tanaman jagung manis

Cara Budidaya Jagung Secara Tepat Hasil Melimpah

Ingin budidaya jagung dengan hasil melimpah? Semuanya bisa dipelajari dan dipraktikkan. Jika sudah dipraktikkan, apalagi berkali-kali, pasti akan menjadi pengalaman berharga.

Jagung (Zay mays) merupakan salah satu tanaman pangan penting bagi masyarakat Indonesia. Selain menjadi makanan utama di beberapa daerah, jagung juga dapat diolah menjadi produk pangan olahan, industri minyak goreng, serta bahan baku pakan ternak dan ikan.

Karena itu, selama puluhan tahun, Pemerintah Indonesia masih harus mengimpor jagung. Stok lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Melalui budidaya yang terus diperbaiki, didukung varietas-varietas unggulan baru, sedikit demi sedikit nilai impor mulai berkurang. Hingga tahun 2014, jumlah impor tercatat 3,5 juta ton atau setara dengan Rp 10 triliun.

Sejak tahun 2017, Pemerintah RI sudah mampu mengeskpor jagung sebanyak 380.000 ton. Hal ini dapat dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya.

Jika tertarik, Anda pun bisa berkiprah langsung dalam budidaya jagung. Komoditas ini memiliki prospek cukup menjanjikan. Yang penting, perhatikan cara budidaya jagung secara tepat, agar hasilnya melimpah.

cara budidaya jagung

1. Syarat Tumbuh Tanaman Jagung

Sebenarnya jagung termasuk tanaman pangan yang tidak rewel. Ia mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lahan, suhu maupun iklim. Kalau cukup air dan unsur hara, serta perakarannya berkembang baik, tanaman bisa tumbuh dengan baik.

a. Suhu dan Iklim Sekitar

Jagung bisa ditanam di dataran rendah dengan suhu udara tinggi. Tetapi juga bisa tumbuh baik di daerah dengan ketinggian lebih dari 500 meter dari pemukaan tanah (m dpl), yang tentunya bersuhu udara relatif rendah.

Beberapa jenis jagung varietas unggul bahkan bisa ditanam di dataran rendah maupun dataran tinggi hingga 1.000 m dpl. Misalnya varietas BISI-18.

Jadi, suhu udara juga tidak terlalu menjadi masalah, asalkan tidak terlalu dingin. Sebab ada fase di mana proses penyemaian benih dapat terhambat pada suhu terlalu rendah. Misalnya, proses perkecambahan biji terhenti jika suhu udara mencapai 10 o C.

Pertumbuhan optimal akan terjadi jika suhu udara di lokasi penanaman berada dalam kisaran 23-27 o C. Tentu harus didukung beberapa persyaratan lainnya seperti derajat keasaman (pH) tanah, bebas dari genangan air, curah hujan, dan sebagainya.

b. Kondisi Lahan Tanam

Agar bisa tumbuh optimal, tanaman jagung membutuhkan kondisi lahan tanam sebagai berikut :

  • Lahan terkena cahaya matahari secara langsung.
  • Tanah memiliki unsur hara mikro dan makro yang bagus. Apapun kondisinya, hal ini bisa diatasi melalui pemupukan bertahap (pupuk dasar, lalu pupuk susulan 1 dan 2).
  • Karena perakarannya dangkal, tanaman jagung membutuhkan tanah gembur. Ini dapat diatasi dengan membajak tanah terlebih dulu.
  • Curah hujan sekitar 85 – 200 mm / bulan.
  • Idealnya pH tanah 5,6 – 7,5. Jika terlalu asam (pH < 5,6), lahan perlu dilakukan pengapuran sampai tercapai angka ideal.
  • Lahan memiliki irigasi yang baik, sehingga ketersediaan air mencukupi.
  • Lahan tak boleh tergenang air. Ini bisa diatasi dengan menggunakan model bedengan. Atau, saat mulai menanam, Anda membuat parit di sekitar lahan.

2. Persiapan Media Tanam

Karena tanaman jagung membutuhkan lahan gembur, maka tanah harus digemburkan dulu. Bisa dengan bantuan mesin atau secara manual (dibajak).

