Berkenalan sambil Mencicipi Sate

Siapa yang tidak mengenal “sate”. Salah satu olahan daging yang dibakar. Jika di hari-hari biasa, sate ayam yang lebih dikenal. Maka berbeda saat momen Idul Adha (hari raya qurban). Sate kambing akan lebih merajai.

Lalu tahukah Anda bagaimana sate itu berada di Indonesia? Bahkan ketika sate menjadi salah satu makanan Indonesia yang mendunia. Berikut adalah rekam jejak dan cerita sate.

Sejarah Sate

Sate diperkirakan bermula dari pedagang kaki lima, di Jawa pada abad ke-19. Di sisi lain, pada abad tersebut adalah masa-masa di mana pedagang Arab, Gujarat – India dan pedagang muslim lainnya datang ke Jawa. Para pedagang dari India membawa olahan daging kambing bakar berupa kebab. Sejarah menceritakan bahwa masyarakat Indonesia pada mulanya memasak daging yang didahului dengan direbus. Kemudian, setelah mengenal kebab, masyarakat Indonesia lalu menyukai daging sapi atau kambing yang dibakar. Kata “sate” berasal dari Bahasa Tamil yaitu “catai”, yang berarti “daging”.

Fakta Sate

  1. Sate biasa disajikan bersama ketupat atau lontong.
  2. Sate biasanya disajikan dengan bumbu kacang, yang juga ditambahkan rempah-rempah.
  3. Sate menjadi makanan terlezat ke-14 di dunia, dari World’s 50 Most Delicious Foods.
  4. Di Malaysia, Singapura dan Thailand, sate menjadi makanan yang dijajakan berkat kehadiran perantau Jawa yang berjualan sate di beberapa negara tetangga Indonesia.
  5. Jika di Jepang ada yakitori, di Tiongkok ada chuanr atau brochete di Perancis.
  6. Ada sekelumit kisah antara sate dan Presiden RI pertama, Soekarno. Dahulu, saat perjalanan pulang, Soekarno melihat pedagang sate. Beliau lantas memanggil dan memesan satenya, “Sate ayam lima puluh tusuk!”. Faktanya, saat itu beliau baru diangkat menjadi orang nomor 1 di Indonesia. Sehingga, sejarah mencatat bahwa momen sate saat itu seperti perayaan atas pengangkatan Soekarno sebagai presiden RI.
  7. Ada beberapa sate yang dahulu sempat ada di Indonesia, tetapi kini sudah dilarang. Contohnya adalah sate siput, yang sudah hilang di pasaran, karena MUI menyatakan daging siput haram dikonsumsi. Ada juga sate penyu, yang populer di Bali. Tetapi, kini sudah dilarang karena penyu adalah salah satu hewan yang dilindungi dan dagingnya pun ternyata mengandung kolesterol yang tinggi.
  8. Ada beberapa hewan yang biasa diambil dagingnya untuk bahan baku sate, di antaranya ayam, sapi, kambing, kerbau, kelinci serta kuda.
  9. Sate terpedo menjadi salah satu jenis sate yang juga menjadi obat herbal. Sate ini berasal dari terpedo atau testis kambing, yang konon katanya dianggap bisa membangkitkan dan atau meningkatkan gairah seksual.
  10. Seiring perkembangan zaman, apalagi di zaman yang disebut “jaman now”, mulai bermunculan jenis sate lain. Salah satunya yang masih populer adalah sate taichan. Sate taichan sebenarnya berupa daging ayam yang dibakar tanpa kecap dan bumbu kacang. Sate taichan (biasanya) hanya buka pada malam hari sampai dengan menjelang waktu shubuh. Menurut cerita dari pelopor sate taichan Indonesia, Amir, pada mulanya ada sepasang pemuda (pemuda lelakinya adalah orang Jepang dan si wanitanya orang Indonesia) yang membeli sate dagangannya. Pemuda Jepang tersebut justru mengambil alih pekerjaan si pedagang sate, Amir. Ia mengambil sate yang belum dibumbui (masih polos) lalu dilumuri garam, jeruk nipis dan sambal, kemudian dibakar selama 3 – 5 menit. Ciri khas sate taichan adalah warnanya yang masih nampak putih, tidak seperti sate umumnya.
Baca juga :  Si Putih Nan Manis

Macam-macam Sate

Bagi yang belum tahu, ternyata sate di tiap daerah pun berbeda. Coba kamu cicipi dahulu bagaimana kelezatan sate ‘Jawa’ berikut.

