0C, masa simpannya bisa mencapai 1 tahun. Tetapi jika susu bubuk disimpan pada suhu sekitar 37 0C masa simpannya hanya 3 bulan.

Selain pengemasan, penyimpanan juga cukup penting untuk diperhatikan. Jika dilakukan penanganan yang baik dan benar, susu bubuk mampu bertahan hingga 2 tahun. Nah, berikut adalah masa simpan untuk beberapa jenis susu bubuk.

Jenis susu bubuk Suhu penyimpanan (0C) Kelembaban/RH (%) Perkiraan masa simpan (bulan)
Dried, whole 21 Rendah 6 – 9
Dried, non fat 7 – 21 Rendah 16
Whey, dried 21 Rendah 12

Kualitas Mutu Susu Bubuk

Kualitas susu bubuk dinilai dari warnanya, daya larut, sifat higroskopisnya, rasa dan kadar lemaknya.

Sebelumnya, dalam SNI No. 01-6366-2000, disebutkan bahwa ada beberapa jenis cemaran mikroba yang diperbolehkan dalam ambang batasnya, yaitu sebagai berikut.

Cemaran mikroba Batas maksimum (cfu/g atau cfu/ml)
Total plate count 5 x 104
Coliform 0
E. coli* 0
Enterococci 10
Staphylococcus aureus 10
Clostridium sp. 0
Salmonella sp.** Negatif
Camphylobacter sp. 0
Listeria sp. 0

Ket.:    *) satuan MPN/gram atau MPN/ml

**) satuan kualitatif

Menurut SNI No. 01-2970-2006, ada beberapa parameter yang menjadi syarat mutu susu bubuk.

Parameter Satuan Jenis susu bubuk
Berlemak Kurang lemak Bebas lemak
Keadaan

Bau

Rasa

 

 

Normal

Normal

 

Normal

Normal

 

Normal

Normal

Kadar air % b/b Maks. 5 Maks. 5 Maks. 5
Lemak % b/b Min. 26 Lebih dari 1,5 – kurang dari 26 Maks 1,5
Protein (Nx6,38) % b/b Min. 23 Min. 23 Min. 30
Cemaran logam**

Tembaga (Cu)

Timbal (Pb)

Timah (Sn)

Raksa (Hg)

 

mg/kg

mg/kg

mg/kg

mg/kg

 

Maks. 20

Maks. 0,3

Maks. 40/250*

Maks 0,03

Maks. 0,1

 

Maks 5 x 104

Maks 10

< 3

Maks 102

Negatif

Cemaran Arsen (As)** mg/kg
Cemaran mikroba

Angka Lempeng Total

Bakteri coliform

E. coli

Staphylococcus aureus

Salmonella

 

koloni/g

APM/g

APM/g

koloni/g

koloni/100 g

Ket. :   *) untuk kemasan kaleng

**) dihitung pada makanan siap konsumsi

Susu Bubuk Bisa Rusak?

Salah satu bentuk kerusakan pada susu bubuk adalah adanya curd. Curd merupakan bintik putih dalam larutan susu yang tidak larut, membekas pada dinding botol/gelas sebagai lapisan putih, serta disebabkan karena denaturasi protein susu terutama selama tahapan yang melibatkan panas yang menyebabkan koagulasi protein, yaitu pada rentang suhu 55 – 75 0C. Curd dalam jumlah yang sedikit, memiliki kecepatan larut yang lebih baik, dibandingkan dengan curd dalam jumlah banyak.

Kadar lemak yang mengalami kerusakan adalah penyebab utama ketengikan dan reversion perubahan aroma sebelum terjadi ketengikan).

Susu segar mudah tercemari beberapa jenis mikroorganisme seperti Brucella sp., Bacillus cereus, Campylobacter sp., Listeria monocytogenes, Salmonella sp., dan Staphylococcus aureus.

Sehingga, dalam SNI pun sudah ditetapkan bahwa susu dan semua produk turunannya, termasuk susu bubuk, tidak boleh tercemar bakteri E. coli di dalamnya. Apalagi, susu bubuk mengalami proses pemanasan dan pengemasan, yang memungkinkan terjadinya pencemaran mikroorganisme patogen. Seperti halnya bakteri Salmonella, Listeria monocytogenes dan Yersinia enterocolitica, yang masih bisa bertahan hidup dalam susu meskipun sudah dipasteurisasi. Selain itu, menurut Saksono dan Saksono (1986), ada beberapa mikroorganisme yang mungkin bisa mencemari susu bubuk, di antaranya adalah:

  • Spesies tahan panas dari jenis
  • Streptococci tahan panas, khususnya dari jenis Streptococcus thermophilus, S. faecalis, S. bovis, S. faecalis var, S. liquefaciens dan S durans.
  • Micrococci yang tahan panas.