Penggemburan tanah secukupnya saja, dengan kedalaman 15-20 cm. Sebab perakaran tanaman jagung terbilang dangkal. Pada lahan kering, kedalaman cukup 10 cm.

Persiapan media tanam dilakukan dengan memperhatikan beberapa faktor berikut ini :

  • Pada lahan irigasi, jagung ditanam pada musim kemarau.
  • Pada sawah tadah hujan, jagung ditanam pada akhir musim hujan.
  • Pada lahan kering, jagung ditanam pada awal musim hujan dan akhir musim hujan.

a. Pengolahan Media Tanam

Jika sebelumnya lahan dipakai untuk tanaman lain, misalnya padi, harus dilakukan pembersihan jerami. Jerami jangan dibuang, tapi dikumpulkan. Nanti bisa digunakan sebagai mulsa (penutup tanah) ketika jagung sudah ditanam.

Mulsa jerami berfungsi mengurangi penguapan tanah, menghambat pertumbuhan gulma, dan menahan curahan air hujan. Jika nantinya membusuk, bisa menjadi pupuk hijau.

Periksa pH tanah. Jika kurang dari 5, lakukan pengapuran. Ini harus dilakukan sebulan sebelum menanam jagung.

Dosis kapur sekitar 300 kg / ha, yang disebar merata, atau cukup pada barisan tanah yang akan ditanami jagung saja.

Baca juga :  Tanaman Nilam Dan Manfaat Minyak Nilam

Dosis ini hanya berlaku untuk sekali musim tanam. Bisa juga menggunakan 1-3 ton / ha untuk 2-3 tahun. Kapur disebar merata ke seluruh areal lahan.

Setiap 3 meter lahan dibuatkan parit sedalam 20 cm (lebar 30 cm), untuk memasukkan air saat kekurangan air, serta membuang air saat berlebihan (misalnya saat turun hujan). Sebab tanaman jagung tidak boleh tergenang air.

Meski demikian, dalam proses awal penanaman, lahan harus dalam kondisi lembab. Karena itu, jika tanahnya kering, perlu diairi terlebih dulu.

b. Jarak Tanam

Apabila media tanam sudah diolah, sekarang saatnya membuat lubang dan jarak tanam. Buatlah lubang-lubang yang rapi, baik mendatar maupun menurun, dengan jarak tanam tertentu. Lubang dibuat dengan cara ditugal sedalam 3-5 cm.

Jarak tanam benih jagung tergantung dari beberapa faktor, misalnya jenis dan varietas jagung, atau perkiraan masa panen.

Setiap jenis / varietas jagung memiliki masa panen yang berbeda-beda. Misalnya, varietas BISI-18 bisa dipanen umur 100 hari. Varietas Nakula bisa dipanen umur 86 hari. Berikut ini ketentuan jarak tanam berdasarkan perkiraan masa panen.

  • Masa panen > 100 hari: Jarak tanam 100 x 40 cm 2 , atau 100 x 50 cm 2 (40.000-50.000 benih / ha).
  • Masa panen 90-100 hari: Jarak tanam 75 x 50 cm 2 , atau 75 x 40 cm 2 (53.000-66.000 benih / ha).
  • Masa panen 80-90 hari: Jarak tanam 50 x 25 cm 2 , atau 50 x 20 cm 2 (80.000-100.000 benih / ha).

3. Pemilihan Benih Jagung Berkualitas

Pemilihan bibit jagung menjadi kunci awal yang akan menentukan pertumbuhan tanaman hingga hasil panen. Karena itu, perhatikan kualitas benih jagung yang ingin ditanam.