Sate Kere dan Sate Buntel

Ada 2 sate khas kota kelahiran Presiden Jokowi, yaitu sate kere dan sate buntel. Sate kere booming kembali saat menjadi salah satu sajian di pernikahan putri presiden Jokowi, Kahiyang Ayu, November 2017 lalu. Sate kere awalnya merupakan sajian masyarakat kalangan bawah, yang tidak mampu membeli sate, lalu disebut sate “kere” yang artinya miskin. Sate ini berisi tempe gembus (dari ampas tahu) dan jeroan. Jeroan adalah bagian dari sapi yang dibuang oleh orang Belanda di zaman penjajahan. Sehingga, masyarakat Solo “mendaur ulang” jeroan, lalu ditambahkan tempe, dibumbui dan dibakar menjadi sate.

Sedangkan sate buntel, yaitu “buntel” berarti “bungkus”. Sate buntel sebenarnya daging kambing yang dicincang lembut, dicampur bumbu khusus, lalu dibentuk kepalan pada tusuk satenya. Tusuk sate yang digunakan berukuran lebih tebal/besar. Kepalan lalu dilumuri lemak lambung kambing, yang nantinya menjadi “buntel”. Setelah dioles bumbu, sate siap dibakar sampai matang dan lemaknya meleleh. Lelehan lemak membuat sate buntel lebih cocok disantap saat panas, yang menimbulkan sensasi berbeda di lidah.

Sate Klatak

Berbeda dari sate lain, seporsi sate klatak Yogyakarta hanya berisi 2 tusuk daging kambing dengan potongan 3x lebih besar, jeruji besi sebagai tusukannya, serta garam dan lada tanpa kacang sebagai bumbunya. Sate disajikan dengan kuah kental gulai. Sebenarnya, dahulu bumbu sate ini hanya garam, yang langsung ditaburkan ke daging. Suara garam yang “bersentuhan” dengan bara api saat sate dibakar dan menimbulkan bunyi seperti ‘klatak..klatak..klatak’ adalah awal mula mengapa sate tersebut dikenal dengan sate klatak.

Sate Ambal

Sate ambal Kebumen berisi 20 tusuk/porsinya. Disajikan tanpa bumbu kacang atau kecap, sate ambal justru dilumuri bumbu dari tempe direbus dan ditumbuk halus beserta rempah-rempah.

Sate Balibul/Batibul

Balibul sebenarnya kepanjangan dari bayi lima bulan. Maksudnya, sate khas Tegal ini berasal dari daging kambing/domba muda yang berumur 3 atau 5 bulan. Karena ternyata, semakin muda usia kambing, akan semakin empuk tekstur dagingnya. Daging atau jeroan dipotong dadu dengan ukuran yang sedikit lebih besar dibandingkan sate pada umumnya. Sate balibul juga tidak diberi bumbu atau kecap saat dibakar. Barulah setelah sate matang, bisa disantap dengan sambal kecap.

Sate Blora

Sate khas Blora ini menggunakan daging ayam kampung yang sudah dipotong tipis kecil, disertai bumbu kacang yang lembut (seperti bumbu gado-gado) dan dipadu kuah opor. Uniknya lagi, sate blora tidak dijual per-porsi. Pembeli bisa memakan sate blora sepuasnya, lalu jika sudah, barulah dihitung berapa tusuk yang dimakan dan dilihat pada tabel menu berapa harga per-sekian tusuk yang dihabiskan.