Maka dari itu, perlu dijaga dan diawasi betul bagaimana kondisi alat yang digunakan dan cara pengemasan agar steril serta mengurangi potensi / kemungkinan tumbuhnya mikroorganisme patogen di dalam susu.

Nah, tidak jauh kaitannya dengan kerusakan susu bubuk, maka ada beberapa hal terkait penyajian susu bubuk yang perlu diketahui:

  • Sebaiknya tidak menggunakan air yang terlalu panas. Kebanyakan orang akan menggunakan air panas atau baru mendidih, untuk membuat susu bubuk. Padahal, susu bubuk sebaiknya dilarutkan menggunakan air yang suhunya sekitar 70 0C (bukan air mendidih). Anda bisa mendiamkan air mendidih selama 30 menit.
  • Memasukkan susu bubuk dahulu sebelum menuangkan air. Sebaiknya, untuk mendapatkan takaran yang pas, tuangkan dahulu air ke dalam gelas/botol. Baru setelah itu, masukkan susu bubuknya. Untuk produk tertentu, biasanya susu bubuk dilengkapi dengan sendok takaran pada kemasannya.
  • Susu bubuk sisa tidak boleh diminum lagi. Misalnya, jika Anda atau anak-anak sudah meminum susu, tetapi belum habis atau masih tersisa. Maka, susu harus dibuang dan tidak boleh didiamkan lebih dari 1 jam, meskipun disimpan dalam kulkas.
  • Tidak menghangatkan susu dalam microwave. Selain makanan, susu bubuk yang sudah dibuat lalu belum diminum, kadangkala dipanaskan lagi oleh para ibu. Sebaiknya, hal ini jangan dilakukan. Buat lagi susu bubuk tersebut.
  • Hindari menyentuh dot. Saat memberikan susu formula untuk anak, hindari menyentuh ujung dot dengan tangan Anda. Biasanya, para orang tua akan melakukannya untuk memastikan apakah susu tersebut sudah hangat atau masih terlalu panas diberikan bagi balita / anak-anak. Anda bisa menyentuh pinggiran dot, tetapi pastikan tangan Anda bersih.

 Manfaat Susu Bubuk

Susu dikenal sebagai pemberi asupan protein, kalsium dan vitamin lainnya. Nah, selain sebagai pemenuh gizi dalam tubuh, susu bubuk juga memiliki manfaat lain. Inilah manfaat lain susu bubuk, yang bisa Anda dapatkan:

  • Susu bubuk biasa dimanfaatkan dalam menjadi bahan pembuat kue atau roti. Susu bubuk berperan dalam menentukan tekstur, warna, rasa dan aroma. Susu bubuk bisa langsung digunakan sebagai bahan membuat roti. Tetapi bisa juga dilarutkan dahulu sebelum dicampurkan bahan pembuat roti lainnya.
  • Susu bubuk bisa menjadi pembersih wajah. Caranya: Anda tinggal mencampurkan 3 sendok susu bubuk, 1 sendok olive oil, minyak almond dan beberapa tetes air mawar. Aduk rata lalu terapkan pada kulit dan atau wajah menggunakan cottun bud. Biarkan selama 15 menit, barulah dibilas dengan air dingin.
  • Susu bubuk mengandung laktosa, yang baik untuk mencerahkan kulit dan membuatnya agar terlihat lebih bercahaya. Susu bubuk untuk perawatan wajah dan kulit, biasanya dibuat menjadi masker atau scrub. Susu bubuk sebagai solusi untuk mencerahkan kulit, caranya: campurkan 1 sendok susu bubuk dengan bubuk kunyit. Lalu terapkan pada wajah dan leher, biarkan selama setengah jam dan barulah dibilas dengan air sambil dipijat perlahan. Untuk hasil maksimal, Anda bisa melakukannya setiap hari selama 2 minggu dan rasakan perbedaannya.
  • Susu bubuk dapat menjadi solusi dalam mengatasi kulit kering. Caranya: haluskan beberapa potong buah pisang, lalu campurkan dengan susu bubuk. Terapkan pada wajah yang kering dan biarkan selama 20 menit sebelum dibilas.
  • Selain untuk kulit kering, susu bubuk bisa juga mengatasi kulit terbakar karena paparan terik matahari. Caranya: ambil 2 sendok susu bubuk dan setengah potong buah tomat. Blender kedua bahan tersebut hingga menjadi pasta. Lalu terapkan pada wajah atau bagian permukaan kulit tubuh lainnya yang terbakar terik matahari. Biarkan selama 30 menit lalu bilas dengan air bersih. Untuk mendapatkan hasil maksimal, Anda bisa melakukannya 2x seminggu.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.