Berikut ini beberapa persyaratan benih jagung yang baik :

  • Benih harus berkualitas. Usahakan dari varietas unggul, baik jenis hibrida atau komposit (bersari bebas).
  • Benih varietas unggul jenis hibrida antara lain BISI, Pioneer, dan Abimanyu. Benih varietas unggul jenis komposit antara lain Arjuna, Palakka, dan Sukmaraga.
  • Benih dari varietas unggul memiliki silsilah atau tetua yang jelas, hasil perkawinan atau persilangan terprogram. Hasilnya, tanaman jagung relatif tahan serangan hama-penyakit, lebih cepat dipanen, dan produksinya jauh lebih banyak.
  • Jika menggunakan varietas lokal, pilih benih dengan ukuran, warna, dan bentuk seragam (setidaknya hampir seragam).
  • Pilihlah benih yang permukaannya bersih dan mengkilat.

a. Menyiapkan Benih Jagung

Kalau ingin menanam jagung komposit, benih bisa diperoleh dari hasil penananam sendiri. Tetapi harus disertai seleksi ketat dengan cara sebagai berikut :

  • Pilihlah jagung bertongkol besar, serta berasal dari tanaman sehat (tidak terserang hama / penyakit).
  • Pemetikan dilakukan kalau tanaman sudah masak fisiologis. Hal ini terlihat dari biji-bijinya yang mengeras, dan sebagian besar daunnya sudah menguning.
  • Tongkol tertutup rapat oleh kelobot. Saat dibuka, baris biji pada tongkol terlihat lurus.
  • Selanjutnya, tongkol dikeringkan.
  • Jika sudah kering, biji jagung dipipil di bagian tengah tongkol. Biji-biji di bagian ujung serta pangkal tongkol tidak usah diambil.
  • Biji-biji yang terpilih dikeringkan, dan dipersiapkan sebagai calon benih.
  • Apabila belum ada rencana menanam dalam waktu dekat, tongkol kering dibungkus dan disimpan di tempat kering pada suhu ruangan.

b. Menyemai Benih Jagung

Benih jagung bisa disemai dulu di tempat terpisah, agar terhindar dari paparan sinar matahari secara langsung maupun curahan air hujan. Media semai bisa berupa kapas yang dibasahi air.

Dalam waktu 4-5 hari, biji mulai berkecambah dan bisa dipindah ke media tanam sesungguhnya, yaitu tanah yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Meski keselamatan benih lebih terjamin, cara persemaian seperti ini mulai ditinggalkan kalangan petani. Mereka lebih suka menanam biji langsung ke media tanah, pada lubang tanah yang telah disiapkan dan diatur jaraknya.

Dalam hal ini, setiap lubang bisa diisi minimal 2 butir benih. Ini bagi Anda yang menghendaki satu lubang hanya berisi 1 tanaman. Jadi, dalam proses penyiangan nanti, ada 1 tanaman yang harus dipangkas.

Bisa juga menanam 3-4 butir benih per lubang. Saat penyiangan, 1-2 tanaman dipangkas sehingga tersisa 2 tanaman yang dibiarkan tumbuh sampai besar dan panen.

c. Pertumbuhan Benih Jagung

Pertumbuhan bening jagung terbagi dalam tiga tahap, yaitu :

  • Fase perkecambahan: ditandai dengan pembengkakan biji hingga sebelum munculnya daun pertama
  • Fase pertumbuhan vegetatif: ditandai munculnya daun pertama yang terbuka sempurna, sampai sebelum silking (munculnya bunga betina).
  • Fase reproduktif: setelah silking hingga masak fisiologis (panen).

Kecambah biasanya muncul pada 4-5 hari setelah tanam (HST). Jika lubang tanam terlalu dalam, proses perkecambahan justru melambat.

Sekitar 10-18 hari setelah berkecambah, ada 3-5 helai daun yang terbuka sempurna. Jumlah daun terbuka sempurna bertambah menjadi 6-10 helai pada 18 -35 hari setelah berkecambah.

Saat itu, titik tumbuh sudah di atas permukaan tanah, perkembangan akar dan penyebarannya sangat cepat, dan batang makin memanjang. Bakal bunga jantan (tassel) dan perkembangan tongkol juga dimulai pada fase ini.

Baca juga :  Yuk, Coba Merakit Akuaponik Sendiri

Pada umur 33-50 hari setelah berkecambah, tanaman jagung tumbuh makin cepat. Jumlah daun terbuka sempurna menjadi 15-18 helai.