Sate Maranggi

Ada berbagai versi sejarah sate khas Purwakarta ini. Ada yang mengatakan, sate maranggi berasal dari masyarakat Cina yang menetap di daerah Sunda. Mereka membuat sate dari daging babi yang diberi bumbu seperti dendeng babi atau ayam. Karena asimilasi agama dan kultur, sate maranggi dibuat dari daging kambing, sapi atau ayam. Sementara Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengatakan jika sate maranggi berasal dari nama penjual sate di Cianting, Purwakarta, ratusan tahun lalu yang bernama Mak Ranggi. Sedangkan jika menurut bahasa Sunda, “Maranggi” berarti daging sapi yang dipotong, ditusuk sate lalu direbus.

Baca juga :  Sekilas Keong Sawah

Sebelum dibakar, sate maranggi direndam dengan bumbu-bumbu khas, yang lamanya bisa sampai sehari. Sate maranggi disajikan tanpa bumbu kacang, tetapi menggunakan kecap dengan campuran sambai cabai hijau dan cuka lahang (cuka dari tebu).

Sate Ponorogo

Olahan bakar daging ayam khas dari Ponorogo ini, berisi ‘hanya’ satu potongan daging yang diiris lebih panjang dan bukan kotak-kotak seperti sate pada umumnya. Sate juga berisi usus, kulit atau telur ayam muda, yang dibacem. Sate Ponorogo disiram dengan kuah kacang yang manis dan lebih kental.

Sate Madura

Salah satu yang membuat sate ini dikenal adalah sang pedagang yang menjajakan sate dengan logat Madura kental, berkaos garis-garis / belang-belang dan kumis yang cukup tebal. Sate madura berisi potongan daging ayam dengan kuah kacang yang diberi gula.

Sate Loso

Sate daging sapi atau kerbau ini, sebelumnya dibacem atau dimasak dengan bumbu dan gula jawa/kelapa. Setelahnya, barulah dibakar. Sate yang berasal dari daerah Pemalang ini, disajikan bersama sup berisi urat, tulang muda dan taoge. Nama sate loso sesuai nama sang penemu sate ini, yaitu mbah Loso.

Sate Laler (Lalat)

Jangan jijik dahulu sebelum mencobanya. Sate laler (lalat) hanyalah sebuah nama. Sate ini sebenarnya berupa daging ayam yang dipotong kecil-kecil dan dibumbui kuah kacang kental. Sate ini banyak dijajakan di sekitaran Masjid Agung Pamekasan, Jawa Timur.

Sate Kalong

Seperti halnya sate laler/lalat yang namanya hanya sekedar nama, bukan asal dagingnya. Sate yang populer di Cirebon ini, berupa daging kerbau, dengan cita rasa yang cukup manis, seperti dendeng. Sebutan sate kalong sebenarnya karena para penjualnya mulai menjajakan sate setelah petang sampai malam hari.

Sate, olahan daging yang dibakar di atas arang atau tempurung kelapa ini, memang awalnya dikenal dan disebut-sebut berasal dari tanah Jawa. Tetapi, Indonesia ini kaya. Bukan begitu? Jadi, sate Jawa akhirnya bergerak melaju ke pulau lain di Indonesia. Nah, berikut sate khas ‘luar Jawa’ yang harus dicicipi.

Sate Padang  

Kota Padang terkenal dengan nasi dan sate Padang. Tak hanya itu, masakan Padang dikenal memiliki rasa yang khas juga pedas yang mantap. Sate Padang berisi potongan daging, lidah maupun jeroan sapi, yang dibumbui kuah kental kekuningan. Rempah-rempah dan kaldu sapi dimasak, lalu dikentalkan dengan tepung beras, sehingga menjadi kuah bumbu sate.

Sate Padang Panjang, kuahnya berwarna lebih kekuningan, karena kunyitnya yang kuat. Sate Padang Panjang yang dikenal juga dengan sate Darek ini memiliki cita rasa gurih dan pedas. Sayangnya, sate darek sebaiknya disantap selagi masih hangat. Karena, kuah akan cepat encer jika sudah dingin.