Umur 45-52 hari, muncul bunga jantan. Hal ini ditandai adanya cabang terakhir dari bunga jantan sebelum muncul bunga betina (silk / rambut tongkol).

Demikian seterusnya, sampai tiba tahapan terakhir yang disebut Fase R6 (masak fisiologis). Pada tahap ini, biji-biji pada tongkol telah mencapai bobot kering maksimum. Lapisan pati yang keras pada biji berkembang sempurna dan terbentuk lapisan absisi berwarna cokelat atau kehitaman.

4. Proses Perawatan Tanaman Jagung

Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Pada tanaman muda, penyiangan tanaman menggunakan tangan, cangkul kecil, dan garpu. Harus hati-hati agar tak mengganggu perakaran yang belum kuat mencengkeram tanah.

Saat tanaman berumur 6 minggu, dilakukan pembumbunan bersamaan dengan penyiangan dan pemupukan. Tanah di kanan-kiri barisan jagung diuruk dengan cangkul, lalu ditimbun di barisan tanaman membentuk guludan memanjang. Pembubunan berikitnya juga dilakukan bersamaan penyiangan kedua.

a. Penyulaman

Penyulaman dilakukan apabila terdapat benih yang mati atau tumbuh kerdil. Ini bisa dilakukan sekitar 7-10 hari sesudah tanam (HST). Penyulaman menggunakan benih dari varietas yang sama.

Jika dalam satu lubang tumbuh 3 tanaman, sedangkan Anda menginginkan hanya 1-2 tanaman saja, maka diperlukan penjarangan. Ini bisa dilakukan bersamaan dengan jadwal penyulaman.

Caranya, tanaman yang pertumbuhannya paling tidak baik dipotong dengan pisau / gunting tepat di atas permukaan tanah. Jangan melakukan penjarangan dengan cara mencabut tanaman, karena dapat melukai akar tanaman lain.

b. Sistem Pengairan

Setelah benih ditanam, tanaman harus disiram secukupnya, kecuali jika tanah sudah lembab. Pengairan diperlukan saat pembentukan malai dan tongkol.

Pemberian air jangan sampai membuat lahan tergenang. Jika lahan terlalu kering, dapat diairi melalui saluran pemasukan air. Air cukup menggenangi selokan yang ada. Biarkan satu malam, dan sisa air dibuang esok hari.

c. Sistem Pemupukan

Pemupukan harus memperhatikan jenis, dosis, waktu, dan cara pemberian. Formula pemupukan tanaman jagung varietas unggul (hibrida) berbeda dari varietas lokal (non-hibrida). Umumnya varietas unggul lebih banyak memerlukan pupuk ketimbang varietas lokal.

Pemupukan jagung varietas lokal

Untuk pupuk dasar, setiap hektare lahan memerlukan pupuk yang terdiri atas 83,33 kg urea, 75-100 kg TSP / SP-36, dan 50 kg KCl. Selanjutnya, 21 hari setelah tanam ( 21 HST), lahan diberi pupuk susulan, hanya berupa urea (166,67 kg / ha).

Pemupukan jagung varietas unggulan

Untuk pupuk dasar, setiap hektare lahan memerlukan pupuk yang terdiri atas 100 kg urea, 100 kg TSP / SP-36, dan 50 kg KCl. Pupuk susulan diberikan pada 21 HST, berupa 100 kg urea / ha.

Pupuk susulan kedua diberikan pada 35 HST (100 kg urea / ha). Pemberian pupuk bisa dilakukan dengan cara ditugal. Jadi, kita buat lubang tambahan di dekat tanaman jagung. Masukkan pupuk secukupnya  pada lubang tersebut. Berikut adalah ketentuan penugalan jagung yang baik.

  • Pupuk dasar: Lubang tambahan di samping benih, dalam baris tanaman berjarak 5 cm.
  • Pupuk susulan I: Lubang tambahan berjarak 10 cm dari batang.
  • Pupuk susulan II: Lubang tambahan berjarak 15 cm dari batang

Selanjutnya, lubang tambahan ditutup tanah agar pupuk tidak tersapu air. Penutupan lubang juga bisa meningkatkan efisiensi penyerapan pupuk oleh tanaman.

Anda juga bisa menggunakan pupuk kompos. Tetapi jumlahnya cukup besar, sekitar 15 – 20 ton/ ha. Kompos disebar merata saat pengolahan tanah atau disebar dalam larikan dengan dosis 300 kg / ha.

d. Pengendalian Hama dan Penyakit

Penyakit yang sering menyerang tanaman jagung antara lain bulai (Peronosclerospora maydis), karat daun (Puccinia sp.), dan bercak daun (Helminthosporium maydis).

Untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman jagung, ada beberapa pilihan cara yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Pengendalian fisik / mekanis :

Untuk ngengat, kita bisa menggunakan perangkap feromonoid seks sebanyak 40 buah / ha, atau 2 buah / 500 m2, dipasang di tengah tanaman saat berumur 2 minggu.

Jika tanaman sudah terserang, kumpulkan larva / pupa pada bagian tanaman yang terserang, kemudian musnahkan.

  • Pengendalian hayati :

Sebarkan beberapa musuh alaminya: Spodoptera Litura – Nuclear Polyhedrosis Virus / SI-NPV (patogen), Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, Metarhizium anisopliae (jamur); Bacillus thuringensis (bakteri); Steinernema sp. (cacing); Sycanus sp., Andrallus spinideus, Selonepnis geminada (predator); Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp (parasit).

  • Pengendalian kimiawi :

Insektisida yang efektif antara lain monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, karbaril, matador zeon, actara, dan amistartop.

5. Penanganan Hasil Panen

Kualitas hasil panen jagung ditentukan oleh tingkat kematangan yang tepat (matang optimal). Kadar airnya sekitar 35%. Tanda-tanda jagung siap panen dan matang optimal antara lain :

  • Kelobot telah berwarna kuning
  • Biji sudah keras
  • Warna biji mengkilap
  • Jika ditekan dengan ibu jari, tidak ada bekas tekanan pada biji jagung.
Baca juga :  Beternak Unggas Petelur Dan Pedaging

Panen dilakukan ketika cuaca cerah. Cara menanen yang baik adalah dipuntir dengan tangan. Bisa juga menggunakan sabit, untuk memotong tangkai buah.

Saat memanen jagung, sekaligus potong batang dan bagian tanaman lainnya. Bagian tanaman ini bisa dijadikan pakan ternak. Bisa juga dibenamkan dalam tanah sebagai pupuk hijau.

Jagung dipanen lengkap dengan tongkol dan kelobotnya. Jika dipanen tanpa kelobot berpotensi terjadi kerusakan pada butir-butir jagung.

a. Pengolahan Hasil Panen

Setelah dipanen, seleksi jagung dengan kualitas baik. Singkirkan jagung yang tidak sehat atau terinfeksi penyakit.

Selanjutnya dilakukan pengeringan, untuk menurunkan kadar air. Kadar air dalam jagung sesuai dengan Standar Mutu Jagung SNI No. 01-3920-1995 adalah 14% (Mutu I dan II) serta 15% (Mutu III).

Kalau mau disimpan dulu, kadar air bisa diturunkan menjadi 13%, agar jamur tidak tumbuh dan respirasi biji rendah.

Karena itu, pengeringan sebaiknya dilakukan dalam waktu 24 jam setelah panen. Jagung dapat dikeringkan dalam bentuk tongkol dengan kelobot, tongkol tanpa kelobot, atau jagung pipilan.

Pengeringan bisa dilakukan dalam dua tahap. Pengeringan awal dilakukan untuk memudahkan pemipilan jagung. Pengeringan awal dilakukan hingga kadar airnya sekitar 17-18%.

Jika jagung sudah dipipil, dapat dikeringkan lagi sampai kadar airnya 13% sehingga tahan untuk disimpan dalam waktu cukup lama.

b. Penyimpanan Hasil Panen

Ada beberapa teknik penyimpanan jagung, antara lain

# Penyimpanan di atas para-para

Bisa digunakan untuk menyimpan tongkol dengan kelobot. Jagung disimpan di atas para-para yang ditempatkan di bawah atap rumah atau di atas dapur.