Baca juga :  RASAKAN HARUMNYA TANAMAN INI

Sate Padang Pariaman, justru kuahnya merah kecoklatan, karena cabai merah yang mendominasi. Selain cabai, bumbu lainnya yang diberikan pada daging seperti bawang putih – merah, lengkuas, serai, ketumbar, tepung kanji, tepung beras dan masih banyak lagi.

Tetapi sate Padang Kota, kuahnya kuning lebih kecoklatan, berkat campuran kedua jenis sate padang yaitu padang panjang dan pariaman. Sate ini juga dikenal dengan sate Dangung-dangung. Berbeda dengan sate darek maupun padang pariaman, sate ini memiliki cita rasa yang jauh lebih manis, aroma yang wangi dan ditambahkan parutan bumbu kelapa kekuningan di sekelilingnya. Sate ini biasa dijumpai di daerah Sumatera Barat.

Sate Lilit

Jika di Solo ada sate buntel, maka Bali memiliki sate lilit. Hampir sama dengan sate buntel, sate lilit berasal dari daging yang dicincang halus. Dagingnya bisa sapi, ayam, atau pun ikan laut seperti kakap. Pada sate lilit, cincangan beserta parutan kelapa, santan dan bumbu lainnya, dililitkan pada tebu atau pun serai, yang berperan sebagai tusuk satenya. Jadi, tusuk satenya tidak menggunakan bilah kayu. Citarasa dan aroma serai atau tebu akan turut berpadu dalam sate lilit, yang biasanya disantap bersama sambel matah.

Sate Pusut, Rembiga, Pencok dan Ampet

Jika berkunjung ke Lombok, cicipilah ketiga jenis sate ini. Hampir sama dengan sate lilit, sate pusut juga berasal dari daging cincang dan dicampur kelapa parut beserta bumbu-bumbunya. Hanya saja, sate pusut dililitkan pada tusuk sate biasa.

Sate rembiga berisi daging sapi yang dipotong kecil-kecil, dibumbui cabai, kecap dan terasi, maka jadilah sate dengan tekstur matang sempurna, lembut dan tak berbau. Selain itu, sate rembiga dapat dibakar sampai teksturnya kering, yang menjadikannya salah satu oleh-oleh khas Lombok.

Sate pencok dibuat dari kulit sapi atau bisa juga dengan tepung kanji yang adonannya dikentalkan dibentuk persegi. Kemudian, tusukkan pada batang lidi kecil atau disebut “katik”.

Sate ampet berisi daging dan jeroan sapi dengan tambahan bumbu yang sangat pedas bercampur santan.

Sate Banjar

Sate banjar berisi daging ayam bagian paha yang sudah di-fillet. Daging yang sudah di-fillet lalu dilumuri bumbu. Setelah matang dibakar, sate banjar tertata rapi di atas daun pisang dan tersaji bersama bumbu pecel.

Sate Makassar

Sate Makassar berasal dari jeroan kambing atau sapi, yang kemudian direndam dalam potongan daun pepaya. Jeroan lalu diselimuti bumbu khusus dari belimbing wuluh, yang menciptakan rasa pedas tetapi asam. Setelah matang dibakar, sate langsung disantap tanpa diberi bumbu kacang seperti sate lain.

Sate Gurita

Daging gurita yang dipotong kecil-kecil, dibumbui lengkuas, bawang merah dan putih, kemiri beserta kuah kacang, kemudian dibakar dan menjadikannya salah satu hidangan favorit di daerah Bengkulu. Apalagi di sepanjang pantainya. Karena gurita menjadi salah satu hewan laut yang banyak ditemukan di perairan wilayah Bengkulu.

Berlangganan Email

Spread the love

Tertarik Dengan Blog ini dan Ingin Berlanggan Email?

Terima kasih. Link konfirmasi sudah dikirim ke email anda

Something went wrong.