Para-para di atas dapur bisa menjamin jagung tetap baik dalam waktu cukup lama. Sebab asap dapur, khususnya jika menggunakan kayu bakar, meninggalkan residu yang bersifat anti-jamur, anti-bakteri, dan anti-serangga.

Setiap 15-20 tongkol diikat menjadi satu, lalu digantung secara bersusun di atas para-para. Cara ini memungkinkan sirkulasi asap berjalan lancer. Tetapi teknik penyimpanan ini perlu dilengkapi kawat anti-tikus.

# Penyimpanan dalam karung plastik

Bisa digunakan untuk menyimpan jagung pipilan. Jika tak ada karung plastik, bisa juga kantong plastik, kaleng, jirigen, dan sebagainya.

Usahakan kadar air maksimal 14%. Jika lebih dari itu, bisa memunculkan jamur dan aneka toksin seperti aflatoksin, serta hama yang bisa merusak jagung pipilan.

Jamur Aspergillus flavus, misalnya, dapat berkembang-biak serta memproduksi aflatoksin pada jagung dengan kadar air lebih dari 18%.

Apabila biji jagung akan disiapkan sebagai benih, kadar air harus di bawah 14% (idealnya 9%). Kantong plastik yang digunakan pun berukuran kecil.

Kantong-kantong kecil ini lalu dimasukkan lagi dalam kantong plastik agak besar. Kantong besar kemudian dimasukkan ke dalam kaleng yang sebelumnya telah ditaburi kapur tohor. Tutuplah kaleng secara rapat.

Dengan teknik penyimanan ini, kualitas benih akan terjaga. Apalagi jika suhu penyimpanan 21 derajat C. Penyimpanan benih jagung dengan kadar air 13-14%, menggunakan kaleng tertutup rapat, bisa mempertahankan daya tumbuh jagung selama 5 bulan.

c. Distribusi Hasil Panen

Selama ini, distribusi hasil panen jagung dari petani masih memiliki mata rantai cukup panjang serta kurang efektif dan efisien. Dampaknya, dibutuhkan biaya lebih mahal dan itu dibebankankepada konsumen.

Berikut ini beberapa pola distribusi hasil panen jagung yang sering terjadi di Indonesia :

  • Petani — pedagang besar — pedagang antar-daerah — industri pakan ternak
  • Petani — pedagang besar — pedagang antar-daerah — peternakan ayam
  • Petani — pedagang kecil — pedagang besar — pedagang antar-daerah — industri pakan ternak
  • Petani — pedagang kecil — pedagang besar — pedagang antar-daerah — peternakan ayam
  • Petani — pedagang kecil — pedagang antar-daerah — industri pakan ternak
  • Petani — pedagang kecil — pedagang antar-daerah — peternakan ayam
  • Petani — pedagang antar-daerah — industri pakan ternak
  • Petani — pedagang antar-daerah — peternakan ayam
  • Petani — industri pakan ternak
  • Petani — peternakan ayam
  • Pola distribusi yang ideal dan bisa memangkas rantai-rantai pemasaran adalah langsung dari
  • petani ke industri pakan ternak dan peternakan ayam. Kalau petani tidak bisa menanganinya
  • secara mandiri, bisa didampingi koperasi (KUD).
  • Selain itu, kalangan petani juga bisa mengajukan kerja sama langsung dengan para peternak
  • ayam dan unggas lainnya. Perlu dijajaki pula kemitraan dengan industri pakan ternak maupun
  • industri-industri lainnya seperti pabrik minyak goreng.

Dengan memangkas rantai-rantai produksi, maka petani bisa memperoleh penghasilan yang lebih layak. Konsumen pun akan mendapat harga yang lebih murah.

Itulah beberapa cara budidaya jagung secara tepat dengan hasil yang melimpah.

Semoga bermanfaat 🙂

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.